
Sangat keras Elif mencoba melupakan apa yang menjadi alasan ayah mengacuhkannya. Sebisa mungkin Elif melapangkan dadanya, menerimanya, mengikhlaskannya, menyadari dengan sepenuh hati bahwa ayahnya tidak mencintainya.
"Lif, Lif, Elif!" Sonya gemas menggoyangkan bahu Elif karena Elif seperti raga tanpa jiwa.
"Ya? Kenapa? Pak Ardan memanggilku? Atau Pak Teddy?"
"Astaga kau ini sedang putus cinta atau apa? Dari tadi aku yang memanggilmu tapi kau diam saja, melamun, seperti orang kesambet. Ada apa dengan Elif?"
Elif hanya tertawa pelan.
"Omong-omong apa kau lihat dari tadi pagi sepertinya hampir semua karyawan perempuan di perusahaan ini keluar masuk ruangan Pak Teddy."
"Benarkah? Aku tidak tahu."
"Makanya jangan melamun saja." Sonya mencubit lengan Elif. "Lihat itu, itu staf dari divisi marketing sepertinya. Padahal sepuluh menit yang lalu baru juga keluar staf perempuan dari divisi yang sama."
"Mungkin Pak Teddy sedang cari jodoh." Celetuk Elif membuat keduanya terkekeh.
Mereka tidak tahu betapa pusingnya Teddy saat ini. Pria itu lebih memilih untuk ditugaskan memata-matai seseorang, atau mencari tahu tentang latar belakang seseorang atau menghandle pekerjaan selama satu bulan penuh.
Sepertinya sudah hampir semua staf perempuan dari setiap divisi dipanggilnya hanya untuk ditanya apakah mereka menyukai Ardan atau tidak. Jika mereka diberikan kesempatan satu hari bersama Ardan apa yang akan mereka lakukan?
Dan kebanyakan mereka menjawab, akan menghabiskan waktu kebersamaan emas mereka dengan segala hal yang romantis. Para perempuan itu seolah tidak perduli dengan sikap dinginnya Ardan.
"Semua perempuan di sini tidak bisa diharapkan!" Teddy memijat keningnya.
Teddy tidak punya kenalan teman wanita. Dia bukan pria yang senang menghabiskan waktu bersama teman-teman wanita.
Wanita yang dia kenal hanya sebatas klien bisnis, itu pun klien bisnisnya Ardan, dan staf perusahaan.
"Kalau aku minta tolong pada Nyonya...ah tidak! Bisa tamat riwayatku di tangan Pak Ardan. Huh! Nona Marsha kenapa Anda harus segala mengundang Pak Ardan sih!"
Samar-samar terdengar suara tawa dua perempuan saat pintu ruangan Teddy kembali dibuka dan seorang staf wanita yang lainnya masuk.
"Tidak perlu duduk!" Perintah Teddy, membuat staf itu berdiri mematung di tempatnya berpijak. "Saya akan tanya satu pertanyaan, jawab dengan Ya atau Tidak saja. Mengerti?"
Staf itu mengangguk.
"Apa kau menyukai Pak Ardan?"
"Iya Pak, saya-" Teddy langsung mengangkat jari telunjuknya mengisyaratkan untuk tidak perlu menjelaskan kenapa dia menyukai Ardan.
"Apa kau pernah berangan akan bisa bersama dengan Pak Ardan?"
"I-iya Pak." Wanita itu menjawab malu-malu.
"Sekarang jawab dengan alasan. Jika kau diberi kesempatan untuk bisa bersama Pak Ardan selama satu hari, apa yang akan kau lakukan?"
"Membawa Pak Ardan bersama dengan orang tua saya ke KUA tentu saja Pak!"
"Oke, kau bisa kembali bekerja sekarang." Teddy mengibaskan tangannya.
"Ap-apa saya salah menjawab, Pak?"
"Tidak. Keluar saja sekarang dari ruanganku. Cepat!"
Huh benar-benar tidak ada harapan!
Teddy beranjak dari kursinya, mengayunkan langkah kakinya menuju jendela yang menghadap ke arah ruang kerja Ardan dan meja sekertaris yang saat ini masih ditempati dua perempuan, Sonya dan Elif.
Dari seluruh staf perempuan yang sudah dia panggil, hanya Sonya dan Elif yang sengaja tidak dipanggilnya. Tidak mungkin bertanya pada Sonya, wanita itu terlalu banyak bertanya. Lagi pula Marsha sudah sangat mengenal Sonya.
Tidak mungkin juga pada Elif, dia terlalu berani dan lebih banyak bertanya dari pada Sonya. Tapi, ia satu-satunya staf yang paling jelas tidak menyukai Ardan meskipun Ardan adalah atasannya langsung.
Teddy memperhatikan dari balik tirai jendela sambil terus otaknya berputar apa yang harus dia lakukan.
Teddy segera menghubungi seseorang. Seseorang yang sangat ahli dan sudah sangat Teddy percaya untuk melacak dan mencari tahu latar belakang hingga riwayat kesehatan seseorang yang dia kehendaki.
***
Elif mencuci tangannya di wastafel setelah menuntaskan panggilan alam yang mendesak isi perutnya untuk segera dikeluarkan, saat tiga staf wanita masuk. Elif mengenal mereka dari Sonya yang pernah mengingatkan dan meberitahukan Elif bahwa di gedung ini ada trio yang sangat ahli bergosip. Mereka adalah Nanda, Ayu dan Kinan.
Beruntungnya Elif yang bekerja sebagai sekertaris CEO tidak perlu bertemu dengan trio itu yang bekerja pada bagian pemasaran. Jadi mereka tidak mengetahui yang mana yang namanya Elif, sekertaris baru CEO mereka.
"Aku yakin Pak Ardan sedang menyuruh Pak Teddy untuk mencarikannya teman wanita." kata Ayu, sambil memoleskan sapuan lip cream berwarna mauve pada bibirnya.
"Tapi untuk apa? Untuk Pak Ardan sih sepertinya tidak perlu pakai diseleksi segala ya kan? Tinggal tunjuk saja semua wanita juga langsung rela melepaskan pakaian." ujar Kinan sambil tertawa diikuti kedua temannya.
"Tapi kalau untuk perempuan seseksi Marsha saja hubungan mereka bisa berakhir, untuk apa Pak Teddy mencari penggantinya hanya sekelas staf perusahaan?" kali ini yang bernama Nanda bertanya.
"Tentu saja untuk pelampiasan semata." jawab Kinan.
"Kalau aku sih tidak perduli, yang penting satu moment dalam hidupku aku bisa tidur dengan Ardan Mahesa Demir. Menyentuhnya, menciumnya." Sahut Ayu.
***
Elif mencuci semua bekas peralatan masak malam ini dengan tidak banyak bicara. Ia bahkan tidak menyetel musik untuk menemaninya memasak makan malam untuk Ardan seperti biasanya. Terlalu banyak yang mengusik pikirannya hari ini. Tentang ayahnya, tentang Adit, tentang Ibu, tentang cita-citanya, tentang pekerjaannya, bahkan tentang obrolan tidak pentingnya Ayu, Kinan dan Nanda siang tadi di toilet.
Ardan keluar dari kamarnya, masih mengenakan handuk piyama usai mandi. Pemandangan itu sudah menjadi biasa bagi Elif. Ia tidak lagi terkesima dengan penampilan Ardan yang maskulin.
"Hei, kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Ardan pada Elif.
Tapi yang ditanya hanya diam saja. Tidak menjawab. Tidak merespon apa pun.
"ELIF!"
"Ya Pak!" Elif tersentak sangat kaget mendengar suara Ardan yang memanggilnya sangat kuat seperti menariknya dari dunia lain.
"Jangan melamun saat sedang bekerja denganku!" Titah Ardan.
"Maaf Pak."
Ardan mencebik sambil menyisir rambutnya yang masih setengah basah dengan jari tangannya. Wajah tampan, tubuh atletis yang tinggi, dan saat ini hanya mengenakan handuk piyama seharusnya akan sangat memukau dan membuat jantung para gadis berdebar. Tapi tidak dengan Elif.
"Aku lapar." ujar Ardan.
Elif segera bergerak menyiapkan makan malam yang sudah dimasaknya ke meja makan, tempat dimana Ardan sudah duduk pada salah satu kursinya.
Teddy memperhatikan Elif dari tempatnya duduk di ruang keluarga, pada sebuah sofa dengan laptop yang terbuka di atas meja. Layar laptop yang menampilkan hasil laporan tentang latar belakang seseorang.
"Ted, apa kau sudah temukan apa yang kuminta?" tanya Ardan sambil menyendok makan malamnya.
"Masih saya selidiki Pak."
"Pokoknya aku tidak mau gagal ya."
"Baik Pak."
"Dan kau Elif, apa yang membuatmu melamun? Apa kau ada masalah?"
"Apa aku tidak boleh punya masalah?"
"Kenapa kau selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan? Apa masalahmu?"
"Tidak ada."
"Duduklah, makan bersamaku."
"Tidak mau." Elif mengerutkan kening.
Setengah membanting sendok di atas piring, Ardan menyeringai kesal pada Elif. Sekertarisnya itu benar-benar menguji kesabarannya. Tapi lagi-lagi aroma tubuh Elif membuat otak Ardan memerintahkan dirinya untuk tenang. Benar-benar candu yang mematikan. Membuat Ardan menjadi sosok yang tidak berkutik.
Pantas saja Elif selalu berani pada Anda Pak, Anda selalu bisa mengendalikan emosi Anda pada Elif. Entah seperti apa aroma yang Anda rasa dari gadis itu, tapi aroma apa pun itu benar-benar sangat baik untuk Anda. Sepertinya saya benar-benar menemukan apa yang Anda cari.
"Apa kau meracuni makananku jadi kau tidak mau ikut makan bersamaku?"
Elif terdengar mendengus kasar. "Maaf Pak, kalau saya berniat meracuni Anda, sudah sejak kemarin saya lakukan."
"Lalu kenapa kau tidak mau makan bersamaku?"
"Saya hanya tidak mau, Pak. Apa saya harus selalu mau untuk semua perintah Anda?"
"Teddy tidak pernah menolak untuk semua yang aku perintahkan."
"Maaf Pak, saya bukan Pak Teddy."
"Apa kau takut aku naksir padamu? Cih, tenang saja kau bukan tipeku."
"Anda juga bukan tipe saya Pak."
Sontak Ardan tertawa dibuatnya. Seumur hidupnya yang sempurna ini, ini adalah kali pertamanya seorang gadis yang tidak cantik-cantik amat, mengatakan seorang Ardan Mahesa Demir bukanlah tipenya.
"Lalu seperti apa tipemu? Seperti Gavin?"
"Iya." Elif menjawabnya begitu saja. Bukan keceplosan. Elif memang sengaja mengatakannya untuk membuat Ardan sadar bahwa tidak semua orang menyukai dirinya. Bahwa ada orang lain yang jauh lebih baik darinya.
"Kau dengar itu Ted?" Ardan terkekeh. "Kau harus menelan kekecewaan, kau pun bukan tipenya Gavin. Dia sudah punya tunangan, apa kau tidak tahu?" Ardan kembali melanjutkan makan.
Elif tidak menjawab. Ia memilih untuk diam saja dari pada membuang tenaga untuk merespon bosnya yang selalu mempunyai seribu cara untuk membuatnya kesal. Baik verbal maupun non verbal.
Terserah kau mau bicara apa, Tuan Ardan yang terhormat. Aku terlalu malas hari ini untuk meladenimu. Huh! Jika saja bukan karena gaji besar ini, jika saja Ayah tidak butuh cepat untuk segara operasi, aku pasti sudah mengundurkan diri sejak tahu kau adalah atasanku!
//BERSAMBUNG//