HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Bergosip di kamar mandi.



Elif membasuh wajahnya di atas wastafel kamar mandi staf. Dia benar-benar kesal atas apa yang dilakukan Ardan terhadap Gavin. Apa lagi Gavin sama sekali tidak salah apa pun. Hanya karena Elif tidak bisa menahan bola mata untuk tidak melirik, Ardan sampai harus memutuskan hal yang sangat tidak adil. Tapi Elif tidak menyesal dengan keputusannya untuk mengundurkan diri. Dia hanya ingin semua sandiwara ini berakhir sebelum berlarut-larut.


Kalau Ardan saja tidak peduli dengan bagaimana nantinya hidup Elif, Elif pun memutuskan tidak akan peduli tentang pemberitaan media yang akan menuliskan berita tentang Ardan.


Setelah selesai membasuh wajahnya, Elif masuk ke dalam bilik toilet. Tak lama kemudian terdengar beberapa langkah kaki masuk. Suara tiga orang yang sedang tertawa. Siapa lagi kalau bukan, Nanda, Ayu dan Kinan.


"Kalian dengar tadi kejadian di ruang meeting?" Ayu mulai pergosipan mereka.


"Iya, katanya Pak Ardan kasih peringatan gitu, ya, ke Pak Gavin." Nanda menjawab.


"Aneh sih menurutku, bukankah mereka teman? Selama ini pun kita lihat Pak Gavin dan Pak Ardan baik-baik saja, ya, kan?" kata Kinan.


"Aduh, kalian jangan polos-polos seperti itu lah." Ayu terkekeh. "Coba kalian pikir benang merah yang membuat mereka menjadi seperti itu."


"Apa memangnya?" Nanda penasaran. Begitu juga dengan Kinan.


"Tentu saja karena cemburu."


"Cemburu?" Kinan mengerutkan dahi.


"Kalian ingat tidak sih, siapa yang merekomendasikan sekertaris itu ke Pak Ardan? Pak Gavin dan HRD kita. Dan kita semua tahu, Pak Herdi diminta langsung oleh Pak Gavin untuk membantunya agar si Elif itu diberi kesempatan."


"Tunggu, tunggu, apa maksudmu, Pak Gavin dan Elif ini semacam punya hubungan?" Kinan membeliak.


"Bisa jadi. Tapi karena Pak Gavin sudah memiliki kekasih jadi yah hubungan mereka tidak bisa diteruskan, jadi deh si Elif menggoda Pak Ardan dan Pak Ardan kepincut."


"Jadi, Pak Ardan tahu gitu tentang hubungan Pak Gavin dan Elif, makanya jadi seperti itu ke Pak Gavin?"


"Iya pasti lah."


"Gila yah! Pake ilmu apaan ya si sekertaris itu. Padahal tampangnya kampung banget, jauh banget sama Kak Marsha."


"Parah juga sih, tampang kampungan aja sampai bikin dua laki-laki seperti Pak Ardan dan Pak Gavin jadi musuhan gitu."


"Padahal kelihatannya polos, ya, kayak suci gitu. Tahunya parah gitu."


"Kalian juga tahu kan kalau dia itu juga tetap kerja pada Pak Ardan di luar jam kantor, dengar-dengar sih, dia selalu ikut mobilnya Pak Ardan juga. Kalian bisa pikir sendiri lah apa yang terjadi."


Mereka terkekeh sebelum akhirnya keluar dari sana, meninggalkan Elif di dalam bilik toilet menahan suara isak tangisnya agar tidak terdengar oleh siapa pun meskipun derai air mata sudah membanjiri wajahnya.


Pada akhirnya apa yang Anda lakukan menjadikan aku sebagai tokoh penyebab kerusakan hubungan pertemanan kalian. Pada akhirnya tetaplah aku yang salah di mata siapa pun. Pada akhirny selalu aku yang terluka atas apa yang tidak aku lakukan.


***


Elif kembali ke mejanya. Wajahnya lesu dan ditekuk. Hanya tinggal menghitung hari ada Sonya di meja itu menemaninya. Sonya bahkan sudah mencicil membawa pulang barang-barang pribadinya. Rasanya sudah akan sangat menyakitkan membayangkan bahwa Sonya adalah satu-satunya orang di gedung itu yang selalu bertanya padanya tanpa harus menghakimi.


"Kak," ucap Elif.


"Ya, astaga! Kenapa wajahmu pucat begitu?" Sonya kaget melihat wajah Elif yang seperti tidak berdaya.


"Kak, kalau aku mengundurkan diri, apakah akan menyulitkan Kakak?"


"Apa? Kau mau mengundurkan diri?" Sonya mengerutkan keningnya.


Elif tersenyum masam.


Lagi-lagi Elif hanya tersenyum masam.


"Jangan terprovokasi Elif!" Sonya menatap Elif dengan sangat serius. "Dengar, mereka tidak tahu bagaimana tertekannya menjadi sekertaris Pak Ardan, apalagi dengan job desk yang kau miliki, dan kita semua tahu kalau Pak Ardan memang orang yang suka membuat peraturan seenak jidatnya. Tapi hati orang siapa yang tahu, mungkin saja kebersamaan kalian telah membuat hati dingin itu mencair."


Elif kembali hanya tersenyum merespon bagaimana tulusnya Sonya mendukungnya. Rasa bersalah seketika menusuk-nusuk hati Elif hingga rasanya begitu sakit dan perih. Sudah berapa orang yang baik padanya tapi malah ditipunya habis-habisan. Air mata pun lolos begitu saja jatuh di pipinya.


"Sshhh, sudah, sudah, jangan kau dengarkan omongan mereka. Tunjukkan saja kalau apa yang mereka gosipkan itu tidak benar. Itu adalah cara terbaik membalas mereka." Sonya memeluk Elif. "Lagi pula kenapa kau mesti memikirkan apa yang mereka omongkan, kau mempunyai Pak Ardan di sampingmu, kau tinggal sebutkan saja nama-nama penjahat itu, aku yakin detik berikutnya kau tidak akan melihat mereka lagi digedung ini."


Seandainya, seandainya memang seperti itu. Seandainya aku dan Pak Ardan memang saling mencintai, tentu saja aku akan mengangkat kepalaku di depan mereka. Tapi, semua ini hanya sandiwara, hanya omong kosong yang tidak akan berlangsung lama. Dan setelah semua ini berakhir, aku tidak tahu apakah aku mampu bertahan dengan segala fitnahan yang mereka lemparkan padaku. Rasanya aku tidak akan sanggup.


"Lalu kalau aku tetap mengundurkan diri, apakah akan menyulitkan Kak Sonya?"


"Iya, maaf kan aku. Aku tidak lagi bisa mengundur waktu ku untuk keluar dari sini. Maafkan aku." Sonya begitu tulus menyesal karena tidak bisa membantu Elif.


"Tidak apa-apa, Kak, aku mengerti."


"Ingat, kau memiliki Pak Ardan, apa pun yang terjadi kau tidak perlu menghadapi semuanya sendirian."


Dari dalam ruang kerja di depan meja mereka, seseorang memperhatikan apa yang terjadi di meja sekertarisnya melalui kaca jendela. Bibirnya bergerak melengkungkan senyuman.


Good job, Sonya.


***


Beberapa menit sebelumnya.


"Panggil Sonya kesini." titah Ardan pada Teddy setelah Elif terlihat tidak kembali ke mejanya setelah keluar dari ruangan Ardan.


Teddy mengangguk, kemudian kembali lagi bersama Sonya.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Sonya. Sedikit bingung apa lagi Teddy disana menatapnya dengan tajam seolah Sonya adalah terdakwa kasus yang sangat berdosa.


"Sesuatu terjadi di ruang meeting antara aku dan Gavin, mungkin agak sedikit mengherankan."


"Iya Pak, saya sudah dengar apa yang terjadi." Sonya keceplosan.


"Wah, berita dari mulut ke mulut memang lebih cepat tersebar." Cetus Ardan. "Melihat bagaimana hal ini sangat cepat tersebar, aku yakin gosip pun akan mulai tersebar juga, dan yang pasti nama Elif akan menjadi bahan olok-olokan. Kemungkinan besar Elif tidak akan mampu menerimanya dan mungkin berniat untuk mengundurkan diri." Ardan melanjutkan.


"Saya juga yakin seperti itu, Pak." ujar Sonya yang langsung ditatap setajam pisau oleh Teddy, menandakan bukan waktunya Sonya memberikan pendapat.


"Aku berikan kau tugas terakhir sebelum kau benar-benar keluar."


"Baik Pak, apa itu tugasnya Pak?"


"Kau sebisa mungkin harus menenangkan Elif, dan meyakinkan Elif untuk tidak mengundurkan diri. Karena kalau sampai Elif berhenti, itu hanya akan membenarkan gosip apa pun yang tersebar."


Sonya mengangguk mengerti.


"Kau harus bisa membuatnya tetap bertahan, dan katakan padanya kalau dia memilikiku, dia tidak perlu


menghadapi semua berandal gosip itu sendirian."


"Baik Pak, saya mengerti."