HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Pria kesepian yang tak terbalas perasaannya.



Sonya dan Teddy akan ke rumah sakit untuk memberikan beberapa dokumen yang harus ditandatangani, meeting secara online, dan membahas pekerjaan lainnya. Sonya diminta untuk datang oleh Ardan dengan alasan untuk menemani Elif selama Ardan dan Teddy akan membahas pekerjaan. Sementara itu Gavin datang hendak masuk menuju ruangan Ardan.


"Maaf Pak, Pak Ardan tidak ada di tempat." kata Sonya.


"Oh begitu, apa sedang pergi bersama Elif?" tanyanya melihat kursi yang biasa yang tempati Elif kosong.


Sonya malah mengerutkan dahi. "Apa Pak Gavin tidak tahu beritanya?"


Gavin mengerutkan dahi. "Berita apa? Sonya, saya baru saja kembali dari Singapore, saya tidak tahu berita terbaru di perusahaan. Apa yang terjadi?"


Sonya pun dengan singkat jelas dan padat menceritakan dan menjelaskan apa yang telah terjadi pada Elif saat itu. Tentu saja penjelasan Sonya membuat Gavin sangat terkejut dan khawatir. Dan begitu tahu Sonya bersama Teddy akan ke rumah sakit, tentu saja Gavin akan ikut bersama mereka.


Teddy hanya mengangguk saat Gavin mengatakan akan ikut bersama mereka ke rumah sakit, meski pada akhirnya Gavin tetap membawa mobilnya sendiri.


"Kenapa tidak kau tanyakan dulu ke saya apakah boleh menceritakan pada Pak Gavin apa yang terjadi pada Nona Elif." kata Teddy ketika mereka sudah dalam perjalanan.


"Maafkan saya Pak, saya pikir Pak Gavin juga berhak tahu, karena Pak Gavin dan Elif kan berteman." jawab Sonya.


"Berteman kata siapa?"


"Elif yang pernah cerita kalau dirinya dan Pak Gavin berteman."


"Hmmm."


"Tapi kalaupun saya tidak cerita, bukankah mungkin Pak Gavin juga tetap akan tahu dari orang lain."


"Ya. Tapi setidaknya tidak sekarang."


"Maaf Pak."


"Minta maaf nanti pada Pak Ardan. Kau tahu, Pak Ardan sedang merasa tidak baik pada Pak Gavin karena hubungan pertemanannya dengan Nona Elif."


Sonya benar-benar langsung menciut, ia baru teringat kejadian di ruang meeting. Merasa bodoh karena tidak berpikir dua kali dulu.


Sesampainya di rumah sakit, mereka bertiga langsung menuju ruang VVIP tempat Elif menjalani perawatan. Teddy tentu saja sudah lebih dulu mengabari Ardan tentang keikutsertaan Gavin hari ini.


Pastikan Gavin yang lebih dulu masuk ke dalam kamar.


Begitulah balasan pesan yang Teddy dapatkan dari Ardan setelah memberikan kabar mereka bertiga sudah sampai dirumah sakit.


***


Ardan membantu Elif untuk duduk dengan sedikit menaikkan tempat tidur, kemudian membenarkan posisi bantal Elif, yang itu berarti jarak wajah diantar keduanya sangatttt dekat. Elif bahkan bisa merasakan hembusan napas pelan Ardan pada keningnya dan itu membuat sesuatu bergelenyar pada perutnya.


Dua hari ini Ardan begitu berbeda dengan Ardan yang selama ini Elif dan mungkin semua orang kenal. Ia begitu lembut, perhatian dan pengertian. Sangat jauh berbeda dengan sosok menyebalkan yang pernah Elif ceritakan pada Yura dan Mona.


"Pak,"


"Ya?"


"Apakah saya boleh menghubungi Yura dan Mona?"


Ardan kemudian duduk di tepi tempat tidur, menghujani Elif dengan tatapan lembut yang... ah, membuat jantung Elif dag dig dug.


"Aku paham kau pasti merindukan keluargamu dan teman-temanmu, hanya berduaan denganku di kamar ini pasti membuatmu bosan, maaf."


"Bukan begitu..."


"Tidak apa, aku paham kok. Tapi, aku sungguh menyesal tidak bisa membiarkanmu untuk menghubungi Yura juga Mona. Aku khawatir mereka akan memberitahu ibu dan ayahmu."


"Ah ya, benar juga."


"Jangan bersedih begitu, kau tahu, hari ini Sonya dan Teddy datang."


"Mbak Sonya datang?" Wajah Elif seketika sumringah.


"Kenapa kau hanya senang mendengar nama Sonya, apa kau tidak senang Teddy juga datang?"


"Huh, Pak Teddy bahkan hampir tidak pernah bicara panjang, keberadaannya bahkan bagaikan ada dan tiada."


Ardan tertawa mendengarnya. Melihat Ardan tertawa begitu santai ternyata menular pada Elif yang ikut tertawa.


"Percayalah, meskipun terlihat dingin dan tanpa ekspresi, Teddy orang yang cukup mempunyai hati yang hangat dan bersahaja."


Mendengar itu malah membuat Elif semakin tertawa sampai membuat perutnya sakit.


"Sshh, pelan-pelan tertawanya."


"Lagian mana mungkin Pak Teddy orang yang berhati hangat dan bersahaja. Dia saja tidak pernah terlihat tersenyum."


"Senang aku melihat kau tertawa seperti ini." ucap Ardan. Refleks tangannya terjulur untuk menyingkirkan anak rambut pada kening Elif.


Elif tersenyum rikuh.


"Kau pasti juga akan senang kalau aku bilang Gavin juga datang bersama Sonya dan Teddy."


"Apa? Kak Gavin?" Sorot mata Elif seketika berbinar.


"Ah, aku merasa iri padanya, mendengar namanya saja membuat matamu berbinar." Ardan tersenyum masam.


"Pak..."


"Hehehe, tak apa. Aku hanya mencoba untuk jujur dengan apa yang aku rasa padamu."


"Tentu saja tidak apa-apa. Ia datang menjenguk. Apa hak ku melarangnya?"


Elif mengigit bibirnya memandang Ardan dengan bimbang.


"Jangan melihatku seperti pria kesepian yang tak terbalas perasaannya."


"Pak Ardan, saya mohon berhenti bercanda seperti itu."


"Aku tidak bercanda, Elif. Ya, baiklah tidak mudah memang langsung percaya padaku begitu saja. Karena itu, aku hanya ingin mengatakan yang sejujurnya saja padamu tentang apa yang aku rasa. Itu saja. Kau boleh menerima, kau juga boleh tidak menerimanya. Aku tidak akan memaksa."


Kenapa mendengar ucapan Ardan membuat hati Elif rasanya begitu tersentuh? Apakah Ardan benar-benar dengan perasaannya? Apakah benar-benar tidak ada sandiwara lagi? Benarkah dirinya tidak masalah jika mamanya tahu bahwa hubungannya dengan Elif hanya sandiwara?


"Aku akan keluar, agar kau dan Gavin juga Sonya bisa leluasa mengobrol. Aku akan ke kantin, untuk membahas pekerjaan disana bersama Teddy. Aku rasa mereka sebentar lagi sampai."


Ardan hendak beranjak tapi lagi-lagi Elif menahannya. Ada secuil perasaan yang selalu muncul tak terduga setiap kali Ardan hendak meninggalkannya tapi Elif enggan untuk membiarkan Ardan lepas dari pandangannya.


"Ehm, apa saya boleh minta tolong, Pak?"


"Tentu saja."


"Bisa bantu saya untuk ikat rambut saya?"


"Memangnya kenapa dengan rambutmu?"


Elif tersenyum kecut.


"Baiklah." Ardan membantu Elif untuk duduk lebih tegak, kemudian ia duduk di belakang Elif.


"Aku harus mengikatnya dengan apa? Apa kau punya karet rambut?"


"Biasanya aku selalu simpan karet rambut di tas."


Ardan langsung mengambil tas Elif yang kemarin sudah dibawakan Teddy. Tas dan juga handphone. Setelah mendapatkan satu karet rambut, ia kembali duduk di belakang Elif dan mulai merapihkan rambut Elif yang megar.


"Dari mana kau mendapatkan rambut seperti ini? Aku lihat ayah dan ibunya tidak mempunyai rambut yang keriting."


"Saya juga tidak tahu, Pak. Ibu bilang, dari neneknya ibu."


"Wow cukup jauh ya." sahut Ardan sambil terkekeh.


"Apakah aku harus mengepangnya atau hanya diikat saja?"


"Menurut Pak Ardan yang terlihat rapi seperti apa?"


"Kau ingin terlihat rapih karena akan ada Gavin?"


"Saya..."


"Tidak apa-apa, aku memaklumi, hanya saja bagiku kau tetap terlihat spesial, mau diikat, di kepang, atau di gerai sekalipun." Ardan akhirnya memutuskan untuk mengepang rambut Elif. Yes, Ardan bisa mengepang rambut!


Diam-diam Elif tersenyum.


"Kau tahu, rambutmu mengeluarkan aroma manis yang segar, aroma yang membuatku kebingungan sendiri sampai mencari di toko untuk untuk menemukan aroma terapi yang sama persis. Tapi tidak ada."


"Aroma manis yang segar?" Elif tertawa. "Aroma manis dan segar dari mananya Pak? Saya bahkan belum keramas sejak kemarin. Yang ada rambut saya bau apek."


"Tidak, tidak! Aku bersumpah, saat ini bahkan aku ingin tidur dengan rambut mu sebagai bantalku."


Elif semakin tertawa.


"Kau bisa tanya pada Teddy, sejak kapan aroma mu ini menjadi candu bagiku. Dan yang anehnya lagi, hanya aku yang dapat mencium aromanya ini. Aneh kan?"


"Ke-kenapa bisa begitu ya?" Tiba-tiba Elif malah merasa gugup.


"Entahlah. Mungkin karena," Ardan selesai mengepang rambut Elif, ia berdiri kembali di depan Elif, memandang Elif dengan tatapan intens. "Aku dan kau ditakdirkan untuk kembali bertemu setelah aku terjun ke waduk."


"Wa-duk?"


Cklak!


Pintu kamar pun dibuka, Gavin masuk lebih dulu, ia melihat bagaimana intensnya Ardan menatap Elif, sementara Elif terlihat heran, entah karena apa. Kemudian disusul Sonya dan Teddy.


"Elif!" Sonya segera menghampiri Elif dan memeluknya.


Ardan menyingkir dari tempatnya.


"Aku akan kembali setelah jam kunjungan selesai." kata Ardan sambil lalu melewati Gavin.


Kemudian keluar dari kamar bersama dengan Teddy.


"Apa Anda yakin meninggalkan Nona Elif dengan Pak Gavin?"


"Ya, tidak apa-apa." jawab Ardan sambil mereka berjalan menjauh dari ruangan VVIP itu.


"Aku tidak akan memaksakan perasaanku pada Elif mulai sekarang, yang akan aku lakukan hanya menunjukkan ketulusan dan kejujuran hatiku saja. Aku, yakin dengan memberikannya ruang, dia akan menyadari perasaanku jujur dan tulus padanya. Semua hanya menunggu waktu."


Teddy benar-benar tercengang mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut pria yang selama ini selalu berkomitmen untuk tidak menjalin hubungan percintaan sampai kapan pun.


Apakah dia benar-benar Pak Ardan? Atau mungkin jelmaan dari sesuatu?