HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Pelukan tiba-tiba.



"Ibu pulang saja, istirahat di rumah. Biar Elif yang jaga Ayah." kata Elif setelah operasi Yanuar berjalan lancar dan sudah dipindahkan ke kamar perawatan VVIP atas permintaan Ardan.


"Tidak, tidak, biar Ibu saja. Kau tahu sendiri ayahmu sebelum pingsan sedang dalam posisi marah padamu. Ibu khawatir kalau ayahmu bangun dan langsung melihatmu akan membuatnya meledak lagi tanpa alasan." ucap Zehra dengan rasa letih. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan Elif selalu saja menjadi tempat pelampiasan kemarahan suaminya itu.


"Iya Kak, biar aku saja yang temani Ibu dan Ayah." kata Adit.


"Tidak, tidak, kau juga pulang Nak."


"Benar Ibu tidak apa-apa?" tanya Elif lagi.


"Iya. Nak Ardan, tolong antarkan Elif dan Adit sampai ke rumah ya."


"Tentu saja, Bu. Jangan khawatir. Saya akan kembali saat dan menjelaskan semuanya kepada Pak Yanuar agar beliau tidak lagi berburuk sangka." kata Ardan.


Elif, Adit, Ardan bersama Teddy akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit. Tidak terasa waktu pun ternyata telah bergulir malam. Hari itu terasa begitu panjang bagi Elif. Ia tidak tahu apakah keputusannya adalah hal yang tepat untuk kedepannya. Apakah hidupnya akan berubah menjadi baik. Apakah hubungannya dengan ayah akan membaik atau sebaliknya. Ia tidak bisa menerka apa yang akan terjadi kepadanya hari esok.


Sosok Ardan hari ini telah menjadi penyelamat bagi ayahnya. Tapi tidak tahu selanjutnya, apakah Ardan akan terus menjadi penyelamat dalam hidupnya atau justru menjadi bumerang dalam hidup Elif.


Adit tertidur dengan bersandar pada bahu Elif, anak itu juga begitu lelah. Teddy menyetir tanpa bersuara. Ardan pertama kalinya duduk di jok samping kemudi dan memejamkan mata. Elif hanya menatap kosong jalanan yang mereka lalui.


Tidak sampai satu jam, mereka sampai di depan rumah. Elif cukup terkejut karena Teddy tanpa bertanya arah padanya tapi tahu-tahu mereka sudah sampai.


"Bagaimana Pak Teddy tahu rumah saya?" tanya Elif terheran-heran dengan suara pelan agar tidak membangunkan Adit.


Namun Teddy tidak menjawab. Dia hanya memasang tampang datar dan membuat Elif keki.


"Dit, bangun, kita sudah sampai." Elif membangunkan adiknya itu. Adit merenggangkan ototnya, mengucek-ucek matanya.


"Kupikir aku sudah tidur di kamar, tidurku nyaman sekali."


"Ya, tapi bahuku kram, kau berat." tandas Elif.


Kakak beradik itu pun turun dari mobil. Ardan tetap di dalam, ia hanya menurunkan kaca jendelanya.


"Kau masuklah duluan." kata Elif pada Adit.


Adit mengangguk, kemudian mendekati Ardan, "Bang Ardan, terima kasih untuk hari ini, ya. Abang sudah jadi penyelamat kami."


"Penyelamat?" Ardan membeo.


"Iya. Semoga Abang selalu sehat ya Bang. Abang Teddy juga."


Ardan tertawa, menjulurkan tangannya keluar jendela dan mengacak rambut Adit. "Masuklah ke dalam, lanjutkan tidurmu."


Adit mengangguk kemudian masuk ke dalam rumah.


Ardan yang tadinya enggan keluar dari dalam mobil, tiba-tiba membuka pintunya dan keluar. Ia berdiri bersandar pada body mobil, kedua tangannya masuk kesaku celana. Meski sudah lelah, pria itu tetap saja tampan rupawan.


"Ada yang ingin kau ucapkan?" tanya Ardan sambil menatap gadis berambut megar di depannya.


"Terima kasih untuk bantuan Pak, eh, maksud aku, untuk bantuanmu semuanya." kata Elif rikuh.


"Ya. Sandiwara ku sangat all out di depan Ibumu. Aku harap kau pun bisa melakukan hal yang sama di depan orang tuaku besok."


"Besok?"


"Ya, besok pagi Teddy akan menjemputmu. Sebelum ke kantor, kita akan ke rumah orang tuaku dulu." kata Ardan. "Kita harus jelaskan kepada mereka hubungan percintaan romantis ini dan meyakinkan keduanya." Sambung Ardan. "Setelah jam kerja, kau dan aku akan kembali ke rumah sakit untuk temui ayahmu dan menjelaskannya agar tidak selalu buruk sangka padamu."


"B-baik Pak, eh, Baik."


"Jujur saat ibumu menceritakan semuanya bagaimana sikap ayahmu selama ini padamu membuatku berpikir, kenapa kau mau berkorban begitu besar untuknya?"


"Karena biar bagaimana pun, ayah adalah ayahku."


Ardan mendengus. "Alasan klasik seorang anak yang berbakti."


Seketika Elif mengangkat kepalanya, entah kenapa dia tidak suka dengan respon Ardan yang meremehkan alasan Elif.


"Memangnya kenapa kalau saya ingin berbakti pada orang tua saya meski ayah selalu kasar dan tidak pernah menyayangi saya? Apakah saya harus membiarkan ayah saya sakit dan pergi meninggalkan kami hanya karena sikapnya selama ini pada saya? Haruskah saya tidak peduli pada kesehatan orang tua saya sendiri? Harus kah saya cuek saja saat orang tua saya tidak ditangani oleh pihak rumah sakit? Saya tidak bisa seperti itu. Saya bukan orang yang seperti itu. Kalau memang dengan cara ini dan memang ini cara satu-satunya saya bisa membaktikan diri saya untuk ayah, tentu saya lakukan. Terlepas nantinya ayah akan berubah baik atau tidak sama sekali." Elif menahan emosinya untuk tidak pecah. Ia tahu dimana ia berdiri. Ada Adit di dalam rumah yang pasti akan curigaa jika Elif berteriak kesal, ada para tetangga yang pasti akan kepo dengan apa yang terjadi. "Orang seperti Anda pastinya tidak akan pernah tahu seperti apa rasa yang saya jalani selama ini."


Jadi ia menahannya, namun genangan air mata tidak bisa membohongi betapa ia ingin sekali menangis.


Ardan tidak berkata apa-apa. Ia tidak mampu atau mungkin tidak sampai bisa berpikir dan memiliki hati yang besar seperti Elif. Ia menghela napas. Tangannya keluar dari dalam saku, diangkat dan mengusap pipi Elif, tentu saja membuat Elif terkejut dan hendak mundur, namun dengan cepat Ardan malah menariknya dan memeluknya.


"Kau gadis yang baik. Menangislah kalau kau ingin menangis. Tapi kau harus tetap kuat dan tegar." ucap Ardan dengan lembut seraya mengusap punggung Elif untuk memberikan ketenangan.


"Ted!"


"Maaf Tuan." Dengan segera Teddy menyemprotkan cairan disinfektan ke dalam mobil.


Acara peluk-pelukan Ardan dan Elif pun usai. Rasa canggung menyelimuti Elif dengan sangat tiba-tiba, meski Ardan kelihatannya biasa saja.


"T-terima kasih untuk hari ini. Saya masuk dulu."


"Elif,"


"Ya?"


"Besok, jangan ada lagi saya dan anda."


"Eh, iya."


"Masuklah dan istirahatlah."


Ardan dan Teddy pun meninggalkan tempat. Dengan Ardan yang kembali duduk di jok belakang. Pikirannya melayang dengan harumnya aroma Elif walaupun dia tahu seharian gadis itu tidak mandi. Selain itu hatinya merasa iba dengan apa yang selama ini dijalani Elif. Sosok galak, terkadang sinis, berani dan selalu cekatan dalam segala hal ternyata begitu merindukan kasih sayang sosok ayah yang tidak pernah ia dapatkan.


"Ted, apa kau bisa menjalani hidup seperti Elif? Apa kau akan tetap berkorban demi seseorang yang bahkan selalu menyakitimu?" tanya Ardan.


Teddy yang ditanya pertanyaan random menurutnya itu tidak tahu harus menjawab dan merespon apa. Ia juga tidak yakin apakah bosnya benar-benar menginginkan sebuah jawaban atau hanya sekedar mengeluarkan apa yang dia pikirkan.


Lalu kemudian dari kaca spion Teddy melihat Ardan mulai memejamkan mata.


Teddy menghela napas pelan. Ternyata hanya iseng bertanya. Untung belum repot-repot cari jawaban.


***


Suara cicitan burung-burung, ayam-ayam yang berkokok saling bersahutan menjadi penanda matahari pagi mulai menerangi langit. Segala aktivitas rutin setiap orang kembali di mulai. Elif sudah berada di dapur sejak subuh, menyiapkan makanan untuk Adit karena yang pasti rumah makan tidak akan buka sementara waktu, dan adiknya akan tetap di rumah.


Setelah selesai dengan urusan dapur, Elif bergegas bersiap diri sebelum Teddy datang menjemput. Seorang tetangga, wanita diatas paruh baya dengan rambut putih namun masih begitu sehat, datang.


"Iya, Oma?" Elif membuka pagar, begitulah orang-orang disana memanggil wanita itu.


"Oma dengar ayahmu dibawa ke rumah sakit kemarin naik ambulan?" tanya Oma.


"Iya Oma."


"Yang sabar ya, Nak. Lalu bagaimana kondisinya?"


"Sedang masa pemulihan, Oma. Setelah operasi kemarin, ayah sudah dipindahkan ke ruang perawatan."


"Alhamdulillah, nanti siang mungkin Oma sama ibu-ibu disini mau tengok ayahmu di rumah sakit. Boleh?"


"Boleh dong Oma. Sebentar aku tulis dulu tempat ruang perawatan Ayah."


Elif kemudian masuk ke dalam rumah, dengan cepat menuliskan nama paviliun dan ruangan tempat Yanuar dirawat. Kemudian ia kembali ke Oma yang menunggunya di teras.


"Nanti Oma kasih tahu ke ibu-ibu yang lain."


"Terima kasih Oma. Sampaikan terima kasihku untuk ibu-ibu yang lainnya."


"Tentu saja, Nak." Oma menepuk-nepuk bahu Elif.


Masih ada Oma di teras, sebuah mobil sedan sport merah yang jelas sangat kontras dengan lingkungan sekitar, tiba-tiba berhenti tepat di depan pagar rumah Elif. Seorang pria dengan berkaca mata hitam, pakaian formal yang melekat sangat sempurna pada tubuhnya yang tinggi atletis, keluar dari dalam mobil sport tersebut.


"Siapa itu, Nak?"


Elif tidak tahu apa yang harus dia jawab. Apakah kepada tetangganya ia juga harus berbohong?


"Selamat pagi, Sayang." Ardan membuka kaca matanya dengan gaya yang sayang elegan tanpa dibuat-buat. Ia kemudian menyapa Oma dengan sopan bahkan sampai sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menyalami tangan wanita itu.


"Kau siapa?" tanya Oma.


"Saya Ardan, calon suami Elif."


Oke, sepertinya Elif memang benar-benar harus berbohong pada setiap orang. Jika saja Ardan bukan orang yang membantunya untuk membayar semua operasi dan pengobatan ayahnya, pria itu akan masuk ke dalam daftar hitam orang-orang yang paling dia benci di dunia.


Seumur hidup, Elif tidak pernah berbohong pada ibunya atau pada orang lain, kecuali saat hatinya sakit dan sedih karena perlakuan ayahnya namun ia tetap tersenyum dan bilang dirinya baik-baik saja.


Dan sekarang karena sandiwara yang dibuat pria di depannya itu, dan kesepakatan Simbiosis Mutualisme konyol yang dibuatnya, kini Elif telah menjadi pembohong besar.