HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Langkah Awal.



Dua hari berlalu sejak Mona menghajar Dimas dan Elif berhenti kuliah. Elif tidak marah pada Mona, ia hanya khawatir Mona akan mendapat masalah, tapi setelah Mona membuka semua kebusukan Dimas, Elif merasa begitu bersyukur karena Mona sudah menepati janjinya untuk menghajar Dimas dan memberinya pelajaran.


Kini, Elif sedang berusaha mencari pekerjaan dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Yura dan Mona sebenarnya menawarkan untuk Elif bekerja di perusahaan orang tua mereka, tapi Elif menolak. Sudah terlalu banyak kebaikan yang Elif terima sebagai sahabat Yura dan Mona, ia merasa akan menjadi beban jika harus menerima tawaran Yura dan Mona. Apalagi sebenarnya memang tidak ada lowongan pekerjaan disana, hanya saja jika Elif mau menerima tawaran Mona atau Yura, mereka akan meminta orang tua mereka untuk memberikan pekerjaan untuk Elif.


Yura dan Mona menghormati keputusan Elif dan tetap mendukung juga memberikan semangat atas apa pun yang menjadi pilihannya. Elif tidak pernah mengeluh dengan sulitnya mendapatkan pekerjaan, apalagi ia hanya lulusan SMA dan berhenti kuliah.


Siang itu, ia duduk di atas sebuah kursi plastik milik sebuah warung kecil di depan sebuah gedung tinggi, gedung salah satu milik sebuah stasiun televisi. Sambil menyeruput es teh yang ia pesan dari pemilik warung, ia meluruskan kakinya dan menatap nanar pada karyawan-karyawan bersetelan seragam televisi yang keluar gedung untuk beristirahat makan siang. Ada juga beberapa yang tetap pergi bertugas untuk meliput berita.


Jika saja ia masih meneruskan kuliahnya, mungkin beberapa tahun lagi Elif juga akan seperti mereka, memakai seragam yang akan sangat ia banggakan, pergi bergegas meliput berita dengan segala suka citanya. Sekarang semua impian itu akan selalu menjadi mimpi indahnya yang akan ia simpan. Mungkin cita-citanya bukanlah yang terbaik untuknya. Belum rejekinya.


Elif harus segera bangkit, ia tidak bisa terlalu lama berdiam diri, mengasihani nasibnya sendiri. Jika memang bukan disini jalannya, masih banyak jalan lain untuk bisa menjadi seseorang yang nantinya akan membanggakan kedua orang tuanya.


Tiba-tiba ponselnya berdering, nama Yura tertera pada layar sentuh benda pipih itu.


"Ya, Ra?"


"Tetanggaku baru saja mengirimkan pesan kalau sekarang di tempatnya bekerja baru saja membuka lowongan kerja!"


***


Setelah kemarin Yura memberikan kabar tentang informasi lowongan pekerjaan, Elif menjadi begitu bersemangat memulai hari ini. Ia dengan senyum merekah berusaha mengepang rambut megarnya agar terikat rapih. Setelah itu ia memandang pantulan dirinya yang sudah siap untuk melaksanakan wawancara kerja setelah lolos tahap seleksi online dengan mengisi formulir, beberapa dokumen pendukung dan tes online.


"Pagi sayang." ujar Zehra begitu melihat Elif keluar dari kamar.


Yanuar ada disana, menonton berita pagi di televisi sambil menikmati secangkir teh hangat dan beberapa potong biskuit. Ayah tidak menyapa atau menegur atau sekedar basa basi bertanya dimana Elif akan wawancara kerja. Semenjak pulang dari rumah sakit kemarin, Yanuar lebih banyak diam pada Elif. Tidak ada perkataan-perkataan yang memojokan atau apa pun.


Elif tidak ambil hati sikap ayahnya itu. Tujuannya sekarang adalah mendapatkan pekerjaan, menabung dan segera melakukan operasi untuk ayahnya. Ia hanya ingin ayahnya sehat kembali.


"Mau sarapan dulu?" tanya Zehra.


"Minum teh manis hangat saja, Bu. Biasalah kalau sarapan pasti nanti aku sakit perut." jawab Elif sambil nyengir.


"Berangkat naik apa nanti? Bus atau ojek online?" tanya Ibu.


"Naik ojek online saja Bu, biar cepat."


"Sepedamu benar-benar hilang ya?" tanya Ibu lagi.


"Iya Bu, terakhir aku ingat saat aku tertabrak waktu itu, setelah itu aku tidak tahu lagi dimana sepedaku."


"Orang yang menabrakmu harusnya bertanggung jawab."


Elif ingat waktu itu ia berada di dalam sebuah mobil dengan seorang pria yang dia pikir adalah penculik. Elif ingat ia berteriak minta tolong sampai membuat keamanan datang membantu. Yang membuatnya aneh sampai sekarang adalah, untuk apa penculik itu membawanya ke rumah sakit?


Setelah selesai dengan secangkir teh manis hangatnya, Elif berpamitan pada Zehra dan Yanuar, ia segera memesan ojek online untuk mengantarnya ke lokasi perusahaan.


Sebenarnya nama perusahaan ini seperti tidak asing di mata Elif, ia seperti pernah membacanya belum lama ini. Tapi entah dimana. Tak lama kemudian ojek online pun datang, setelah Elif nyaman dengan posisi duduknya pada jok belakang si supir, motor pun melaju.


***


Ardan lagi-lagi mencium aroma manis itu, ia mengangkat kepalanya dari dokumen yang sedang dibacanya di mobil. Ia mengendus-enduskan penciumannya sampai membuat Teddy bingung.


"Maaf Pak, ada yang bau?" tanya Teddy.


"Bukan bau, tapi aroma ini, aroma manis yang pernah kucium waktu itu."


"Aroma manis?"


"Ya, apa mungkin dari luar?"


"Tapi kita sekarang sedang berhenti di lampu merah, Pak. Di luar hanya ada kumpulan asap kendaraan berpolusi." jawab Teddy.


"Lalu aroma manis ini dari mana? Apa kau memakai parfum baru? Tidak kan?" Ardan membuka jendelanya, dan benar saja aroma manis yang segar itu langsung tercium kuat, padahal ia hanya membuka sedikit kaca jendelanya.


Disamping kanan kiri mobilnya hanya bus, mobil angkutan umum, beberapa mobil pribadi dan pengendara-pengendara sepeda motor. Dari yang pribadi sampai ojek-ojek online berjajar mengular disisi-sisi mobilnya.


Meski asap kendaraan tetap tercium, namun aroma itu lebih kuat. Entah bagaimana bisa aroma yang tidak tahu dari mana asalnya itu bisa membuat Ardan begitu nyaman dan tenang walau pun hanya sebentar saja sampai lampu lalu lintas bergerak ke lampu hijau, dan setiap kendaraan bergerak maju kembali, aroma itu pun menghilang.


"Sepertinya aku punya tugas baru untukmu, Ted."


Oh tidak! Jangan bilang dia mau menyuruhku mencari aroma yang hanya dia dan mungkin Tuhan yang tahu.


"Iya Pak."


"Cari dari mana asal aroma itu."


Lalu aku harus bagaimana mencarinya? Mengendus setiap minyak wangi yang dijual di toko? Atau mengendus setiap orang yang lewat? Aku saja tidak tahu seperti apa aromanya!


"Baik Pak." Teddy menyanggupi walaupun dalam hati ia sama sekali tidak menemukan ide bagaimana caranya.


***


Elif menatap takjub bangunan gedung yang menjulang tinggi di hadapannya, bentuknya pun sangat mengagumkan. Siapa pun arsiteknya pasti sangat hebat. Dengan semangat juga gugup detak jantungnya berlomba-lomba, ia melangkah masuk. Dekorasi gedung itu pun sangatlah mewah, Elif tidak seperti memasuki gedung perkantoran, lebih ke sebuah hotel bintang lima yang megah.


Bersama dengan calon pekerja lainnya, Elif mengikuti seseorang yang mengarahkan mereka untuk masuk ke dalam sebuah ruangan, dimana sudah banyak meja yang tertata dengan kertas dan juga alat tulis di atasnya. Seorang yang memandu mereka menjelaskan berbagai peraturan untuk semua calon pekerja. Mereka akan mengerjakan beberapa tes dan setelah itu mereka akan melakukan wawancara dengan pihak HRD, hasil dari tes dan wawancara mungkin hanya akan ada beberapa orang saja yang lolos. Dan tahap terakhir adalah wawancara kerja dengan pihak yang akan menjadi atasannya dari masing-masing divisi.


Elif sudah sangat siap! Waktu 30 menit untuk menyelesaikan tes yang sudah disediakan pihak perusahaan. Senyumnya selalu mengembang selama mengerjakan tes, ia selalu yakin pikiran positif dan hati yang tenang selalu membantunya dalam menyelesaikan setiap tes atau pun ujian tertulis apa pun. Dalam 20 menit, Elif dan dua orang lainnya dari 15 orang yang mengikuti tes, sudah selesai dan keluar dari ruangan tersebut untuk menunggu kembali.


***


Ardan baru saja selesai dari meeting yang panjang. Membahas proyek baru dan segala macam hal pendukungnya membuat kepalanya pusing hingga mau pecah jika persentasi dilakukan dengan sangat jelek dan kurang informasi. Seperti seorang amatir yang sangat tidak profesional.


"Siapa yang melakukan persentasi tadi, Ted?" tanya Ardan sambil berjalan.


"Itu Arya Pak, karyawan baru. Sepertinya baru dua minggu Pak."


"Panggil atasannya ke ruangan ku karena sudah bodoh membiarkan karyawan baru yang belum belajar banyak untuk melakukan persentasi besar, membuat kepalaku sakit!"


"Baik Pak."


"Itu disana, kenapa banyak orang berpakaian putih hitam begitu?" Ardan menganggukkan kepala ke arah orang-orang yang berkumpul di depan ruang HRD.


"Oh, mereka calon pekerja yang akan menggantikan posisi Sonya, Pak. Hari ini adalah jadwal tes dan wawancara dengan HRD."


"Lalu kapan wawancara langsung denganku?"


"Kemungkinan besok pagi, Pak."


Ardan hanya mengangguk. Ia dan Teddy berjalan melewati para calon pekerja itu karena memang lift berada di ujung dan melewati ruang HRD. Tiba-tiba langkah Ardan berhenti, membuat Teddy hampir saja menubruknya, Ardan kembali mundur, hidungnya mengendus.


"Maaf Pak? Ada apa?" Tanya Teddy prilaku bosnya yang tiba-tiba aneh, ditambah para calon pekerja yang jadi memperhatikannya dengan tatapan kagum juga lucu. Tapi sepertinya Ardan tidak perduli.


"Aroma ini, Ted! Aroma ini ada disini! Kau menciumnya bukan?"


"Maaf Pak, tapi saya..."


"Apa kau masih belum periksa ke THT?" sengit Ardan.


"Sudah, Pak, tapi tidak ada yang salah dengan penciuman saya." jawab Teddy.


"Lalu kenapa cuma aku yang..."


"Ar!" seseorang memanggilnya, memotong kalimat Ardan. "Apa yang sedang kau lakukan?" Gavin mendekat. Menatap Ardan dengan aneh dan penuh pertanyaan pada Teddy.


Oh jangan tanya bagaimana tatapan terkesima dan mupeng para calon pekerja yang sebagian besar perempuan itu melihat Ardan, Gavin bahkan Teddy di hadapan mereka. Tiga pria tampan dengan pesonanya masing-masing.


Gavin segera membawa Ardan menjauh dari ruang HRD sebelum Ardan menyadari tatapan-tatapan terpesona para wanita disana, bisa-bisa mereka semua dipecat bahkan sebelum memulai.


"Ted!"


"Ya Pak."


"Cepat cari tahu dari mana aroma itu berasal!"