
Tentu saja Elif tidak percaya dengan apapun yang dikatakan Ardan, bagi Elif apa pun yang dikatakan Ardan semata-mata hanya kepura-puraan untuk membuat Elif akan percaya dan nama baiknya akan terselamatkan. Perjodohan oleh orang tuanya tidak akan terjadi padanya. Dan satu hal yang baru Elif sadari, sandiwara ini bermula saat mereka berada di acara pernikahan Marsha, dan pastinya semua ini hanya agar Ardan tidak terlihat kalah oleh Marsha yang langsung mendapatkan pengganti dirinya dengan sangat mudah sementara dirinya tidak, terlepas kenyataannya Ardan memang tidak ingin terikat sebuah hubungan.
"Aku tentu saja tidak membayangkan kau akan langsung percaya padaku." ujar Ardan, "Kau bisa bertanya langsung pada Gavin, dia mengenalku sejak sekolah. Atau kau bisa bertanya pada mamaku, dia paling tahu aku paling tidak bisa-"
Elif mengangkat telapak tangannya tepat di depan hidung mancung Ardan, membuat pria itu terdiam seketika. Dan Teddy merasa harus memberikan sebuah tropi penghargaan pada Elif sebagai satu-satunya orang yang berani memotong Ardan bicara dengan mengangkat tangan tepat di depan hidung. Kalau saja Elif bukan pemilik aroma terapi ajaib itu, saat itu juga Ardan pasti akan membuat hidup Elif menderita tujuh turunan.
"Cukup, Pak. Anda tidak perlu mencari pembelaan pada siapa pun. Apa pun yang Anda katakan saya tidak akan percaya. Anda sudah begitu lancar membuat cerita dan imej palsu di depan ibu dan sahabat-sahabat saya, apa yang Anda harapkan dengan apa yang Anda lakukan saat ini?"
"Kau benar. Kau berhak untuk tidak percaya padaku, tapi mungkin kau harus ingat satu hal yang lucu, pada awalnya kau memang bukan tipeku sama sekali, tapi lihat apa yang semesta lakukan pada hatiku. Dan ternyata kau pun menjadikan aku sebagai pria yang bukan tipemu, siapa yang akan tahu apa yang akan terjadi nanti, bisa saja hati mu pun juga akan berubah."
"Ya, dari membenci Anda menjadi sangat membenci Anda."
Mobil berhenti di depan pintu masuk rumah sakit tepat Elif menyelesaikan kalimatnya. Ia segera keluar dari dalam mobil tanpa sungkan meninggalkan Ardan.
"Ted, apa sesulit ini meluluhkan hati seorang perempuan?"
"Seharusnya orang seperti Anda tidak perlu kesulitan untuk mendapatkan hati seorang perempuan." Teddy memberikan jawaban.
"Lalu kenapa ini sulit?"
Yaelah, baru juga segini, udah ngeluh saja si bos.
"Karena ini adalah Elif, dia bukan gadis biasa yang tergila-gila pada harta dan status sosial."
"Ah kau benar juga. Aku harus mengubah imej pria terkaya yang tidak tersentuh menjadi pria terkaya yang low profile, begitu kan?"
Teddy mengangguk, meski ragu.
***
Tidak sulit bagi Ardan untuk mengejar Elif sebelum gadis itu memasuki kamar VVIP yang ditempati Yanuar. Sebelum masuk, Elif sempat menarik napas dan menghembuskannya, seperti seorang mahasiswa yang bersiap memasuki ruang sidang. Mengatur napas untuk membuang rasa gugup juga takut. Kemudian Elif membuka pintu, bersiap dengan omelan Yanuar yang pasti akan meledak melihat Elif datang bersama seorang pria yang sebelumnya ia lihat di berita dan membuatnya berbaring dirumah sakit seperti ini.
Tapi sungguh sebuah keajaiban, Yanuar menyambut kedatangan Elif dengan senyum lebar dan tangan terbuka. Suatu pemandangan yang tidak pernah Elif lihat sejak Elif sudah mulai bisa mengingat segala hal tentang apa pun yang terjadi dalam hidupnya.
"Anakku." Satu kata yang keluar dari mulut Yanuar, meski masih dengan suara yang parau dan lemah, pria itu memanggil Elif dan mengakuinya sebagai anaknya setelah bertahun-tahun Elif bermimpi Yanuar akan memanggilnya seperti itu.
Air mata segera lolos begitu saja, ia tidak bisa menahan diri untuk memeluk Yanuar yang setengah duduk di atas ranjang rumah sakit. Untuk pertama kalinya Yanuar menerima pelukan Elif, mengusap punggungnya dan kemudian mengecup keningnya. Pemandangan itu pun membuat Zehra tak kuasa menahan air matanya. Suasana mengharu biru pun mengisi kamar VVIP sore itu.
Yanuar kemudian melepaskan pelukannya pada Elif, mengusap pipi Elif yang basah. Kemudian matanya beralih pada Ardan yang berdiri disana.
"Kau pasti pria itu?" tanya Yanuar.
Ardan mengangguk, kemudian mendekat untuk menjabat tangan Yanuar dengan sopan.
"Iya Om. Semoga lekas kembali pulih, Om."
"Om? Kau sudah mengatakan anakku sebagai calon istrimu pada seluruh negeri, dan kau memanggilku Om?"
"Mulai sekarang panggil aku Ayah, dan Ibu." kata Yanuar sambil menengok kepada Zahra sebentar, yang disambut dengan anggukan.
"Baik Om, eh, Ayah."
Tidak! Kenapa jadi seperti ini? Bagaimana aku bisa menjelaskan semua sandiwara ini pada ayah dan ibu jika ayah dan ibu sudah sangat menerima kehadiran Ardan tanpa keraguan dan kecurigaan sama sekali.
Tidak seperti biasanya, Yanuar selalu menjadi seseorang yang tidak percaya pada apapun kebaikan yang terjadi yang berhubungan dengan Elif. Biasanya Yanuar akan mencari-cari satu saja titk yang akan membuat apa pun yang Elif lakukan selalu salah. Apa lagi saat ini, Ardan adalah seseorang yang membuat pagi itu mereka bertengkar di dapur dan akhirnya berakhir di rumah sakit. Yang ada dalam bayangan Elif sebelum masuk kamar ini adalah Yanuar akan langsung mengusirnya apa lagi dirinya datang bersama Ardan. Tapi apa ini? Yanuar malah meminta Ardan untuk memanggilnya Ayah?
Disisi lain, angin segar menerpa Ardan, dirinya benar-benar berada di atas awan, Kalau begini keadaannya bukankah Elif jadi tidak mempunyai pilihan untuk tetap berada di sisi Ardan? Meskipun bagi Elif hubungan ini adalah sebuah kepalsuan, tapi tidak bagi Ardan.
Senyum lebar pun menghiasi wajah tampan Ardan, wajah pucat Yanuar, wajah terharu Zehra, bahkan wajah Teddy yang biasanya sekaku kanebo kering. Kecuali wajah Elif. Wajah itu diiliputi rasa khawatir yang tidak bisa dijelaskan.
***
"Ibu sudah menjelaskan semua yang terjadi. Tetangga-tetangga yang datang menjenguk pun mengatakan Elif anak yang baik tentu saja akan bertemu dengan jodoh yang terbaik." kata Yanuar memuji Ardan setelah suasana mulai santai.
Dan Teddy memilih untuk menunggu di luar kamar, tidak mau mengganggu moment langka bosnya.
Sementara Elif terus saja merapatkan bibirnya, ia takut jika ia membuka mulutnya, dirinya tidak akan bisa menahan diri untuk mengatakan yang sebenarnya. Baru saja dirinya mendapatkan apa yang selama ini dia impikan. Dirinya benar-benar merasa dilema yang sangat besar. Bagaimana bisa ia menghempaskan mimpi yang baru saja dia dapatkan jika dirinya sampai mengatakan yang sebenarnya. Tapi jika ayah dan ibu tidak tahu kebohongan yang terjadi, nanti saat Ardan mengakhiri kesepakatan ini, bukan hanya ayah yang akan semakin membencinya, tapi ibunya juga.
Semua orang akan menjadikannya bahan gunjingan sampai viral dan mungkin akan go international.
"Elif, Nak, kenapa kau diam saja dari tadi?" tanya Yanuar.
Elif hanya tersenyum.
"Ayah dan Ibu benar-benar sangat bersyukur kau bersama seseorang sebaik dan setulus Nak Ardan."
"Ayah, aku..." Lidah Elif kelu, ia tidak sanggup, melihat bagimana mata Ayah untuk pertama kali memandangnya dengan sorot mata penuh rasa bangga dan sayang.
Ya Tuhan... apa yang harus aku lakukan? Mengapa Engkau menempatkan ku pada posisi seperti ini?
"Elif, Ayah tahu selama ini Ayah sungguh tidak adil padamu, Ayah benar-benar minta maaf karena sudah begitu jahat padamu." Tanpa tidak ada yang menyangka, Yanuar pun meneteskan air matanya. "Maafkan Ayahmu ini, Nak. Maaf..."
Elif pun ikut menangis dengan hatinya yang perih.
"Aku juga minta maaf Ayah." Elif mendekat dan kembali ayah dan anak itu berpelukan.
Maafkan aku Ayah, karena apa yang Ayah lihat saat ini hanya kebohongan. Tak apa Ayah, jika nanti Ayah akan sangat membenciku, setidaknya sekali dalam seumur hidupku, aku mendapatkan sudah dekapan Ayah.
"Aku sayang Ayah."
Dari tempatnya Zehra dan Ardan duduk, wanita paruh baya itu pun menitikan air matanya. Entah sudah keberapa kalinya ia menangis penuh syukur dengan apa yang terjadi hari ini. Suatu pemandangan yang selama ini selalu ia bisikkan dalam setiap sujudnya akhirnya terjadi dan semuanya diberikan melalui seorang perantara yang duduk di sampingnya.
Zehra menyentuh lengan Ardan, "Terima kasih, Nak."