HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Obrolan santai sahabat.



Beberapa bulan berlalu, Elif sudah mulai kembali kuliah, melanjutkan apa yang pernah menjadi impiannya meski sekarang ia merasa ragu dengan mimpi yang selama ini ia pegang. Apakah impian yang selama ini ia pernah perjuangkan adalah memang impian yang muncul dari hatinya atau hanya untuk pembuktian pada sosok ayah yang selalu meremehkannya bahwa ia tidak akan bisa menjadi siapa-siapa meski mimpi dan cita-citanya setinggi langit. Namun, Elif tetap menjalaninya dengan semangat.


Yura dan Mona sudah sibuk dengan bolak-balik merevisi skripsi mereka, sesekali mereka nongkrong bareng seperti jaman sebelum Elif bertemu dengan Ardan, dan Yura ditaksi orang paling kaku sedunia. Mereka bertiga menikmati hembusan angin sepoi-sepoi pada sebuah gajebo di bawah pohon rindang pada salah satu taman di area kampus. Membicarakan kisah-kisah lucu masa lalu, kadang kisah yang membuat emosi dan tangis, ada juga kisah yang membuat si pencerita bahkan sebelum mulai bicara sudah ketawa duluan, siapa lagi kalau bukan Yura yang begitu kelakuannya.


"Ish, anak ini kebiasaan deh, belum cerita apa-apa tapi udah ngakak aja." Omel Mona santai.


"Tau ih, apa sih, Ra." timpal Elif.


"Hhhffttt.... oke, oke..." Yura mencoba menenangkan dirinya dari serangan tawa. "Kalian ingat tidak, si Lukas? Cowok yang naksir berat sama Mona?"


"Yang rambutnya super klimis itu, bukan?" Elif mengingat-ingat.


Yura mengangguk.


Tawa Mona, Elif dan Yura pun seketika pecah.


"Yang itu orang tidak ada angin, tidak ada hujan, tahu-tahu datang ngasih cincin ke aku dan bilang, will you marry me?" Mona sambil terkekeh. "Lah belom dijawab, dia malah kabur duluan."


"Dia ngeri melihat kau melotot." Timpal Elif.


"Ya siapa juga yang tidak akan melotot kalau seperti itu."


Mereka kembali tertawa.


"Kaget aku tuh, yang bikin tidak sanggup tawa ketawa adalah, pas kabur dia kentut!"


"Astaga! Yura ingat saja sih!" Elif semakin terbahak-bahak.


Setelah puas tertawa mengingat kenangan-kenangan lucu masa lalu, mereka menerka-nerka bagaimana kabar Lukas saat ini. Karena setelah kejadian, beberapa minggu setelahnya, Lukas pindah kampus. Tidak lagi terdengar tentang kabar cowok kurus, rambut klimis yang tergila-gila sama cewek tomboy dan jago berantem.


"Eh, tapi omong-omong, Mon, kalau waktu itu Lukas tidak ketakutan duluan, dan bertahan dengan posisinya melamar mu di depan tukang bakso gepeng, kau terima atau tolak?" tanya Elif.


"Tolak, lah! Ya kali aku menerimanya." jawab Mona percaya diri.


"Eh jangan gitu, mana tahu ternyata kalian jodoh, dipertemukan lagi oleh semesta dan Lukas sudah berotot dengan rambut spike." ujar Yura.


"Ya kalau dia sudah jadi begitu, ya dia yang tidak mau lah sama aku."


"Berarti kau yang mau kalau dia sudah jadi rupawan begitu?"


"Enggak juga!" Mona tertawa. "Sudah, ah, kenapa jadi ngomongin soal Lukas. Kau bagaimana dengan Teddy?"


"Iya nih, gimana ceritanya orang paling pelit ekspresi kayak dia bisa-bisanya ngelamar anak gadis orang." Elif menimpali.


"Memang dia pelit ekspresi banget ya, El?"


"BANGET!" jawab Elif setelah melotot. "Sampai sekarang saja nih, kalau tidak ditanya ya tidak ngomong sama sekali. Padahal dia sudah melamar sahabatku. Hih!"


Yura terkekeh, "Padahal dia kalau sama aku tuh seperti orang yang berbeda banget loh, dia romantis banget."


"Masa?" Elif dan Mona bersamaan.


Yura mengangguk. "Contohnya semalam, aku bilang kalau aku mumet banget merevisi skripsi, pengen peluk dia sebentar tapi kan aku tahu dia masih di kantornya. Eh, tahu-tahu sejam kemudian dia sudah ada di depan rumah, bawa sate padang!"


"Really?"


Yura mengangguk.


"Pantas saja, Ardan cerita tadi, katanya semalam Teddy ngerjain kerjaan super kilat karena harus buru-buru pergi, dia bahkan sampai lupa pamit sama Ardan, dan tadi pagi dia datang minta maaf segala sama Ardan karena lupa pamit." Cerita Elif sambil terkekeh.


"Kak Ardan marah?" tanya Yura khawatir.


Yura senyum-senyum.


"Memang, ya, kadang cinta membuat seseorang berubah menjadi seseorang yang lucu." kata Elif.


"Huft, jadi tidak sabar pengen ngerasain jatuh cinta." Celetuk Mona.


"Makanya jangan menutup hati melulu." kata Yura. "Tidak selamanya mereka yang datang akan meninggalkan luka."


"Wess, mantap banget nasehatnya Yura." Timpal Elif.


"Orang lagi dimabuk asmara mah vibes nya beda." Goda Mona.


***


Teddy mengerutkan kening membaca pesan singkat yang dikirimkan Yura padanya.


[Mas, ada kenalan yang bisa dikenalin ke Mona, tidak? Kalau bisa yang orangnya lucu, dan jago berantem.]


Beberapa kali Teddy mengetikkan kalimat, tapi dihapusnya kembali. Ia tidak tahu apa maksud calon istrinya itu apa. Kenapa tiba-tiba ingin mengenalkan Mona pada seseorang? Apakah ini sebuah perjodohan? Kalau memang iya, Teddy lebih memilih angkat tangan. Ia sama sekali tidak mengerti dan tidak mau mengerti soal comblang mencomblangi.


"Ted!" Panggil Ardan.


"Ya, Pak?" Teddy segera menghampiri.


"Kenapa kening mu berkerut begitu?"


"Eh, oh, tidak apa-apa, Pak."


"Masalah Yura?" tebak Ardan.


"Ehm, tidak juga, Pak. Tapi, memang ini pesan dari Yura."


"Tumben mengerutkan dahi, biasanya kalau ada pesan masuk dari Yura, kau langsung menahan senyum."


Glek! Teddy sama sekali tidak menyangka bosnya itu ternyata memerhatikannya. Padahal Teddy pikir dia sudah menahan ekspresinya sebisa mungkin.


"Tidak perlu malu mengekspresikan perasaan cinta, Ted. Itu bukan dosa. Gaji mu pun tidak akan aku potong kalau kau tersenyum atau tertawa atau salto sekali pun, selama kau tidak melakukannya saat sedang meeting." ujar Ardan dengan santai.


"Eh, iya Pak. Terima kasih." jawab Teddy. Ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Lalu apa yang membuatmu mengerutkan kening begitu? Kalau aku boleh tahu."


"Yura bertanya apakah ada kenalan yang bisa dikenalkan untuk Mona, orangnya harus yang lucu dan jago berantem."


"Apa? Mona? Lucu dan jago berantem?" Ardan ikut mengerutkan kening.


Nah kan, bos aja ikutan mengerutkan kening.


"Apa mereka lagi mau mencomblangkan Mona?"


"Saya juga belum tahu, Pak."


"Hemmm... Mona dan Yura itu sudah seperti adik-adikku, aku senang Yura bersamamu, aku yakin kau bisa menjaganya. Dan Mona, meski kelihatannya dia bisa menjaga dirinya sendiri, tapi aku yakin dia pasti butuh tempat untuk bersandar juga. Lucu dan jago berantem sepertinya memang cocok untuk karakter Mona, ya kan?"


Teddy hanya mengangguk. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak mengerti soal comblang mencomblangi. Yang dia tahu, dua orang hanya bisa jatuh cinta ketika keduanya bertemu karena memang kemauannya, atau karena memang takdir yang membuat mata mereka bersitatap dan menyampaikan pesan.


Dia tidak tahu soal apa pun yang menyangkut bahwa cinta pun juga bisa tumbuh walau diawali dengan sebuah perjodohan jika memang itu sudah takdir.