
Tiga minggu ini Nyonya Hanna cukup mempunyai kesibukan lain selain arisan nyonya-nyonya sultan dan menghabiskan waktu mempercantik diri di salon, yaitu menyiapkan persiapan pernikahan anak laki-laki semata wayangnya yang akan diadakan dua hari lagi. Meski Ardan sudah mewanti-wanti untuk acara pernikahan yang sederhana saja dan hanya mengundang kerabat dekat saja, karena itu permintaan Elif dan Zehra. Tapi Hanna tentu saja mempunyai definisi berbeda tentang sederhana. Ia setuju untuk tidak mengadakan pesta pernikahan di sebuah gedung mewah yang sebelumnya sudah diincar Hanna untuk merencanakan pernikahan Ardan jika sudah waktunya, dan akhirnya mengalah mengadakannya pada halaman belakang rumah mereka.
"Ma, daftar nama-nama apa ini?" tanya Ardan saat sedang datang ke rumah orang tuanya. Nyonya Hanna sedang memandori petugas dekorasi di taman belakang rumah besar itu. Hanna menyewa wedding organizer dan jasa dekorasi terbaik untuk menyulap halaman belakang rumah besar itu menjadi sebuah taman yang benar-benar berbeda. Dalam beberapa hari, halaman belakang itu kini terlihat seperti hutan negeri dongeng yang indah. Kolam renang disana pun didekorasi menyerupai sebuah danau yang cantik penuh pesona.
Ardan membawa daftar nama-nama yang sangat panjang, sepertinya lebih dari 600 nama tertulis pada lembaran kertas-kertas yang dibawanya.
"Oh, itu daftar nama-nama tamu undangan Mama dan Papa." jawab Hanna santai.
"Sebanyak ini?" Ardan hampir melotot.
"Banyak?" Hanna balik bertanya dengan nada bingung. "Kau tahu, Mama dan Papa sampai bingung karena kami tidak bisa mengundang semua."
"Mamaku yang paling cantik sejagat raya," Ardan mendekati Hanna, "Mama masih ingat kan konsep pernikahan aku dan Elif adalah pernikahan yang sederhana, tidak perlu mengundang banyak tamu, cukup orang-orang yang dekat saja." ujar Ardan dengan tenang dan lembut. Ia mengerti sekali bagaimana karakter ibunya, mengundang tamu 'sedikit' dan sederhana untuk acara pernikahan anaknya yang selama ini ia nantikan tentu bukanlah hal yang direncanakannya. Tapi, Ardan juga tidak ingin membuat Elif tidak nyaman dan kelelahan menghadapi tamu yang tidak ada habisnya jika mengikuti kemauan Nyonya Hanna.
Ardan ingat saat dulu dirinya dikhitan, acaranya sampai 2 malam tiga hari tamu undangan tidak ada habisnya, dan kini acara pernikahan dibuat konsep sederhana tentu saja bukan hal yang memuaskan Nyonya Hanna.
"Iya Mama ingat, makanya Mama dan Papa hanya mengundang 667 orang saja."
Ardan menaikkan kedua alis matanya, "667 orang saja?"
"Iya, sedikit sekali, kan? Apa tidak bisa Mama mengundang kolega Mama yang ada di Kalimantan?"
"Tidak perlu, Ma. Kasihan Elif nantinya. Bagaimana aku dan Elif bisa malam pertama kalau tamu Mama tidak ada habisnya?"
"Astaga, jadi itu tujuanmu membuat acara ini sederhana, kau menghindari pengantinmu kelelahan agar bisa langsung belah duren?"
Ardan terkekeh. "Mohon kerja sama dan pengertiannya ya, Nyonya Hanna Demir." Ardan mengecup pipi Hanna kemudian meninggalkan Hanna yang geleng-geleng kepala dengan tingkah anaknya.
***
Elif memutuskan untuk meneruskan kuliahnya setelah menikah, Zehra dan Ardan pun mendukung keinginan Elif, kecuali keinginan Elif untuk tetap melanjutkan mencari kerja. Meski awalnya Elif bahkan Zehra tetap menolak menerima bantuan finansial dari Ardan, namun pada akhirnya mereka menyerah dan pasrah menerima batuan yang diberikan Ardan dengan tanpa hitung-hitungan, karena Ardan sangat keras kepala.
Baginya Elif, Ibu Zehra dan Adit adalah orang-orang terpenting dalam hidupnya, bagian dari keluarga meski Elif dan dirinya belum resmi menikah.
Pagi itu, Zehra menitipkan restoran pada karyawannya karena harus melalukan fitting baju terakhir kali sebelum hari pernikahan Elif dan Ardan tiba. Tentu saja Hanna juga ikut serta. Gaun yang menjadi pilihan Elif adalah gaun putih yang sederhana namun terkesan cantik, anggun dan manis. Elif seperti peri yang sangat manis. Bahkan Zehra dan Hanna sampai menitikan air matanya.
"Kenapa Mama menangis? Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Ardan khawatir saat panggilan vidio dengan Hanna.
"Mama sangat terharu melihat bagaimana cantiknya calon menantu Mama, betapa Tuhan Maha baik, mempertemukan kau dengan Elif."
"Curang sekali! Kenapa aku tidak boleh melihat sekali saja calon istriku?" ujar Ardan merajuk. "Mendengar suaranya saja juga tidak boleh!"
"Tidak boleh! Pamali tahu! Bersabarlah, dua hari lagi kau bisa memiliki perempuan pilihan hatimu secara utuh. Bersabarlah sedikit lagi, Tuan Muda!" Omel Hana.
Ardan mendengus pasrah. "Apakah secantik itu calon istriku, Ma?"
"Sangat! Seperti bidadari."
Ardan tersenyum membayangkan bagaimana ia akan terpesona nanti.
"Ingat, kau harus benar-benar membuatnya bahagia, jangan pernah kau sekali-sekali mengkhianatinya, menyakiti perasaannya, apa lagi sampai kasar padanya. Mama tidak akan memaafkanmu kalau sampai ada pelakor diantara kalian!"
"Astaga, kenapa Mama sampai memikirkan soal pelakor segala?" Ardan terkekeh alih-alih merasa takut dengan omelan Hanna.
"Tentu saja, Mama tahu anak Mama memang bukan tipe yang gampang terpesona oleh wanita-wanita cantik, tapi kadang pelakor mempunyai setriliyun cara untuk mendapatkan targetnya. Kalau sampai kau lalai dan terhasut, Mama tidak akan menjadikanmu anakku lagi, semua warisan akan jatuh pada menantu dan cucu ku."
"Kenapa menyeramkan sekali ancaman Mama ini." Ardan masih terkekeh. "Bagaimana bisa aku terhasut rayuan perempuan lain kalau satu perempuan saja selalu membuatku jatuh cinta berkali-kali, Ma."
"Hei, sejak kapan kau jadi gombal begitu?"
"Ya ampun, calon mertua dan calon menantu sama saja ternyata."
***
Elif sama sekali tidak bisa tidur, serapat apa pun ia mencoba memejamkan matanya, namun ia tidak benar-benar tertidur. Ia merasa gugup, takut, cemas. Dan satu rasa lagi yang sudah sangat memuncak, ia begitu merindukan calon suaminya. Satu minggu dipingit, tidak boleh bertemu meskipun hanya melalui panggilan vidio, juga tidak boleh berteleponan, karena Nyonya Hanna percaya hal itu pamali. jika calon pengantin pria dan perempuan masih saling bertemu dan berkomunikasi jelang hari sakral pernikahan, dikhawatirkan akan terjadi hal-hal buruk, entah dalam acara pernikahannya, entah pada salah satu calon pengantin, entah juga dalm kehidupan berumah tangganya kelak.
Elif dan Ardan sebenarnya tidak terlalu mempercayai hal seperti itu, tapi demi menghormati adat yang dipegang oleh Hanna sejak dulu turun-temurun dalam keluarganya, Elif dan Ardan pun menurut, toh demi kebaikan juga niatnya.
Ia sangat rindu aroma maskulin Ardan, rindu menyetuh dagu pria itu yang ditumbuhi rambut-rambut halus, rindu dengan tatapan hangatnya, rindu dengan canda tawanya, rindu dengan sentuhannya, bahkan setiap kali mengingat bagaimana sensasi yang ia rasakan saat Ardan benar-benar menciumnya dengan sangat lembut membuatnya semakin merindu.
Tapi membayangkan dirinya dan seorang pria yang dulunya sangat ia benci kini hanya tinggal dalam hitungan beberapa jam lagi akan membangun sebuah hidup, menjalani sebuah bahtera rumah tangga, memasuki fase lain dalam kehidupannya, memulai sebuah hidup yang sebenarnya, dengan segala perbedaan mereka, dengan segala permasalahan rumah tangga yang pastinya selalu ada dalam setiap rumah tangga, membuatnya merasa gugup dan cemas.
Apakah ia bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya? Apakah ia bisa menjadi penyejuk untuk suaminya? Apakah ia bisa memberikan keturunan untuk mereka? Apakah ia bisa menjadi seorang ibu yang baik untuk anak-anaknya?
Semua pikiran itu selalu membuatnya merasa takut, gugup dan cemas beberapa hari ini. Dan kini, ia benar-benar tidak bisa tidur. Elif menyibak selimut tipisnya, keluar dari kamarnya dan mendapati Adit sedang nongkrong di depan kulkas sambil makan roti berbentuk mungil-mungil.
"Kau sedang apa?" tanya Elif yang ternyata kehadiran Elif tidak disadari oleh Adit, akhirnya membuat remaja itu tersedak.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Elif segera menepuk-menepuk punggung Adit dan memberikannya minum saat batukknya reda.
"Kakak, kenapa mengagetkan sekali!" Runtukknya.
"Kau saja yang terlalu serius makan sampai nongkrong seperti itu." Tukas Elif sambil menghabiskan sisa minum Adit di gelas. "Kenapa kau belum tidur?" tanya Elif kemudian.
"Aku lapar." jawab Adit, seraya bangikit dan menutup kulkas. "Kakak sendiri kenapa belum tidur? Nanti pagi kan mau jadi pengantin." Goda Adit, ia menarik kursi makan dan duduk di seberang Elif.
"Aku tidak bisa tidur."
"Kenapa memangnya?"
"Aku merasa gugup dan cemas dan juga takut."
"Pada apa?"
"Banyak hal. Kau tahu, pernikahan bukan sesuatu hal yang... sederhana."
Adit mengedikkan bahu, "Aku tidak tahu, aku masih sekolah, belum pernah merasakan pernikahan dong."
Elif terkekeh, "Benar juga."
"Oiya Kak, aku mau cerita sama Kakak, sebenarnya sudah lama, tapi baru ingat lagi."
"Cerita apa?" Elif ikut menyomot roti yang dibawa Adit.
"Aku pernah melihat Abang Teddy dan Kak Yura jalan bareng di mall."
Elif melebarkan mata, "Teddy? Dan Yura?"
Adit mengangguk sambil tetap mulutnya bergerak mengunyah.
"Tidak mungkin! Kau mungkin salah lihat. Okelah kalau kau melihat Yura jalan dengan seseorang pria di mall, tapi Teddy? Yang benar saja!"
"Serius, Kak! Tunggu, aku sempat foto mereka, sebentar aku ambil hape dulu." Adit segera melesat pergi ke kamarnya untuk mengambil handphonenya tidak sampai satu menit anak itu kembali dan menunjukkan foto candid yang dilakukannya.
Mata Elif semakin melebar saat ia perbesar layar handphone dan jelas terlihat pria yang sedang menyentuh pipi sahabatnya itu sambil tersenyum adalah Teddy. Si manusia tanpa ekspresi yang Elif kenal.
Sontak Elif pun langsung tertawa dan segera ia tutup mulutnya karena menyadari tawanya terlalu lepas di waktu dini hari seperti itu.
"Benar kan, itu Bang Teddy?"
"Seratus persen!" jawab Elif dalam sisa-sisa tawanya, sekali lagi ia melihat foto itu. "Aku minta foto ini. Aku ingin tunjukkan pada Ardan nanti, apa dia tahu asistennya yang super kaku itu ternyata jalan dengan Yura."