HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Sesi tanya jawab Ardan-Elif-Mona-Yura.



Pertanyaan Mona tentu saja membuat Elif kesulitan menelan sepotong kue yang baru saja masuk ke dalam mulutnya sampai-sampai ia harus mendorongnya dengan roasted milktea ice nya. Namun pria disampingnya itu malah tertawa penuh kerenyahan. Seperti pertanyaan Mona adalah pertanyaan komedi yang memancing tawa penonton.


"Apa kalian percaya dengan love at first sight?" tanya Ardan kemudian.


"Tidak." Mona menjawab.


"Iya." Yura menjawab. Mona mendelik pada Yura.


"Elif juga tidak." Lanjut Mona.


"Oh, benarkah?" Ardan melihat Elif sambil menaikkan kedua alis matanya.


Elif pun tersenyum manis. Atau lebih tepatnya, dimanis-manisin. "Iya." jawabnya.


"Kau memang benar sekali, Mona." kata Ardan kembali pada Mona. "Memang sejak awal, aku yang terpesona duluan pada sahabat kalian ini."


"Kak Ardan terpesona pada Elif?" Mendengar bagaimana Ardan mengatakan bahwa dirinya terpesona pada sahabatnya dan menatap Elif dengan tatapan sayang, membuat Yura akhirnya tersihir. Ya, Yura memang sejenis gadis yang menyukai cerita-cerita romantis.


Tiba-tiba terlintas ide cemerlang di dalam otak Elif untuk mengerjai bos nya yang berbohong dengan sangat lugas dan lancar jaya tanpa hambatan. Elif ingin lihat apakah Ardan masih bisa mengarang bebas dengan baik.


"Benar kah kau terpesona padaku sejak pertama kali kita bertemu?"


"Iya."


"Apa yang membuatmu terpesona? Seingatku, saat itu aku begitu berantakan dan aku meneriakimu penculik. Dan waktu itu kau bilang apa? Hemm... ah, kau bilang aku bukan tipemu." kata Elif dengan senyuman lebar pada wajahnya.


Mona seketika menegakkan tubuhnya, Yura juga cukup terkejut mendengarnya.


"Ah ya benar juga." Ardan mengusap kepala Elif dengan lembut. "Tapi kau tidak tahu, saat itu aku hanya terlalu gengsi untuk menunjukkan padamu bagaimana kau sangat mempesonaku. Kau satu-satunya perempuan yang mengataiku penculik. Jadi, yah, bagaimana ya, aku jadi terlalu gengsi untuk menunjukkan perasaanku."


Ah, sial! Tidak berhasil. Kenapa orang ini jago sekali sih?! Menyebalkan!


"Ya ampun, Kak Ardan, manis banget sih." Puji Yura. Mona kembali mendelik pada Yura.


"Dan kalian tahu apa yang lebih manis?" Ardan kembali pada Mona dan Yura. "Semesta pertemukan kami lagi sebagai atasan dan sekertaris."


"Aku selalu bilang pada Mona dan Elif, terkadang cinta memang datang dengan cara yang tidak terduga." ujar Yura.


"Tepat sekali." Ardan mengangguk.


Elif menahan kesal.


Mona masih menolak untuk percaya dengan kisah itu.


"Sampai akhirnya aku tidak lagi bisa menahan perasaan ini. Kalian pasti tahu kalau Elif orang yang sangat berani dan tegar. Dia tidak pernah mengeluh dan selalu bersyukur." ujar Ardan.


Astaga, kalau saja ya, kalau saja sanjungan itu bukan keluar dari mulut pria menyebalkan dan sangat menyebalkan ini, aku pasti sudah melambung tinggi!


"Ya, Elif memang gadis kami yang hebat." Puji Yura.


"Karena itu aku semakin jatuh hati padanya, belum pernah aku bertemu dengan gadis sepertinya."


Yura semakin tergila-gila dengan kisah palsu yang dibeberkan Ardan dengan sangat menyakinkan. Sementara Elif menahan rasa ingin memuntahi bosnya itu. Dan Mona masih berusaha mencari kebohongan dari apa yang diceritakan Ardan. Tapi sejauh ini, rupayanya Ardan cukup ahli dalam mempersuasi orang lain.


"Aku mengatakan padanya kalau aku jatuh hati padanya, mencintai gadis sepertinya membuat duniaku lebih bermakna."


"Lalu, kau langsung percaya dengan pernyataan perasaan Kak Ardan?" tanya Mona dengan sangat skeptis. Karena ia masih memegang teguh cerita Elif tentang bagaimana bosnya yang bernama Ardan itu adalah pria paling menyebalkan di dunia.


"Tentu saja tidak." Ardan yang menjawab. Padahal tadinya Elif akan menjawab 'iya' saja supaya cepat.


"Benarkah?" Mona kembali bertanya pada Elif yang direspon dengan anggukan. "Lalu kenapa kau jadi bisa menerima Kak Ardan? Aku yakin bukan karena uang, aku tahu betul kau bukan orang seperti itu."


"Tentu saja bukan karena uang, iya kan sayang?" Ardan menyeringai pada Elif yang hanya Elif sendiri yang dapat melihat seringaian pada wajah tampan Ardan.


"Bukan, tentu saja." Elif tahu betul apa maksud seringaian itu. Kalau bukan karena butuh uang, Elif tidak akan berada dalam posisi ini saat ini.


"Lalu?" Mona bertanya. Masih dengan nada skeptisnya. Ia tidak lagi peduli dengan status Ardan yang adalah seorang CEO besar di depannya.


"Aku... aku hanya menyadari kemudian kalau Ardan sangat tulus kepadaku," jawab Elif. "Ketulusan yang tidak pernah aku dapatkan dari Dimas." Sambungnya.


"Dimas?" Ardan mengerutkan dahi. "Dimas siapa?"


"Mantannya Elif yang berengsek dan pernah dihajar Mona sampai babak belur." Yura menjawab dengan sangat polos.


"Benarkah kau menghajarnya?" Ardan melihat Mona dengan tatapan takjub.


"Wow hebat sekali." Ardan berdecak kagum. "Terima kasih kalau begitu, kau sudah menghajar pria berengsek yang menyakiti calon istriku walaupun dulu aku belum bertemu dengan Elif."


"Jangan khawatir, Kak, aku tidak pernah sungkan menghajar siapa pun yang menyakiti sahabat-sahabatku." kata Mona penuh dengan penekanan setiap katanya.


Tapi bukan Ardan namannya kalau dirinya sampai terprovokasi.


"Mungkin kah aku harus merekrutmu untuk menjadi pengawal pribadi, Elif?"


"Jangan aneh!" Tukas Elif. "Kau sudah tahu kalau Mona dan Yura punya cita-citanya sendiri."


"Aku hanya bercanda, sayang." Ardan terkekeh.


Tiba-tiba handphone Ardan berdering. Ia pun meninggalkan meja untuk menjawab panggilan teleponnya. Setelah dirasa Ardan cukup jauh dari mereka, Mona segera menarik tangan Elif untuk mencari kebenaran dari cerita yang didengarnya.


"Elif, belum terlambat jika memang semua yang dia ceritakan adalah kebohongan." kata Mona dengan suara rendah.


"Eh, maksudmu apa, Mona?" Yura bertanya dengan bingung.


"Apa kau lupa bagaimana Elif waktu itu cerita tentang bosnya yang seenak-enaknya saja membuat aturan pekerjaan untuk Elif? Kau pikir itu bisa disebut sebagai orang yang jatuh hati pada orang yang disiksa ya dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya?"


"Memang terdengar aneh, tapi bisa jadi itu adalah sebuah cara untuk Kak Ardan agar bisa selalu dekat dengan Elif. Kau sendiri tadi dengar, kan, Elif tidak langsung menerima Kak Ardan waktu itu, jadi yah mungkin itu cara Kak Ardan untuk membuatnya bisa selalu dekat dengannya."


"Dengan cara menyiksanya?"


"Memangnya kau benar-benar tersiksa selama bekerja sebagai sekertarisnya?" Yura memilih untuk menemukan jawaban dari pertanyaan Mona dengan bertanya kepada Elif yang duduk di hadapan mereka dengan hati yang sangat merasa bersalah. Ingin sekali rasanya Elif jujur sejujur-jujurnya pada Mona dan Yura tentang sandiwara yang sedang ia lakoni. Tapi, Elif melihat pada Ardan yang menerima panggilan di luar cafe, melihatnya melalui jendela sambil melambaikan tangan.


"Ya," jawab Elif akhirnya.


"Sudah kuduga! Dia pasti mengancammu!" Mona hendak bangkit untuk menghampiri Ardan tentu saja, dan menghajarnya tidak peduli siapa Ardan. Tapi Elif dan Yura segera menahannya.


"Ya, awalnya memang sangat menyiksaku." kata Elif kemudian. "Aku merasa tidak punya waktu untuk keluarga dan kalian. Tapi," Elif memutar otak untuk membuat kisah yang meyakinkan Mona.


"Tapi?" Mona mengulangi dengan tidak sabar.


"Tapi semakin hari sikap Ardan berubah, ia begitu baik, begitu tulus, dan aku luluh."


"Luluh begitu saja?"


"Iya."


"So sweet." Yura memangku dagunya dengan tangan.


"Tapi kau bukan orang yang mudah luluh dengan pengakuan cinta begitu saja." kata Mona tidak peduli denga ekspresi Yura.


"Aku sendiri juga tidak menyangka dengan perubahan hatiku."


"Jadi apa kau benar mencintainya juga?" tanya Mona untuk terakhir kalinya begitu mereka melihat Ardan telah selesai dengan panggilan teleponnya dan bergerak menuju kembali ke dalam cafe.


Untuk beberapa saat, Elif sangat tidak mampu untuk meneruskan segala omong kosong ini. Semua kebohongan ini terlalu besar dan menakutkan bagi Elif. Entah bagaimana Ardan malah begitu santai melontarkan kata demi kata tanpa memikirkan bagaimana nanti setelah kesepakatan ini berakhir. Apakah semua orang kaya yang memiliki kuasa memang seperti itu? Tidak memikirkan bagaimana nantinya? Dan masa bodoh dengan orang lain?


Tapi kemudian bayangan ayahnya yang kini sedang dalam masa perawatan dan juga pemulihan dari penyakit yang bisa merenggut nyawa ayahnya kapan pun terbayang dalam kepala Elif. Jika bukan karena kesepakatan ini mungkin sampai sekarang ayahnya belum bisa dioperasi.


"Iya, aku juga mencintainya." jawab Elif pada akhirnya sambil menyilangkan jari telunjuk dan jari tengahnya di bawah meja.


"Maaf sekali semuanya," kata Ardan seraya kembali duduk di samping Elif. "Sangat menyenangkan ngobrol santai seperti ini. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku bisa duduk santai dan ngobrol santai dengan teman-temannku."


"Itu pasti karena Kak Ardan sangat sibuk." kata Yura dengan sangat prihatin.


"Yah begitulah, tapi karena Elif, semuanya berubah." Lagi ia menggombal yang malah membuat Yura terharu.


"Tapi kebersamaan ini harus berakhir, sayang sekali. Aku dan Elif haru segera kembali karena ada meeting tiga puluh menit lagi."


"Ah ya, benar juga." Elif membenarkan.


"Aku janji, lain kali, aku akan mengajak kita semua berlibur kemanapun kalian mau."


Elif mendelik. Permainan apa lagi ini?! Apa dia tidak cukup membuat kesulitan bagiku dengan segala omong kosong kebohongan ini? Sekarang dia mau menyabotase persahabatanku apa bagaimana?


"Wah benar nih Kak?" mata Yura berbinar.


"Tentu saja. Sahabat Elif adalah sahabatku juga."


Apakah aku boleh muntah sekarang? Elif membatin.