
Lagi-lagi tindakan dan keinginannya mengkhianati ucapannya sendiri, belum kering ia mengucapkan bahwa dirinya tidak akan terpengaruh oleh aroma manis dari Elif, tapi kakinya sudah melangkah ke pintu, membuka sedikit daun pintu itu hanya untuk menghirup manis dan segarnya aroma yang menguar dari Elif.
Teddy mengernyit melihat batang hidung mancung bosnya menyembul dari balik pintu yang terbuka sangat sedikit. Ia melihat ke meja tempat Sonya sedang menjelaskan sesuatu pada seorang gadis yang menyimak dengan sangat serius. Lalu kembali melihat pada batang hidung bosnya yang masih menyembul seperti jerawat pada wajah.
"Pak!" Suara Teddy membuat Ardan tersentak kaget dan mendorong pintu dengan sangat kencang sampai membentur hidungnya sendiri dan juga menimbulkan suara gaduh.
"Aakkh! Sialan Teddy, kau membuatku kaget." Maki Ardan, kembali membuka pintu sambil berlalu menuju meja kerjanya. Ia mengusap hidungnya yang berasa berdenyut.
"Anda tidak apa-apa, Pak?" suara Teddy masih terdengar oleh Sonya juga Elif sebelum pria itu menutup pintu.
"Itu tadi Pak Teddy, tangan kanan Pak Ardan, dia sama dinginnya dan sama menyebalkannya seperti Pak Ardan... ups!" Sonya segera menutup mulutnya, menyadari mulutnya yang terkadang demen sekali bicara terlalu banyak bicara.
Elif tersenyum mengerti. "Apakah nanti Pak Ardan akan keras padaku, Mbak?" tanya Elif, sedikit khawatir dengan pola kerja dan sikap bos dimasa yang akan datangnya itu.
"Entah lah, Pak Ardan memang menyebalkan, dingin, terlalu banyak peraturan yang dibuat sepihak olehnya, tapi dibalik semua sikapnya itu, dia orang yang sangat disiplin dan bertanggung jawab dan juga baik." jelas Sonya.
"Baiknya seperti apa, Mbak?"
"Ah susah dijelaskan, nanti juga kau tahu sendiri."
Elif manggut-manggut, tidak memaksa lebih jauh untuk Sonya menceritakan tentang Ardan, ada hal lain yang lebih penting untuk dia pelajari, yaitu pekerjaan yang nantinya akan menjadi tanggung jawabnya.
"Eh, tapi kau jangan cerita apa-apa pada siapa pun tentang aku barusan mengatakan Pak Ardan menyebalkan, ya." Pinta Sonya.
"Memang kapan Mbak Sonya bilang Pak Ardan menyebalkan?" Elif bertanya, seolah ia tidak mendengar apa pun yang diucapkan Sonya padanya.
Sementara itu di dalam ruangan CEO, Ardan memandangi batang hidungnya yang merah pada layar handphone. "Kenapa sih kau harus mengagetkanku seperti itu, Ted?! Apa kau sudah bosan hidup?!"
"Maaf Pak, saya sendiri juga kaget melihat hanya hidung Anda seperti mengintip dibalik celah pintu."
"Kau pikir hidungku punya mata!" Ardan berdecak kesal. "Memangnya kau tidak mencium aroma itu, Ted?"
Astaga, aroma itu lagi!
"Maaf Pak, aroma apa?"
"Kau ini kenapa jadi pikun begini sih? Aroma yang selalu aku cari beberapa hari belakangan ini! Aroma manis dan juga segar. Akh! Masa kau tidak menciumnya? Masa hanya aku yang mencium aroma ini?"
"Maaf Pak, sepertinya begitu." jawab Teddy.
"Jadi maksudmu, penciumanku bermasalah?"
"Bukan Pak, mungkin penciuman saya yang bermasalah. Saya akan kembali ke dokter THT untuk pemeriksaan lebih lanjut."
Biarlah, dari pada masalah aroma ini tidak ada penyelesaiannya.
"Ya sebaiknya begitu. Kau tahu, akhirnya aku menemukan sumber aroma itu!"
Puji Tuhaaan!
"Benarkah, Pak? Jadi dari mana sumber aroma itu Pak?"
"Perempuan yang sedang bersama Sonya. Namanya Elif, dia yang akan menggantikan Sonya."
"Kalau begitu, saya akan tanyakan merk minyak wangi apa yang dia pakai, agar Anda bisa mendapatkannya juga, supaya tidak perlu bersembunyi dibalik celah pintu lagi, Pak."
"Bagus! Ide brilian." Ardan menyeringai. "Lakukan sekarang!"
Teddy mengangguk.
"Ah satu lagi, katakan pada Herdi aku menerima Elif untuk bekerja, segera serahkan draf kontrak kerja untuknya kepadaku."
Teddy sangat paham, jika bosnya itu meminta sebuah draf untuk diberikan padanya, itu artinya akan ada beberapa poin yang akan diganti dan mungkin juga akan ada beberapa poin yang ditambahkan semaunya.
"Baik Pak."
"Dan satu lagi, untuk semua kegiatan hari ini, ikut sertakan Elif. Aku ingin... supaya dia mulai belajar dari sekarang apa saja yang harus dia pelajari saat melaksanakan tugas di luar kantor."
Ah, bilang saja Anda ingin terus-terusan menghirup aroma yang hanya Anda yang tahu itu.
"Baik Pak."
Teddy keluar dari ruang kerja Ardan, ia langsung mengendus-enduskan hidungnya ke segala arah sampai membuat Sonya dan Elif terheran-heran. Teddy bahkan sampai mengendus disekitar meja tempat Sonya dan Elif berada.
Eh, kenapa nih orang? Batin Sonya.
Ngapain sih? Lagi melacak bom apa gimana? Batin Elif.
Aneh, sudah sedekat ini tapi aku tidak mencium aroma itu! Batin Teddy.
Setelah cukup membuat Sonya dan Elif saling melemparkan pandangan heran, Teddy kembali menegakkan tubuhnya. Sikap dingin kembali dan sinis kembali menaunginya.
"Kau, ikut aku sekarang. Ada beberapa pertanyaan penting yang harus segera kau jawab." kata Teddy ditunjukkan pada Elif kemudian berlalu.
Sonya langsung menyuruh Elif bergegas mengikuti Teddy.
Mereka masuk ke dalam ruang kerja Teddy. Ruangan itu tidak seberapa besar dibandingkan ruangan Ardan.
"Saya akan bertanya langsung. Kau harus menjawabnya dengan sangat jujur." ucap Teddy sangat serius.
"Baik Pak." Menghadapi Teddy malah terasa lebih menakutkan dari pada wawancara dengan CEO tadi pagi. Aura dingin malah lebih terasa pada tangan kanan CEO ini dari pada CEO itu sendiri.
"Kau... pakai minyak wangi merk apa?"
HAH! Apa barusan pertanyaannya? Merk minyak wangi? Seriusan! Ini orang lagi ngelawak atau apa?
"Ma-maaf Pak, merk minyak wangi?"
"Ya! Jawab jujur!"
"Sa-saya tidak pernah pakai minyak wangi." Elif menjawabnya meskipun merasa aneh. Benar-benar aneh.
"Kalau begitu, sabun mandi apa yang kau pakai? Shampo? Body lotion? Hair tonic? Pewangi pakaian saat mencuci baju? Dan pewangi pakaian saat menyetrika? Apa kau punya merk khusus untuk semua itu?" Teddy bertanya bahkan dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
"Saya... hanya menggunakan merk-merk yang biasa saya beli di minimarket dan terkadang saya membelinya di warung kecil samping rumah. Tidak ada merk khusus, Pak. Saya tidak pernah hanya menggunakan satu merk saja, saya sering berganti-ganti merk sesuai dengan uang yang saya bawa saat belanja."
Sumpah, ini pertanyaan penting yang paling aneh seumur hidupku!
"Kau tidak sedang membohongi saya, kan?" tanya Teddy penuh selidik.
"Tidak Pak, saya jawab dengan sangat jujur."
Aneh banget ini pertanyaan, Ya Allah.
"Baiklah, kalau kau berbohong, aku akan memberikan sanksi."
Apaaaa siiih! Teriak Elif dalam hatinya.
"Kau bisa kembali ke mejamu sekarang."
Elif segera keluar dari ruangan Teddy yang bersebelahan dengan ruangan Ardan, ia langsung diberondong pertanyaan oleh Sonya dan Elif secara gamblang menjelaskan dengan suara pelan seperti suara pelan Sonya yang bertanya.
"Lah, itu doang pertanyaannya? Katanya beberapa pertanyaan penting?" Sonya terheran.
"Aku juga bingung Mbak. Pak Teddy bertanya seolah jawaban saya adalah penentu kelanjutan hidup aku. Aku juga tidak tahu dimana letak pentingnya."
Tak lama kemudian, Teddy keluar dari ruangannya, mendekati meja Sonya dengan ekspresi wajahnya yang datar.
"Apa kalian mencium sesuatu aroma yang berbau manis tapi juga segar?" tanya Teddy secara tiba-tiba.
Elif menggeleng.
"Tidak Pak. Disini hanya tercium aroma pengharum ruangan seperti biasa."
Teddy mendengus.
"Tapi Pak, Elif belum siap untuk ikut meeting. Masih banyak hal yang harus Elif pelajari."
Teddy menatap Sonya dengan tatapan tajam, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana.
"Jika ingin berpendapat, lakukan di depan Pak Ardan saja." kata Teddy kemudian berlalu.
Sonya malah menjadi panik sendiri, jika Elif gagal, maka Sonya harus menunggu lagi untuk mendapatkan penggantinya segera, sementara dia sudah tidak memiliki banyak waktu lagi. Ia hanya memiliki waktu dua bulan untuk melatih orang yang akan menggantikan posisinya.
"Tenang, Mbak, jangan panik. Katakan saja apa yang harus aku lakukan."
***
Ardan menyandarkan kepalanya, matanya terpejam. Ini adalah pemandangan pertama kalinya Teddy melihat Ardan setenang dan senyaman itu melalui kaca spion tengah. Bahkan saat dalam keadaan letih pun, Ardan selalu memaksakan diri untuk membuka dokumen pekerjaan, membalas surel, menjawab telepon dan lain sebagainya seolah waktu yang dia miliki untuk menyelesaikan pekerjaan hanya hari itu saja. Tapi kali ini, Ardan sama sekali tidak membuka handphone, apa lagi membaca dokumen pekerjaan.
Ia melirik Elif yang duduk disebelahnya, gadis itu terlihat canggung, sedikit gugup namun bisa mengendalikan dirinya untuk tetap tenang, meskipun sorot matanya tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran.
Saat meeting dimulai, Elif dengan tenang dan cekatan mengeluarkan laptop dan juga alat perekam untu mengetikkan dan juga merekam semua percakapan pada meeting. Itu yang diajarkan secara singkat dan padat oleh Sonya.
Ardan akan meminta hasil rapat padanya, karena itu, selain langsung mengetikkan hal-hal penting dalam percakapan bisnis itu, Sonya juga menyuruh Elif merekam sebagai antisipasi jika ada hal-hal yang terlewati. Ardan cukup terkesan dengan cepatnya Elif mengetik. Elif bahkan tidak terlihat gugup sama sekali, seperti sudah lama menjadi sekertaris Ardan. Gadis itu sama sekali tidak terlihat kesulitan.
Benar-benar jauh dari pemikiran Ardan yang mengira bahwa Elif akan sangat gugup, dan saking gugupnya dia tidak akan mampu mengerjakan notulen rapat dengan begitu Ardan akan mengomelinya, menekan mentalnya. Tapi jika Elif setenang itu, dan dapat mengerjakan tugasnya dengan baik di hari pertamanya yang sama sekali tidak ada pengalaman, bagaimana bisa Ardan membuat gadis itu tertekan bahkan di hari pertamanya kerja.
Baiklah, kita lihat di meeting selanjutnya. Apa kau bisa mengerjakan notulen rapat dengan bahasa Jepang. Haha!
***
Ardan benar-benar dibuat tidak percaya dengan hasil notulen rapat yang dikirimkan Elif melalui surel. Tiga meeting yang sudah terlaksana, salah satunya adalah klien Jepang yang sama sekali tidak bisa bahasa Indonesia, meeting pun berlangsung dengan bahasa yang bercampur antara bahasa Jepang dan Inggris, tapi Elif dapat menuliskan semua poin penting dengan sangat baik dan rapih.
Ia melihat Elif yang duduk bersama Teddy di meja yang sama dalam jarak yang tidak terlalu jauh dari mejanya pada sebuah restoran mewah. Pada saat jam makan siang, restoran pun cukup ramai. Bukan hanya sekedar istirahat makan siang untuk mereka bertiga, tapi Ardan juga harus memenuhi permintaan sang Mama untuk bertemu dengan seorang gadis cantik anak dari salah satu teman sosialita mamanya.
Seorang wanita cantik datang, mengenakan dress manis berwarna merah muda dengan bagian bahu yang terekspos, menampilkan tulang leher yang jenjang cantik sempurna. Saat tersenyum, sebuah lesung pipit muncul pada pipi kirinya.
"Hai, maaf membuatmu menunggu." kata wanita itu. "Aku Bella." ia mengulurkan tangannya.
Walaupun enggan, tapi demi kesopanan Ardan menyambut tangan itu untuk sebuah jabat tangan singkat. Setelah berbasa-basi yang sama sekali tidak membuat Ardan tertarik, mereka pun mulai memesan makanan. Ardan memesan steik sementara Bella memesan Salad untuk menu makan siang itu. Tak lupa dengan jus jeruk sebagai pelengkap menu saladnya.
"No sugar, ya." Pesan Bella pada si pramusaji.
Huh! Penggila diet!
Ardan melihat ke arah meja lain, Elif sedang melahap potongan besar daging ke dalam mulutnya, tepat di depan Teddy yang sibuk di depan layar laptop.
Bella kembali bercerita tentang hidupnya yang serba berkecukupan, posisinya sebagai anak bungsu yang selalu dimanja oleh orang tuanya.
Lagi-lagi Ardan melihat Elif, gadis itu sedang mengunyah penuh dalam mulutnya. Ia teringat dengan cerita latar belakang hidup yang singkat diceritakan Elif pagi tadi. Tanpa Ardan sadari, ia membandingkan Elif yang hidup sebagai pejuang dengan Bella yang selalu merengek bila menginginkan sesuatu pada orang tuanya. Ditambah lagi Ardan begitu capai melihat Bella yang sebentar-sebentar merapihkan rambut, padahal tidak ada yang salah dengan tatanan rambut rambut panjang dan lurusnya.
Ardan segera mengeluarkan handphonenya, dan menuliskan pesan singkat pada seseorang.
Dimeja lain, handphone Teddy bergetar, menunjukkan sebuah notifikasi pesan singkat yang baru saja diterimanya dari Ardan.
//Segera lepaskan aku dari wanita ini.//
//Baik Pak.//
Teddy segera merapihkan laptopnya.
"Telan makananmu. Kita pergi sekarang." ujar Teddy.
"Sekarang Pak? Tapi ini belum habis."
"Oh silahkan dihabiskan, masa kerjamu juga akan habis setelah ini." Ucap Teddy.
"Baik Pak, saya sudah selesai."
Selamat tinggal daging... hiks!
Teddy dan Elif menghampiri meja dimana Ardan sedang mendengarkan Bella bercerita tentang hidupnya yang seperti tuan putri sempurna.
"Maaf mengganggu Pak, tapi klien kita dari Rusia meminta jadwal meeting dimajukan, jadi lima belas menit lagi kita harus sudah sampai di lokasi." Kata Teddy.
Elif mencoba mengingat jadwal hari ini yang sudah diberikan Sonya sebelum meninggalkan kantor tadi. Pertemuan makan siang ini adalah jadwal terakhir siang ini. Dan seingatnya tidak ada jadwal meeting bersama klien dari Rusia. Atau Elif yang kurang teliti membaca jadwal yang diberikan Sonya?
"Ah begitu rupanya. Baiklah, kita berangkat sekarang. Maaf Bella, aku tidak bisa menemanimu. Aku permisi. Selamat siang." Ardan bangkit begitu saja dan berlalu meninggalkan meja, sama sekali tidak perduli dengan ekspresi wajah kecewa pada wanita cantik itu. Teddy segera ke kasir untuk membayar semua pesanan hari ini, bahkan untuk makanan yang belum datang ke meja Ardan dan Bella.
Di dalam mobil, Ardan segera menarik napas panjang, mencuri hirup aroma Elif yang (benar-benar) entah kenapa membuatnya sangat tenang dan nyaman bahkan dalam kondisi sekesal apa pun dirinya.
"Kita ke restoran biasa, aku lapar." kata Ardan dengan matanya yang memejam.
"Baik Pak."
Lalu kenapa tadi tidak makan dulu disana? Dan bukannya kita akan ada meeting dengan klien dari Rusia? Tunggu, biar aku cek lagi jadwal yang diberikan Mbak Sonya tadi. Nah kan benar, tidak ada jadwal meeting dengan klien dari Rusia hari ini. Jadi yang tadi itu maksudnya apa? Hiks, padahal makanan ku tadi enak sekali.
***
Menjelang sore hari, mereka sudah tiba kembali ke kantor. Sonya langsung berdiri dari tempatnya begitu melihat Ardan datang. Pria itu masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh Teddy. Sementara Elif duduk di sebelah Sonya.
"Bagaimana tadi meetingnya? Apa kau kesulitan? Pasti Pak Ardan membuatmu sulit kan? Tapi kau tidak apa-apa kan? Apa dia mengomelimu?" Sonya panik juga penasaran.
"Tenang Mbak." Elif terkekeh. "Ternyata tidak sesulit itu kok. Aku bisa menghandlenya. Paka Ardan juga tidak komplain sama sekali dengan notulen yang aku buat. Tapi juga tidak memuji, dia hanya diam saja membacanya."
"Benarkah? Oh Syukurlah." Sonye mengusap dadanya, seolah beban berat menguap dan menghilang dari hidupnya. "Lalu saat meeting dengan klien yang dari Jepang, apa kau bisa mengikutinya?"
Elif mengangguk dengan senyuman. "Intinya meeting hari ini berjalan dengan baik."
"Wah, kau memang hebat! Tidak salah Pak Herdi dan Pak Gavin merekomendasikan mu. Pak Ardan pasti sekarang sedang tertohok dengan peraturannya sendiri. Selama ini dia menganggap pekerja yang bukan lulusan universitas tidak mungkin memiliki kemampuan bekerja yang baik. Tapi kau datang mematahkan segala teorinya."
"Terima kasih Mbak, mudah-mudahan aku bisa belajar lebih baik lagi."
"Pasti bisa."
Pintu ruangan Ardan terbuka, Teddy keluar dari sana dan meminta Elif untuk masuk ke dalam.
Ardan sudah menunggunya dengan duduk pada sofa, bukan pada kursi kerjanya yang besar. Sebuah dokumen terbuka di atas meja.
"Duduk dan baca dengan baik kontrak kerjamu itu." Perintah Ardan pada Elif.
Tanpa berkata, Elif menurut dan melakukan apa yang diperintahkan Ardan.
Tak lama kemudian terjadi perubahan ekspresi pada Elif, ia mengulang kembali baca salah satu poin yang membuatnya tidak mengerti.
"Maaf Pak, apa maksud poin 3? Saya akan bekerja 24 setiap harinya selama 7 hari?"
"Ya. Betul sekali."
"Lalu bagaimana dengan hari libur?"
Ardan menyeringai. Menatap Elif dengan sinis. "Kau dengar itu Ted? Belum apa-apa sudah menanyakan soal libur. Bagaimana menurutmu, Ted, apa bisa orang seperti ini mengemban tugas sebagai sekertarisku?"
"Saya rasa masih banyak orang yang lebih membutuhkan pekerjaan dengan serius."
"Maaf Pak, bukannya saya tidak membutuhkan pekerjaan, bukannya saya tidak serius. Tapi saya hanya bertanya, bukan kah setiap pegawai berhak untuk memiliki hari libur?" ucap Elif.
"Kau dengar itu Ted, baru juga ikut meeting satu hari, tapi sudah membicarakan hak."
"Maaf, Pak, saya hanya bertanya." jawab Elif.
Entah berani, entah bodoh, bisa-bisanya dia protes dengan peraturan yang dibuat Pak Ardan.
"Baiklah, akan aku jawab. Kau tetap akan memiliki hari libur, jika aku menyuruhmu untuk libur. Jika kau ingin memiliki hari libur yang sempurna, silahkan tinggalkan gedung ini sekarang. Tapi jika kau masih mau melanjutkan bekerja disini, tidak perlu banyak protes apa lagi mempertanyakan peraturan yang kubuat."
Benar Mbak Sonya, orang ini sangat menyebalkan. Kalau begini, dimana sisi baiknya? Tapi gaji yang ditawarkan sangat besar, aku tidak akan menunggu waktu lama untuk bisa mengumpulkan biaya untuk operasi Ayah dengan gaji sebesar ini. Baiklah, kau pasti bisa Elif. 24/7 tidak akan membunuhmu.
Elif mengambil pena yang terletak di samping surat kontraknya, kemudian menandatangani surat kontrak tersebut sebagai bukti tertulis ia menyetujui semua peraturan beserta hak dan kewajibannya yang tertera pada setiap lembar di dalam surat kontrak kerja tersebut.