HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Harus memilih.



Benar kata Teddy, Yanuar sedang dalam keadaan mood yang tidak baik. Di lobi, pria itu terus saja marah-marah pada siapa pun yang berusaha menenangkannya. Ia bahkan tidak segan-segan nya memaki Ardan sebagai pria arogan, munafik dan tidak tahu malu, sampai membuat semua orang begitu terheran-heran, siapa dia yang sangat berani menjambak rambut singa yang tertidur?


"Ayah!" Elif menghampiri Yanuar. "Ayah sedang apa?" Tanya Elif panik melihat ayahnya yang dipuncak emosi.


"Mana dia?! Mana dia?!" teriak Yanuar. Elif sampai merasa tidak nyaman, karena semua orang kini mengerumuni mereka yang berdiri di tengah lobi. Elif berusaha menenangkan ayahnya.


"Siapa, Yah?"


"Ardan! Calon suamimu itu!"


"Ayah, ada ap-"


"Jangan berani-beraninya kau panggil aku ayah!" Bentak Yanuar saat Ardan datang dan hendak bertanya.


Ardan menengok pada Teddy, dengan melontarkan pertanyaan, "Ada apa dengan ayahnya Elif?" Hanya melalui tatapan mata saja.


Dan Teddy menjawabnya dengan menggelengkan kepala pelan. Tetap dengan ekspresi datarnya.


Melihat Elif yang panik dan kebingungan pun jelas tidak akan membuahkan hasil jika bertanya. Ardan menghela napas, melihat hampir setengah dari semua staf yang bekerja disana berkumpul di lobi, tidak ingin melewatkan drama siaran langsung.


"Ted,"


"Iya Pak."


"Suruh mereka semua bubar dan kembali bekerja, atau aku akan memecat mereka semua tanpa pesangon." Ujar Ardan dengan begitu dinginnya. Sampai membuat hampir semua orang merinding.


Teddy langsung balik badan untuk menginstruksikan semua staf agar bubar tanpa harus meninggalkan kebisingan dan rasa penasaran.


Yanuar hendak ingin mengomel lagi, tapi dengan tegas Ardan mengangkat tangannya untuk meminta Yanuar menahan ledakan emosinya sampai semua orang pergi. Entah bagaimana, Ardan yang selama beberapa hari ini di depan Yanuar selalu terlihat ramah, kini mendadak berubah menjadi sosok yang begitu dingin yang menciutkan nyali.


Setelah semua orang bubar kembali pada pekerjaan mereka masing-masing yang tentu saja masih penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Padahal mereka baru saja tahu bahwa pria yang sangat berani memaki CEO mereka adalah ayah dari calon istri CEO itu. Penasaran, kan, pastinya. Ardan pun akhirnya meminta Elif untuk mengajak ayahnya ke ruang rapat di lantai dua.


Tanpa berkata apa-apa, Ardan berbalik badan berjalan mendahului Elif dan Yanuar. Teddy tentu berjalan tepat di belakang Ardan. Bahkan saat di dalam lift, baik Elif atau pun Yanuar tidak ada yang bicara sepatah kata pun. Aura dingin Ardan benar-benar membuat merinding.


"Jadi, ada apa Anda datang ke kantor ini dengan sikap yang sangat tidak sopan seperti tadi?" tanya Ardan begitu mereka berempat masuk ruang meeting tersebut dan duduk di pada kursi dengan meja meeting yang besar di depan mereka.


Sikap Ardan benar-benar berbeda. Ia seperti sedang tidak bicara dengan calon mertua, tapi lebih ke bawahan yang menuntut hak padahal kewajibannya tidak dilakukan dengan baik.


Matanya menatap tajam kepada Yanuar dan Elif.


Yanuar berdeham sebentar untuk menghilangkan kegugupannya yang tiba-tiba melanda dirinya. "Katakan padaku, apakah kau tahu PT. Berlian Kontraktor?" tanya Yanuar sinis.


"Ted, apakah kita tahu perusahaan itu?" Alih-alih menjawab langsung, Ardan malah bertanya pada Teddy.


"Iya, Pak, itu adalah salah satu perusahaan yang kita akuisisi." jawab Teddy.


"Hmmm," Otak Ardan pun seketika berputar dan mendapatkan jawaban atas apa yang membuat ayah dari gadis yang dicintainya itu memaki dirinya di lobi tadi.


"Apakah kau tahu, aku adalah salah satu dari orang-orang yang kau PHK secara sepihak!" Suara Yanuar meninggi. "Apa kau tahu orang ini yang sudah memecat Ayah dan teman-teman Ayah?!" kini ia bertanya pada Elif.


"Aku... aku..." Elif bingung bagaimana dia harus menjawab Ayahnya. Ia juga bingung dari mana Ayahnya tahu. "Ayah, sejak kapan Ayah tahu?"


"Sejak kau menyuruhnya," Yanuar menganggukkan dagunya ke arah Teddy, "Menjelaskan siapa Ardan kepada keluarga Ayah. Cih, MD Group Company! Ayah merasa familiar dengan nama perusahaan itu, dan ternyata benar saja begitu ayah tanya pada teman-teman Ayah, mereka ini lah yang telah berbuat tidak adil!"


"Sekarang, katakan, apa kau tahu aku adalah orang yang kau PHK?!"


Yanuar tertawa sinis. "Benar kata orang-orang, kau orang yang tidak punya hati nurani, arogan, sombong dan semena-mena!"


Ardan hanya mendengus.


"Ayah..."


"Kau, jangan membelanya!" Bentak Yanuar pada Elif sampai menghempaskan tangan Elif yang menyentuhnya dengan sangat kasar. "Jangan-jangan kau sudah tahu siapa dia? Jangan-jangan kau membodohi aku? Jawab!" Yanuar mencengkram lengan Elif sampai membuat Elif meringis kesakitan. Ya, sosok ayah yang hangat dan penuh kasih yang beberapa hari lalu telah meminta maaf atas setiap sikap kasarnya sudah menghilang dan kembali pada sosok aslinya.


Namun, cengkraman tangan Yanuar tidak bertahan lama di lengan Elif, karena Ardan telah berdiri dan melepaskan tangan Yanuar dalam sekali tarikan dan hentakan.


"Elif tidak tahu apa-apa." ujar Ardan membela Elif dengan suara yang rendah dan penuh penekanan. Lalu Ardan menarik mundur kursi Elif sehingga Elif kini berada di belakang Ardan.


"Anda bilang saya orang yang tidak punya hati nurani? Lalu bagaimana dengan Anda? Memperlakukan anak Anda dengan kasar tanpa kasih sayang apakah itu bisa disebut punya hati nurani?"


"Kau!" Yanuar mengacungkan jari telunjuknya kepada Ardan.


"Saya memberikan pesangon dua kali lipat dari pesangon yang Anda seharusnya terima, bukan kah lebih dari cukup?" ujar Ardan. "Dimana letak ketidak adilan saya?"


"Kau memecat kami dengan sepihak!"


"Sepihak?" Ardan menaikkan sebelah alis matanya. "Anda pikir saya memecat tanpa menimbang kinerja seseorang? Satu minggu cukup bagi saya mengamati dan mendapatkan laporan, siapa yang tidak produktif, atau hanya bisa menyuruh-nyuruh saja tanpa menguasai pekerjaannya."


Yanuar mulai terlihat gugup dan salah tingkah.


"Saya mempunyai kriteria siapa yang masuk dalam daftar ter-PHK sebelum masa pensiun, yaitu mereka yang berusia diatas 45 tahun yang tidak produktif, mereka yang tidak produktif meski berusia di bawah 45 tahun, dan mereka yang telah mendapatkan surat peringatan dari perusahaan karena kelalaian bekerja."


"Aku tidak... aku..."


"Sekarang katakan, Anda termasuk dalam kriteria yang mana?"


Yanuar terdiam.


"Dan orang-orang itu termasuk Anda yang seharusnya hanya mendapatkan uang kebijakan perusahaan saja sesuai dengan peraturan perusahaan kalian yang aku pelajari, tapi aku malah memberikan kalian pesangon yang aku berikan dua kali lipat. Katakan sekarang, dimana ketidakberadaan hati nuraniku?"


Skak mat!


Bahkan Elif pun ikut tercengang mendengarkan penjelasan Ardan. Rasa menyesal telah memaki Ardan langsung menaunginya. Hatinya begitu menyesal. Setelah apa yang dia katakan pada Ardan sebelumnya, pria itu tetap membelanya di depan Yanuar dan melindunginya dari sikap kasar ayahnya.


Ia benar-benar tidak tahu bahwa Ardan mempunyai aturan kriteria dalam memilih orang-orang yang diputuskan hubungan kerjanya. Elif juga tidak menyangka Ardan telah melakukan pengamatan sebelum mengambil keputusan.


"Apakah aku harus meminta Teddy mengambil dokumen pengamatan yang aku lakukan sebelum memasukkan nama Anda sebagai salah satu orang yang ter-PHK, agar tahu Anda termasuk dalam kriteria yang mana? Atau jika aku memang orang yang tidak memiliki hati nurani, apakah bisa aku meminta kembali pesangon yang telah aku berikan?" Ardan menaikkan alis matanya. Tidak ada luapan emosi dalam ekspresi dan nada suara Ardan.


Ia hanya berkata datar namun rendah dan penuh tekanan.


Kemudian ia berpaling kepada Elif yang air mata sudah menggenang dan tinggal menunggu untuk tumpah ruah.


"Sekarang katakan padaku, apa kau tetap mau mengakhiri semua ini?" tanyanya. Tatapan tajam Ardan yang mengunci mata Elif membuat Elif merasa begitu menyesal dan rasa sesak memenuhi dadanya. Di lain sisi, Yanuar telah menatapnya dengan sangat galak dan penuh ancaman.


Siapa yang harus Elif pilih? Ayahnya yang selama ini tidak pernah menyayanginya? Atau seorang pria yang telah menunjukkan cintanya untuk Elif?


"Aku..." Suara Elif bergetar