HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Selalu Salah.



Elif, Mona dan Yura saling berpelukan begitu mereka bertemu di sebuah cafe, ketiganya melepas rindu seakan sudah tidak bertemu bertahun-tahun.


"Ya ampun Elif kelihatan berbeda sekali." Komentar Yura dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apanya yang berbeda sih, Ra?"


"Rambutmu jadi terlihat seperti manusia setelah bekerja." Timpal Mona sekenanya.


Mereka bertiga malah jadi tertawa. Bertiga saja ramainya sampai terdengar seantero cafe. Membuat orang-orang menengok atau ikut tertular tawa ketiga gadis itu. Tapi ada juga yang merasa terganggu dengan mereka. Tapi mereka tidak perduli!


Dua jam berlalu begitu cepat, segala cerita mengalir begitu saja. Elif menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Gavin dan mereka sekarang satu kantor. Tentang Sonya yang baiknya ketulungan, dan ternyata Sonya adalah tetangga Yura yang memberitahu Yura tentang lowongan untuk mengisi posisinya. Lalu tentang Teddy, si manusia tanpa ekspresi. Tak lupa juga Elif menceritakan bagaimana menyebalkan bosnya yang bernama Ardan Mahesa Demir.


"Dan kau akan terus bekerja dibawah pimpinan bos kau itu selamanya?" Mona bertanya. "Kalau aku pasti sudah kuracuni."


"Untungnya Elif bukan kau." Timpal Yura.


"Aku akan bertahan, mungkin sampai ayahku benar-benar sehat. Setelah itu, mungkin aku akan mendaftar kuliah lagi, atau lanjut bekerja ditempat lain. Entah lah. Yang terpenting sekarang adalah biaya untuk operasi ayah."


Mona dan Yura mengerti seratus persen apa yang dirasakan Elif.


Tibalah saat untuk berpisah kembali. Meski tidak rela, meski masih rindu untuk bercerita-cerita, menghabiskan waktu hanya untuk ngobrol-ngobrol ngalor-ngidul. Elif memesan ojek online untuk kembali pulang. Ia sudah menghubungi Zehra mengabarkan hari ini dia pulang lebih awal.


Bukan ke rumah, melainkan ke rumah makan mereka ojek online Elif berhenti. Setelah mengembalikan helm si abang ojek, Elif masuk ke dalam resto. Orang pertama yang dia temui adalah Yanuar, tentu saja. Karena ayahnya itu semenjak tidak bekerja, beliau ikut membantu di rumah makan untuk duduk di belakang meja kasir. Pekerjaan yang tidak terlalu melelahkan dari pada harus membantu Zehra di dapur.


Elif merendahkan tubuhnya untuk mencium tangan ayahnya, meski tidak melihat Yanuar tetap memberikan tangannya. Tetap tidak menegur Elif. Mulutnya rapat seolah akan menjadi dosa untuk menegur anak gadisnya sendiri.


Elif sudah lebih menegarkan hati. Entah apa salahnya kali ini, sampai-sampai ayahnya sama sekali tidak ingin melihatnya bahkan menegurnya.


"Sudah sampai, Nak." Zehra keluar dari dapur disusul Adit di belakangnya. Ia menghampiri Elif begitu melihat bagaimana dinginnya sikap sang ayah pada anak sulung mereka.


Sejak Elif diterima kerja sampai sekarang, hanya Yanuar yang terlihat tidak berbangga hati. Boro-boro mendoakan, mengucapkan selamat saja tidak. Zehra sampai tidak tahu lagi harus bagaimana membuka hati dan pikiran suaminya itu. Ia selalu saja memperlakukan Elif seperti anak tiri. Padahal Elif adalah anak pertama mereka yang mereka nantikan setelah 7 tahun pernikahan.


"Sudah makan, Nak?" tanya Zehra


"Sudah tadi sama Yura dan Mona, tapi sedikit. Karena aku mau makan masakan Ibu." jawab Elif sambil merangkul pundak Zehra. "Ibu jangan terlalu lelah ya? Ambil saja lagi satu pegawai untuk bantu-bantu."


"Eh, kalau Ibu ambil satu pegawai lagi, mau digaji dari mana?"


"Kan nanti bisa aku bantu." jawab Elif sambil menunjukkan cengiran lebar.


"Sayang, fokus saja pada tujuan mu meninggalkan kuliahmu dan memilih untuk bekerja. Agar cepat bisa tercapai dan kau bisa kembali pada cita-cita awalmu."


Elif tersenyum masam. Kemudian menyeringai lebar. "Iya Ibuku sayang, aku hanya tidak mau Ibu lelah."


"Kan ada aku yang membantu Ibu, Kakak tidak melihat ku?" Cibir Adit yang masuk ke dapur membawa beberapa piring kotor.


"Ya ya, kau Adikku yang paling luar biasa." Puji Elif seraya mencubit pipi Adit.


Zehra pun menyiapkan makan malam untuk Elif, sementara Adit duduk menemani Elif yang sedang memijat-mijat bahunya, mumpung belum ada lagi pengunjung yang datang.


"Ayah masih saja mendiamimu, Kak?" tanya Adit. Dengan volume suara yang dipastikan hanya Tuhan, malaikat dan mereka berdua yang dapat mendengar.


"Masih. Apa kau tahu dimana salahku sampai Ayah sepertinya takut dosa kalau bicara padaku." jawab Elif dengan volume yang sama seperti Adit.


"Sepertinya ini semua karena aku deh."


"Maksudmu?"


***


Beberapa Minggu Lalu.


Elif dan Zehra meninggalkan Yanuar dan Adit di kamar untuk mengurus administrasi perawatan Yanuar beberapa hari itu. Adit masih belum terima dengan keputusan dan kesepakatan yang diputuskan Elif saat Yanuar masih tidak sadar, tapi remaja lelaki itu berusaha untuk melapangkan hatinya, mencontoh pada kakaknya. Meski terkadang mereka tidak cocok, meski terkadang ada perdebatan sepele antara dua saudara itu, Adit sangat menyayangi dan menghormati kakaknya.


"Buang-buang duit ini jadinya. Seharusnya kita bisa lebih berhemat." Celetuk Yanuar sambil menggeser posisi duduknya di atas ranjang tidur rumah sakit.


Adit tidak menjawab. Ia tetap memasukkan barang-barang mereka ke dalam tas plastik. Beberapa roti, biskuit juga buah-buahan yang dibawa oleh tamu.


"Kau tahu pasti, kan, Ayah sampai di rawat seperti ini karena kakakmu itu."


Sabar Dit, sabar. Jangan kepancing. Adit berusaha mengontrol emosinya.


Jangan kepancing Dit! Tenang!


"Kalau saja dia nurut untuk menikah waktu itu, hidupnya sudah nyaman, dia juga bisa bantu orang tua, bisa bantu sekolahmu dan masa depanmu. Ini malah mementingkan egonya, malah mau kuliah, buang-buang waktu, buang-buang biaya. Tidak penting sama sekali kuliahnya itu."


Tidak bisa didiamkan!


"Cukup Yah!" Teriak Adit sambil membanting gelas plastik yang hendak dimasukkannya ke dalam tas. Yanuar terkejut, tidak menduga sama sekali dengan reaksi Adit.


"Sudah cukup Ayah selalu saja memojokkan dan menyalahkan Kak Elif kalau ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Ayah!"


"Apa-apaan kau? Berani membentak Ayah? Heh?!" Suara Yanuar pun meninggi.


"Maaf Yah, Adit tidak bermaksud membentak Ayah, Adit hanya ingin ingatkan Ayah, disini Kak Elif tidak salah sama sekali. Kak Elif tidak pernah salah. Tapi Ayah yang selalu saja menyalahkannya walaupun tidak ada hubungannya dengan Kak Elif."


"Kau mulai kurang ajar, ya, pasti Elif yang mengajarimu. Iya kan?!"


"Nah lihat, lagi-lagi Ayah menyalahkan Kakak." Adit menggeleng kasar. "Padahal Kak Elif sudah sangat berbakti."


"Berbakti apanya? Dia tidak pernah nurut apa kata Ayah!"


"Apa karena Kak Elif menolak untuk nikah muda dan memilih untuk memperjuangkan cita-citanya lalu Ayah langsung mencap Kak Elif seorang yang egois? Yah, Kak Elif juga manusia, dia punya hati, punya harapan, punya mimpi, punya HAK!"


"Cukup Adit, kau sudah keterlaluan!"


"Tidak! Aku tidak mau diam sekarang." Bantah Adit. "Aku sudah tidak tahan lihat selalu menepikan Kak Elif, seolah Kak Elif bukan darah daging Ayah. Ayah lihat, apa pernah Kak Elif membantah Ayah seperti Adit sekarang? Tidak pernah kan?"


Yanuar membuang muka, tidak ingin mendengarkan meski dia tidak akan bisa menulikan pendengarannya dari suara Adit yang meledak di ruangan kamar itu.


"Lagi pula Ayah juga tidak membiayai Kak Elif kuliah kan? Kak Elif bisa kuliah karena kegigihannya sendiri, dengan beasiswa! Lalu kemudian Ayah ingin aku masuk sekolah swasta yang mahal, akhirnya Kak Elif terpaksa kehilangan beasiswa karena harus cuti untuk bisa bantu Ayah dan Ibu. Lalu apa Ayah bantu Kak Elif untuk lanjut kuliahnya? Tidak! Ayah tetap tidak perduli. Kak Elif harus kuliah sambil kerja untuk bisa membayar semesterannya. Dia bahkan harus kerja ekstra untuk bisa sekedar beli laptop dan sepeda bekas. Sementara aku Ayah belikan motor baru dan handphone baru, padahal aku tidak minta!"


"Tapi kau menyukainya kan? Kau memakai apa yang Ayah belikan kan?"


"Aku tidak menyukainya, tapi aku memang memakainya karena Kak Elif menyuruhku untuk memakainya agar Ayah senang!"


Yanuar kembali memalingkan wajah.


"Ayah tahu aku tidak pernah ingin jadi pemain bola atau jadi atlet apa pun. Aku hanya ingin menjadi seorang akuntan dan programmer. Tapi Ayah terus saja memaksaku untuk menjadi pemain bola, cita-cita Ayah yang tidak pernah bisa Ayah capai lalu Ayah paksa aku untuk meneruskannya. Tapi Kak Elif, berkali-kali mengorbankan perjuangannya menuju cita-citanya, bahkan sekarang Kak Elif sudah memutuskan untuk BERHENTI KULIAH DEMI AYAH!"


Yanuar masih saja bergeming.


"Ia akan bekerja, apapun yang halal untuk Ayah! Agar Ayah bisa menjalani operasi tanpa harus menggunakan uang pesangon Ayah. Padahal aku sudah meminta Kak Elif untuk pergunakan uang pesangon Ayah saja. Tapi Kak Elif tidak mau, karena Kak Elif tahu uang itu adalah simpanan Ayah untuk biaya aku masuk sekolah bola. Sekolah yang sama sekali tidak aku inginkan! Lalu sekarang siapa yang egois! SIAPA?"


"Kalau kau hanya ingin teriak-teriak tidak sopan seperti itu pada Ayah, lebih baik kau di luar saja!"


Tanpa menyesal, Adit membanting tas plastik itu lalu melangkah dengan kaki panjangnya keluar dari kamar membawa serta amarah yang terpeta jelas pada wajahnya yang memerah.


Maafkan aku, Kak. Tapi aku sudah tidak tahan lagi.


***


Kini Elif tahu apa alasan Yanuar enggan menegurnya. Bukan karena merasa bersalah pada Elif. Ia sangat tahu itu. Tapi terlebih karena merasa Elif memberikan pengaruh 'buruk' pada Adit, karena adiknya, yang selalu menjadi kesayangan Yanuar, selalu diberikan apapun walaupun tidak pernah meminta malah membantahnya, malah membela Elif dengan sebegitu kerasnya. Itu yang membuat Yanuar marah pada Elif.


"Lalu kau apa didiamkan juga sama Ayah?"


Adit menggeleng. "Tapi Ayah jadi ketus padaku. Dan aku sama sekali tidak masalah. Bukan aku yang bermasalah, tapi Ayah yang bermasalah dengan dirinya sendiri."


"Tidak boleh begitu!" Tegur Elif.


Adit mengedikkan bahu, acuh.


"Misi kita adalah untuk pengobatan Ayah, bukan? Aku akan masuk sekolah bola jika itu memang bisa membuat Ayah semangat dan sehat kembali. Tapi jangan salahkan aku jika aku tidak bersemangat. Dan aku akan keluar dari sana begitu Ayah benar-benar sehat."


"Adit..."


"Maaf Kak, bukannya aku tidak perduli atau egois. Tapi aku tidak mau seumur hidupku menjalani apa yang tidak aku suka."


//BERSAMBUNG//