
"Tidak bisa! Tidak mungkin! Apa Anda sudah tidak waras?!" Pekik Elif.
"Elif, jaga ucapan mu!" Tegur Teddy.
Ardan memberikan kode pada Teddy untuk membiarkan Elif yang sedang naik pitam.
"Anda bilang tidak ingin menjalin hubungan, kenapa sekarang Anda menyarankan saya seperti itu?"
"Ted, tolong buatkan minum yang dingin untuk Nona ini, sepertinya dia butuh sesuatu untuk menyegarkannya."
Teddy langsung bergerak tanpa protes.
"Aku tidak butuh minum!"
"Kau butuh minum." Ardan menekankan. "Aku akan menjelaskan setelah kau minum dan tenangkan dirimu."
Elif melipat kedua tangannya di depan dada, wajahnya memerah saking marahnya. Ingin sekali rasanya Elif melempar apa pun yang ada di dekatnya ke arah Ardan. Dia tidak pernah sekesal ini. Tidak pernah merasa begitu dipermainkan seperti ini, bahkan saat Dimas berselingkuh dua kali, Elif tidak semarah ini.
Teddy memberikan segelas es teh manis pada Elif, juga pada Ardan yang dia letakkan di meja. Ardan memerintahkan Elif untuk minum sebelum mereka melanjutkan obrolan santai mereka malam ini.
"Jadi," Elif memulai lagi setelah menenggak setengah dari isi gelas tersebut. "Bisa Anda jelaskan, Anda bilang Anda tidak ingin menjalin hubungan, lalu malah menyuruh saya mengatakan kepada keluarga saya kalau saya mempunyai hubungan dengan Anda. Apa Anda tidak khawatir dengan pendapat keluarga Anda juga?"
"Kenapa kau jadi memikirkan pendapat keluargaku?"
"Karena saya yakin, orang tua Anda juga akan seperti orang tua saya. Akan ada kecurigaan. Apa lagi jika tiba-tiba anaknya mengumumkan pada publik bahwa dirinya menjadi calon pendamping hidup seseorang tanpa dikenalkan dulu pada orang tua mereka."
"Ah ya, kau benar juga. Ted, atur jadwal agar aku bisa bertemu dengan orang tua Elif."
"Apa?!" Elif melotot. "Aku sudah sangat lelah Pak Ardan, jadi tolong, jelaskan saja apa maksud Anda!"
"Oke, jadi seperti yang saya bilang, saya tidak menginginkan sebuah hubungan, apa pun itu, pacaran apa lagi pernikahan. Tapi orang tua ku selalu mendesak untuk menikah, memilihkan calon-calon menantunya untuk berkenalan dengan saya. Jadi saya pikir, kenapa tidak sekalian saja saya membuat drama ini."
"Drama?" Elif mengerutkan kening.
Teddy diam menyimak.
"Saya dan kamu akan berpura-pura menjalin hubungan yang romantis di depan orang tua saya, mungkin juga di depan orang tuamu dan publik."
"Apa?! Tidak mau!"
"Dengarkan dulu, jangan langsung menolak. Drama ini hanya kita bertiga yang tahu, kau, saya dan Teddy. Saya akan buat kontrak perjanjian untuk hal ini. Tidak akan lama hal ini berlangsung, Elif. Hanya lima bulan saja. Kau hanya perlu berpura-pura menjadi tunangan saja selama lima bulan. Dan tentu saja saya akan memberikan imbalan untuk jasamu." Ardan berhenti sebentar untuk menenggak es teh manisnya yang sudah mulai berembun dinding gelasnya.
"Seluruh biaya operasi ayahmu dan segala macam keperluan pengobatan akan saya biayai. Jika memang bisa dan memungkinkan, kita bisa lakukan operasi apa pun sakit ayahmu secepatnya. Tidak perlu menunggu kau menabung untuk mengumpulkan biaya. Adil bukan? Kau berpura-pura menjadi calon istriku agar orang tuaku berhenti mencoba menjodohkanku. Dan saya akan membiayai semua pengobatan ayahmu."
Elif terdiam.
Teddy tersenyum tipis mendengar rencana yang dijelaskan bosnya itu. Entah dari mana ide itu muncul. Yang jelas, Teddy yakin kepura-puraan itu tidak akan berlangsung lama. Mungkin bukan Elif yang akan menyukai Ardan lebih dulu, kemungkinan besar adalah bosnya yang lebih dulu jatuh hati pada gadis super cuek dan super berani di hadapannya itu.
"Kau tidak akan menyukaiku, dan begitu pun dengan saya. Jadi jika kau setuju, kesepakatan ini sangat sempurna."
Elif terlihat berpikir, dia tidak mengelak, tidak membantah, tidak juga memprotes.
"Dari mana Anda tahu ayah saya sakit dan butuh operasi?" tanya Elif.
Nah benar juga, dari mana bos tahu ayahnya Elif sakit dan harus segera operasi. Hmmm. Teddy mencoba menerka tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang selalu datar.
"Apa kau lupa, saat wawancara kerja aku meminta mu menceritakan latar belakang hidupmu, dan kau memberitahu ayahmu sakit, karena itu kau berhenti kuliah dan fokus bekerja."
"Anda... Anda mengingat apa yang saya ucapkan waktu itu?" Elif membeliakkan mata.
"Tentu saja! Saya memiliki otak yang sangat sempurna sesempurna penampilanku, aku bahkan bisa mengulang setiap kata dengan intonasi yang sama persis seperti yang kau ucapkan saat itu." ucap Ardan dengan gaya sombongnya.
Ah jadi Elif menceritakan juga tentang kondisi ayahnya saat wawancara. Teddy mengerti.
"Ini lah kenapa waktu itu saya memintamu untuk menceritakan latar belakang, karena aku bisa menilai dan memilih apa yang harus aku lakukan untuk memberimu tugas sesuai dengan latar belakangmu. Bukan hanya sekedar kepo."
Elif cukup tertegun, ia tidak menyangka Ardan benar-benar mengingat apa yang diucapkannya, bahkan tentang ayahnya yang butuh operasi. Tapi jika memang benar Ardan akan membiayai seluruh operasi juga pengobatan ayah sesegera mungkin, kemungkinan ayah akan kembali salah paham dengan pekerjaan Elif, dan akan semakin sulit Elif untuk menjelaskan semuanya.
"Terima kasih Pak untuk niat Anda membantu operasi dan pengobatan ayah saya, tapi saya rasa tidak perlu, saya rasa kesepakatan ini dan drama yang Anda rencanakan sebaiknya tidak perlu diteruskan. Kemarin malam saya sudah bertengkar dengan ayah saya karena ayah salah paham dengan pekerjaan saya, pergi sangat pagi dan pulang sangat larut, diantar pria bermobil pula."
"Lalu apa ayahmu lebih memilih kau pulang diantar pria naik motor malam-malam atau naik kendaraan umum malam-malam begitu?"
"Bukan begitu maksud saya. Yang jelas, ayah saya bukan tipe orang yang mudah menerima penjelasan orang lain."
"Aku akan bicara dengan orang tuamu jika kau setuju dengan kesepakatan yang aku tawarkan ini. Pikirkan saja dulu baik-baik. Lalu beri aku jawaban besok. Bagaimana?"
Elif menggigit bibirnya, ragu dan bimbang.
Astaga! Apa yang sedang dia lakukan, kenapa menggigit bibir seperti itu membuatnya terlihat imut begitu? Astaga Ardan! Apa yang kau pikirkan! Fokus Ardan! Fokus! Dia itu Elif, bukan tipemu, orang yang sudah menuduhmu penculik dan penjahat!
"Kau bisa pulang sekarang, istirahat dan pikirkan lagi kesepakatan ini. Dan lebih baik kau ganti kostum dulu dengan pakaian kerjamu, jika tidak ayah mu itu bisa salah paham lagi, bukan?"
Elif mengangguk.
***
Dalam perjalanan Elif lebih banyak diam. Beberapa kali ia menghela napas berat, tapi tidak bicara apa pun. Hatinya begitu berat, ia ingin sekali ayahnya sesegera mungkin di operasi dan menjalani pengobatan. Tapi jika dia harus berpura-pura menjadi calon istri Ardan apakah tidak akan menimbulkan masalah baru nantinya?
Tapi jika ia tetap menolak kesepakatan itu, ia harus membuat ayahnya masih menunggu dulu untuk melakukan operasi karena keterbatasan biaya, dan mungkin pengobatan pun tidak bisa langsung dilakukan. Namun apa pun itu, mau sesegera mungkin atau tidak ayahnya menjalani operasi dan pengobatan, tetap tidak akan mengubah penilaian ayah terhadap dirinya, Elif tahu itu. Tapi bukan itu yang menjadi tujuan Elif. Ia hanya ingin ayahnya sehat.
Oh, apa yang harus dia lakukan?
"Pak Teddy," Elif tiba-tiba memanggil Teddy, tapi pandangan matanya tetap mengarah ke jalanan.
"Hem."
"Kalau Pak Ardan memang ini membantuku, kenapa aku harus berpura-pura menjadi calon istrinya?"
"Itu yang namanya simbiosis mutualisme.