HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Kepulangan Elif



Hari itu juga, Elif dan Ardan diperbolehkan untuk pulang ke rumah setelah Fadil melihat secara fisik semuanya sudah kembali normal, kecuali bekas jahitan luka ditangan Ardan yang harus kembali dikontrol lima hari lagi. Tentu saja, Fadil yang akan datang ke apartemen tuan muda itu. Teddy dan Ardan mengantar Elif dan Zehra pulang tentu saja. Sementara Hanna kembali pulang bersama supir pribadinya.


"Ardan..." Panggil Elif.


"Ya?"


"Sepertinya kau belum menjawabku, kenapa tanganmu bisa dijahit begitu?"


"Oh ini, hmm.. aku menolong seorang wanita cantik, tidak sengaja dia melukaiku."


"Wanita cantik?" Elif mengulang, sambil menaikkan kedua alis matanya. Tersirat rasa tidak suka saat Ardan menyebut wanita cantik. Kemudian ia memalingkan wajah. "Bagaimana dia melukaimu?"


"Kenapa kau terdengar tidak suka?" tanya Ardan dengan santai.


"Tentu saja aku tidak suka!"


"Bagian mana yang membuatmu tidak suka? Wanita cantiknya? Atau aku yang terluka?"


Zehra menahan senyum. Ia tahu betul Ardan sedang menggoda putrinya. Sementara Teddy, ah, jangan ditanya, dia selalu menunjukkan ekspresi datar, bukan?


"Aku..." Elif memejamkan mata sebentar, meredam emosinya yang tiba-tiba naik. "Aku tidak peduli yang kau tolong itu seperti apa."


"Jadi kau tidak suka karena aku terluka?"


"Ya." Elif menjawabnya singkat. Tetap memalingkan wajahnya dari Ardan yang tersenyum penuh arti.


"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."


"Hm."


Perjalanan berlalu dengan Ardan yang sibuk menerima panggilan telepon perihal pekerjaan, sementara Zehra tertidur karena lelah. Dan Elif, diam-diam memerhatikan Ardan yang begitu serius dengan percakapannya. Tidak dipungkiri olehnya, ada sebuah rasa yang menggelitik perasaan Elif, ia tidak tahu apa.


Ia merasa sudah tidak lagi mempunyai alasan untuk tidak mempercayai perasaan yang pernah dinyatakan Ardan padanya, tapi ia tidak tahu apa alasannya. Ia tidak tahu sejak kapan Elif mempecayai pria itu. Ah, Elif melupakannya. Ia benar-benar tidak ingat apa yang telah terjadi padanya.


Terdengar Ardan tertawa, begitu renyah. Itu pertama kalinya Elif mendengar Ardan tertawa renyah saat sedang membicarakan pekerjaan. Apa yang membuat keseriusan pria itu berubah? Siapa klien yang ada dalam saluran panggilan itu? Laki-laki kah? Atau wanita?


Apa ini? Kenapa aku merasa tidah suka Ardan tertawa seperti itu untuk orang lain? Dan kenapa Ardan tampan sekali saat sedang serius seperti itu... astaga! Apa yang aku pikirkan?! Hentikan Elif! Atau kau akan jatuh cinta padanya! Aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Ayah bisa marah besar padaku. Walaupun ayah tetap salah, dan Ardan telah melakukan tugasnya untuk melindungi perusahaanya dan bahkan dengan baik hatinya ia memberikan hak yang melebihi hak pesangon setiap orang yang di PHK nya, tapi tetap saja...


"Elif," Panggil Ardan, entah sejak kapan pria itu sudah selesai dengan panggilan handphonenya. "Apa kau tidak bisa kembali ke perusahaan?"


"Maksudmu? Kembali menjadi sekertarismu?"


"Ya, menjadi sekertarisku dan..."


"Dan?"


"Menjadi istriku."


"Ardan!'


"Kenapa?" Ardan menaikkan kedua alis matanya, sementara Elif melotot sampai terlihat kedua bola matanya akan menggelinding keluar.


"Jangan bercanda!" Elif memelankan suaranya, melirik Zehra yang sepertinya pulas.


"Aku tidak bercanda, Ibu Zehra tahu betul aku tidak bercanda."


"Ayahku tentu tidak akan mengijinkanku. Apa kau lupa bagaimana Ayah marah waktu itu?"


"Ya aku ingat, dan aku yakin kau juga pasti ingat kalau aku mengatakan aku tidak akan meninggalkanmu."


Elif tidak mengelak. Iya ingat betul setiap kata yang diucapkan Ardan dalam bahasa Turki kala itu karena ada Ayahnya disana. Dan saat itu, ia percaya pada setiap kata yang terlontar dari bibir pria itu adalah sebuah ketulusan dan kejujuran.


"Dan aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Itu janjiku, padamu, pada Ibumu bahkan pada Mamaku." ucap Ardan dengan keseriusan yang luar biasa terpeta pada wajah pria itu.


Keren Bos!


***


Perjalanan mereka berakhir ketika mobil berhenti tepat di depan rumah. Elif membangunkan Zehra pelan, wanita itu terkesiap, tidak menyangka tidurnya bisa senyenyak itu.


"Maaf Nak Ardan, Ibu ketiduran."


"Tidak apa-apa, Bu."


"Suprise!" Adit, Mona dan Yura berada disana, ruang tamu sekaligus ruang keluarga itu pun sudah disulap dengan dekorasi balon-balon dan pita-pita yang meriah, seperti acara ulang tahun anak usia lima tahun.


Elif tentu saja tersenyum lebar, ia tidak pernah mendapatkan kejutan seperti ini, terlebih lagi ini adalah dirumah, tempat paling terlarang untuk membuat sebuah acara spesial untuk dirinya karena Ayah pasti tidak akan menyukainya. Yura dan Mona langsung memeluknya erat sekali sampai membuat Elif hampir terjatuh kalau saja Ardan tidak menahan tubuh Elif dengan tangannya.


"Bisa lebih manusiawi tidak memeluknya? Kalian hampir membuat calon istriku terjatuh."


Elif langsung melemparkan tatapan tajam, tapi tidak mempengaruhi Ardan.


"Hehehe, maaf, maaf. Kita cuma terlalu senang dan lega melihat Elif baik-baik saja!" kata Yura.


"Aku baik-baik saja, kok, Yura."


"Kakimu bagaimana?" tanya Mona


"Sudah baik kok, sudah bisa jalan dan pakai sandal nih." Elif menunjukkan sandal jepit karet merk sejuta umat.


"Gantian dong, aku juga mau memeluk kakakku." Adit menyingkirkan Yura dan Mona lalu langsung memeluk Elif. "Syukurlah Kak, kau baik-baik saja. Kau sangat membuat kami semua ketakutan."


"Ketakutan? Kenapa memangnya? Apa karena kaki ku tergores sedikit?" Ujar Elif lalu terkekeh. Adit melepaskan pelukannya. Ia menatap Elif dengan tatapan heran.


*Apa kau yakin kau baik-baik saja Kak, setelah apa yang terjadi?"


"Memangnya apa yang terjadi sih? Kau kan tahu, aku dan ayah sudah sering kali bertengkar, tapi sepertinya saat itu aku tidak sengaja menjatuhkan vas bunga Ibu. Itu saja. Aku baik-baik saja seperti biasa."


Adit melihat Ardan dan Zehra bergantian. Menatap dengan penuh tanda tanya. Namun Zehra hanya meresponnya dengan anggukan kecil. Bukan hanya Adit yang heran dengan sikap Elif, Mona dan Yura pun cukup tercengang.


Adit sudah menceritakan semuanya pada Mona dan Yura, itu saja mereka merasa sangat sakit dan sedih. Pastinya Elif akan jauh lebih terpukul nantinya. Tapi yang mereka lihat saat ini adalah, Elif yang tersenyum penuh haru melihat dekorasi meriah yang ada disana.


"Ada apa dengan Kakak, Bu?"


"Nanti saja, yang jelas sekarang jangan bahas tentang-"


"Ayah dimana? Apa Ayah tidak keberatan dengan kejutan ini? Atau Ayah sedang pergi makanya kalian berani membuat dekorasi seperti ini? Kusarankan, kita harus merapihkannya nanti kembali seperti sedia kala sebelum Ayah kembali." kata Elif sambil menyomot salah satu kue cokelat di atas meja makan.


"Bu, apa Elif tidak ingat apa yang telah terjadi?" tanya Mona dengan suara pelan pada Zehra.


Zehra menggeleng sedih.


Mona dan Yura sampai menutup mulut mereka yang menganga terkejut, tidak mampu berkata-kata. Lalu kemudian mereka semua keluar, mereka menuju teras saat Elif masuk ke dalam kamarnya.


"Apa dia mengingatmu, Kak?" tanya Yura pada Ardan.


"Iya, dia hanya tidak mengingat kejadian itu saja." jawab Ardan dengan suara pelan.


"Ya Tuhan! Apa dia mengalami semacam amnesia?"


Ardan mengangguk.


"Ya Tuhan..." Yura menutup mulutnya lagi.


"Tapi... bukankah itu lebih baik? Maksudku, Elif tidak lagi merasa sedih dengan kenyataan bahwa ayahnya bukanlah ayahnya, dan pria itu bahkan hendak melecehkannya?" ujar Mona.


"Ya mungkin untuk sementara waktu itu akan baik. Tapi itu artinya Elif tetap akan berpikir pria itu adalah ayahnya, darahnya, yang dia sayangi dan berharap suatu saat pria itu akan menyayanginya juga tanpa tahu kalau pria itu pernah mau melecehkannya dan berencana akan menjualnya."


Mona menghela napas, "Benar juga... meskipun kenyataannya pahit, setidaknya jika Elif tahu apa yang terjadi, dia tidak akan lagi berharap pada harapan kosong."


Ardan mengangguk.


"Tapi, apakah Kakakku akan lupa selamanya? Apa tidak bisa disembuhkan?" tanya Adit.


"Dokter bilang kemungkinan bisa dengan beberapa terapi. Tapi tergantung dengan mental Elif siap atau tidak." jawab Zehra dengan raut wajah sedih dan kecewa.


"Lalu apa yang harus kita katakan padanya kalau Elif bertanya dimana Ayah?" tanya Yura.


"Kenapa semua di teras? Apa yang sedang kalian bicarakan?" Elif tiba-tiba keluar dari dalam kamar, sudah mengganti pakaiannya dengan sweater oversize dan celana panjang.


"Tidak ada yang penting kok." Mona menjawab.


"Ayo cepat kita makan dan rapihkan lagi dekorasinya sebelum ayah datang."