HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Terlintas ingin mati saja.



Ardan tentu saja tidak membiarkan Elif untuk pulang sendirian setelah mereka habis dari rumah sakit. Elif tidak menolak, tapi juga tidak bicara sama sekali. Sorot matanya jelas menunjukkan sebuah kegalauan tingkat tinggi yang sangat Ardan mengerti. Hal itu semakin membuat Ardan penasaran apa yang terjadi antara dirinya dan ayahnya. Bahkan Zehra pun terlihat begitu bahagia dengan apa yang terjadi di kamar VVIP tadi.


Elif yang sebelumnya sangat menggebu-gebu untuk mengakhiri semua sandiwara ini memilih untuk menutup mulut di depan ayahnya yang menangis meminta maaf atas semua perlakuannya pada Elif.


"Elif, apa kau mau membeli makanan dulu untuk Adit?" tanya Ardan.


Elif diam saja. Mematung. Dia seperti manusia tanpa jiwa.


"Elif, Elif."


"Ya? Sudah sampai?"


"Belum, apa kita harus membeli makanan dulu untuk Adit?"


"Oh, tidak perlu." jawab Elif. Gadis itu tidak segalak sebelumnya. Sorot matanya pun sendu.


"Ted, mampir ke restoran biasa." Titah Ardan tidak mengindahkan ucapan Elif. Karena Ardan yakin, sesampainya dirumah, boro-boro akan menyiapkan makanan untuk adiknya, bisa jadi dirinya malah tidak makan.


"Baik Pak." jawab Teddy.


Ardan kembali melihat Elif yang lesu bersandar pada jok, matanya menerawang melihat ke langit yang sudah gelap di atas sana.


"Kenapa kau tidak mengatakan semuanya tadi di depan ayah dan ibumu? Kau bilang ingin mengakhiri ini?" tanya Ardan akhirnya. Dia tidak bisa menahan dirinya melihat Elif selesu itu. Ingin sekali rasanya memeluk Elif dan membuang semua kegundahan pada gadis itu. Keinginan yang sebelumnya tidak pernah ada dalam kamus hidup seorang Ardan.


"Saya... tidak bisa. Ayah memeluk saya. Saya memanggil saya, anakku. Hal yang selama belasan tahun saya impikan terwujud hari ini, walaupun karena sebuah kebohongan."


"Elif, bagaimana aku harus menjelaskannya lagi padamu. Aku menyukaimu dan itu bukan lagi kebohongan."


"Ralat, sepertinya Anda menyukai saya. Anda sendiri juga tidak yakin dengan rasa yang Anda rasakan, bukan?"


"Elif..."


"Sudah cukup Pak, jangan tambahkan kebohongan-kebohongan lainnya. Saya tidak akan sanggup menanggungnya nanti. Karena sampai kapanpun perasaan saya tidak akan berubah."


Hati Ardan mencelos. Dirinya benar-benar di tolak oleh seseorang yang pertama kali dalam hidupnya telah membuat darahnya berdesir dan detak jantungnya tidak karuan.


Ardan tidak menyalahkan Elif, karena dirinya lah yang sejak awal menunjukkan imej seorang pria menyebalkan dan semena-mena pada Elif, memberinya begitu banyak tekanan dalam pekerjaan yang membuat ayahnya berpikiran buruk tentang apa yang dikerjakan Elif. Bukannya mengurangi job desk yang tidak masuk akal, Ardan malah memberikan kesepakatan yang tidak bisa Elif hindari karena menyangkut nyawa ayahnya, sebuah kesepakatan yang sama sekali tidak Ardan pikirkan bagaimana dampaknya pada Elif, karena yang dia pikirkan saat itu adalah, dirinya telah membiayai seluruh pengobatan ayah Elif.


Tidak menyangka bahwa kesepakatan itu justru membawa hal baru yang dirasakan Ardan, hal baru yang membuat Ardan merasakan sebuah perasaan yang membuat hatinya tidak kosong, pikirannya tidak hanya memikirkan soal pekerjaan. Tidak menyangka bahwa kesepakatan itu justru akan memberikan dampak negatif dikemudian hari bagi pihak lainnya.


Elif benar, kalau memang Ardan tulus mau membantu orang tua Elif, dia tidak perlu membuat sebuah kesepakatan yang tidak ia pikirkan panjang.


Sekarang, Ardan sangat memaklumi jika Elif benar-benar tidak percaya dengan pengakuan hatinya, itu sangat wajar. Karena dirinya sendiri yang telah merusak imejnya.


"Aku minta maaf."


Mendengar ucapan permintaan maaf dari mulut Ardan hanya mengundang sebuah helaan napas panjang dari mulut Elif. Tapi Elif tidak tahu, Teddy hampir saja kehilangan fokus menyetirnya mendengar bosnya, yang paling anti dengan meminta maat karena selalu yakin bahwa apapun yang dilakukannya adalah benar, tapi barusan satu detik yang lalu, ucapan permintaan maaf itu lolos begitu saja.


Apakah dia benar-benar bosku? Ya ampun, Elif benar-benar telah membuat orang seegois dan sedingin Pak Ardan berubah dengan cara yang tidak disangka-sangka.


"Ted, hati-hati! Kau mau membuat kita semua celaka!" Omel Ardan menyadari Teddy yang kehilangan fokus dalam sepersekian detik.


"Maaf Pak."


"Apakah mungkin memang lebih baik kalau kita bertiga mati saja, Pak?" ucap Elif dengan tatapan mata yang kembali menerawang menilhat langit.


"Jangan berpikiran yang aneh-aneh, Elif!" Bentak Ardan seraya mengulurkan tangannya untuk meraih wajah Elif dan menatapnya lekat. "Jangan pernah berani-berani kau berpikir seperti itu."


"Saya... tidak akan... sanggup, saya tidak akan sanggup menerima kebencian Ayah lagi nantinya." Air mata kembali menetes. Ardan secara reflek mengusap air mata itu dengan lembut.


"Aku mohon, berikan aku kesempatan untuk membuktikan perasaanku, berikan aku kesempatan untuk meyakinkan perasaanku padamu."


"Lalu bagaimana kalau ternyata perasaan Anda keliru? Bagaimana kalau ternyata Anda memang tidak menyukai saya?"


"Bagaimana jika ternyata Anda lah biang yang membuat hati saya paling terluka?"


Ardan terdiam. Dirinya tidak lagi bisa menemukan kalimat untuk menenangkan gadis itu.


Elif melepaskan wajahnya dari rangkuman tangan Ardan. Ia semakin merapatkan dirinya pada pintu dan menempelkan kepalanya pada jendela, kemudian memejamkan matanya.


Ardan mendesah pasrah. Ia melirik Teddy melalui kaca spion tengah, yang mana Teddy juga melihatnya.


Bagaimana ini Ted? tanya Ardan tanpa suara keluar dari mulutnya, hanya dari sorotan mata saja.


Dan hanya seorang Teddy yang dapat menerjemahkannya dan menjawabnya juga dengan sorotan mata,


Tenang Pak, berikan Elif waktu.


Apakah Ardan mengerti jawaban yang diberikan Teddy? Tentu saja. Entah dari mana ilmu seperti itu mereka dapatkan.


***


Setelah mampir di sebuah restoran steik dsn pasta, Ardan membungkus 4 porsi steik. Untuk dirinya, Elif, Adit dan Teddy. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan langsung menuju rumah Elif.


"Bang Ardan!" Adit langsung menyambut kedatangan mereka dengan senyum yang sangat lebar. Senyumnya memudar begitu melihat Elif yang lesu dan berlalu begitu saja masuk ke dalam rumah.


"Apa yang terjadi?" tanya Adit begitu menghampiri Ardan dan Teddy yang membawa paper bag.


"Biasalah perempuan, moodnya tergantung hormon." jawab Ardan. "Kau sudah makan?"


"Sudah."


"Benarkah? Ah sayang sekali, padahal Abang beli steik untuk kita bisa makan malam bersama."


"Oh tenang saja Bang! Masih banyak ruang kosong disini." Adit dengan cepat menunjuk perutnya. Kemudian mereka bertiga masuk ke dalam rumah dengan membiarkan pintu pagar dan pintu rumah tetap terbuka lebar agar tidak menimbulkan fitnah.


"Makan saja duluan, Kakak mau rebahan dulu." jawab Elif tanpa membuka kunci pintu kamarnya saat Adit mengetuk dan mengajaknya untuk makan malam bersama.


Adit kembali ke meja makan, dimana Ardan dan Teddy sudah duduk disana. Ardan sudah menanggalkan jasnya dan melonggarkan ikatan dasinya. Sementara tidak ada yang berubah dengan penampilan Teddy.


"Kakak sepertinya mau datang bulan, deh." kata Adit. "Mood nya suka seperti itu kalau mau datang bulan."


"Benarkah?" Ardan menaikkan kedua alis matanya.


Adit mengangguk. "Boleh Adit makan sekarang, Bang, steiknya?"


"Tentu saja, ayo kita makan."


Mereka pun mulai menyantap makan malam itu, Adit sangat menikmatinya. Ia begitu lahap dan beberapa kali memuji kalau itu adalah steik terenak yang pernah dia makan seumur hidupnya.


Ditengah-tengah situasi nyaman itu, terlintas ingatan bagaimana Elif begitu menahan diri untuk tidak mengatakan semuanya hanya karena dia mendapatkan pelukan ayahnya. Sebuah ide pun muncul di dalam kepalanya, kenapa tidak mencari informasi saja dari orang dalam.


"Adit,"


"Ya?"


"Apa Abang boleh tanya-tanya."


"Tanya soal apa, Bang?"


"Soal, ehm, Elif dan Ayah. Apa yang terjadi sebenarnya antara mereka?"


Teddy sudah menduganya.