
Pagi ini Elif merasa demam dan tubuhnya begitu lemas. Ia sudah tahu akan menjadi seperti ini reaksi tubuhnya jika ia memikirkan hal yang berat dan tidak bisa membicarakannya, tidak bisa meluapkannya dan tidak bisa juga mengabaikannya. Ia akan jatuh sakit.
Tiba-tiba pintunya diketuk, atau lebih tepatnya digedor dan suara Adit terdengar memanggil-manggilnya. Dengan berat hati Elif bangkit dari kasur, menyeret kakinya untuk membuka pintu kamarnya yang dikunci.
"Kenapa kau ada dirumah? Kenapa tidak sekolah? Kau bolos?" tanya Elif lemah begitu melihat Adit di depannya masih dengan pakaian tidur.
"Aku sedang libur kenaikan kelas, Kak. Tapi itu tidak penting, ada yang lebih penting sekarang!" Adit terlihat cemas.
"Ada ap-" belum Elif menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara beling yang pecah.
"Apa itu?!" Elif terkejut.
"Itu yang mau aku bilang, sejak pagi ayah dan ibu bertengkar lagi. Lebih parah. Tentang Kakak!"
"Aku kenapa?"
"Ayah lihat berita di tivi, salah satu stasiun berita menampilkan acara pernikahan model terkenal yang terselenggara semalam, dan ada kakak disana dengan laki-laki ganteng diwawancara."
Elif menutup mulutnya. Ia tahu hal ini akan terjadi.
"Kenapa Kakak tidak pergi kerja saja sekarang?" Tahan Adit tubuh Elif saat kakaknya itu hendak bergerak.
"Aku sudah ijin datang terlambat. Aku tidak enak badan. Lagi pula aku harus menjelaskan sesuatu pada ayah dan ibu sekarang."
Elif dan Adit pun segera menuju dapur, dimana pecahan beling dari entah gelas atau piring sudah berserakan di atas lantai.
"Nah ini dia bintang tamunya sudah hadir!" Sindir Yanuar dengan sangat sinis. "Jelaskan sekarang apa yang kau lakukan di acara pernikahan model papan atas bersama seorang pria dan kau adalah calon istrinya? Jelaskan!"
"Jelaskan sejujurnya Nak." Pinta Zehra lebih lembut, tidak seperti Yanuar yang selalu meledak-ledak jika bicara pada Elif.
"Aku ada disana karena... atasanku mengenalnya."
"Siapa atasanmu? Siapa pria yang bersama mu? Sudah kuduga pekerjaanmu bukan hanya sebagai sekertaris biasa kan? Kau pasti menjadi simpanan pengusaha sampai-sampai kau bisa berada disana! Dan pria itu pasti pria yang kau goda!"
"Mas cukup! Kenapa kau selalu saja berpikiran buruk tentang Elif?!" Zehra meninggikan suara.
"Aku tidak berpikiran buruk! Anak kesayanganmu ini munafik. Dia berpura-pura begitu sedih karena berhenti kuliah, nyatanya dia juga menyukai uang, dia pura-pura bekerja susah payah dengan alasan biaya operasi dan pengobatanku, nyatanya dia hanya menjadi simpanan pria kaya!"
"Ayah! Kenapa Ayah jahat sekali sih mulutnya?" Adit berteriak.
"Kau diam Adit, kau juga sama seperti dia, membangkang! Karena kau terlalu baik padanya kau jadi terpengaruh olehnya."
Kepala Elif begitu berat, suhu tubuhnya semakin panas, tapi sekuat tenaga Elif tetap berdiri diatas kedua kakinya.
"Memang kenapa kalau misalnya aku jadi simpanan pria kaya? Kalau memang itu bisa membantu Ayah operasi dan berobat aku akan lakukan! Kalau memang dengan menjadi simpanan aku bisa membantu keluarga ini, aku akan lakukan! Kalau dengan begitu aku bisa mendapatkan apa pun yang aku mau, aku akan lakukan!" Elif berteriak dengan sisa tenaganya. Ia sudah tidak tahan terus-terusan dipikirkan buruk oleh ayahnya. Sebaik apapun dirinya, sekeras apa pun dia berusaha. Sebanyak apa pun pengorbanannya, ayah akan terus saja tidak menyukainya apa lagi menyayanginya.
Elif sudah begitu lelah dengan segala sikap ayah, inilah mungkin saatnya dia meluapkan emosinya.
"KAU- AAKKHHH!" tiba-tiba Yanuar meremas dadanya, tepat pada posisi dimana jantung berada di dalam sana. Tubuhnya yang hendak berdiri seketika tumbang.
"AYAH!"
***
Suasana kantor pun mendadak heboh, gosip-gosip bertebaran disetiap penjuru. Suara-suara berbisik membicarakan dan menerka-nerka terdengar membuat risih. Mereka akan seketika terdiam, menutup bibir rapat-rapat begitu Ardan lewat diikuti Teddy.
"Katakan padaku Elif tidak benar-benar calon istrimu?" Gavin menghampiri, bertanya tanpa pembukaan.
"Kenapa memangnya? Kau cemburu?"
"Bukan itu, aku tahu kau tidak pernah berniat menjalin hubungan. Jangan kau permainkan Elif."
"Apa aku terlihat seperti playboy?" Ardan menaikkan sebelah alis matanya.
"Ardan, please, Elif bukan perempuan yang bisa kau jadikan alat hanya supaya mamamu tidak terus-terusan menjodohkanmu."
Ardan terkekeh. "Tidak usah pusing memikirkan urusanku, Gav. Urus saja hubungan LDR mu dengan kekasihmu."
Ting!
Pintu lift terbuka, Ardan pun masuk diikuti Teddy yang mengangguk hormat sebentar kearah Gavin.
"Ted, cari tahu sedekat apa hubungan Gavin dan Elif."
Sonya langsung berdiri begitu melihat Ardan dan Teddy datang, ekspresi wajahnya sangat jelas tertulis pertanyaan tentang hubungan Ardan dan Elif. Tapi suaranya tersangkut di tenggorokan saat mata Teddy menatap tajam Sonya, mengisyaratkan agar tidak bertanya apa pun saat ini.
Ardan masuk ke dalam ruangannya diikuti Teddy. "Kenapa Elif sampai jam segini Elif masih belum sampai kantor? Dia ijin apa padamu?"
"Kurang enak badan, Pak. Dia bilang akan datang terlambat."
"Dia pasti menghindariku."
Teddy tidak berkomentar.
"Hubungi dia lagi, suruh dia segera datang, jika perlu kau jemput saja dia sekar-" Handphone Ardan berbunyi di dalam saku jasnya. Ia mengeluarkannya dan melihat nama Elif tertera pada layar handphonenya. Jari telunjuk Ardan terangkat, memberikan kode pada Teddy untuk menahan asistennya itu untuk tidak bertindak apa-apa.
"Kenapa belum tiba dikantor? Apa kau menghindariku? Atau kau sudah bosan bekerja?"
Teddy menyimak. Memperhatikan perubahan ekspresi wajah atasannya. Seringaian mendadak muncul pada wajahnya. Dan ekspresi penuh kemenangan pun terukir disana.
"Baiklah, saya akan segera ke sana." Ardan memasukkan kembali handphonenya. Ia bangkit berdiri dengan seringaian lebar pada wajahnya.
"Suruh Sonya batalkan semua meeting hari ini. Karena kita akan berada lama di rumah sakit."
"Siapa yang sakit, Pak?"
"Calon ayah mertua fiktifku. Hahaha!"
"Apa Elif menerima kesepakatan yanga Anda tawarkan?"
"Benar sekali! Ayahnya ngedrop pagi ini dan harus secepatnya dilakukan operasi. Ayo berangkat Ted, jangan membuat calon istriku menunggu. Hahaha!"
Dalam perjalanan, Ardan terlihat begitu senang. Senyum mengembang pada wajahnya. Teddy sampai bingung apa yang begitu membuatnya senang.
Handphonenya kembali berdering, panggilan masuk kini dari mamanya. Panggilan sejak pagi-pagi yang sengaja tidak diangkatnya setelah 47 kali.
"Ya, Ma."
//Astaga Ardan! Apa kau mau membuat Mama dan Papamu jantungan?! Kenapa tidak menjawab panggilan Mama dari pagi? Si Teddy juga ikut-ikutan tidak angkat panggilan telepon Mama! Pasti kau yang menyuruhnya kan!// Mama langsung merepet ngomel.
"Maaf Pa, aku sibuk sekali tadi pagi."
Sibuk apa nya? Sibuk bolak balik bertanya apakah Elif sakit parah atau tidak. Begitu?
//Apa maksud berita entertain tadi pagi? Siapa wanita yang kau bawa di acaranya Marsha? Apa benar dia calon istrimu? Kenapa Mama dan Papa tidak tahu? Kenapa tidak kau kenalkan pada kami? Dasar anak nakal!//
"Sabar, Ma, sabar, jangan emosi. Nanti cepat keriput. Sayang kan, Mama sudah beli serum anti keriput mahal-mahal."
//Jangan alihkan pembicaraan, jelaskan berita itu. Apa itu benar?//
"Akan aku jelaskan besok, Ma. Sekarang aku mau meeting dulu, oke. Besok akan aku jelaskan sekaligus aku kenalkan pada Mama calon istriku."
//Heh! Jadi benar! Berita itu benar? Gadis itu calon menantu Mama?//
"Bye Ma!" Ardan memutuskan sambungan teleponnya sambil terkekeh geli.
Teddy benar-benar tidak mengerti sekarang dengan perubahan yang terjadi pada bosnya itu. Selain kepiawaiannya dalam bekerja, semua sikap Ardan yang Teddy tahu telah berubah. Bosnya itu jadi lebih mudah tertawa, lebih santai, tapi juga gampang uring-uringan.
***
Tampilan Elif sudah jauh dari kata anggun. Seperti dua manusia yang berbeda dengan gadis yang diperkenalkan Ardan sebagai calon istrinya. Mata Elif kini begitu sembab, wajahnya kusut, rambutnya apa lagi. Ia hanya mengenakan kaus belel dibalut cardigan rajut sederhana, celana olahraga, dan sandal jepit melengkapi penampilannya.
Dirinya langsung berdiri dari kursi tunggu begitu mendengar suara langkah kaki yang dia pikir adalah Ardan dan ternyata benar. Pria itu datang bersama Teddy yang mengikutinya dari belakang. Untuk pertama kalinya selama Elif bekerja, mata Elif begitu berbinar melihat Ardan, ia begitu bersyukur dengan kehadiran pria itu.
"Apa kau bisa menebak bagaimana reaksi Mama saat melihat gadis berpenampilan kacau itu adalah calon istriku, Ted?" Ucap Ardan dengan suara rendah sebelum ia terlalu dekat dengan Elif.
"Apa dia calon suamimu, Kak?" Adit menghampiri Elif yang berdiri.
"I-iya."
"Yang mana?"
"Yang jalan di depan."
"Itu sih ganteng banget, Kak.