HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Calon Istri.



Di dalam ball room suasana begitu berbeda. Kemegahan dari acara resepsi begitu terlihat sejauh mata memandang. Beberapa artis ibukota pun ada terlihat disana. Ada yang sedang berbicara di depan kamera dari sebuah stasiun televisi. Ada yang sedang berpoto bersama. Ada yang terlihat sedang makan dan lain sebagainya.


Elif tidak dapat menutupi tatapan penuh takjub dengan dekorasi ala princess yang didominasi dengan warna biru dan putih. Mengingatkannya pada gaun yang dipakai oleh Cinderella dalam cerita dongeng yang ia suka. Setiap langkahnya Elif seperti merasa di dunia dongeng.


Siapa kolega Ardan yang menikah sebegini mewahnya? Batin Elif bertanya-tanya. Banyak artis juga yang datang. Meskipun Elif ingin sekali berswafoto dengan mereka tapi ia menahan dirinya saat Teddy yang menyadari keinginannya langsung memberikannya tatapan peringatan untuk tidak membuat malu atasan mereka.


Ada satu hal yang tidak dimengerti Elif, yaitu Teddy yang selalu berjalan di belakang dan agak jauh dari Ardan dan Elif dan mengingatkan Elif untuk selalu dekat dengan Ardan sementara Teddy sendiri berjauhan dengan mereka.


Elif mengikuti kemana pun langkah kaki panjang Ardan melangkah, pria itu jelas sekali menghindari awak media yang ada disana. Entah apa alasannya. Padahal setau Elif dan Sonya yang pernah memberitahunya, Ardan tidak pernah keberatan untuk diwawancara oleh media. Apa lagi jika itu soal bisnis yang dia pimpin.


"Kita hanya akan memberikan selamat pada pengantin kemudian pergi dari sini." ucap Ardan dengan suara rendah.


"Apa? Tidak makan dulu Pak?" Elif menatap penuh lapar pada deretan meja-meja prasmanan yang menyediakan berbagai macam makanan lezat yang membuat Elif berkali-kali menelan liurnya. Ia bahkan sudah merencanakan makanan apa yang akan dimakannya lebih dulu.


"Tidak!" Jawaban Ardan membuat perut lapar Elif meronta-ronta.


"Tapi kenapa Pak?"


"Karena terlalu banyak media disini."


"Lalu kenapa?"


"Kenapa kau begitu banyak protes?"


"Maaf."


"Ayo cepat kita ke pelaminan sekarang, mumpung lagi ramai." Ardan menarik tangan Elif untuk segera mengikutinya. Karena langkah Ardan yang panjang dan kaki Elif yang tidak terbiasa berjalan cepat di atas alas kaki dengan heels yang lebih dari 7 cm, gadis itu hampir saja terjatuh kalau saja Ardan tidak sigap menariknya dan menangkap pinggang Elif yang ramping.


Untuk beberapa detik yang terasa begitu lama, mereka saling beradu pandang dengan wajah yang berjarak kurang dari satu jengkal. Elif bahkan dapat merasakan hembusan napas Ardan yang hangat pada kulit pipinya.


Dug dug dug dug dug!


Dug dug dug dug dug!


Jantung mereka saling bertalu. Dan mereka berdua sama sekali tidak mengerti ada apa dengan debaran jantung yang sangat tidak tahu waktu itu.


Pose mereka pun tanpa sengaja terlihat awak media yang kemudian menghampiri mereka.


"Mas Ardan? Mas Ardan kan ya?" tanya seorang wanita yang diikuti seorang kameraman dibelakangnya.


Ardan segera melepaskan Elif dan memastikan gadis itu berdiri dengan baik. Wajahnya terlihat tidak nyaman saat media menemukan keberadaan dirinya di acara itu.


"Ya." Ardan menjawab wanita itu.


"Wah ternyata Mas Ardan datang juga di acara Mba Marsha." kata wanita itu lagi. "Saya Karin, dari stasiun televisi MMC. Boleh minta waktunya sebentar Mas Ardan dan Mba?"


"Elif." ujar Elif.


"Jadi boleh minta waktunya sebentar Mas Ardan dan Mba Elif?"


"Ya." jawab Ardan.


Tunggu dulu? Apa tadi dia bilang? Di acara Mba Marsha? Jadi ini acara pernikahan mantannya Pak Ardan? Bukan kolega kerjanya? Ah ya benar juga! Elif baru teringat dengan tanggal pada undangan Marsha yang dia bacakan dua hari yang lalu. Tapi untuk apa Elif ikut? Dan Teddy?


"Jadi bagaimana tanggapan Mas Ardan nih tentang pernikahan Mba Marsha? Kan hubungan kalian juga belum lama berakhir, tapi sepertinya Mba Marsha sudah lebih dulu menemukan pengganti Mas Ardan." kata wanita itu.


Entah kenapa Elif merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya.


"Saya turut senang dan bahagia dengan pernikahan Marsha. Semoga mereka selalu saling mencintai." Ardan menjawab dengan tenang. Aura dingin dan tegas terpancar. Sikap menyebalkan dan kekanak-kanakan seperti menghilang begitu saja.


"Jadi tidak masalah dengan Mba Marsha yang berpaling begitu cepat?"


"Apa ada rencana untuk segera menyusul Mba Marsha, Mas?" tanya Karin sambil melemparkan senyuman tersirat pada Elif.


"Mungkin ya, mungkin juga tidak. Saya belum terlalu memikirkan ke arah pernikahan. Banyak yang harus saya selesaikan lebih dulu."


Tidak sengaja mata Ardan melihat ke arah pelaminan dan ternyata dari sana Marsha sedang melihatnya diwawancarai.


"Oh begitu. Jadi Mas Ardan datang kesini bersama calon juga atau hanya teman saja nih?" Karin pun mulai bertanya sebuah pertanyaan yang nantinya akan menjadi bahan perbincangan empuk media masa.


"Calon."


"Teman."


Ardan dan Elif menjawab bersamaan.


Elif langsung menatap Ardan dengan tatapan paling tajam yang dia punya mendengar jawaban Ardan.


"Jadi Mba Elif ini calon istri atau teman nih?"


"Calon istri." Ardan menjawab cepat.


Oh rasanya Elif ingin sekali melepaskan heels yang dipakainya lalu menancapkannya pada ubun-ubun kepala Ardan. Calon istri dari mananya?!


Elif ingin segera meluruskan kesalahpahaman itu, tapi Ardan seolah tahu gelagat Elif, ia pun langsung merangkul pinggang Elif yang membuat Elif tersenyum bengis kepada Ardan. Sementara pria itu terlihat tenang dan sangat biasa saja dengan kebohongan yang baru saja dia ciptakan di depa media.


"Wah selamat ya Mba Elif. Semoga cepat menyusul kebahagian pasangan pengantin hari ini."


"Terima kasih." jawab Ardan.


Sementara Elif hanya tersenyum masam.


"Jika sudah wawancara ini, kami permisi. Kami harus memberikan selamat kepada pengantin. Dan saya masih ada urusan yang harus segera diselesaikan."


"Kalau begitu apa ada pesan Mas Ardan untuk Mba Marsha?"


"Semoga Marsha dan suami akan selalu berbahagia."


"Kalau Mba Elif?"


"Semoga cepat diberikan momongan."


"Baik kalau begitu. Terima kasih atas waktunya Mas Ardan dan Mba Elif. Semoga kalian cepat menyusul juga."


Ardan segera membawa pergi Elif dari tempat mereka berdiri, sambil tetap merangkul pinggang Elif, mereka berjalan menuju pelaminan. Entah permainan apa yang sedang dilakukan pria itu diacara pernikahan mantannya, yang jelas Elif akan menuntut penjelasan setelah mereka keluar dari acara ini. Dan gara-gara Ardan keinginan Elif untuk makan pun menghilang. Menyebalkan sekali!


Mereka tiba di atas pelaminan. Setelah menyalami dan memberikan selamat kepada orang tua yang berada di sebelah pengantin, tibalah momen dimana Ardan memberikan selamat pada Marsha. Media pun tidak melepaskan momen itu untuk di potret juga direkam.


"Selamat atas pernikahanmu. Semoga kau berbahagia."


"Aku menemukan apa yang aku ingin kan, tentu saja aku berbahagia." jawab Marsha. Kemudian ia melihat Elif, menatap gadis itu dari bawah hingga atas. "Ternyata kau menyelesaikan tantangan ku."


"Dia calon istriku, bukan tantangan mu." Senyum pada wajah Marsha pun memudar, ia menerima ucapan selamat dari Elif dengan perasaan tidak suka.


Selama menjadi kekasih Ardan, tidak pernah sekali pun Ardan menyebutnya sebagai calon istri. Tapi gadis itu, gadis yang terlihat biasa-biasa saja jika dibandingkan dengan dirinya malah dengan mulus Ardan menyebutnya sebagai calon istri. Memangnya sudah berapa lama mereka bersama?


Setelah turun dari pelaminan, semua media berusaha untuk mewawancarai lagi Ardan dan Elif, tapi Ardan menolaknya. Ia menggenggam tangan Elif dan melindunginya dari kerumunan awak media.


//BERSAMBUNG//