HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Pengintai.



Elif terlelap di sofa begitu Ardan selesai membersihkan diri dan berganti pakaian kerjanya dengan kaos polos putih dan celana panjang olahraga. Masih ada sisa air mata pada sudut mata perempuan itu, jelas sekali Elif kembali menangis sebelum akhirnya jatuh terlelap. Ardan duduk di samping sofa, menyingkirkan rambut-rambut yang menutupi wajah perempuannya. Ia tertidur terlihat sangat damai seolah tidak terjadi apa pun, tidak akan ada yang menyangka bahwa putri tidur itu telah mengalami kejadian yang mengguncang hidupnya.


Ardan menghubungi Yura untuk memintanya memberitahukan Zehra bahwa Elif ada di sana, khawatir Zehra akan cemas menunggu Elif pulang.


"Apa yang terjadi, Kak?" tanya Yura kemudian setelah setuju untuk mengatakan pada Zehra bahwa Elif ada di rumahnya.


"Elif sudah ingat semuanya." jawab Ardan.


"Ya Tuhan, Elifku... kasihannya dia, Kak. Aku dan Mona tahu betul bagaimana ia selama ini berjuang membuktikan diri untuk ayahnya meski dia tahu ayahnya tidak pernah menyanyanginya, tapi Elif selalu menyayangi Pak Yanuar sepenuh hati, tidak pernah mengeluh sedikit pun. Ah... Elif."


"Ya, aku tahu. Hatiku pun juga sakit mengetahui kenyataan ini."


"Tentu saja."


"Baiklah Yura, terima kasih bantuanmu, aku akan hubungi kau lagi jika Elif akan kembali pulang ke rumahnya."


"Baik, Kak."


Sambungan telepon pun terputus.


Ardan perlahan dan hati-hati mengangkat tubuh Eif dan membawanya ke dalam kamar, ia membaringkan Elif di atas kasurnya, menyelimutinya kemudian mengecup kening Elif dengan sangat sayang.


"Aku akan lakukan untuk menghapus semua kesedihanmu, Elif. Aku mencintaimu."


***


Elif merasakan sesuatu memberati pinggangnya, ia membuka mata dan menyadari dirinya berada di dalam kamar Ardan. Ia melihat sebuah tangan melingkar pada pinggangnya, ia melihat keberadaan handphonenya di atas meja kecil di samping tempat tidur, tangannya terulur untuk meraihnya dan melihat tidak ada panggilan telepon sama sekali, dan waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ia kembali meletakkan handphonenya dan pelan-pelan berniat untuk beranjak dari kasur, namun tangan yang melingkari pinggangnya itu menahannya dan membuat Elif tidak bisa pergi kemana-mana.


"Ardan, aku... aku pikir kau... tidur." kata Elif berbalik badan dan kaget saat wajahnya ternyata jadi begitu dekat dengan wajah Ardan.


"Halo sleeping beauty." ucap Ardan dengan suara sedikit parau. "Tadinya aku tidak berniat untuk tidur, tapi aroma manismu seperti aroma terapi yang menenangkan dan akhirnya aku malah tertidur."


Elif tersenyum gugup.


"S-sepertinya aku harus pulang, aku pikir s-sepertinya Ibu marah padaku, Ibu sama sekali tidak menghubungiku."


"Kenapa Ibu Zehra harus marah? Aku yakin Ibu Zehra adalah orang pertama yang sangat mengerti dengan kesedihanmu."


"Ya, tapi... tapi tadi aku pergi dari rumah begitu saja, biasanya Ibu pasti akan mencariku, khawatir padaku, tapi ini..."


"Ssshh," Ardan menyentuhkan jari telunjuknya pada bibir Elif saat mendengar perempuan itu cemas. "Jangan khawatir. Aku sudah meminta Yura untuk mengatakan pada Ibu Zehra kalau kau di rumahnya. Itu sebabnya Ibu Zehra tidak menghubungiimu, mungkin untuk memberikanmu waktu menenangkan diri di rumah sahabatmu."


"Apakah... apakah Yura dan Mona tahu tentang ayah... maksudku... hmmm, ya Tuhan, aku bahkan tidak tahu bagaimana aku harus menyebutnya sekarang."


"Kau bisa menyebutnya dengan, 'dia yang namanya tidak boleh disebut'." Ardan memberikan saran, tentu saja disertai dengan cengiran lebar.


"Bagaimana jika aku menyebutnya dengan, 'Dementor'?"


"Itu malah lebih cocok!"


Kemudian dua orang itu malah tertawa.


"Jadi Yura dan Mona tahu?"


"Ya, tapi jangan salahkan mereka, mereka pun baru tahu di hari kau pulang dari rumah sakit. Mereka juga sangat terpukul dan bersedih. Benar-benar sahabat sejati."


"Ya, aku beruntung memiliki sahabat seperti Yura dan Mona. Lalu Adit? Apa dia tahu juga?"


Ardan menggangguk.


"Ya Tuhan..." Elif terdengar cemas. "Lalu bagaimana... bagaimana Adit..."


"Jangan khawatir, Adit ternyata lebih dewasa dari pada kelihatannya. Kau tidak akan percaya dengan apa yang dikatakannya pada Yanuar setelah tahu kenyataannya. Benar-benar bocah yang sangat bijak."


"Benarkah?"


"Hmm," Ardan kembali memejamkan matanya, menenggelamkan wajahnya pada rambut Elif. Lengannya semakin erat melingkari pinggang kurus Elif.


"Ardan..."


"Diamlah sebentar, aku ingin seperti ini sebentar lagi. Aku benar-benar merindukanmu."


"Tapi ini sudah malam..."


"Aku tahu, aku akan mengantarmu pulang nanti, jangan khawatir."


"Tentu saja, tapi bukan itu, aku... aku lapar."


***


Setelah usai makan malam, Ardan pun langsung mengantar Elif pulang ke rumahnya, selama perjalanan, Ardan tak lepasnya menggenggam tangan Elif, sesekali mengecupnya memberikan sensasi aneh bergelenyar pada perut Elif.


"Ardan..."


"Efendim aşkım?" (Ya cintaku?)


"Maaf untuk kejadian tadi siang tentang rencanamu untukku... untuk melanjutkan sekolahku... aku tidak bermaksud..."


"Elif... aku mengerti." Ardan menyunggingkan senyuman. "Jika aku berada di posisimu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama."


"Bolehkah aku memikirkannya lebih dulu?"


"Tentu saja." kata Ardan, lagi ia mengecup punggung tangan Elif. "Kapan pun kau siap, aku akan mengurus semuanya."


Beberapa menit kemudian, mobil Ardan berhenti di depan rumah Elif.


"Apa kau akan kembali ke apartemen?"


"Apa kau sudah merindukanku? Goda Ardan.


"Tidak..."


"Jadi kau tidak akan merindukanku? Padahal setiap detik aku selalu merindukanmu, bahkan saat ini pun aku sudah rindu padamu." kata Ardan dengan sikap merajuk. Pura-pura tentu saja.


"Bukan itu maksudku... aku hanya..."


Melihat Elif yang tiba-tiba jadi cemas malah membuat Ardan tidak tahan untuk tidak tertawa.


"Ih, kenapa kau jadi menyebalkan sekali!" Elif menarik tangannya kesal dan membuka seat beltnya, namun saat hendak membuka pintu, Ardan langsung mengunci pintu.


"Buka pintunya."


"Tidak mau."


"Ardan!"


"Elif aku tidak akan membuka pintunya sampai kau melihat wajahku dulu."


Elif bergeming, memalingkan wajahnya dari Ardan.


"Baiklah, kita akan berada di dalam mobil sampai besok pagi."


Sontak membuat Elif melihat pria itu. "Kenapa kau selalu saja menggodaku! Menyebalkan!"


"Aku tidak menggodamu, sayang. Aku memang selalu merindukanmu."


Elif mendengus.


"Aku akan berada di rumah baruku." kata Ardan menjawab pertanyaan Elif sebelumnya, seraya mengusap rambut Elif.


"Baiklah, sekarang buka pintunya."


"Tamam, Elif hanim." (Baiklah)


Ardan pun ikut keluar dari dalam mobil, mengantarkan Elif sampai tepat di depan pagar rumahnya.


Suasana lingkungan sudah sepi, hampir semua rumah lampunya padam karena memang sudah waktunya jam istirahat malam.


"Ardan," Panggil Elif, melihat kepada pria itu. "Terima kasih untuk semua yang sudah kau lakukan untukku, untuk keluargaku."


Ardan tersenyum, ia menarik tubuh mungil Elif, memeluknya, mengecup puncak kepalanya, menghidu dalam aroma manis yang menguar dari rambut megar perempuan itu. Kemudian melepaskan pelukannya namun tidak dengan tangannya, ia menangkup wajah Elif, menatap intens ke dalam mata paling indah yang pernah ia lihat.


"Kau tidak perlu berterima kasih apa pun padaku."


Elif tersenyum, terharu, jantungnya berdegup begitu cepat.


"Istirahatlah, jangan sungkan menghubungiku kalau kau tidak bisa tidur lagi."


Elif mengangguk kemudian membuka pintu pagar rumahnya dan menguncinya kembali, ia melambaikan tangannya pada Ardan sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah.


Ardan masuk ke dalam mobil, menyalakan mesinnya kemudian berhenti pada rumah yang baru saja dibelinya kemarin.


Baik Ardan maupun Elif tidak ada yang menyadari keberadaan seseorang yang bersembunyi dalam gelap, memerhatikan dengan jelas apa yang terjadi pada Ardan dan Elif. Tangannya mengepal hingga kuku-kukunya memucat saking kerasnya ia mengepalkan tangan. Tatapannya penuh dengan dendam dan kebencian.


"Wanita murahan tidak tahu malu." katanya dengan nada rendah dan dingin. "Bersabarlah, kita akan berjumpa lagi."