
Ardan memandangi wajah istrinya yang sudah terlelap kelelahan setelah pergulatan panas mereka di atas ranjang. Ia menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi sebagian wajah Elif yang terpejam damai. Selimut ditariknya, menutupi tubuh istrinya yang polos, ia mengecup kepala Elif, kemudian ikut terlelap sambil mendekap erat wanita yang dicintainya itu.
"Terima kasih, istriku." bisiknya.
Hingga pagi menjelang, Elif menggeliat pelan. Tubuhnya seperti remuk semua, namun ia merasakan kenyamanan luar biasanya memeluk gulingnya. Sesaat kemudian ia merasakan ada yang berbeda dengan guling itu, Elif meraba bulu-bulu halus pada guling yang dipeluknya. Seketika matanya terbuka, ia sedikit terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya. Tapi hanya sebentar, keterkejutan itu berubah menjadi senyuman malu mengingat aktifitas semalam.
Astaga, semalam pasti aku sangat memalukan. Runtuknya dalam hati mengingat dirinya yang awalnya begitu malu namun kemudian tubuhnya tidak sejalan dengan rasa malunya.
Ardan bergerak, buru-buru Elif mencoba bangkit dari posisi nyamannya, tapi seketika bagian kewanitaannya terasa perih dan sakit.
"Akh!" Ia meringis kaget sendiri dengan apa yang ia rasakan.
"Ada apa?" Ardan segera membuka mata, mengusap kepala Elif dengan lembut namun tatapannya khawatir.
"Sakit." Ucap Elif
"Apa yang sakit?"
"Itu..."
"Itu?" Ardan mengernyit.
"Iya... itu... ehm, itu aku sakit, ehm... perih." jawab Elif malu, lalu menutup wajahnya dengan selimut.
Melihat tingkah istrinya yang masih saja malu-malu padahal semalam Ardan sudah melihat semuanya, membuat pria itu menjadi gemas, ingin melahap lagi wanita itu. Tapi, Ardan tahu diri, ia tidak mungkin memaksakan keinginannya. Ia tidak mungkin menyakiti istrinya hanya karena keinginan hasratnya.
"Maafkan aku, ya, milikmu jadi sakit dan perih begitu." Sesal Ardan.
Elif mengeluarkan kembali kepalanya dari balik selimut, tangannya terulur menyentuh wajah tampan suaminya. Ia tersenyum, kemudian berkata, "Tidak apa-apa, aku akan mandi air hangat, pasti bisa menghilangkan perihnya."
"Oke, aku saja yang siapkan bathtub dengan air hangat, kau tunggu disini, oke?" Ardan mengecup kening Elif lalu bangkit dari kasur.
"Ardan!" Teriak Elif, seketika ia menutup wajahnya.
"Ada apa?" tanya Ardan berbalik badan tanpa rasa dosa.
"Pakai baju dulu!" Omel Elif.
Ardan tertawa sambil meraih celana pendeknya yang semalam ia lempar ke atas lantai. "Padahal semalam kau sangat takjub melihatnya."
"Ardan!"
"Hahaha, baiklah, baiklah, aku siapkan dulu air hangatnya ya." Pria itu pun masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Elif yang masih menyembunyikan tubuh polosnya di bawah selimut.
Ia mengusap wajahnya, memandang langit-langit kamar dengan senyum yang menghiasi wajahnya pagi itu.
Rasanya ini seperti mimpi. Aku yang tidak diinginkan ayah kandungku. Aku yang dibenci ayah tiriku. Aku yang membuat Ardan terluka. Aku yang membuat seseorang mempunyai dendam dan berusaha mencelakai aku dan orang lain. Kini, aku berbaring disini, dengan hati yang penuh bunga, dicintai, mencintai, dihargai dan dihormati seorang pria yang pernah kubenci. Ini masih seperti mimpi. Apakah aku pantas mendapatkan semua cinta ini? Kebahagiaan ini? Oh Tuhan... kenapa rasanya kini aku takut, aku takut kalau ini benar-benar mimpi dan aku kembali terbangun dalam kenyataan pahit yang selama ini aku jalani.
Tidak terasa air mata sudah menetes dari sudut matanya.
"Sayang, air hangatnya sudah siap." Ardan keluar dari dalam kamar mandi.
Buru-buru Elif mengusap matanya.
"Kau kenapa?" tanya Ardan, duduk ditepi kasur, menyentuh wajah istrinya. "Nangis kenapa? Apakah sesakit itu? Perih sekali ya?"
Elif menggeleng. "Bukan itu, aku hanya... aku hanya takut semua ini hanya mimpi."
Ardan tersenyum, membantu Elif untuk duduk lalu mendekapnya, menghidu aroma pada tumpukan rambut megar Elif, lalu mengecup keningnya cukup lama.
"Ini bukan mimpi, sayang." kata Ardan lembut. "Aku bisa menjaminnya."
Elif mengangguk.
"Baiklah, jangan menangis lagi, oke. Istriku harus bahagia!" ujar Ardan seraya menyibak selimut yang menutupi tubuh Elif.
"Ardan!"
Pelan-pelan Ardan membawa Elif masuk ke dalam bathrub yang sudah berisi air hangat dengan aroma terapi yang menenangkan.
"Bagaimana?"
"Nyaman sekali." jawab Elif jujur.
"Benarkah?" Ardan menaikkan alis matanya. "Kalau begitu aku juga mau."
"Eh, mau apa?"
"Mau berendam juga sayang, sambil menggosok dan memijat punggungmu." jawab Ardan santai sambil melepaskan celananya.
"Apa kau tidak bisa melepas celana tidak di depanku?" Protes Elif.
Tapi pria itu hanya terkekeh kemudian ikut masuk berendam di dalam bathtub. Tidak usah ditanya kemana saja tangan Ardan berwisata di dalam bathtub itu selain memijat dan menggosok punggung Elif.
"Kenapa kau tertawa tiba-tiba?" tanya Ardan.
"Aku merasa lucu saja."
"Apanya yang lucu."
"Kau seorang CEO yang sangat dikagumi, berwibawa, berkharisma, kadang kau dingin, yang kau pimpin bukan hanya satu perusahaan, tapi saat ini kau menggosok punggungku."
"Hahahahaha, memangnya kenapa kalau seorang CEO tampan seperti aku menggosok punggung istriku sendiri? Aku kan juga manusia, sayang, suami yang takut istri juga."
"Kau takut padaku?" Elif menengok ke belakang, melihat suaminya tidak percaya.
"Tentu saja."
"Memangnya aku galak?"
"Hahaha, bukan itu sayang, aku takut kau berhenti mencintaiku dan kau berpaling dariku." jawab Ardan sejujur-jujurnya, layaknya pria bucin.
"Aku pasti sudah gila kalau sampai begitu." Elif berbalik badan, menatap suaminya dan merangkum wajah itu dengan kedua tangannya.
"Justru aku yang takut, banyak wanita yang lebih cantik, kaya, pintar yang menyanjungmu, memujimu, mencari perhatian padamu yang mungkin saja mereka tidak peduli kau sudah mempunyai istri. Aku yang takut kau terpikat pada perempuan lain."
"Ya mungkin kau benar, banyak yang seperti itu, tapi meskipun mereka salto di depanku, mereka tetap tidak akan mendapatkan apa-apa dariku, karena mereka bukan kau." Ucap Ardan sambil mentowel hidung Elif. "Yang ada mereka akan langsung diusir oleh Teddy karena menghalangi jalanku bahkan sebelum aku melihat mereka."
Pagi itu pasangan suami istri itu saling mengucapkan ketakutan mereka masing-masing yang malah membawa mereka pada tawa yang mengisi ruangan kamar mandi itu. Ngobrol santai sampai air yang mengisi bathtub tidak lagi hangat.
Setelah mandi dan berpakaian, Elif mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, ia selalu kesusahan mengeringkan bagian belakang rambutnya yang akhirnya membuat Ardan membantunya. Tentu saja menjadi sedikit lama karena Ardan sebentar-sebentar tergoda untuk mengecup tengkuk leher Elif, atau menenggelamkan wajahnya pada rambut Elif.
"Kenapa kau senang sekali menenggelamkan wajahmu pada rambutku, sih?" tanya Elif sambil terkekeh geli.
"Aku sudah bilang, aku sangat menyukai aromamu."
"Baiklah, kita sarapan saja sekarang, nanti kau terlambat kerja."
"Ah, aku malas sekali ke kantor." Keluh Ardan, mematikan mesin hairdryer lalu memeluk Elif dari belakang. "Aku ingin di rumah saja bersamamu."
"Jangan begitu, kau bilang hari ini ada meeting penting."
"Hmmm..."
"Ayo sarapan."
"Maafkan aku ya, harusnya kita pergi berbulan madu, tapi aku malah ada meeting dadakan seperti ini."
"Tidak apa-apa, kita kan bisa bulan madu setiap hari."
"Benarkah? Apa tidak apa-apa kalau kita setiap hari itu?" tanya Ardan menyeringai.
"Cepat sekali nyambungnya ya?" Sindir Elif seraya keluar kamar.