HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Kata-kata yang meyakinkan.



Ardan berdiri di depan Elif, pandangannya melihat sekujur tubuh Elif dari atas ke bawah dan kembali lagi ke atas. Gadis itu terlihat putus asa, seperti tidak ada harapan lagi selain meminta tolong pada Ardan.


"Ted,"


"Ya Pak?"


"Urus semua yang diperlukan untuk tindakan dan perawatan Ayah Elif sampai beliau sembub total."


"Baik Pak," Teddy mengangguk kemudian beranjak dari sana untuk segera menjalankan tugasnya. Adit yang mendengar langsung apa yang diperintahkan Ardan pada pria bermata sipit dan berwajah dingin itu sampai-sampai menganga tidak percaya.


"Kau baik-baik saja?" Pertanyaan itu yang keluar dari mulut Ardan melihat Elif yang sudah berlinangan air mata. Kemudian beralih pada Adit, yang masih memandangi Ardan dengan tatapan takjub.


Mungkin Adit tidak membayangkan bagaimana mungkin orang sesempurna pria di hadapannya itu, dengan tubuhnya yang tinggi tegap, wajah tampan sedikit kebule-bulean, bisa-bisanya menjadi pacar kakaknya yang model biasa banget seperti Elif.


"Jadi Abang pacarnya Kak Elif?" tanya Adit.


"Abang?" Ardan mengerutkan kening. Ini adalah kali pertama dirinya dipanggil 'Abang' oleh seseorang. Selama ini dia selalu dipanggil, ' Pak Ardan,' atau 'Tuan Ardan,' atau Tuan Muda,' dan untuk orang yang dekat padanya hanya memanggilnya dengan nama saja. Dipanggil Abang oleh seorang yang terlihat bocah dimatanya entah bagaimana membuat hatinya merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Sesuatu yang lucu.


"Adit, jangan panggil Abang!" Tegur Elif setelah menyadari perubahan ekspresi pada Ardan.


"Trus apa dong, Kak?"


"Eh, tidak apa-apa" Potong Ardan. "Abang... lucu juga."


"Hah?" Elif melongo.


"Jadi kau adiknya Elif?" tanya Ardan pada Adit.


"Iya Bang, aku Adit."


"Aku Ardan, ya, aku pacar kakakmu." kata Ardan dengan sangat santai dan percaya diri.


"Iya, aku sudah lihat di berita tadi pagi. Karena itu juga ayah dan ibu jadi bertengkar dan ayah marah sampai akhirnya sakitnya kumat." kata Adit dengan polosnya.


"Adit!" tegur Elif.


"Kenapa? Memang benar begitu, kan."


"Kenapa ayah dan ibu kalian bertengkar? Bukan kah seharusnya senang Elif mempunyai aku sebagai pasangannya yang mapan?"


"Ah, ayah memang selalu jahat sama Kak Elif, tidak tahu kenapa Ayah tidak pernah baik sama Kak Elif, Ayah selalu-"


"Bisa kita bicara berdua," potong Elif karena sepertinya Adit berpotensi untuk membeberkan hubungan yang tidak harmonis antara ayah dan anak pada Ardan, mungkin karena Adit yakin Ardan akan melindungi Elif sebagai pacar atau sebagai tunangannya seperti yang dikabarkan oleh berita tadi pagi.


"Oke." Sahut Ardan.


"Kau susul Ibu, temani Ibu. Jangan sampai Ibu sendirian lagi. Ibu pasti bingung kalau Pak Teddy datang dan mengurus semuanya."


"Iya Kak." Adit pun akhirnya meninggalkan Elif dan Ardan di ruang tunggu operasi.


Sejenak tidak ada yang bicara diantara mereka, keheningan dibiarkan beberapa saat sampai Elif memecahkannya.


"Te-terima kasih, Pak." ujar Elif.


"Pak?" Ardan menaikkan sebelah alis matanya. "Aku rasa kau sudah mengerti kesepakatannya, Elif?"


"I-iya."


"Lalu kenapa memanggilku, 'Pak'? Apa kau ingin kesepakatan ini terbongkar dengan sangat cepat? Tidak apa-apa, aku bisa mencabut semua urusan administrasi hari ini."


"Bu-bukan begitu," ujar Elif cepat-cepat. "Saya hanya tidak tahu harus memanggil Anda apa." ujar Elif seraya menundukkan kepalanya dan meremas ujung cardigan yang dikenakannya.


Astaga, lucunya. Eh, apa? Barusan apa kubilang? Lucu? Siapa? Gadis ini lucu? Ya ampun, aku harus sesegera mungkin membuat janji dengan psikolog. Sepertinya mentalku agak aneh beberapa minggu ini.


Ardan berdeham, mencairkan rasa canggung yang ada pada dirinya sendiri.


"Mulai sekarang, kau harus memanggilku dengan nama saja." kata Ardan. "Berhenti memanggilku 'Pak' dan tidak ada lagi, 'saya dan Anda.' tapi jadi, 'aku dan kau.'"


"Apakah termasuk saat di kantor?"


"Tentu saja!"


"Apakah tidak akan apa-apa jika orang-orang kantor tahu?"


"Justru semua orang harus tahu tentang hubungan ini." kata Ardan. Kemudian ia membungkukkan sedikit tubuhnga lalu mencondongkan sedikit agar wajahnya tepat berada disamping telinga Elif, dan aroma manis yang segar itu menguar begitu hebatnya, sampai rasanya Ardan ingin sekali menenggelamkan kepalanya dalam kekusutan dan kemegaran rambut singa Elif.


"Dengar, sandiwara ini harus benar-benar terlihat nyata dan meyakinkan, agar perjodohan yang dilakukan mamaku berhenti." lanjut Ardan dengan suara rendah.


"Tapi saya... saya tidak bisa jika hanya memanggil Anda dengan nama saja." kata Elif.


"Kalau begitu, panggil aku seperti Adit memanggilku."


"Abang?"


"Ya, itu terdengar lucu."


Elif segera menggeleng, "Bagaimana dengan Mas? Mas Ardan?"


Ardan menyunggingkan senyuman paling lebar seumur hidupnya, "Setuju!"


***


"Semua hal yang berkaitan dengan operasi, perawatan dan pengobatan berjalan nantinya untuk Tuan Yanuar sudah kami selesaikan, Anda tidak perlu lagi memikirkan soal biaya." kata Teddy seraya menyerahkan semua dokumen pembayaran pada Zehra.


"Ta-tapi Anda siapa, Tuan?" tanya Zehra, masih tidak mengerti apa yang tengah terjadi.


"Saya Teddy, Nyonya. Asisten Pak Ardan."


"Pak Ardan?" Zehra mengerutkan kening.


"Ibu!" Panggil Adit, anak itu segera menghampiri Zehra begitu melihat raut kebingungan di depan Teddy, pria yang sebelumnya diperintahkan oleh pria yang mengaku sebagai pacar kakaknya.


"Tidak usah bingung lagi Bu, pacarnya Kak Elif datang, Bang Ardan sudah meminta Abang ini untuk urus semua biaya ayah!" Seru Adit menjelaskan dengan singkat dan gamblang yang membuat Zehra semakin bingung.


"Apa katamu? Pacarnya Elif?"


Adit mengangguk. "Iya, Bang Ardan, orangnya ganteng banget begitu lihat aslinya dari pada lihat di tivi."


"Maksudmu, berita yang tadi pagi itu benar? Begitu Nak?"


"Iya!"


Zehra kembali melihat Teddy, pria itu masih berdiri disana dengan tegap.


"Apa itu benar, Tuan?"


"Panggil saya Teddy saja, Nyonya." Pinta Teddy dengan sopan. "Dan memang berita tersebut benar adanya."


Zehra menutup mulutnya, kaget dengan apa yang didengarnya. Entah ia harus merasa seperti apa. Bersyukurkah? Atau mencurigai hubungan mereka yang sangat tiba-tiba itu? Zehra kenal betul bagaimana sifat Elif. Anak sulungnya itu tidak akan melakukan hal besar tanpa sepengetahuan dirinya. Dan berhubungan dengan seseorang bernama Ardan Mahesa Demir yang diberitakan merupakan seorang pebisnis muda yang sangat sukses dan berpengaruh adalah termasuk hal besar di dalam keluarga ini.


"Dimana Kakakmu?" tanya Zehra kepada Adit.


"Masih di ruang tunggu sama Bang Ardan."


Zehra pun segera bergerak meninggalkan tempat kepengurusan administrasi.


Bang Ardan? Anak itu benar-benar memanggil Pak Ardan dengan sebutan 'Bang'?


***


Ardan berdiri begitu Zehra, Adit dan Teddy datang. Begitu pun dengan Elif yang langsung berdiri di samping Ardan saat menyadari ekspresi wajah Zehra bukanlah ekspresi ramah seperti biasanya. Elif dapat memakluminya. Ibunya itu pasti sangat terkejut dengan apa yang terjadi hari ini.


"Apa kau benar kekasih anakku?" tanya Zehra langsung pada intinya tanpa basa-basi atau pembukaan terlebih dahulu.


"Benar." jawab Ardan.


"Lalu apa tujuanmu menjadikan anakku sebagai kekasihmu?" tanya Zehra dengan penuh selidik.


"Tujuan?" Ardan mengerutkan kening.


"Ibu..." Elif mencoba untuk menenangkan ibunya, tapi Zehra segera mengangkat jari telunjuknya di depan Elif, tanda bahwa Elif untuk diam.


"Iya, apa tujuanmu memilih anakku?"


"Apakah untuk menyukai anak Anda saya harus mempunyai tujuan? Lagi pula saya dan Elif saling menyukai."


"Menyukai? Omong kosong! Aku tahu betul seperti apa sifat anakku." tandas Zehra. "Ia tidak akan menjalin sebuah hubungan yang tidak mungkin."


"Maksud Anda?"


"Kau pasti mengerti maksudku. Kau orang yang sangat terpandang, sementara kami bukan siapa-siapa. Elif bahkan tidak secantik mantan mu yang model papan atas. Dan tiba-tiba kalian mengumumkan kalau Elif adalah calon istrimu? Apa kau pikir kami orang bodoh yang langsung mempercayai begitu saja?"


Elif nyaris menangis. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ibunya akan berpikir kritis seperti itu. Dia sangat ketakutan sampai meremas tangannya sendiri hingga setiap kukunya memucat. Kemudian Ardan tanpa peringatan meraih tangan Elif, melepaskan kepalan tangannya dan menggenggamnya.


"Apakah saya salah kalau saya yang lebih dulu jatuh cinta pada Elif? Apakah salah jika kemudian kami saling jatuh cinta? Apakah ada aturan yang mengharuskan dengan siapa saya harus jatuh cinta? Apakah jatuh cinta bisa diatur? Apakah menurut Anda saya tidak layak untuk anak Anda?"


Seandainya, oh, seandainya orang yang mengatakan semua itu adalah seseorang yang memang mencintai Elif apa adanya. Orang yang benar-benar jatuh cinta padanya. Dan seandainya orang itu adalah Gavin, Elif yakin saat ini juga dirinya pasti sudah pingsan karena perasaan bahagia yang sangat besar melebihi kapasitas ruang hatinya. Tapi sayangnya, pria yang berdiri disana, yang menggenggam tangannya hangat, yang mengatakan bahwa Elif telah membuatnya jatuh cinta adalah orang yang paling menyebalkan di atas bumi ini. Dan semua yang dikatakan adalah kebohongan dan sandiwara belaka.


"Apa yang harus saya lakukan untuk bisa pantas dimata Anda untuk bisa menjadi pendamping Elif?"


Zehra sampai tidak bisa berkata apa-apa melihat dan mendengar ketulusan yang terpancar dari sorot mata Ardan. Orang bilang, mata tidak pernah bisa berbohong.


"Saya tidak mempunyai tujuan lain. Tujuan saya hanya satu, bahagia bersama Elif."


Ya ampun, seandainya Nyonya dan Tuan besar mendengar ini, aku yakin Nyonya besar akan mengadakan syukuran satu bulan penuh. Teddy membatin dengan tetap mempertahankan ekspresinya yang datar.


"Kau... benar-benar mencintai anakku?"


"Tentu saja."


"Kau tidak akan mempermainkannya?"


"Tidak akan."


Tiba-tiba Zehra menangis dan langsung memeluk Ardan. Ya, wanita paruh baya itu memeluk pria yang dia pikir akan menjandi pendampin terbaik untuk anak gadisnya. Bisa menjadi pria yang dapat melindungi anak gadisnya yang tidak pernah diberikan oleh sosok ayahnya sendiri.


"Terima kasih telah menemukan Elif. Tolong jangan sakiti hatinya ya."


Dan seketika itu juga hati Elif menciut takut. Takut saat semua sandiwara ini berakhir, ibunya yang akan sangat kecewa dan bersedih. Bagaimana ia akan menjelaskan pada ibunya nanti setelah lima bulan ini berlalu?