HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Makan Malam



Malam menjelang, setelah usai dengan aktifitas ranjang romantis pasangan suami istri yang masih baru-barunya itu, keduanya kini tengah bersiap-siap menuju rumah orang tua Ardan.


Mama Hanna sudah mewanti-wanti agar mereka datang untuk makan malam bersama, karena setelah hari resepsi dan insiden penculikan waktu itu, mereka belum lagi sempat berkumpul dengan Mama dan Papa. Meski sebenarnya Ardan sangat enggan untuk pergi, ia buru-buru menyelesaikan pekerjaannya di kantor untuk bisa berlama-lama bermanja dan beromantisan dengan sang istri tercinta, tapi begitu sesampainya dirumah Elif mengabarkan Mama Hanna meminta mereka untuk makan malam bersama.


"Jangan lesu gitu dong, sayang." ujar Elif sambil berusaha mengikat rambutnya yang brekele tapi sangat disukai pria berdarah Turki itu.


Rambut Ardan masih berantakan meski ia sudah berpakaian lengkap. Ia malah merebahkan dirinya di atas tempat tidur, bermalasan.


Elif selesai dengan rambutnya lalu menghampiri Ardan. Ia mencoba menarik tangan suaminya untuk bangkit.


"Ayo kenapa sih mau ke rumah Mama malah malas gitu?"


"Tidak apa-apa, cuma lagi pengen lagi aja."


"Astaga! Baru juga selesai dua ronde lho tadi." Elif setengah melototkan matanya.


Pria itu malah terkekeh saja.


"Ayo lah, bangun, tidak enak sama Mama dan Papa kalau kita telat."


Akhirnya dengan segala bujuk rayu, Pak Suami pun bisa bersemangat untuk bangkit dari kasur setelah diberikan asupan vitamin C alias cium. Duh!


Sekitar jam tujuh malam, Ardan dan Elif tiba di rumah orang tua Ardan yang besar itu, rumah yang telah menjadi tempat berlangsungnya pernikahan manis mereka. Hanna sudah menunggu kedatangan anak dan anak mantunya, ia seperti biasa selalu berpenampilan modis meski hanya makan malam keluarga. Tapi penampilannya seperti hendak akan makan malam bersama rekan-rekan model papan atas.


"Maaf Ma kita agak lama." kata Elif sambil memeluk ibu mertuanya itu.


"Pasti suamimu kan yang malas-malasan." Cibir Hanna.


"Lho kok Mama tahu? Mama kirim mata-mata ya ke apart aku?" Gantian Ardan yang memeluk Mamanya.


"Tidak perlu pakai mata-mata segala, kau keluar dari perut Mama, jadi Mama tahu betul bagaimana kau ini."


"Hehehe, you're the best Mom. MUACH!" Ardan menghadiahi sebuah ciuman di pipi Hanna yang sontak membuat Hanna menjerit jengkel, karena itu akan merusak riasannya. Tapi Ardan tidak peduli dan terus melenggang menghampiri Papanya.


"Bagaimana, sukses?" tanya Papa begitu dua pria berbeda generasi itu berpelukan. Pertanyaan yang akan dipikirkan orang kalau Papa sedang mempertanyakan perihal bisnis, padahal bukan.


"Sukses, Pa!" Ardan mengangkat ibu jarinya.


Mereka pun tertawa.


Makan malam dimulai tak lama setelah ngobrol-ngobrol sedikit, dan saat makan malam pun, obrolan ringan mengisi meja makan, suasana begitu hangat dan nyaman. Sampai rasanya hati Elif begitu penuh dan sangat terharu. Ia menjadi bagian dari sebuah keluarga yang sangat baik dan hebat tapi tidak pernah menyombongkan diri. Ia begitu bersyukur dan bahagia atas apa yang telah ditetapkan Tuhan padanya, baik di masa lalu dan saat ini juga masa depan.


"Jadi, kapan kalian kasih Mama dan Papa cucu?" tanya Hanna.


"Ma, kenapa tiba-tiba ngomongin cucu?" tanya Ardan.


"Lho memangnya kenapa? Kan kalian sudah nikah, sudah halal kalau mau punya anak selusin juga.


"Iya, tapi kan Mama tanya dulu ke aku sama Elif, apa kita mau langsung atau tidak." kata Ardan dengan tenang.


Elif mengerutkan dahi.


Begitu pun dengan Papa Demir dan Mama Hanna


"Memangnya kalian berencana mau menunda momongan?" tanya Hanna.


"Memangnya kau mau nunda?" tanya Elif pada Ardan.


"Memangnya kau tidak mau nunda dulu?" tanya Ardan balik.


"Memangnya kenapa harus ditunda?" tanya Elif balik.


"Tunggu, tunggu! Kenapa Papa jadi bingung begini. Memang diantara kalian ada yang mau menunda momongan?" tanya Demir.


"Tidak." jawab Ardan dan Elif bersamaan, membuat semuanya malah tambah bingung.


"Jadi apa maksudnya sih Ardan!" Omel Hanna.


"Tunggu dulu, jadi kau tidak keberatan kalau langsung hamil?" tanya Ardan dengan melebarkan matanya menatap sang istri yang kebingungan dengan tingkah suaminya itu.


"Memangnya aku pernah bilang aku keberatan atau aku mau menunda kehamilan, gitu?"


"Lalu, apa yang membuatmu berpikir begitu?"


"Aku pikir... kau mungkin mau fokus menyelesaikan kuliahmu dulu." ujar Ardan seraya menggenggam tangan Elif.


"Memangnya kenapa kalau kuliah dan hamil? Kan, sudah nikah, jadi sah-sah saja kan?"


"Jadi, kau tidak keberatan kuliah dengan kondisi hamil?"


"Sama sekali tidak. Banyak pasangan suami istri yang berjuang ingin cepat mendapatkan momongan, kalau memang Tuhan memberikan kita langsung, kenapa harus jadi masalah? Harusnya sangat bersyukur. Kenapa malah jadi ditunda-tunda rejekinya?"


"Aaaaaakk I love you so so so much, sayang!" Ardan langsung memeluk istrinya, tidak risih sama sekali denhan Mama dan Papa yang menjadi penonton kebucinan dirinya. Menciumi wajah Elif sampai Elif yang menyadarkan Ardan dimana diri mereka saat ini.


"Ah Elif, ah, pantas saja anak Mama ini tergila-gila padamu."


Mereka pun saling tertawa. Mentertawai Ardan lebih tepatnya, tapi Ardan tidak peduli, dia semakin bucin dan semakin menggilai istrinya itu.


"Jadi, di mana kau akan melanjutkan study mu, Nak?" tanya Papa.


"Sepertinya di kampus yang sebelumnya aku pernah kuliah saja, Pa. Jaraknya tidak terlalu jauh, dan aku sudah terbiasa dengan peraturan disana." jawab Elif.


"Bukannya Ardan katanya sudah pilihkan kampus-kamous ternama di luar negeri, ya?" tanya Hanna.


"Iya Ma, tapi aku tidak mau ke luar negeri segala."


"Kenapa?"


"Aku kayaknya tidak bisa jauh-jauh dari anak Mama dan Papa ini." jawab Elif, membuat Ardan duduk tegak membusungkan dadanya sambil memainkan alisnya naik dan turun.


"Kau ini, membuat anak itu besar kepala saja, lihat!" Hanna menunjuk Ardan dengan garpu di tangannya.


***


Setelah makan malam selesai, lanjut dengan ngobrol-ngobrol santai antara ayah dan anak laki-lakinya di gazebo taman belakang dengan dua cangkir kopi. Lalu ibu mertua dan anak mantu perempuannya di tepi kolam renang dengan jus buah naga yang segar. Sambil menikmati malam dua kubu itu membahas dua hal yang berbeda.


"Bagaimana Papa bisa bertahan selama ini dengan Mama?" tanya Ardan. "Karena Ardan yakin begitu banyak perbedaan antara Papa dan Mama." ujar Ardan.


"Tentu saja banyak sekali perbedaan diantara kami. Banyak sekali sampai Papa bingung dimulai dari mana." kata Demir santai sambil terkekeh.


"Lalu gimana Papa bisa bertahan? Karena cinta?"


Alih-alih menjawab, Demir malah tertawa. "Kau mau tahu sebuah rahasia?"


Ardan menaikkan sebelah alis matanya. "Rahasia?"


Demir mengangguk. Ia menyeruput kopinya, lalu kembali menatap anaknya. "Saat menikah dengan Mamamu, sebenarnya Papa tidak mencintainya."


"Apa?" Ardan melotot kaget, tapi Demir malah terkekeh melihat reaksi anaknya itu.


"Kami tidak saling mencintai saat itu. Karena kau lihat bagaimana banyaknya perbedaan diantara kami."


"Lalu sekarang?"


"Sekarang? Hmmm, Papa rasa jika tidak ada Hanna, Papa tidak akan sanggup bertahan hidup, kau tahu, seperti kehilangan jiwa jika tanpa Hanna. Membayangkan Hanna pergi saja membuat Papa takut seperti orang gila."


"Wow, bagaimana bisa akhirnya Papa dan Mama menerima segala perbedaan itu?"


"Pola pikir." jawab Demir. "Kalau kau selalu melihat perbedaan dari sudut pikiran yang negatif, kau tidak akan menemukan kenyamanan apa pun. Tapi kalau kau merubahnya, kau akan tahu perbedaan adalah sesuatu yang indah. Seperti pelangi. Ia memiliki warna yang berbeda karena itu jadi indah, tapi kalau pelangi hanya memilki satu warna apakah akan indah?" Demir menggeleng. "Ia akan terlihat biasa saja dan lama kelamaan membosankan."


"Kalau pola pikirmu sudah positif, hati mu pun secara otomatis akan positif dan penuh kasih."


Ardan mengangguk mengerti.


"Jangan biarkan emosi mengotori hati dan pikiranmu. Akan ada kalanya dalam rumah tangga akan menemukan batu sandungan, tapi jangan biarkan batu itu membuat kalian jatuh begitu saja."


"Komunikasi itu sangat penting, jangan pernah malu untuk bertanya pada istrimu untuk setiap pertanyaan yang mengganggumu, jangan pernah berasumsi sendiri, karena terkadang apa yang kau lihat tidak seperti apa yang kau lihat. Seperti di meja makan tadi. Jika kau berasumsi sendiri, yang ada kau hanya menemukan kesalahpahaman."


Ardan memeluk Papanya erat, "Thanks, Pa, this conversation means a lot to me."