
Hanya tinggal menghitung hari bagi Sonya untuk berada di perusahaan. Ia akan benar-benar melepaskan pekerjaannya kepada Elif. Sebenarnya tidak rela melepaskan pekerjaan yang dia cintai. Meski atasannya menyebalkan dan banyak aturan, tapi Sonya tahu, sebenarnya Ardan orang yang baik. Ia hanya belum bertemu seseorang yang tepat saja.
Tapi sekarang Sonya yakin, Elif adalah seseorang yang tepat untuk mendampingi atasannya itu, begitu pun sebaliknya.
Ting!
Suara pintu lift terbuka, Elif berjalan keluar dari sana menuju meja kerjanya yang berada tepat di depan pintu ruang kerja Ardan.
"Elif? Kenapa sudah masuk?" tanya Sonya. "Kau kan baru saja pulih. Kau tetap harus banyak istirahat."
"Tapi kan orang tuaku tidak tahu aku baru saja keluar dari rumah sakit, Mbak." jawab Elif seraya duduk pelan-pelan pada kursinya.
"Ya, tapi kan orang tuamu tahu kan kau calon istrinya Pak Ardan, bilang saja kau malas ke kantor, orang tuamu pasti mengerti."
Elif terkekeh, "Mereka akan semakin curiga, karena malas adalah bukan diriku."
"Duhh, iya, iya deh tahu yang rajin, sampe bikin Pak Bos klepek-klepek. Hahahaha. Eh, omong-omong, Pak Ardan mana? Kau tidak bersamanya?"
"Tidak, Pak Teddy mengirimkan ku email tadi pagi, jobdesk ku yang baru, aku tidak perlu lagi melakukan tugas ART itu."
"Tentu saja! Gila kali Pak Ardan kalau masih menyuruhmu melakukan tugas-tugas itu. Tapi bukan itu maksudku." Sonya berpaling dari layar komputernya. "Pak Ardan kan tahu kau baru pulih, apa Pak Ardan tidak menjemputmu?"
Elif tersenyum tipis, "Pak Ardan tidak tahu aku masuk kerja hari ini."
"Apa? Kalian tidak sedang bertengkar lagi, kan?"
"Mbak ingin tahu saja atau ingin tahu sekali." Goda Elif.
"Ih Elif, aku serius! Kau tahu terakhir kali kalian bertengkar, kau berakhir di kamar mandi itu!"
"Tenang, tenang, Mbak, tidak akan terjadi lagi yang seperti itu. Karena aku punya ini!" Elif mengeluarkan botol semprot kecil berisi cairan keruh.
"Apa itu?" Sonya mengernyit.
"Larutan cabai rawit merah, bawang merah dan merica yang aku buat sendiri." kata Elif dengan sangat bangga akan senjata ciptaannya.
Mereka pun tertawa.
"Eh tapi ya, aku benar-benar salut deh padamu." kata Sonya.
"Salut karena aku membuat cairan ini?"
"Bukan! Tapi karena kau berhasil menundukkan orang semenyebalkan Pak Ardan."
"Be-benarkah?" Elif tertawa gusar.
"Benar! Aku tidak bohong. Dulu sebelum Pak Ardan, aku menjadi sekertarisnya Pak Demir, beliau orang yang sangat ramah dan baik dan hangat pada semua karyawannya. Sangat bertolak belakang sekali dengan Pak Ardan. Setiap kali Pak Ardan datang untuk mengurus tender ini dan itu, sebulan atau dua bulan lah, semua staf selalu mengeluh karena dia benar-benar seperti robot yang gila kerja, tidak ada istirahatnya, kaku, menyebalkan, banyak sekali aturan, dan sikapnya selalu dingin, tidak ada ramah-ramahnya."
Elif menyimak.
"Dan kami semakin mengeluh begitu tahu Tuan Demir pensiun dan digantikan oleh Pak Ardan. Dia langsung banyak membuat peraturan, banyak mengambil keputusan sepihak, beberapa juga di PHK."
"PHK?"
"Iya, tapi Pak Ardan sangat sportif. Dia memberikan pesangon dua kali lipat dari pesangon yang seharusnya. Dan orang-orang yang di PHK adalah orang-orang yang memang sudah waktunya untuk pensiun. Jadi aku rasa pesangon yang diberikan sangatlah besar dan lebih dari cukup. Pak Ardan juga langsung mengakuisisi beberapa perusahaan."
"Oh ya? Apakah ada yang di PHK juga dari perusahaan yang di akuisisinya itu?"
Sonya mengangguk. "Kebanyakan karyawan yang sudah berusia diatas 45 tahun. Dan seperti yang lainnya, Pak Ardan memberikan pesangon dua kali lipat dari pesangon semestinya. Itu bisa jadi kaya mendadak tidak sih?"
"Kaya mendadak? Bagaimana mungkin orang di PHK bisa jadi kaya mendadak?"
"Begini, aku beri contoh ya. Misalnya nih, misalnya si A kerja sudah lebih dari 10 tahun, pesangon semestinya yang dibayarkan adalah 20 juta, tapi sama Pak Ardan dibuat kebijakan dengan melipatkannya menjadi 40 juta! Jadi seperti dapat rejeki nomplok tidak tuh?"
Pikiran Elif sudah tidak lagi fokus pada omongan Sonya tentang kaya mendadak. Pikirannya langsung teringat pada cerita ayahnya, alasan kenapa ayahnya bisa terkena PHK karena ada sebuah perusahaan besar yang mengakuisisi perusahaan kontraktor tempat ayahnya bekerja dan baru beberapa jam diakuisisi, pimpinan perusahaan besar itu pun langsung memberikan PHK kepada beberapa orang yang dianggap tidak produktif dan yang sudah berusia di atas 45 tahun!
"Kalau aku di PHK dengan pesang-"
"Mbak," Potong Elif tiba-tiba. "Memangnya Pak Ardan sudah berapa lama jadi CEO disini?"
"Hmmm, belum lama sih. Sepertinya belum tiga bulan juga. Kenapa?"
"Apa Mbak tahu perusahaan apa saja yang diakuisisi?"
"Tentu saja. Daftarnya ada di ruang arsip."
Tanpa basa-basi lagi Elif langsung bergegas menuju ruangan arsip yang ada di belakang meja mereka.
"Elif kenapa?"
***
Di dalam ruang arsip, jantung Elif berdegup kencang, tak beraturan. Semua rasa bercampur menciptakan rasa yang tak menentu. Ada ketakutan, ada kekhawatiran, ada kecemasan. Sampai akhirnya Elif sampai pada sebuah rak, tepat di depannya sebuah binder bertuliskan:
...Laporan Akuisisi...
Sambil mengatur napasnya, menelan saliva dengan susah payah, Elif mengeluarkan binder tersebut. Membukanya dan membacanya, mencari daftar perusahaan yang telah perusahaan MD Group Company ini telah akuisisi.
Elif menyentuhkan jari telunjuknya untuk menelusuri beberapa nama dari daftar perusahaan yang tertera diatas kertas itu. Sampai ia berhenti, napasnya tertahan, matanya membeliak. Nama perusahaan kontraktor tempat Yanuar bekerja dulu ada disana sebagai salah satu perusahaan yang diakuisisi. Elif membalik-balikan lagi lembaran-lembaran dokumen tersebut. Sampai pada daftar nama-nama orang yang ter-PHK. Dan tentu saja nama Yanuar ada disana.
Elif merosot, kakinya tak sanggup lagi berdiri.
***
Ting!
Ardan bersama Teddy berjalan ke luar dari dalam lift. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang dimana aura dingin dari Ardan seperti memudar bahkan seluruh karyawan nyaris tidak lagi mengenali CEO mereka yang berubah. Kini, ia seperti kembali setelah sekian lama tersesat. Aura dingin terpancar dari sorot mata Ardan yang menatap tajam tidak bersahabat. Bibir tipis tanpa senyuman. Langkah tegap dan elegan yang menggerakkan tubuhnya masuk ke dalam ruangannya tanpa membalas salam selamat pagi dari Sonya.
Ingin rasanya Sonya bertanya pada Teddy, tapi seketika ia menguburkan keinginannya melihat bagaimana Teddy yang sebelas dua belas saja dengan Ardan.
Pasti sedang bertengkar lagi nih. Pasti deh! Pak Ardan jadi semenyeramkan seperti dulu lagi. Aku harus bilang Elif-
Belum selesai Sonya dengan suara dalam hatinya, Elif sudah lebih dulu keluar dari ruangan arsip. Matanya basah, wajahnya menggambarkan penuh kekecewaan dan kesedihan. Tangannya membawa sebuah binder.
"E-Elif? Kau tidak apa-apa?" Sonya terkejut sekaligus cemas.
"Apa dia sudah datang?" tanya Elif. Dingin.
"Si-siapa? Pak Ardan?"
"Ya! Siapa lagi?"
"Su-sudah."
Tanpa memberikan penjelasan apa pun pada Sonya, dengan langkah panjang dan derap seperti tentara Elif menuju ruang kerja Ardan. Gadis itu bahkan tidak mau repot mengetuk pintu.
"Ya Tuhan, ada apa lagi ini? Kenapa pagi ini auranya dingin semua?"
Di dalam ruangan, Ardan tidak begitu terlihat terkejut dengan kehadiran Elif yang masuk tanpa mengetuk pintu. Ardan bahkan tetap melanjutkan pekerjaannya memeriksa beberapa dokumen yang sudah tersaji di atas meja kerjanya.
"Ada apa?" tanyanya dingin tanpa melihat Elif.
BRAK!
Elif meletakkan binder besar itu di atas dokumen yang sedang di periksanya.
"Apa ini?" tanya Ar dan tanpa ekspresi.
"Ini adalah daftar perusahaan yang pernah kau akuisisi dan daftar orang-orang yang pernah kau PHK sepihak tanpa memberikan mereka pilihan bahkan untuk menuntut mu pun mereka tidak bisa, karena kau mengancam mereka tidak akan memberikan hak pesangon mereka. Kau ingat?"
"Lalu?" tanya Ardan dingin.
"Lalu?" Elif menaikkan alis matanya. "Ternyata sejak dulu kau sudah seperti ini, ya? Tidak memberikan orang pilihan lain kecuali menerima apa yang kau kau tawarkan."
Ardan mendengus.
"Tak tahu berapa banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena kamu memberikan PHK mereka sepihak? Berapa kepala keluarga yang harus kehilangan mata pencaharian mereka hanya karena kau menganggap mereka tidak produktif atau hanya karena mereka berusia di atas 45 tahun?"
"Apakah kau juga tahu aku sudah memberikan mereka pesangon lebih dari yang seharusnya mereka terima?" Ardan berdiri, mengancingkan jasnya melangkah perlahan mendekati Elif. "Dengan uang itu mereka bisa membuka usaha apapun yang mereka mau, tidak lagi menjadi budak perusahaan. Bukankah mereka seharusnya bersyukur?"
"Kau seharusnya juga memikirkan, tidak semua orang mempunyai pemikiran yang sama sepertimu! Ada beberapa diantara mereka yang lebih memilih bekerja menjadi pegawai, dapatkan gaji setiap bulan untuk menghidupi anak istrinya, menyekolahkan anak-anaknya."
"Kau tahu? Itu bukan urusanku. Itu masalah mereka. Aku sudah memberikan hak mereka lebih dari pada yang mereka seharusnya terima, itu sudah sangat baik, bukan?"
"Kau benar-benar egois Ardan!"
Ardan terkekeh. "Dengar, aku memberikan mereka kesempatan untuk menjadi wirausahawan, aku memberikan mereka modal secara cuma-cuma dan kau bilang aku egois? Wah!"
"Apa kau tahu, mungkin beberapa orang bisa menjadi kehilangan mimpi mereka!"
"Aku tidak mengerti bagaimana seseorang yang mendapatkan uang malah kehilangan mimpi?" Ardan tertawa sinis.
"Aku! Aku kehilangan mimpiku!"
"Apa hubungannya denganmu?" Ardan mengernyit.
"Karena salah seorang yang kau PHK secara sepihak itu adalah ayahku!" Suara Elif pun meninggi, tak bisa lagi menahan emosi yang membuncah dalam dadanya.
Keheningan pun langsung memerangkap mereka berdua. Tatapan penuh kekecewaan menusuk Ardan. Sementara Ardan tercengang tak terelakkan.
"Jadi, kau orang yang tidak perduli dengan urusan orang lain? Kau orang yang menganggap semua hal bisa kau beli dengan uang? Begitu kan?"
"Bukan, bukan begitu..." Ardan mendekati Elif, dan Elif bergerak mundur.
"Kau ingin aku memilih bukan? Apakah aku akan meneruskan semua ini atau mengakhirinya?"
Ardan menggeleng. "Ku mohon jangan ambil keputusan dalam emosi seperti ini." ujar Ardan.
"Tidak, ini adalah saat yang tepat. Aku ingin mengakhiri semua sandiwara ini!"
Tepat saat itu, Teddy masuk. Ia sudah tahu sedang terjadi sesuatu di dalam ruang kerja Ardan karena Sonya yang memberitahunya bahwa sepertinya Elif marah tentang sesuatu yang menyangkut soal perusahaan yang pernah diakuisisi.
"Maaf Pak, Nona Elif,"
"Jangan panggil aku Nona!" Bentak Elif.
"Saat ini ada Pak Yanuar di lobi." kata Teddy tidak perduli dengan bentakan Elif. "Sepertinya Pak Yanuar sedang tidak dalam mood yang baik, Pak."