HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Terpesona!



Ardan menggebrak meja, pertama kalinya Teddy membuatnya marah, tapi asistennya itu malah tetap terlihat tenang-tenang saja, seperti tidak terjadi sesuatu.


"Di dunia ini apa kau tidak kenal satu orang wanita pun yang tidak menyukaiku selain gadis itu?" tanya Ardan dengan suara rendah.


"Maaf Pak, saya tidak mungkin berkeliling dunia hanya untuk mencari wanita yang tidak menyukai Anda apa lagi hanya dalam waktu dua hari." Teddy menjawab dengan tenang. "Dan sayang tidak mempunyai kenalan teman wanita selain rekan-rekan di kantor dan klien bisnis Anda."


"Huh, ternyata kau kuper juga." Ardan menghela nafas kasar.


"Semua staf wanita di perusahaan sudah saya tanya satu per satu, dan semuanya begitu mengidolakan Anda."


"Tentu saja!" Sahut Ardan angkuh.


"Kecuali Elif dan mungkin Sonya." Teddy seketika menjatuhkan keangkuhan pangeran muda yang sedang diatas angin itu.


"Kenapa tidak sekalian saja Sonya yang menemaniku?" Cibir Ardan.


"Itu tidak mungkin Pak, karena Nona Marsha sudah sangat cukup mengenal Sonya. Tapi tidak dengan Elif. Pertemuan mereka hanya kemarin saja, dan kemungkinan Nona Marsha tidak akan mengingat wajah Elif."


Ardan terlihat berpikir, menimbang saran Teddy. Waktu hanya tinggal beberapa jam lagi, tidak ada waktu lagi untuk mencari 'teman kondangan' ke acara pernikahan mantan. Ia bangkit berdiri, mendekati jendela ruang kerjanya yang menghadap pada meja kerja sekertarisnya. Sonya disana sedang menjelaskan sesuatu pada Elif yang mendengarkan sangat serius.


"Tapi kupikir saran mu boleh juga, Ted." Tiba-tiba Ardan berkata. "Elif tidak akan curiga, karena pekerjaannya adalah menuruti semua perintahku. Menemaniku ke acara Marsha tidak akan membuatnya memandangku sebelah mata, bukan?"


Meski tidak terlalu mengerti apa inti dari ucapan bosnya itu, Teddy tetap mengangguk saja.


"Panggil dia ke sini."


"Baik Pak." Teddy beranjak keluar ruangan. Sementara Ardan kembali ke tempat duduknya. Cepat-cepat membuka beberapa dokumen dan pura-pura serius mengerjakan sesuatu pada layar laptopnya. Beberapa kali berganti posisi tangan yang tepat, antara memegang dagu atau memegang pena atau di atas keyboard sampai pintu kembali terbuka dimana Teddy masuk diikuti Elif, tangan Ardan berada pada dagunya, sok serius membaca dokumen.


"Apa yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Elif. Wajahnya sudah tidak secerah saat bertemu dan berbicara pada Gavin.


"Kau ikut Teddy sekarang, cari gaun dan perbaiki penampilanmu."


"Gaun? Penampilan? Untuk apa Pak?" tanya Elif bingung.


"Kau akan mempunyai tugas khusus malam ini." ucap Ardan. "Ted, kau tahu apa yang harus kau lakukan."


Teddy mengangguk.


Elif sama sekali tidak mengerti apa maksud Ardan. Dan juga tidak mengerti bagaimana Teddy mengerti dengan apa yang dimau oleh bosnya yang aneh itu.


"Tunggu dulu Pak, maaf, tapi saya tidak akan kemana-mana kecuali Anda beritahu saya apa tugas khusus malam ini?" Elif bertanya dengan intonasi kecurigaan yang tidak ditutupi.


"Kau jangan berpikiran negatif dulu, kau akan ikut ke sebuah acara pernikahan kolegaku." jawab Ardan. "Kau dan Teddy. Kalian adalah sekertaris dan asistenku. Jadi harus ikut." Buru-buru Ardan menambahkan.


Sudah kuduga. Aku pasti akan diikutsertakan. Teddy.


***


"Mbak, apa kau juga dulu diikut sertakan kalau ke acara pernikahan koleganya Pak Ardan?" tanya Elif pada Sonya saat mengambil tasnya dengan suara rendah.


"Tidak pernah. Kenapa?" tanya Sonya.


"Aku diajak ke acara koleganya Pak Ardan yang menikah malam ini."


"Apa?!" Keterkejutan Sonya bersamaan dengan Teddy yang keluar dari ruangan dan berdeham.


Elif segera mengekor Teddy yang berjalan menuju lift.


Beberapa menit kemudian, Elif dan Teddy sudah berada di sebuah mall besar yang tidak pernah Elif masuki karena tahu tidak akan barang apa pun yang dijual di dalam mall itu di bawah harga dua ratus ribuh rupiah, atau mungkin harga paling murah dari barang apa pun yang ada di dalam mall itu diatas lima ratus ribu.


"Maaf Pak, untuk apa kita ke sini?" tanya Elif, berusaha mensejajarkan langkahnya.


"Apa kau tidak ingat dengan perintah Pak Ardan?"


"Kalau mau mencari gaun, kenapa tidak ke pasar grosir saja? Disana juga banyak gaun-gaun yang bagus dan..." Elif tidak melanjutkan kalimatnya begitu melihat bagaimana tatapan sinis Teddy padanya. Terkadang Teddy justru lebih menakutkan dari pada Ardan.


Teddy langsung menyuruh seorang petugas butik mencarikan gaun-gaun untuk dicoba oleh Elif. Bukan hanya gaun, tapi juga alas kaki yang sesuai dengan gaun-gaun itu.


Hampir satu jam berlalu Elif mencoba setiap gaun yang ada, sampai pada satu gaun dengan warna yang kalem dan terlihat manis melekat pada tubuh Elif yang terbilang mungil. Teddy mengangguk kemudian membayar gaun beserta heels yang langsung dikenakan Elif. Setelah dari butik, mereka menuju sebuah salon yang sudah sangat terkenal.


Teddy terlihat bicara pada seorang pria yang sepertinya adalah pemilik dari salon itu, seorang pria berkepala plontos tanpa sehelai rambut pun menempel pada kulit kepalanya yang licin, menghampiri Elif dengan gaya berjalan yang melenggak-lenggok seperti model.


Pria feminin itu memandangi Elif dari atas ke bawah. Rambut hitam panjang yang dikepang. Kemeja dan celana bahan yang melekat tidak modis sama sekali. Flat shoes yang sama sekali tidak bergaya apa pun. Dan tubuh mungil itu berdiri dengan tegar tidak terintimidasi sama sekali dengan tatapan pria plontos itu.


"Ikut aku yuk." katanya dengan suara khas pria feminin. Ia berputar dengan bertumpu pada kedua tumitnya kemudian melangkah menuju salah satu kursi yang kosong dengan cermin besar di depannya.


"Duduk disini sayang." ucapnya lagi sambil menepuk-nepuk sandaran kursi itu.


Elif menurut, tidak terlalu banyak bertanya. Ia hanya ingin semua ini cepat selesai.


***


Ardan mengakhiri panggilan telepon bisnisnya dengan seorang klien dari Hongkong, kemudian memasukkan handphone itu ke saku bagian dalam jasnya.


"Apa dia bisa di make over?" tanya Ardan kepada Teddy dalam perjalanan menuju lokasi.


"Bisa Pak."


"Oh ya, seperti apa jadinya?"


"Anda akan melihatnya sendiri nanti Pak."


"Ya ya, baiklah. Dimana kau menyuruhnya menunggu?"


"Di restoran yang ada di hotel itu Pak."


"Apa dia tidak keberatan disuruh menunggu?"


"Kami sempat beradu pendapat karena Elif tidak mau disuruh menunggu di sana. Dia ingin ikut bersama saya menjemput Anda."


"Cih, dia pasti ingin membuatku terkesima dengan penampilannya. Dia tidak tahu saja, aku bukan tipe pria yang mudah terkesima dengan penampilan perempuan, apa lagi perempuan itu dia."


Teddy diam saja. Tidak berkomentar.


Tiga puluh menit lewat sedikit mereka tiba di lokasi. Setelah menyerahkan kunci mobil pada petugas valey, Ardan dan Teddy masuk ke dalam gedung hotel yang mewah itu.


"Saya akan menghubungi Elif agar segera menyusul ke ball room." ucap Teddy.


"Ya, suruh dia cepat, aku ingin segera pergi dari tempat ini."


Tak lama kemudian, Ardan mendengar langkah kaki yang mengenakan heels berjalan ke arah mereka. Seorang wanita, berbalut gaun yang begitu terlihat manis dan cantik pada tubuh mungilnya, rambut yang ditata elegan sehingga menunjukkan leher jenjang indahnya. Wajah yang terlihat familar tapi tidak juga, wanita itu terlihat tidak tersenyum tapi mengarah padanya, melihatnya, tepat dimata Ardan.


Deg!


Jantungnya berdenyut kemudian berdegup cepat. Otaknya memerintahkan kepada kelopak matanya untuk tidak berkedip menatap penuh keterpesonaan pada siapa pun wanita yang semakin mendekat itu. Bibirnya sampai terbuka saking tidak sadarnya ia terbius oleh kecantikan dan manisnya wanita itu. Sampai aroma manis yang telah menjadi candunya tercium menyapa hidung dan menyadarkannya.


"Ehem, Ted, dimana gadis itu?" Ardan segera mengalihkan pandangannya dari wanita tadi.


"Saya disini Pak." Bukan Teddy yang menjawab melainkan Elif. Ardan menengok dan betapa terkejutnya ia mendapati wanita yang telah membuat jantungnya berlarian kesana kemari itu adalah Elif.


"Siapa kau?!"


"Elif Pak! Sekertaris Anda.


"Anda bukan tipe pria yang mudah terkesima dengan penampilan perempuan, apa lagi perempuan itu Elif." Teddy berbisik pada Ardan dengan suara yang sangat rendah sekali. Entah mengingatkan prinsip pria itu atau menyindirnya.


//BERSAMBUNG//