HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Menemukanmu.



Ciiiitttt!


Lagi-lagi Teddy menginjak pedal remnya sampai membuat gesekan ban dan aspal menimbulkan bunyi dan jejak. Ardan langsung keluar dari dalam mobil tanpa menutup pintunya lagi. Kakinya yang panjang berlari cepat menuju lift, tapi sayang, layar monitor kecil di atas pintu kotak besi itu masih menunjukkan angka 7 dengan tanda panah mengarah ke atas. Begitu pun dengan lift yang lainnya, semua panah menuju ke lantai atas.


"Sial!" Runtuk Ardan. Tidak berpikir untuk menunggu, Ardan langsung menuju tangga darurat. Dua anak tangga sekaligus ia menaikinya menuju unit apartemennya yang berada di lantai dua belas. Sambil terus mengatur napas agar langkah kakinya tetap kuat membawanya naik. Membayangkan Elif berada di apartemennya membuat puluhan anak tangga yang harus dihadapinya menjadi lebih mudah. Meski beberapa kali ia hampir terpeleset, tapi tidak menyurutkan kecepatannya.


Entah berapa waktu yang diperlukan seorang pria yang mencintai seorang wanita untuk menyelamatkan wanita itu di lantai dua belas, yang jelas tidak membutukan waktu lama, Ardan sudah sampai pada lantai dua belas dan keluar dari area tangga darurat. Ia langsung bergegas secepat Edward Cullen menuju apartemennya. Langakahnya terhenti sejenak ketika melihat jejak kaki berdarah di sepanjang koridor menuju pintu apartemennya. Keyakinannya semakin kuat, wanita yang dilihatnya pad rekaman cctv itu adalah Elif. Setelah memencet angka kode kunci otomatis pada pintu unit apartemennya, Ardan langsung melihat jejak kaki berdarah itu seperti jalan yang diseret, dan jejak itu menuju ke dapur.


"Elif?" Panggil Ardan. "Elif? Apa kau ada di sini?"


"Ar-Ardan?"


Suara Elif terdengar pelan merespon panggilan Ardan. Cepat Ardan langsung menuju dapur, ia melihat kaki Elif di bawah meja dapur. Gadis itu bersembunyi.


"Elif..." Perlahan Ardan membungkuk dan berjongkok di tempat Elif bersembunyi. Hati Ardan begitu mencelos. Yang sedang bersembunyi di bawah sana benar-benar Elif dalam balutan ketakutan pada wajahnya. Peluh telah memenuhi wajahnya yang sangat pucat, telapak kakinya terluka parah, tubuhnya bergemetar, dan yang membuat Ardan hati-hati adalah, Elif memegang sebuah pisau dapur.


"Elif... ini aku... Ardan..." Pelan-pelan Ardan mengulurkan tangan untuk mengambil pisau itu dari tangan Elif.


"Ardan... Ardan..." Ucap Elif pelan, namun matanya tidak menatap Ardan. Matanya hanya menatap kosong tak terarah. "Ardan... Ardan..." Ucapnya lagi.


Ardan tidak kuat. Ia tidak bisa melihat Elif seperti ini. Hatinya sakit melihat Elif tidak hanya terluka fisik.


"Elif... ini aku... Ardan. Aku disini..."


Namun Elif tetap memandangnya dengan tatapan kosong.


Pelan-pelan, Ardan menyentuh tangan Elif hendak mengambil pisau dari genggaman Elif yang gemetar, tapi di luar dugaan, sentuhan Ardan meski pelan membuat Elif terkejut dan spontan menggerakkan pisaunya hingga mengiris lengan Ardan cukup dalam.


"Arrgghh!" Pekik Ardan.


Suara Ardan yang kesakitan ternyata membuat Elif kembali tersadar pada kenyataan ia berada. Seperti ditarik keluar dari dalam kotak kosong, tatapan mata Elif kini tak lagi hampa, ia melihat Ardan. Ada perasaan lega ketika melihat wajah pria itu dihadapannya, namun seketika ia ketakutan melihat darah merembes pada lengan kemeja Ardan dengan sangat banyak, sobekan pada lengan kemeja Ardan akibat sayatan pisau membuat Elif seketika melemparkan pisau itu jauh dari mereka.


"Ar-Ardan? K-kau berdarah? Astaga! Apa yang aku lakukan? Aku melukaimu! Aku melukaimu! Ak-"


"Ssshhh... tidak apa-apa, aku tidak apa-apa." Tubuh Elif semakin gemetar. Air mata sudah berderai. Ia semakin panik saat darah yang merembes itu kini menetes ke atas lantai.


"Pak Ardan?" Suara Teddy terdengar.


"Ted! Kami di dapur!" Jawab Ardan. Terdengar langkah kaki cepat bergerak dan mendekati dapur.


"Apakah be- Astaga! Ada apa dengan tangan Anda, Pak?" Mata Teddy membulat terkejut melihat apa yang terjadi pada Ardan, namun dengan tenang Ardan meminta Teddy untuk fokus pada Elif lebih dulu.


"Cepat panggil dokter Fadil sekarang, suruh dia datang dalam waktu lima menit! Kalau tidak, ijin prakteknya akan aku cabut."


"Baik Pak!" Teddy segera mengeluarkan handphonenya dan menghubungi Fadil, seorang dokter sekaligus sepupu Ardan yang bisa menempuh pendidikan tinggi sampai menjadi dokter hingga mendapatkan ijin praktek karena bantuan Ardan.


Elif sudah terisak, ia ketakutan. "Aku melukaimu... aku melukaimu... aku melukaimu..."


"Elif... ssshhh... tenang ya, aku tidak apa-apa. Ini hanya tergores sedikit." kata Ardan dengan sangat lembut. Ia tetap berusaha membuat Elif keluar dari bawah meja itu. "Ayo kita keluar dari bawa meja ini, ya, kita duduk di sofa, kita bersihkan kakimu,"


Elif menggeleng cepat.


"Lihat, kakimu terluka parah. Harus segera dibersihkan."


"Aku takut..." kata Elif disela isak tangisnya. "Nanti Ayah menemukanku!"


Hati Ardan kembali mencelos mendengar ketakutan Elif pada Yanuar.


"Ayah pasti sedang mencariku kemana-mana, Ayah pasti sudah melaporkan ku ke polisi karena aku melemparkan vas bunga ke kepalanya. Ayah pasti tahu aku kesini. Makanya... makanya... aku pegang pisau tadi... aku takut Ayah akan..." Tidak meneruskan kalimatnya, Elif kembali menangis.


Ardan segera mengulurkan tangannya yang lain untuk menarik pelan Elif keluar dari bawah sana dan memeluknya erat. Mendekapnya di atas dada bidang yang memberikannya rasa aman. Akhirnya Elif bisa dibawa keluar dari bawah meja itu. Dengan dibantu Teddy, mereka membawa Elif ke kamar mandi.


Teddy tahu apa yang akan dilakukan Ardan. Dengan Elif di dalam gendongan Ardan, meski salah satu tangannya terluka dan berdarah, Ardan tetap menggendong Elif, membiarkan wanita itu bergelung melingkarkan tangannya pada bahu Ardan.


Teddy menyalakan air dingin pada selang shower, kemudian Ardan duduk di tepi bathtub.


"Elif, kita bersihkan dulu luka di telapak kakimu, oke?"


Elif mengangguk. Tapi tidak melepaskan pelukan tangannya dari bahu Ardan.


Begitu air dingin menyentuh luka pada telapak kaki Elif, ia berteriak kesakitan. Pelukannya semakin erat.


Teddy menjauhkan selang air itu kemudian, melihat dulu bagaimana Elif dan Ardan.


"Sakit sekali! Perih!" Rengeknya.


Kemudian Ardan menganggukkan kepalanya kepada Teddy, tanda ia menyuruh Teddy untuk melanjutkan membersihkan telapak kaki Elif yang lagi-lagi membuat Elif berteriak kesakitan.


Setelah selesai membersikan luka pada kaki Elif, Teddy mengambil handuk bersih dan membalutkannya pada kedua telapak kaki Elif. Setelah itu Ardan mengangkat Elif keluar dari dalam kamar mandi untuk merebahkannya dengan nyaman di atas sofa.


"Pak, tangan Anda." ucap Teddy pelan. Kini lengan kemeja Ardan sudah full dengan rembesan darah.


"Aku tidak apa-apa. Kemana Fadil? Kenapa belum datang juga?"


Terdengar bunyi bel tiba-tiba. Teddy langsung melihat siapa yang datang. Ternyata yang ditunggu-tunggu panjang umurnya. Fadil datang masih dengan jas putihnya yang lupa dia lepaskan saat Teddy memberitahukan ancaman Ardan.


"Ada apa ini, Ar?" tanya Fadil.


"Kenapa kau lama sekali?" Kesal Ardan.


Fadil menengok arlojinya, "Lima menit pas, aku lari tadi seperti... astaga, ada apa dengan lenganmu? Apakah itu darah? Coba kulihat!" Fadil terkejut begitu menyadari perbedaan warna lengan kemeja Ardan antara yang kanan dan yang kiri.


"Aku nanti saja, tolong kau obati dulu luka di telapak kakinya." Mengarahkan pandangannya pada Elif.


Fadil terlihat semakin terkejut begitu melihat luka pada telapak kaki Elif.


"Aku harus menjahitnya, telapak kakinya sobek cukup dalam." kata Fadil. "Apa yang terjadi?" tanya Fadil pada Elif, yang hanya dibalas Elif dengan keengganan untuk bercerita.


"Kau tidak perlu tahu, lakukan apa yang harus dilakukan untuk mengobati lukanya." jawab Ardan.


"Baiklah, Nona, aku akan menyuntikkan antibiotik."


Elif mengangguk.


Ardan membuka tasnya, sesekali ia melirik pada lengan Ardan. "Kau sebaiknya jangan berdiri di hadapanku, kau membuatku gagal fokus dari luka pada Nona ini."


"Astaga! Dokter macam apa kau sampai bisa gagal fokus!"


"Gantilah dulu bajumu, dan balut sebentar lukamu dengan kain tebal! Sana cepat!"


Teddy menggeleng. Dalam situasi seperti ini saja, dua sepupu itu masih sempat-sempatnya tidak akur.


***


Setelah dokter Fadil selesai mengobati luka pada telapak kaki Elif dan memberikannya obat pereda nyeri, gadis itu pun akhirnya terlelap. Fadil pun kini beralih pada luka di lengan Ardan.


Pria itu sudah mengganti kemejanya dengan kaus berlengan pendek, dan sebuah handuk melilit lengannya.


"Apa yang terjadi pada lenganmu?" tanya Fadil sambil pelan-pelan membuka lilitan handuk itu.


"Hanya tergores sedikit." jawab Ardan. Tanpa dia sadari, wajahnya pucat dan sebenarnya kepalanya sedikit pusing.


"Astaga!" Pekik Fadil. "Apanya yang tergores sedikit?! Ini cukup dalam! Harus dijahit! Nah, kau lihat wajahmu sudah pucat!"


"Pak Ardan," Panggil Teddy.


"Luka mu bahkan lebih serius dari Nona itu! Ted, panggil ambulan sekarang, kita harus bawa Ardan ke rumah sakit!"


"Tidak! Apa kau tidak waras?! Aku tidak akan meninggalkan Elif lagi!"


"Tapi kau perlu beberapa jahitan, dan transfusi darah!"


"Di tempat praktekmu tidak ada persediaan darah?"


"Tidak ada, lah! Kau pikir tempat praktekku itu adalah palang merah!"


"Kalau begitu minta saja rumah sakit untuk membawakan apa yang diperlukan kesini!"


"Astaga! Kenapa kau keras kepala sekali!"


"Lakukan saja! Atau kau akan kehilangan ijin praktekmu selamanya!"


Fadil pun segera menghubungi pihak rumah sakit kepada bagian yang terkait untuk membawakan apa saja yang dibutuhkan untuk melakukan transfusi darah pada Ardan di apartemen.


Sementara itu, Ardan merebahkan dirinya dirinya disebelah Elif yang terlelap dengan wajah letih dan sisa ketakutan yang masih terpeta disana.


"Akhirnya aku menemukanmu." Bisik Ardan, dan mengecup kening Elif.