HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Obrolan santai menghabiskan malam.



Ardan menuntun Elif untuk ke kamar mandi. Sebenarnya Ardan sudah mau menggendong Elif, tapi Elif mengancam akan menahan pipisnya kalau Ardan menggendongnya dengan alasan tubuhnya pasti berat. Padahal bagi Ardan, tubuh Elif seringan bulu ayam. Tentu saja alasan Elif hanya alibi. Ia menghindari rasa-rasa aneh pada dirinya yang hanya ada saat dirinya bersentuhan dengan Ardan. Jangan tanya rasa apa itu? Karena Elif sendiri juga tidak paham.


"Kau yakin bisa sendiri?" tanya Ardan khawatir.


"Memangnya kau mau apa?"


"Kata suster tadi kan, kalau bisa aku jangan sampai meninggalkanmu di kamar mandi sendirian."


"Aku akan hati-hati."


"Baiklah, tapi kau yakin?"


Elif sudah melotot galak.


"Maksudku, tadi pagi kan kau seperti melihat Kinan di cermin."


Elif terdiam sebentar. Sebenarnya dirinya juga ragu, ada sedikit ketakutan dalam dirinya untuk masuk ke dalam kamar mandi sendirian. Walaupun dia tahu Kinan tidak mungkin akan masuk ke dalam kamar mandi itu. Tapi kejadian di kamar mandi kantor saat itu meninggalkan sedikit trauma bagi Elif.


"Aku bisa menemanimu."


"Jangan aneh!"


"Aku akan balik badan, aku akan memejamkan mata, dan menutup telinga. Aku akan menjadi tak kasat mata."


Elif berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Mereka terpaksa menghentikan perjalanan panjang mereka dari tempat tidur menuju kamar mandi di pertengahan jalan, sambil Ardan memegangi Elif juga tiang infusan. Kalau saja ada staf kantor selain Teddy, Sonya dan Gavin, yang lain tidak akan percaya bahwa pria di samping Elif adalah CEO mereka yang selama ini selalu tampil dengan elegan dan berkharisma, beraura dingin dengan segudang peraturannya yang menyebalkan.


"Tetap saja kau itu laki-laki, aku tidak mungkin di dalam kamar mandi bersama laki-laki." Protes Elif.


"I could be a woman if you wish." Ujar Ardan sambil bergaya seperti perempuan yang sedang mengibaskan rambut panjangnya. Alih-alih marah malah membuat Elif tertawa.


"Jangan membuatku tertawa disini, nanti aku bisa pipis dilantai!"


"Lagian takut sekali aku akan ngapa-ngapain denganmu."


"Tentu saja!" Elif mencibir. "Aku akan masuk sendiri. Kau tunggu aku tepat di depan pintu, jangan sampai ada yang masuk."


"Memangnya siapa yang akan masuk?"


"Kinan!"


"Dengar, tidak akan ada Kinan selama aku disini, oke?" Ujar Ardan sangat lembut yang ditambah dengan tatapan intens.


"Baiklah." Elif mengangguk. "Kalau begitu kau tidak perlu masuk!"


"Oke! Begini saja, apa yang membuatmu ketakutan tadi pagi?"


"Aku seperti melihat Kinan di cermin saat aku cuci tangan."


"Kalau begitu, jangan kunci pintu, kau selesaikan misimu, setelah itu pakai atributmu dengan lengkap kemudian panggil aku, cuci tangan denganku, jangan sendirian. Bagaimana?"


Elif menimbang sebentar, kemudian setuju. Mereka melanjutkan perjalanan menuju kamar mandi yang jadi terasa sangat jauh.


Elif menutup pintu setelah berkali-kali Ardan mengingatkan untuk tidak mengunci pintu dan jangan melihat cermin. Huh, kenapa jadi terasa horor begini? Tapi Elif menurut, karena tahu kebawelan Ardan juga untuk kebaikannya sendiri. Perlahan Elif menuju closet dan membuka celananya pelan-pelan untuk bisa segera menyelesaikan misi panggilan alamnya dan secepatnya keluar dari kamar mandi.


Setelah selesai, ia memakai kembali celananya dan memastikan pakaiannya sudah terpakai dengan baik, Elif pun memanggil Ardan.


"Sudah?" tanyanya masih dari luar pintu kamar mandi.


"Iya. Aku mau cuci tangan."


"Oke." Ardan membuka pintu dan masuk, seperti sesuai yang mereka sepakati. Ardan membantu Elif untuk berjalan pelan ke wastafel.


"Jangan angkat kepalamu. Menunduk saja, fokus cuci tangan saja." Titah Ardan. Ia bahkan sampai mengangkat telapak tangannya di depan wajah Elif agar Elif tidak bisa melihat cermin.


"Padahal aku mau bercermin juga." keluhnya.


"Untuk apa? Kau sudah cantik."


Pernyataan spontan itu pun tanpa direncakan Ardan, juga tanpa diduga Elif membuatnya tersipu.


"Aku tahu." Cetusnya untuk menutupi perasaan geernya. "Aku hanya ingin melihat apa ada sisa daun seledri di gigiku."


"Tunjukkan saja gigimu padaku, tidak perlu melihat cermin." ujar Ardan.


"Iiii!" Sontak Elif menunjukkan deretan giginya pada Ardan karena kesal.


"Woah!" Cantik sekali! Tahan Ardan! Tahan! "Kau kumur-kumur atau apa, kenapa gigimu penuh daun seledri semua?" Ledeknya guna menutupi keinginannya untuk melahap Elif bulat-bulat.


"Benarkah?" Mata Elif membulat.


"Bercanda!" Ardan terkekeh. "Gigi mu bersih seperti gigi balita."


Keduanya pun tertawa.


***


Jam makan malam pun tiba, Elif dengan sisa napsu makan yang dipaksakan tetap menyantap makan malam menu rumah sakit malam itu, sementara Ardan memesan makanan via online lagi. Bukan pizza, tapi nasi padang! Benar-benar menyebalkan.


Walaupun Ardan makan sambil membelakangi Elif, tetap saja gestur pria itu sangat terlihat menikmati nasi padang dengan lauk ayam bakar yang maha nikmat itu.


Setelah makan malam usai, Ardan sibuk dengan pekerjaannya di laptop, beberapa kali juga ia menghubungi Teddy dan beberapa kliennya dimana Ardan memohon maaf karena harus melakukan meeting via online. Ada terbesit perasaan bersalah pada Ardan gara-gara menjaga dirinya.


"Kenapa belum tidur? Apa kau terganggu karena aku terlalu berisik?" tanya Ardan seraya menutup layar laptopnya.


Elif menggeleng. "Maaf sudah merepotkanmu."


"Hmmm, akan aku maafkan kalau kau traktir aku makan steik di restoran yang dulu pernah kita datangi setelah meeting."


"Restoran yang mana?" Ardan mengernyit.


"Restoran yang kau bertemu dengan perempuan cantik, sementara aku duduk dengan Pak Teddy di meja yang terpisah denganmu."


"Oh, hahahahaha!" Ardan tergelak. "Kenapa kau jadi terlihat kesal sekarang? Apa kau cemburu saat itu?"


"Cemburu dari mana? Aku kesal karena saat itu steik terlezat yang pernah aku makan, dan kau malah menyuruh kita pergi padahal makananku belum habis. Huh!"


Ardan kembali tergelak. "Baiklah, baiklah, kalau kau akan memaafkanku dengan makan steik itu, aku akan-"


"Membeli restorannya pasti." Potong Elif.


"Ih sok tahu sekali Nona ini." Cibir Ardan. "Aku akan merekrut kokinya untuk bekerja padaku dan selalu membuatkan steik-steik enak untukmu. Bagaimana?"


"Deal!" Seru Elif.


"Oke! Aku akan telepon Teddy sekarang."


"Eh, untuk apa?" Elif terheran.


"Merekrut koki itu lah."


"Astaga! Aku hanya bercanda!" Elif melotot.


"Hahahah, aku tahu kau hanya bercanda, aku hanya ingin melihat ekspresi mu saja." Karena sangat menggemaskan! Ya Tuhan, selamatkan aku!


"Ih menyebalkan sekali." Elif memberengut. Tapi hanya sebentar. Setelah itu wajahnya kembali normal. "Omong-omong soal menyebalkan, kenapa kau dulu sangat menyebalkan? Walaupun sekarang juga masih menyebalkan. Tapi dulu kau lebih menyebalkan."


"Jadi di matamu aku orang yang menyebalkan, begitu?"


"Sepertinya bukan di mataku saja tapi di mata semua karyawanmu. Hahahaha."


"Benarkah?" Ardan menaikkan alis matanya.


Elif mengangguk.


"Aku pikir karyawan-karyawan ku semuanya menyukaiku. Aku lihat mereka selalu memujiku setiap kali aku melewati mereka, terutama karyawan perempuan." Ujar Ardan. "Oh, kecuali kau dan Sonya, entah kenapa kalian ini seperti tidak terpengaruh oleh pesonaku."


Elif terkekeh. "Karena tidak semua perempuan menyukai casing yang bagus tapi aslinya menyebalkan." katanya. "Jadi katakan kenapa kau dulu begitu menyebalkan sampai membuat peraturan yang juga menyebalkan, memberikanku job desk yang tidak masuk akal, kenapa?"


"Hem, kalau aku katakan alasannya kenapa, kau pasti akan tertawa."


"Pasti alasannya tidak masuk akal."


"Bisa dikatakan begitu, karena saat itu pun Teddy terlihat heran membaca isi jobdesk itu."


"Memang apa alasanmu? Apa karena kau mempunyai dendam kesumat padaku karena aku pernah menyebut penculik dan menendang tulang kering kaki mu?"


Ardan kembali tergelak sambil menggaruk-garuk tengkuk belakang lehernya. "Itu bukan alasan utama ku."


"Lalu?"


"Karena aroma manis mu yang membuatku ingin kau lebih lama saja bersamaku. Karena, ehm... bagaimana ya aku menjelaskannya. Aroma manis dari rambutmu itu seperti aroma terapi yang membuat pikiranku tenang dan lebih santai saja."


Tawa Elif pun meledak. Ia sampai harus memegangi bagian perutnya yang sakit karena sama sekali tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa.


"Kau benar-benar sungguh bisa mencium aroma manis dari rambut ini? Rambut singa yang megar ini? Sungguh? Atau mungkin kau punya kelainan indra penciuman?"


"Huh, sudah kukatakan kau akan tertawa dan kau pasti juga tidak akan percaya dengan alasanku."


"Tentu saja." Elif tertawa lagi. "Aku saja yang punya rambut ini sama sekali tidak mencium aroma manis apapun, yang ku cium hanyalah bau apek dan bau matahari tapi kau mencium aroma manis? Sungguh aneh!"


Ardan menggedikkan bahu. "Aku sendiri juga tidak mengerti. Sudah kukatakan bukan, tidak ada yang mencium aroma itu selain aku, bahkan Teddy pun sampai aku suruh memeriksakan dirinya ke THT karena tidak bisa mencium aroma manis itu."


"Apa kau mencium aroma manis juga sekarang?"


"Ya."


"Sungguh."


Ardan mengangguk.


"Demi apa?"


"Demi Tuhan!"


"Wah! Wah!" Elif mengambil sejumput rambutnya lalu menciumnya sendiri. "Sumpah, aku sudah dua hari tidak keramas, rambutku lepek, dan bau, tapi kau malah bilang rambut ini beraroma manis? Astaga!"


"Aku juga tidak mengerti. Aku bahkan bisa menciumnya dalam jarak beberapa meter."


Elif sampai terperangah mendengarnya. Tidak percaya. Kemudian ia tertawa, ia teringat sesuatu.


"Pantas saja, waktu itu Pak Teddy pernah menanyakan padaku apakah apa merk minyak wangi, sampo, sabun mandi, hair tonik, body lotion, sabun cuci baju, penyemprot pakaian untuk disetrika. Jangan katakan itu semua kau yang suruh?"


Ardan kembali mengusap tengkuk lehernya sambil tertawa-tawa malu.


"Astaga! Benar-benar luar biasa keajaiban tersembunyi dari rambut megar ini."


Malam itu mereka lalui dengan obrolan-obrolan santai yang diselingi tawa, cemberutan, omelan, dan tawa lagi yang mengisi waktu diantara mereka.


Sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh keduanya bahwa suatu hari mereka akan bisa duduk berhadapan dan berbicara santai tanpa ada kebencian.