HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Memori yang hilang.



"KAU APA?!"


Tidak ada yang bisa menjawab langsung pertanyaan Gavin. Baik Ardan maupun Teddy sama-sama terjebak.


"Gav, kau dengar-"


"Tentu saja, berengs*k!" Gavin menghampiri Ardan dan langsung menarik kerah kemeja Ardan dengan sangat kasar. Itu mungkin adalah kali pertamanya Ardan melihat Gavin semarah itu. "Aku percayakan Elif padamu, aku yakin kau dapat menjaganya, aku yakin aku tulus mencintainya, ternyata kau malah memanfaatkannya?! Keterlaluan!"


BUG! Gavin langsung menghajar wajah Ardan dengan bogemnya. Cukup keras sepertinya karena Ardan sampai agak terhuyung kebelakang. Ardan mengangkat tangannya pada Teddy saat asistennya itu hendak menolong Ardan, untuk tetap diam saja.


"Pukul aku lagi, Gav, sampai kau puas. Karena aku pantas mendapatkannya. Tapi setelah itu kau harus mendengarkan aku."


"Cih! Laki-laki macam apa kau ini, Ar!" Gavin menatap kecewa pada sahabatnya. "Kau memiliki segalanya, kenapa kau tega memanfaatkan gadis seperti Elif? Kenapa?!" teriak Gavin.


"Bagaimana aku bisa menjawab dan menjelaskan semuanya padamu kalau kepalamu masih sepanas itu?"


"Memang apa yang mau kau jelaskan? Kalau kau tidak bersalah? Cih!"


"Tidak! Aku memang salah dan aku pantas mendapatkan pukulan ini." Ardan mendesah pasrah. "Aku paham kau marah atas apa yang telah kau dengar, tapi kau belum mendengar semuanya."


"Aku tidak lagi mengenalmu, Ar! Ardan yang aku kenal selama ini tidak pernah memanfaatkan orang lain, tidak pernah memainkan hidup orang lain, walaupun kau terlihat dingin, tapi kau selalu punya hati."


"Gav-"


"Aku tidak mau dengar penjelasanmu, Ar. Karena apa pun alasanmu, kau telah menyakiti hati orang lain." Gavin berbalik badan, hendak meninggalkan ruangan Ardan dengan amarah yang dibawanya juga.


"Aku jatuh cinta pada Elif!" ucap Ardan dengan sangat lantang sampai membuat Gavin menghentikan langkahnya. "Aku mencintainya sampai rasanya aku ingin mati saat berpisah dengannya."


Gavin berbalik badan, melihat Ardan dengan tatapan skeptis. "Berikan aku satu alasan untuk membuatku bisa mendengarkan penjelasanmu."


"Kalau kau memberikanku pilihan antara perusahaan ini atau Elif, aku akan memilih Elif." jawab Adan mantap dan yakin dengan jawabannya.


Gavin tahu bagaimana Ardan sangat mencintai pekerjaannya, ia menghabiskan masa muda sejak remaja untuk bisa meneruskan perusahaan ini dan mengembangkannya menjadi lebih besar seperti sekarang. Akhirnya Gavin menyerah, ia mengalah dan memilih untuk merapatkan pintu ruang kerja Ardan lalu duduk pada salah satu sofa yang ada disana.


"Ceritakan padaku apa yang terjadi sebenarnya."


Ardan mengangguk mengerti, ia kemudian juga memilih duduk pada sofa.


"Ted, cancel jadwal meeting hari ini. Banyak yang harus aku jelaskan dan ceritakan pada sahabatku ini." kata Ardan.


***


Elif memilih untuk bercocok tanam pada pot-pot kecil di halaman kecil teras rumahnya untuk menenangkan sedikit pikirannya.


Lalu Zehra datang, ia memastikan surat gugatan cerai yang sebelumnya ia berikan pada Yanuar tapi ditolak oleh pria itu dengan berbagai macam alasan, dipastikan Zehra aman di dalam tasnya. Ia sengaja pergi ke swalayan lebih dulu sebelum pulang ke rumah dan membeli beberapa bahan makanan yang ia bawa di dalam tas jinjingnya sebagai kamuflase kepergiannya.


"Ibu habis dari mana?" tanya Elif begitu melihat Zehra.


"Habis dari swalayan. Ini belanja beberapa."


"Kenapa lama sekali?"


"Oh, tadi Ibu bertemu teman Ibu, sudah lama sekali tidak pernah bertemu." jawab Zehra mengarang bebas.


"Oh begitu. Apa Ayah tidak pulang, Bu? Aku telepon ke rumah makan pun tidak ada Ayah disana. Apa ibu tahu Ayah kemana? Apa Ibu dan Ayah sedang bertengkar?" tanya Elif sambil meletakkan salah satu pot yang telah selesai ia tanami dengan tanaman hias.


"Elif kenapa kau begitu mengkhawatirkannya?"


"Pertanyaan Ibu kenapa aneh sekali? Tentu saja aku mengkhawatirkan Ayah. Memangnya Ibu tidak? Kenapa Ibu sejak semalam aneh sekali, apa yang telah terjadi sebenarnya?"


Zehra memejamkan matanya sejenak, menarik napas kemudian menghelanya kasar. "Baiklah, Ibu aja ceritakan semuanya padamu di dalam."


Lima belas menit kemudian, Zehra dan Elif sudah berada di dalam, duduk di meja makan dengan dua cangkir teh melati hangat yang baru saja diseduh Zehra. Meski kedua wanita itu terlihat tenang, namun jantung mereka sama-sama berdegup tak karuan, hati mereka sama-sama merasakan kecemasan.


"Ibu, aku sudah merasa cemas sejak semalam karena perkataan Ibu, katakan padaku kalau semalam Ibu mengatakan itu hanya karena Ibu sedang merasa kesal saja." kata Elif akhirnya membuka percakapan mereka. Elif sedikit mencondongkan tubuhnya untuk meraih kedua tangan ibunya. "Katakan kalau Ayah adalah Ayahku."


Hening sejenak. Keheningan yang membuat frustasi.


"Maafkan Ibu, Elif... tapi apa yang Ibu katakan itu adalah kebenarannya."


"Tapi Ibu, itu tidak mungkin... Ibu..."


"Ayah kandungmu tidak mau bertanggung jawab atas dirimu, ia memilih untuk menyuruh ibu menggugurkanmu dan dia pergi tanpa kabar sama sekali sampai sekarang."


"Tapi-"


Dengan sesal, Elif mengangguk, meski berat, namun Ibu benar, ia harus mendengarkan semuanya lebih dulu jika inginkan kebenaran yang ada.


"Kau masih sangat bayi saat keluarga Ibu mempunyai hutang besar pada keluarga Yanuar, kami tidak bisa membayarnya, jadi sebagai gantinya mereka menjodohkan Ibu pada Yanuar yang ternyata disetujui oleh orang tua Yanuar, tapi tidak dengan Yanuar dan saudara-saudaranya. Karena Yanuar sudah mempunyai kekasih dan terpaksa mengakhiri hubungan mereka." Zehra berhenti sebentar untuk menyesap teh melatinya dengan gugup, aroma teh melati itu cukup menenangkannya, kemudian ia melanjutkan.


"Yanuar tidak pernah menganggap Ibu apa lagi dirimu, baginya kau dan Ibu adalah beban baginya. Ia tidak pernah peduli meski kau sakit dan harus opname sekalipun, ia tidak peduli. Sampai ia memberikan ibu perjanjian, jika Ibu bisa memberikannya anak laki-laki, maka kau bisa mendapatkan pengakuan darinya, tapi hanya sebatas dokumen-dokumen saja, seperti akta lahir, kartu keluarga. Selebihnya, kau tahu sendiri bagaimana sikapnya padamu selama ini." Air mata sudah menetes membasahi wajah Zehra, ia menyomot tisu dari atas meja dan mengusap wajah serta hidungnya.


"Itu... itu sebabnya ayah sangat membenciku? Karena aku... karena aku bukan anaknya?"


Zehra mengangguk.


Elif tidak tahu harus bersikap bagaimana dengan kenyataan yang keluar dari mulut Ibunya langsung. Hatinya sakit, meskipun begitu Elif masih ingin mendengar langsung dari Yanuar, apakah selama ini pria itu benar-benar tidak ada perasaan sayang padanya sebagai anak? Seburuk itukah dirinya di mata Yanuar?


"Kenapa Ibu baru menjelaskan padaku sekarang? Kenapa tidak sejak dulu? Apakah Ibu tahu sakit dan sedihnya aku atas semua sikap ayah padaku? Apakah Ibu tidak merasakan bagaimana aku sangat mengharapkan kasih sayangnya? Kenapa Ibu diam saja dan menyaksikan semuanya!"


"Ibu pikir seiring berjalannya waktu ia akan berubah, ia akan bisa menyayangimu, ternyata Ibu salah. Dan Ibu semakin salah karena membiarkanmu percaya bahwa ia adalah ayahmu. Maafkan Ibu, Elif..."


"Dimana... dimana ay... ayah sekarang, Bu?" Sulit bagi Elif untuk tidak memanggil Yanuar sebagai ayah meski ia tahu kini Yanuar bukanlah ayahnya. "Aku yakin Ibu tidak akan berbohong, karena itu, aku hanya ingin mendengarnya juga dari ayah."


"Dia ada di penjara sekarang."


"Penjara?" Elif mengerutkan kening. "Kenapa? Apa yang terjadi?"


"Sebenarnya ada satu hal yang kau lupa, Elif."


"Aku lupa?"


"Apa kau ingat kenapa kau bisa dirawat di rumah sakit?"


"Karena kaki aku kena pecahan beling, bukan?"


Zehra menggeleng lemah.


Melihat bagaimana Zehra menggeleng lemah membuat Elif merasa cemas dan takut. Ia benar-benar tidak ingat apa pun kejadian sebelum ia masuk rumah sakit dan bagaimana ia bisa dirawat juga. Ia takut kenyataan yang akan diberitahukan Ibunya akan membuka kebenaran baru yang tidak Elif ketahui.


"Apakah... apakah itu yang menyebabkan ayah dipenjara?"


Zehra kembali mengangguk.


"Apa yang terjadi sebenarnya, Bu?"


"Ibu... Ibu takut menjelaskannya, Ibu takut kau akan semakin terluka karenanya." Suara Zehra begitu bergetar.


"Ibu aku mohon katakan yang sesungguhnya, jangan ada lagi yang ditutupi. Lagi pula, aku sudah terluka jauh sebelum hari ini, bukan? Jadi aku rasa... aku bisa menerimanya." jawab Elif meski terdengar ragu pada pernyataannya sendiri karena jantungnya bergedup cepat.


"Baiklah... jadi pagi itu Ibu pergi menemui Ardan karena Ibu dan Adit mendengar Yanuar akan menjodohkanmu dengan temannya, jadi Ibu berniat ingin meminta tolong pada Ardan untuk membawamu pergi jauh dari Yanuar. Tapi ternyata kepergian Ibu pagi itu malah menjadi sebuah bencana, Yanuar justru... justru..." Suara Zehra tercekat, ia tidak sanggup mengatakannya. Namun Elif justru meraih tangan Zehra, menggenggamnya, berusaha menguatkan Ibunya untuk mengatakan apa yang terjadi.


"Ia justru mencoba untuk memperkosamu..."


"Ap-apa?!" Elif bagaikan tersambar petir.


"Bukan hanya itu, ia juga ternyata berencana akan menjualmu bukan menjodohkanmu."


Bagaikan tersambar petir dua kali. Elif bangkit dengan sangat gusar, ia melangkah mundur, menggelengkan kepala mencoba untuk tidak mempercayai perkataan Zehra. Namun yang ia lihat pada wanita paruh baya itu adalah kejujuran yang tragis.


"Bohong... itu tidak mungkin... Ibu..." kata Elif lemah. "Dia telah menjadi ayahku selama ini walaupun ia sangat membenciku, ia tidak mungkin! Tidak mungkin!" Teriak Elif.


"Elif, sayang, maafkan Ibu... ini semua salah Ibu, salah Ibu..."


"Iya benar! Ini semua salah Ibu!" Elif berteriak lagi, air mata telah membanjiri wajahnya. "Kenapa Ibu? Kenapa selalu aku yang disakiti? Apa salahku? Kenapa Ayah... tidak... dia bahkan bukan ayahku.. dia... apakah dia telah mem... memperkosaku? Tubuhku?" Suara Elif benar-benar gemetar.


"Tidak sayang, tidak... ia tidak berhasil menyentuhmu, kau mampu melindungi dirimu dengan memukul kepalanya dengan vas bunga." Zehra menjelaskan.


"Vas bunga..." Tiba-tiba sebuah memori terlintas, gambaran jelas saat Elif keluar dari kamar dengan sangat ketakutan, ia menyambar vas bunga lalu melemparkanya tepat di kepala Yanuar. Pria itu terhuyung, kepalanya seketika mengeluarkan darah, ia mencoba kembali menyerang Elif, tapi Elif berhasil keluar dari rumah, ia merasakan kakinya menginjak pecahan vas bunga tapi tidak mengurangi kecepatannya. Ia ingat bagaimana Yanuar beteriak nyalang, mengancam setiap orang yang ada di depan rumah untuk tidak menolongnya.


Elif membekap mulutnya sendiri, ia terus melangkah mundur sampai punggungnya menyentuh dinding, tubuhnya merosot, matanya yang basah menatap kosong, namun potongan memori yang hilang terus bermunculan.


"Kau sempat menghubungi Ardan saat kejadian itu, Ardan merekam semua perkataan Yanuar dan saat itu juga, Ardan, Gavin dan Ibu langsung menuju pulang. Tapi saat kami sampai, kau sudah tidak ada di rumah. Kami tidak.tahu dimana kau, Nak, tapi kemudian Nak.Ardan menemukanmu sudah ada di apartemennya, bersembunyi di dapurnya dengan memegang pisau."


"Pisau..." Lagi, sebuah memori mengingatkannya sebuah kejadian yang ia lupakan, ia melukai tangan Ardan dengan pisau itu, ia ingat bagaimana darah segar merembes pada lengan kemeja pria itu, ia ingat bagaimana wajah Ardan menahan sakitnya. "Ardan..."


Kemudian Elif bangkit berdiri, dengan sedikit terhuyung ia mencoba menyeimbangkan tubuhnya untuk berdiri.