
Akhirnya semua keluarga Yanuar pun tiba, tiga pasang suami istri lengkap dengan anak-anak mereka. Sepupu Elif yang paling besar bernama Galih, seseorang yang sangat belagu dan arogan selama ini pada Elif bahkan juga pada Adit. Ia merasa paling tua jadi merasa semua adik-adik sepupunya harus menghormatinya. Ditambah lagi orang tuanya selalu membandingkan Elif dengan Galih, dan menjadikan Galih seolah adalah anak yang sangat membanggakan dan juga Galih anak tunggal. Tentu saja ia dimanja.
Keempat sepupunya yang lain tidak seberapa menyebalkannya seperti Galih. Tapi tetap saja karena-entah kenapa-keluarga Yanuar selalu saja membandingkan Elif dengan anak-anak mereka dimana Elif selalu menjadi contoh yang tidak patut ditiru karena dianggap bukan anak yang penurut pada ayahnya.
Suasana rumah pun semakin ramai, seperti sedang hajatan. Obrolan-obrolan basa basi dan perkenalan singkat keluarga pada Ardan membuat keluarga Yanuar semakin membesar-besarkan diri mereka di depan Ardan. Yang hanya ditanggapi dengan respon-respon singkat Ardan. Karena Ardan langsung tidak menyukai prilaku mereka. Bahkan di depan Ardan yang sudah diberitahukan Yanuar sebagai calon suami Ardan tidak membuat mereka enggan untuk tetap membandingkan Elif dengan anak-anak mereka.
"Entah kenapa Nak Ardan ini bisa menyukai Elif, padahal si Elif ini anaknya susah diatur, selalu saja membantah ayahnya. Tidak seperti sepupu-sepupunya yang nurut sama orang tua." kata Yanti.
Ardan hanya tersenyum saja, walaupun sebenarnya sudah sangat gatal untuk menjawab mereka. Hanya karena Ardan berpikir Elif akan bicara yang sebenarnya tentang hubungannya dengan Elif. Ia tidak mau membuat Elif semakin diposisi sulit. Tapi dengan semua orang kini berpikiran Ardan dan Elif memang memiliki sebuah hubungan yang serius, bukankah posisi Elif sudah sulit untuk mengungkapkan kebenarannya?
"Jadi kau ini bekerja sebagai apa?" tanya Syarif. "Yanuar bilang kau pebisnis. Apa benar begitu?"
"Iya Om."
"Oh ya, bisnis apa?" tanya Rizal.
"Apa saja, Om."
"Ya memang begitu lah anak-anak muda jaman sekarang, tidak fokus. Bisnis-bisnis kecil yang akhirnya malah tidak berjalan karena tidak fokus." sahut Hendra.
Sejujurnya, Teddy pun juga sudah sangat gemas untuk menunjukkan siapa orang yang sedang mereka remehkan itu.
"Om punya bisnis restoran pizza, sekarang sudah memiliki dua cabang di Jakarta. Berkembang sangat pesat karena Om hanya fokus di satu bidang supaya tidak terbengkalai." kata Syarif menyombongkan diri.
"Iya, Tante Lusi juga dia memiliki bisnis membuat mukena, penjualannya sangat tinggi di platform penjualan Online."
"Si Galih saja yang baru lulus kuliah berencana membuka usaha kedai kopi sama teman-temannya. Itu bisa jadi sukses dan besar nantinya, karena anak Om itu sangat fokus."
Ardan melirik pada Galih yang sedang rebahan di atas karpet sambil bermain game online dan ribut sendiri.
Ardan benar-benar sudah panas, entah apakah dia akan bisa membiarkan Elif berada dalam keluarga yang selalu saja memandangnya sebelah mata seperti ini? Jika saja Elif mengijinkan, Ardan bisa aja menyabotase semua bisnis yang mereka sombongkan itu hanya dalam hitungan menit.
Ardan yakin Teddy pun mempunyai pikiran yang sama sepertinya, hanya dengan sekali anggukan kepala, Teddy akan langsung bisa melaksanakan tugasnya dan membuat kesombongan mereka berakhir.
"Om, Tante, silahkan dicicipi puding buahnya." Elif datang membawa nampan berisi beberapa mangkuk puding buah yang sudah dibuat Zehra tadi pagi.
"Nah Elif, kau juga harus bekerja dengan giat untuk membantu suami mu nanti." kata Yanti.
"Yah minimal kau bisa jualan-jualan online gitu." sahut Ana.
"Iya, jangan jadi istri yang malas dan egois."
Elif hanya tersenyum tipis.
Lalu Yanuar ikut duduk bersama adik-adiknya, sambil terkekeh-kekeh seolah apa yang dikatakan adik-adiknya itu adalah hal yang normal-normal saja.
"Apa semuanya sudah duduk santai?" tanya Yanuar.
"Memangnya kenapa?"
"Aku mau membicarakan dengan kalian juga, biar bagaimana pun kalian ini kan om dan tante nya Elif."
"Membicarakan apa?"
"Tentang hubungan Elif dan Ardan. Aku rasa mereka harus segera melangsungkan lamaran, bukan?" kata Yanuar, yang seketika membuat Elif pias. Ia meremas pinggiran nampan yang telah kosong itu.
"Ah ya, kau benar juga." sahut Lisa.
"Mereka juga satu kantor bukan?" kata Yanti.
"Ya, ya, jangan sampai kebobolan karena merasa sudah dewasa dan lepas dari pengawasan." timpal Ana.
"Maaf Ana, maksudmu kebobolan?" Zehra terdengar tidak suka.
"Jangan tersinggung, Mbak, tapi kita kan lihat juga anak-anak kita ini sudah dewasa. Waktu kebersamaan mereka juga banyak. Yah, jangan sampai deh kebobolan duluan baru nikah. Amit-amit deh!" kata Ana.
"Maaf ya Ana, tapi Elif dan Nak Ardan-" Zehra tidak meneruskan kalimatnya karena Elif segera memegang tangan Zehra.
"Sebenarnya hari ini aku dan Ardan ingin membicarakan sesuatu yang sangat serius pada Ayah dan Ibu, tapi ternyata ayah mengundang Om dan Tante semua hari ini, jadi aku rasa ini adalah kebetulan yang baik." kata Elif dengan suara yang mantap.
Meski Ardan sama sekali tidak mengerti apa maksud Elif dengan kalimat, 'Kebetulan yang baik'?
"Ya, Tante benar, aku dan Ardan adalah dua orang dewasa yang bisa saja melakukan khilaf. Tapi Alhamdulillah, sampai hari ini aku bisa menjaga kehormatanku dan Ardan adalah pria yang sangat menghormati wanita." lanjut Elif.
"Bagus lah kalau begitu." Cibir Ana.
"Karena itu, aku dan Ardan telah memikirkan masak-masak, hal ini akan segera kami sampaikan agar tidak lagi menimbulkan kesalahpahaman."
"Aku dan Ardan sebenarnya berencana untuk..." Elif terdiam sebentar, lalu tangannya yang lain menggapai tangan Ardan, menggenggamnya, membuat Ardan terkesiap. "Segera menikah dalam waktu dekat ini."
Tunggu, tunggu, apa aku tidak salah dengar? Bukankah ucapan itu barusan bertentangan dengan apa yang sudah Pak Ardan dan Nona Elif rencanakan? Teddy berpikir dalam hatinya.
"Benarkan, sayang?" Elif bertanya pada Ardan, menatapnya intens.
Ardan tentu saja yang terkejut, mengerjapkan matanya. Apakah aku sedang berhalusinasi tingkat tinggi? Apakah barusan Elif bilang aku dan dia akan menikah? Benarkah?
"M-menikah? Ya, tentu itu benar." jawab Ardan diiringi senyum lebar yang tulus dari hati.
"Benarkah?" Yanuar membeliakkan mata. "Ini benar-benar kabar baik!"
"Alhamdulillah!" Zehra memeluk Elif.
Yura dan Mona pun ikut berpelukan saking senangnya.
"Tapi kenapa sangat tiba-tiba sekali ingin menikah? Seperti sedang menutupi sesuatu saja." Cibir Lusi.
"Maaf Tante," Kini Ardan yang angkat bicara, ia tahu kini kemana kakinya akan melangkah. "Sebenarnya sejak awal saya dan Elif tidak pernah ada rencana untuk berpacaran. Sejak awal saya sudah katakan pada Elif bahwa saya mencari calon istri untuk saya nikahi, bukan membuang waktu dengan hanya sekedar berpacaran. Karena usia kami saya rasa sudah usia yang sangat cukup untuk menikah."
"Dan hari ini juga rencananya saya dan Elif akan memberitahukan keluarga saya. Mungkin besok atau lusa Papa dan Mama akan datang."
"Tentu! Jangan sungkan untuk datang, Nak." Kata Zehra yang sudah berlinangan air mata haru.
"Kalau memang sejak awal kau sudah berniat untuk menikahi Elif, kenapa baru sekarang kalian memberitahukan orang tua kalian?" tanya Syarif yang masih terdengar skeptis.
"Karena ada beberapa hal yang harus kami urus lebih dulu yang menyebabkan kami memundurkan rencana kami untuk mengumumkan ini." kata Ardan.
"Tidak apa, Nak, tidak apa." kata Yanuar.
"Kau begitu serius dengan Elif dan menyayangi Elif sebegitu besarnya sudah merupakan kebahagiaan bagi Ibu." ujar Zehra.
"Ya, baiklah kalau memang kalian memutuskan untuk menikah. Ya bagus, supaya menghindari fitnah." sahut Yanti.
"Tapi memangnya Nak Ardan ini sudah siap secara materi? Kalian harus tahu, pernikahan itu bukan hanya bermodalkan hati dan cinta, tapi juga ekonomi yang mapan dan stabil. Jangan hanya karena bisnis-bisnis kecil yang tidak jelas kau malah-"
"Teddy!" Elif memotong Rizal yang sedang bicara dengan memanggil Teddy dengan nada yang sangat tegas, seperti bukan Elif. Sampai membuat Adit kaget, begitu pun dan Yura dan Mona.
"Ya, Nona." Teddy menjawab, dan mendekat.
"Nona?" Para Tante berbisik, bingung kenapa pria yang sedari tadi berdiri diam tidak bersuara itu tiba-tiba memanggil Elif dengan 'Nona'.
"Kau sebagai asisten Pak Ardan, coba kau jelaskan siapa Pak Ardan kepada Om dan Tanteku semua."
"Baik Nona." Teddy mengangguk. "Pak Ardan Mahesa Demir adalah pewaris tunggal dan juga CEO dari MD Group Company yang merupakan perusahaan raksasa terbesar ke tiga di Asia, dan kelima di Eropa yang menaungi banyak bidang. Diantaranya, oil and gas, properti, infrastuktur, farmasi, textile, pesawat terbang, kapal pesiar, teknologi, jaringan telekomunikasi, perhotelan, yang semuanya memiliki lebih dari 10 cabang di dalam dan di luar negeri. Pak Ardan juga adalah pendiri dan pemilik 17 rumah sakit swasta, 15 sekolah berstandar Internasional, 6 Universitas Swasta ternama, 35 Yayasan kemanusiaan, penyelenggara terbesar beasiswa bagi siswa-siswa berprestasi, dan-"
"Cukup Ted." Ardan akhirnya memotong Teddy. Ia sudah merasa lebih dari cukup keluarga Yanuar menganga mendengar penjelasan Teddy tentang siapa Ardan, seorang yang baru saja mereka pandang sebelah mata. Jangankan keluarga Yanuar, Mona, Yura dan Adit pun ikut menganga. The real sultan yang sedang benar-benar mereka lihat.
"Kenapa kau hentikan?" Protes Elif pada Ardan.
"Aku tidak sehebat itu." kata Ardan merendah.
"Kau memang sehebat itu!" ucap Elif dengan tegas. "Biarkan semua Om dan Tanteku tahu seberapa hebatnya calon suamiku!" Sambung Elif. "Tante, Om, Ardan bukan seorang pebisnis amatir seperti yang Om dan Tante pikir, bukan anak muda yang hanya halu berencana tanpa hasil, misalnya seperti berencana membuka kedai kopi, rencana, rencana, rencana yang tidak pernah terealisasikan sejak tiga tahun lalu."
"Kau menyindirku?" Protes Galih.
"Tidak, aku hanya memberikan contoh." Balas Elif.
"Wah, wah, Mas Yanuar, pantas saja kau sering kali emosi pada Elif, ternyata begini ya aslinya Elif, sombong sekali." kata Hendra mencibir Elif.
"Memangnya kenapa?" Zehra angkat bicara. "Selama ini kalian selalu menyombongkan diri, membandingkan Elif dengan anak-anak kalian, tapi Elif selalu diam. Sekarang Elif mengungkapkan kebenaran yang ada, kalian tidak terima kalau Elif bahagia, lalu kalian sebut Elif sombong?" Zehra tidak lagi bisa memelankan intonasi suaranya.
"Lagi pula, kenapa memangnya kalau sekali-sekali aku menyombongkan diri, Om? Toh, selama ini Om juga selalu menyombongkan diri, bukan?" kata Elif dengan tenang dan datar.
"Sudah, sudah." Rizal mulai mencoba menengahi perbincangan yang mulai panas, yang sama sekali tidak mereka duga kalau Elif bisa seberani itu.
"Aku hanya ingin memberitahukan kesemua orang siapa calon suamiku dan bagaimana gambaran masa depanku kelak bersama Ardan. Dan aku rasa, akhirnya diam ku selama ini terbayarkan." kata Elif.
"Makanya Om, Tante, jangan suka nyi-nyir, apalagi memandang rendah orang lain. Karena kita tidak pernah tahu seberapa besar gunung yang ada di bawah kakinya!" kata Adit tiba-tiba dengan suara lantang. "Bravo Kak! Bravo!" Yang diakhiri dengan tepukan tangannya. Dan acungan ibu jari dari Yura dan Mona.
Benar-benar sebuah sore yang tidak pernah dibayangkan oleh keluarga Yanuar, bahwa Elif anak yang selama ini tidak mereka anggap telah begitu telak menampar kesombongan mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Teddy menyunggingkan senyum bangga pada wajahnnya.
Kau keren Nona!