
Zehra menemukan handphone Elif berdering di dalam kamar. Pantas saja, Ardan puluhan kali menghubunginya tidak ada jawaban. Sementara Gavin mengikat tangan Yanuar dengan lakban ke gagang pintu, Teddy mencoba mencari tahu keberadaan Elif dengan menghubungi orang-orangnya.
"Apakah mungkin Elif ke tempat Mona atau Yura?" tanya Gavin.
"Ibu rasa tidak. Elif bilang tidak ingin mengganggu Mona atau Yura karena mereka sedang menghadapi UAS." jawab Zehra.
"Kau dengar itu?" Cetus Ardan pada Yanuar. "Elif mempunyi hati yang paling tulus dan murni sedunia, dan kau malah memperlakukannya seperti itu!"
"Aku menyesal..." ujar Yanuar.
"Jangan harap aku percaya dengan penyesalanmu!" Tandas Ardan. "Telan saja penyesalanmu di dalam sel nanti."
"Kumohon, jangan penjarakan aku. Kumohon, Zehra, tolonglah... aku berjanji akan berubah. Aku berjanji-"
"Tidak!" Tolak Zehra dengan tegas. "Kau ingat saat kau selesai operasi, kau meminta maaf pada Elif, kau katakan kau menyesal, tapi apa sekarang yang kau lakukan pada putriku? Kau melakukan pelecehan padanya dan kau juga berniat menjualnya!"
"Apa? Ayah melecehkan Kak Elif dan mau menjual Kak Elif?!" Tiba-tiba Adit datang, ia sudah berdiri diambang pintu, masih dengan seragam sekolahnya yang lengkap. Keterkejutannya melihat betapa kacaunya keadaan rumah berubah menjadi kemarahan yang timbul pada permukaan wajahnya. Ia bahkan tidak bersimpatik melihat tangan ayahnya yang terikat dengan lakban pada gagang pintu.
"Keterlaluan sekali! Itu Kak Elif! Kakakku! Anak ayah! Ayah melecehkan anak ayah sendiri?! Ayah macam apa Ayah ini?!" Teriak Adit penuh emosi. Zehra segera menghampiri Adit, memeluk putranya, menenangkannya, tapi Adit memberontak dari pelukan Zehra, ia menghampiri Yanuar dan melihatnya dengan tatapan jijik.
"Asal tahu saja, jika saja aku bisa memilih, aku tidak ingin memiliki ayah sepertimu!"
"Adit..."
"Jangan memanggilku! Aku tidak sudi menjadi anakmu! Ayah macam apa kau ini melecehkan putrimu sendiri? Apa kau mau memakan darah dagingmu sendiri?!"
"Dia bukan anakku! Elif bukan Kakakmu! Berhenti membelanya!"
"Ap-apa?" Adit melangkah mundur, keterkejutan menghantamnya.
"Yanuar!" Pekik Zehra.
"Kenapa? Biar saja Adit tahu yang sebenarnya!"
"Kau dengar itu, Gav," ujar Ardan. "Belum ada lima menit dia bilang menyesal."
"Apa... maksud... Ayah?" tanya Adit terbata.
"Ya, Elif bukan anakku! Dia anak ibumu bersama pria lain yang menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja, dan aku yang terkena sial karena harus menikahi ibumu dan menampung anaknya, si Elif itu!" kata Yanuar yang lupa dengan penyesalannya dan permohonannya sebelumnya. "Tapi kau adalah darah dagingku, Adit. Kau satu-satunya anak ayah. Kau tahu Ayah sangat menyayangimu."
Adit melihat Zehra yang tidak membantah kata-kata Yanuar, air mata berderai pada wajah tirus letih ibunya. Sementara Yanuar tersenyum penuh kelicikan dan penuh dendam. Seperti orang yang merasakan sebuah kemenangan karena telah membongkar sebuah rahasia besar pada Adit yang dia yakini akan membuat Adit membelanya dan memilihnya, karena dia berpikir Adit pasti marah karena telah dibohongi selama ini oleh ibu dan Elif
Adit terdiam sejenak. Ia mengatur napasnya yang tiba-tiba sesak menerima kenyataan yang sangat tiba-tiba merubah keadaan dimana kakak yang selama ini menjadi contoh tauladannya adalah bukan kakaknya? Apakah benar begitu? Apakah tidak ada darah Elif yang mengalir pada darahnya?
"Apa Kak Elif tahu soal ini?" tanya Adit.
"Ya, dia sudah tahu!" Yanuar menjawabnya dengan cepat.
"Elif tahu tepat sebelum ayahmu itu melecehkan Elif." Ardan menimpali dengan cepat. Membuat Yanuar menatap Ardan kesal. "Hei, kenapa melihatku seperti itu? Kenapa tidak kau katakan pada Adit, kau juga baru memberitahukan kebenaran tentang dirimu pada Elif tepat sebelum kau melecehkannya dan akan menjualnya? Jangan memberitahu informasi setengah-setengah dong!"
"Adit, dengarkan Ayah, Ayah tidak bersalah. Semua ini terjadi karena keluarga dari Ibumu. Mereka berhutang pada keluarga Ayah dan tidak mampu membayar hutang, akhirnya mereka malah menyerahkan ibumu dan anaknya sebagai bayaran dari hutang mereka. Itu sangat tidak adil bagi Ayah, bukan? Mereka juga sudah menghancurkan hidup Ayah!"
"Lalu kenapa Ayah mau menerima Ibu kalau memang Ayah tidak mau menikahi Ibu? Kenapa Ayah tetap menikah dengan Ibu dan membuatku lahir dan memiliki seorang ayah yang hatinya penuh dendam seperti ini!"
"Adit... tapi Ayah juga korban disini..."
"Tidak..." ujar Adit kemudian. "Ayah bisa saja mengambil keputusan untuk menolak Ibu, tapi Ayah memilih untuk menerima dan berniat membalas dendam? Bahkan Kak Elif! Dia orang yang sangat tulus menyayangi Ayah walau Ayah selalu menyakitinya!"
"Mungkin bagi Ayah, Kak Elif bukan darah dagingmu. Tapi bagaimana pun Kak Elif adalah darah daging ibu, begitu pun denganku. Walaupun aku dan Kak Elif berbeda ayah, bagiku Kak Elif adalah Kakakku satu-satunya yang kupunya!"
"Adit! Tapi aku Ayahmu!"
"Apapun yang terjadi antara Ayah dan Ibu di masa lalu tidak membuat ayah berhak menyakiti Kak Elif selama ini. Apa lagi sampai melecehkan dan akan menjual Kakakku!" Teriak Adit. "Kau tahu, Yah, lebih baik aku kehilangan sosok Ayah yang tidak berhati sepertimu dari pada aku kehilangan Kak Elif dan Ibu."
Membuat semua orang tercengang dengan pernyataan anak lelaki itu. Bahkan Zehra sampai tidak habis pikir bagaimana Adit yang selama ini terlihat cuek ternyata bisa mempunyai cara berpikir yang dewasa dan lebih bijak dari orang dewasa seharusnya.
"Oh Adit, anakku..." Zehra pun langsung menghambur memeluk putranya. Menghujani Adit dengan ciuman pada puncak kepala dan wajahnya lalu memeluknya lagi sambil terus menangis.
"Ibu jangan menangis lagi. Aku berjanji mulai sekarang aku akan melindungi Ibu dan juga Kakakku!" Janji Adit. Tatapannya tajam menghunus langsung ke jantung Yanuar yang menatap penuh nanar dan keputusasaan.
"Adit," Panggil Ardan.
"Iya Bang,"
"Ibu akan menggugat cerai ayahmu. Apa kau bisa menerima perceraian orang tuamu?" tanya Ardan langsung pada intinya. Ya, Ardan memang tidak suka berbasa basi.
"Ibu akan menceraikan Ayah?" tanya Adit pada ibunya.
Zehra mengangguk.
Lagi-lagi semuanya dibuat terkejut, karena Adit langsung memeluk erat tubuh Zehra dan berkata, "Aku setuju, Bu, aku setuju!"
Hancurlah sudah hidup Yanuar. Kehilangan keluarga, kehilangan anak yang selama ini ia banggakan karena hatinya yang memilih untuk menimbun dendam dan memilih untuk menyakiti orang yang tidak bersalah. Apakah kini penyesalan masih bisa berlaku untuknya?
"Dimana Kak Elif?"
"Kita tidak tahu." jawab Gavin.
"Maksudnya?"
"Ayahmu membuat Kakakmu pergi, dan mengancam semua orang yang ingin membantunya. Dan sekarang kita belum bisa menemukan keberadaan Kakakmu." jawab Gavin.
"Keadaannya bahkan tidak baik saat pergi. Kakinya berdarah, kau lihat itu bekas jejak kaki berdarah Elif. Dan bajunya sobek karena kebejatan orang itu." Ardan menunjuk Yanuar yang kini tidak lagi bisa menunjukkan arogansinya.
"Ayah benar-benar tidak memiliki hati sebagai manusia!" Maki Adit.
"Tenang Adit, tenang." kata Gavin.
Tak lama kemudian polisi datang, Ardan pun memberikan kesaksian tentang kejadian hari itu. Polisi pun juga bertanya pada tetangga yang melihat bagaimana keadaan Elif saat terakhir kali mereka melihatnya. Usai melaksanakan prosedur dasar, akhirnya Yanuar pun dibawa oleh polisi. Lakban yang mengikat tangannya kini menjadi sebuah borgol dingin.
Adit bahkan tidak ingin melihat ayahnya, ia memalingkan wajahnya ketika Yanuar diboyong keluar dari dalam rumah. Semua tetangga berkumpul, mereka pun sama seperti orang-orang yang berada di dalam rumah, tidak ada simpatik pada wajah para tetangganya. Sampai ia akhirnya masuk ke dalam mobil polisi dan sirine pun berbunyi. Mobil polisi pun akhirnya meninggalkan lokasi. Gavin ikut bersama mobil polisi yang lainnya sebagai perwakilan saksi yang akan memberikan keterangan di kantor polisi.
"Ted, apa sudah ada kabar?" tanya Ardan.
"Belum ada Pak."
"Periksa seluruh CCTV yang ada di kota ini kalau perlu!" Titah Ardan. "Ibu, Adit, aku dan Teddy akan mencari Elif. Kalian tetaplah di rumah, tunggu kabar dariku."
"Tapi Nak..."
"Ibu Zehra, percaya padaku, aku pasti akan menemukan Elif kembali. Aku janji."