
Mata sembab Elif masih terlihat jelas saat dia sudah tiba di apartemen Ardan pagi itu untuk mengerjakan tugas paginya seperti biasa, menyiapkan sarapan dan air mandi hangat yang diteteskan essentials oil. Pak bos satu itu memang banyak maunya. Setelah membuka semua tirai di apartemen itu, matahari pagi pun masuk dengan sangat leluasa. Elif beranjak menuju pintu kamar tidur satu-satunya di sana.
Setelah mengetuk beberapa kali, terdengar erangan dari dalam kamar. Tanda bahwa bosnya mendengar suara ketukan itu.
Elif kembali ke dapur, membersihkan bekas memasak tadi. Tak lama kemudian Ardan keluar dari kamarnya. Dengan muka bantal sambil menguap lebar.
Huh! Orang-orang tidak akan percaya kalau bos yang mereka kenal sangat dingin itu hanya seseorang yang sangat kekanak-kanakan. Kenapa dia tidak menikah saja kalau butuh seseorang untuk menyiapkan sarapan, makan malam dan segala keperluannya. Menyebalkan! Membuat Ayah jadi salah paham saja denganku!
"Kenapa melihatku sinis begitu?" tanya Ardan yang menyadari tatapan tidak bersahabat dari sekertarisnya.
"Tidak Pak. Selamat menikmati sarapan Anda, Pak. Saya permisi."
"Sarapan bersamaku." Perintah Ardan.
"Saya Pak?"
"Siapa lagi disini selain kau dan aku? Sarapan bersamaku sampai Teddy datang. Kita ke kantor bersama."
"Saya sudah sarapan Pak."
"Aku tahu kau selalu sarapan di pantry kantor. Jangan membantah, sarapan saja sekarang. Atau jangan-jangan kali kau menambahkan racun ya?"
Oh, seandainya memang bisa aku menambahkan racun dimakanan Anda!
Malas berdebat dengan Ardan yang jelas tidak akan pernah berhenti mengusiknya, Elif pun akhirnya menuruti perintah Ardan untuk sarapan bersamanya pagi itu.
Elif makan dengan tidak berselera. Tidak seperti saat Ardan melihatnya makan steik waktu itu. Mata sembabnya menjelaskan semua bahwa gadis itu pasti menghabiskan malamnya dengan menangis. Ardan tentu saja akan mencari tahu lewat Teddy, apa yang terjadi saat Teddy mengantarnya pulang semalam.
"Sarapan yang banyak, kau terlihat kurus."
Huh, apa pedulimu!
"Aku tidak mau orang-orang mengira aku menindas mu."
Memang iya! Dasar menyebalkan!
Satu jam kemudian, mereka bertiga sudah dalam perjalanan menuju kantor. Dengan Teddy yang menyupir. Elif yang diam seribu bahasa dengan mata yang menatap kosong ke luar jendela. Dan Ardan yang tanpa dia sadari memperhatikan diam-diam sekertarisnya yang terlihat menyimpan kesedihan.
Beberapa menit berlalu, mereka pun hampir sampai di gedung kantor.
"Maaf Pak Teddy, bisa saya turun di halte depan situ saja." Ucap Elif akhirnya memecahkan keheningan.
"Kenapa?" Ardan yang bertanya.
"Saya hanya tidak mau menimbulkan gosip jika ada yang melihat saya datang bersama Anda, Pak."
"Memang gosip apa yang akan timbul? Kau sekertarisku, aku atasanmu. Apanya yang aneh? Setiap hari Teddy datang bersamaku, tidak pernah timbul gosip apapun."
Astaga! Sabar... sabar! Elif membatin menahan kekesalannya.
Sepertinya ada yang aneh dengan si Bos. Hmm. Teddy mencoba mencerna.
"Jalan terus Ted!" Titah Ardan.
"Baik Pak."
Mobil pun tiba di gedung pencakar langit itu, seorang petugas segera menghampiri dan membukakan pintu mobil, tapi ia terkejut karena yang dilihat bukan Ardan, melainkan Elif.
"Pak Ardan sebelah sana." ujar Elif pelan.
Petugas itu segera berlari cepat memutari bagian belakang mobil untuk menuju pintu penumpang sebelah kanan sampai hampir terlewat saking cepatnya dia berlari, takut Ardan marah karena harus menunggu beberapa detik. Wajahnya panik, dia membungkukkan badannya hingga melebihi 90 derajat saat Ardan keluar dari mobil.
Elif menggelengkan kepalanya, semua pegawai di perusahaan ini takut pada Ardan, kesalahan kecil yang sebenarnya bukan salah mereka bisa menjadi akhir dari karirnya jika mood Ardan sedang tidak baik. Begitulah kira-kira sosok Ardan dikenal. Dingin dan tanpa toleransi. Sampai terkadang Elif bingung sendiri, kenapa Ardan tidak pernah mempermasalahkan sikap beraninya Elif. Padahal Elif terhitung sangat baru bekerja sebagai sekertarisnya, tapi Ardan selalu mentolerir segala sikap Elif yang terkadang menentangnya.
"Selamat pagi Pak, maaf Pak saya tidak tahu Bapak duduk disisi yang lain." kata petugas itu masih membungkukkan tubuhnya.
"Ya, mulai hari ini saya akan duduk di sisi ini. Tapi kau harus membukakan pintu disisi sana dulu. Seperti barusan." kata Ardan membuat si petugas itu menegakkan tubuhnya dengan ekspresi bingung, tapi tidak bertanya. Ia hanya kemudian mengangguk.
Ardan melangkah dengan elegan sambil mengancingkan jasnya kemudian melepas kaca mata hitamnya dengan gaya yang sangat natural kerennya. Elif dan Teddy mengikutinya dari belakang langsung menuju lift. Elif dapat merasakan banyak pasang mata yang tertuju pada Elif. Hanya karena ada Ardan disana mulut-mulut dari banyak pasang mata itu tidak bersuara dan hanya menyapa Ardan dengan hormat yang hanya dibalas Ardan dengan anggukan kecil.
"Elif?" Suara Gavin memecah keheningan tiga orang itu yang sedang berdiri menunggu pintu lift terbuka.
"Kulihat kalian datang bersama." ujar Gavin.
"Eh, iya Pak." jawab Elif.
"Kau lupa Elif sekertaris ku." Ardan menekankan keterangan kepemilikan dalam suaranya. Membuat binar mata Elif berubah menjadi tatapan sebal pada bosnya itu.
"Ya aku tahu, hanya saja ini pertama kalinya aku melihat kau datang tidak hanya bersama Teddy."
"Ya, mulai hari dan seterusnya kau harus membiasakan melihat aku datang tidak hanya bersama Teddy."
Eh! Apa-apaan nih maksudnya? Mata Elif semakin mendelik mendengar jawaban Ardan. Tapi pria itu terlihat biasa saja, begitu pun dengan Teddy yang tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
"Wah sepertinya ada perubahan dalam peraturanmu ya?" Gavin menyeringai.
Ting! Pintu lift terbuka. Ardan langsung melangkah kan kakinya masuk ke dalam, disusul Elif, Gavin dan terakhir Teddy.
"Apa kau ada jadwal makan siang dengan teman-temanmu?" Gavin bertanya pada Elif.
"Tidak ada Kak. Aku biasa makan siang di kantor saja, pesan online." jawab Elif. Ah suaranya bahkan menjadi lembut saat bicara pada Gavin.
Kenapa suaranya tidak selembut itu saat bicara denganku? Aku kan bosnya! Gerutu Ardan dalam hatinya.
"Jangan terus-terusan di dalam kantor, Lif. Kalau jam istirahat sesekali makan keluar, banyak rekomendasi tempat makan enak dan murah meriah di dekat-dekat sini. Biar sekalian refreshing gitu."
"Iya Kak. Nanti aku ajak Kak Sonya."
"Eh gimana kalau nanti makan siang bareng aku?"
"Tidak bisa!" Tiba-tiba malah Ardan yang menjawab. Membuat Elif seketika melemparkan tatapan tajam dan tidak suka pada pria yang sangat tampan dan menyebalkan tingkat dewa.
"Lho kenapa? Kan jam istirahat, bisa dong Elif makan siang diluar. Kasihan kerja dari pagi sampai malam."
"Elif akan... makan siang bersamaku."
"Hah?" Elif menatap dengan tatapan tidak percaya.
Teddy melirik, tapi tetap diam seperti patung.
"Aku akan membahas tugas penting dengannya." Kilah Ardan dengan lugas dan meyakinkan.
"Oh begitu, baiklah, mungkin lain waktu kita bisa makan siang berdua ya." ucap Gavin pada Elif dengan senyum menawan yang membuat Elif lupa daratan.
"Iya Kak...eh Pak."
Gavin merendahkan tubuhnya, wajahnya mendekat pada wajah Elif dan berbisik, "Kau harus sabar, kau bekerja menjadi sekertaris seseorang yang sangat gila kerja."
Ia tidak ada sepasang mata Ardan melihat apa yang dilakukan Gavin melalui pantulan dinding lift dengan gusar. Teddy menyadari perubahan air muka pada bosnya itu.
Ada yang tidak beres pada bos.
***
"Apa kau sudah temukan siapa yang akan menjadi pasanganku ke acara Marsha malam ini?" tanya Ardan disela-sela pembahasan pekerjaan dengan Teddy.
Dugaan Teddy benar, ada yang aneh dengan bosnya itu. Sejak melihat bagaimana dekatnya interaksi antara Elif dan Gavin tadi pagi, sikap Ardan dari lebih menyebalkan. Dia jadi marah-marah tidak jelas. Wajahnya pun sama sekali tidak ada ketenangan. Aura dingin benar-benar terasa dalam jarak dua meter.
"Sudah Pak." Jawab Teddy.
"Bagus! Akhirnya ada hal baik yang kuterima pagi ini. Kau memang bisa diandalkan!" Puji Ardan.
"Terima kasih Pak."
"Siapa dia? Apa aku mengenalnya?"
"Iya Pak, Anda mengenalnya. Dia Elif."
"Oh Elif... APA? KAU SUDAH BOSAN BEKERJA DISINI?"
//BERSAMBUNG//