HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Menyatakan perasaan!



TIN!


Suara klakson membuat Elif menghentikan langkah kakinya yang menuju halte bus TransJakarta. Ia hanya melirik kemudian melangkah lagi tidak peduli.


"Wah, kau lihat Ted, dia melengos begitu saja." Ardan terkekeh tidak percaya. Elif benar-benar manusia pertama yang tidak ada takutnya pada Ardan sejak kali pertama mereka bertemu. Benar-benar langka!


"Bunyikan klakson lagi Ted, sampai dia berhenti dan tambah kesal."


Si Bos ini maunya apa ya? Mau meluluhkan hatinya Elif tapi dibuat kesal terus-terusan anak orang.


TIN!


TIN!


TIN! TIN!


TIN! TIN! TIN!


"Mbak, Mbak, diklaksonin, tu." kata salah seorang pejalan kaki yang berpapasan dengannya.


Akhirnya Elif terpaksa berhenti lagi, ia mendekati mobil sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Apa yang Anda inginkan?!" tanya Elif galak.


"Ayo kita pergi bersama." jawab Ardan.


"Kenapa saya harus ikut bersama Anda?"


"Karena aku akan ke rumah sakit menengok calon mertuaku, apa yang akan aku katakan kalau kita datang tidak bersama?"


"Saya rasa sepertinya Anda tidak mengerti, ya, Pak Ardan. Saya tidak akan meneruskan sandiwara ini, saya akan mengganti semuanya. Dan saya tetap akan mengundurkan diri!"


"Jangan membuat aku habis kesabaran, Elif. Masuklah, kita bisa bicarakan lagi."


"Tidak mau!" Tukas Elif.


"Jangan membuatku menjadi penculik sungguhan."


"Oh, ya?" Elif meremehkan. "Paling Anda hanya akan menyuruh Pak Teddy untuk memaksa saya." Lalu ia berbalik badan dan melenggang pergi.


"Kau mau apa?" tanya Ardan begitu melihat Teddy bersiap untuk keluar dari dalam mobil.


"Mengejar Elif, Pak."


"Aku saja!" Ardan langsung turun dan mengejar Elif. Momen yang sangat, sangat, sangat langka di muka bumi ini, seorang Ardan Mahesa Demir mengejar seorang wanita di dekat halte bus Transjakarta. Kejadian itu tentu saja tidak akan dilewatkan oleh Teddy begitu saja. Ia mengeluarkan handphonenya dan merekam apa yang terjadi.


Ardan menarik tangan Elif untuk menghentikan gadis itu. Dengan cepat Elif menepis tangan Ardan.


"Anda mau apa?"


"Menculikmu."


"Apa?"


"Kai ingin jalan sendiri masuk ke mobil, atau kau lebih senang aku menggendongmu dan menjadi perhatian di pinggir jalan seperti ini?"


Elif mendengus. "Anda? Menggendong saya? Coba saja, saya percaya gengsi Anda lebih tinggi dari- Aaaak!" Ardan menggendongnya dengan sangat mudah seperti menggangkat guling, mau tidak mau Elif terpaksa mengalungkan lengannya ke bahu kokoh Ardan. Walaupun kakinya tetap meronta.


"Lepaskan saya!"


"Kau tadi yang menyuruhku, dan sekarang kau minta di lepaskan, perempuan memang makhluk yang sulit di tebak." Ardan tetap menggendong Elif sampai mobil. Tentu saja orang-orang memperhatikan mereka, ada yang tertawa, ada yang bertepuk tangan. Entah apa faedahnya bertepuk tangan.


Teddy sudah siap membuka pintu.


Pelan-pelan Ardan menurunkan Elif dan membuat Elif tidak punya pilihan lain selain masuk ke dalam mobil.


Setelah semua sudah berada di dalam mobil, Teddy pun segera melajukan mobil meninggalkan lokasi.


"Kenapa kau harus mengetes ku seperti tadi?"


Elif tidak menjawab, ia hanya memberengut. Seperti anak kecil yang sedang asik main pasir lalu dipaksa untuk poto keluarga.


"Kenapa tubuh mu yang kecil itu sangat berat?" Ardan melonggarkan ikatan dasinya, tentu saja dia berbohong. Elif seringan kapas. "Oh aku tahu, pasti rambutmu yang berat."


Elif tidak merespon ia hanya semakin memberengutkan wajahnya.


"Apa yang Anda ingin bicarakan sebenarnya?" tanya Elif kemudian.


"Kesepakatan kita."


"Sudah saya katakan, saya tidak ingin lagi melanjutkan kebohongan ini, Pak. Apa Anda benar-benar tidak peduli dengan nasib saya setelah semua ini berakhir? Sekarang saja, hanya karena Anda melakukan hal tadi saat meeting, orang-orang mulai menggosip kalau saya adalah penyebab rusaknya hubungan pertemanan Anda dan Pak Gavin. Lalu ketika semua ini berakhir, keluarga saya juga akan menjadi bahan olok-olokan tetangga, ditambah ayah yang akan semakin membenci saya. Kenapa Anda begitu egois?!" Elif mengakhirinya dengan teriakan sambil menghentakkan kepalanya.


"Apa?"


"Setelah dua kali meneriaki aku, mengeluarkan semua emosi mu, bagaimana rasanya? Sudah merasa lega?"


Elif hanya mendengus, memalingkan wajah dari pria itu. Tatapan Ardan berubah. Tidak ada lagi tatapan yang mengintimidasi, atau tatapan tajam yang memberikan tekanan. Disepasang mata pria itu hanya ada sorot mata lembut yang teduh. Itu sebabnya Elif memalingkan wajah. Ia tidak mau terlena dengan sandiwara pria itu.


"Baiklah, aku akan bicara sekarang. Aku sudah memutuskan untuk tidak akan membiarkanmu mengundurkan diri atau memecatmu. Aku juga tidak akan meneruskan sandiwara ini." kata Ardan membuat Elif kembali melihatnya dengan mata yang melebar.


"Be-benarkah? Tidak perlu ada lagi sandiwara antara saya dan Anda, Pak?"


"Ya."


"Terima kasih, Pak. Saya janji, saya akan mencicil untuk membayar semua yang sudah Anda keluarkan untuk keluarga saya."


"Tidak perlu." ujar Ardan. "Kau benar, apa yang aku lakukan adalah bukan menolong, tapi pamrih. Kau telah membuka pikiranku. Jadi, kau tidak perlu mencicil apa pun. Kau tahu, apa yang sudah aku keluarkan untuk biaya ayahmu bisa aku dapatkan hanya dalam waktu lima belas menit. Kau tidak perlu mengorbankan seluruh waktu hidupmu untuk mencicil."


"Eh-" Elif sampai bengong mendengar apa yang dikatakan Ardan.


"Tapi, aku tidak akan melepaskanmu."


"Ma-maksud Anda? Anda bilang tidak akan ada sandiwara lagi?"


"Memang, karena aku rasa aku menyukaimu."


"Apa?!" Elif memekik. "Apa Anda sedang teler? Anda sadar apa yang barusan Anda bilang?"


Astaga! Apa tadi dia bilang? Aku teler? Hahaha, benar-benar pemecah rekor, tidak ada yang benari padaku selain dirinya, apalagi sampai mengatai aku sedang teler.


"Aku sedang dalam keadaan sangat sadar."


"Apa Anda orang yang sama saat bilang kalau saya bukan tipe Anda?"


"Hem, ya. Kami orang yang sama." jawab Ardan tanpa ragu. "Bedanya, sebelumnya hatiku belum terbuka, sekarang hati ku sudah terbuka, untukmu."


Elif menggeleng. "Pak Teddy, apa Anda tidak bisa membantu saya untuk menyadarkan Pak Ardan, sepertinya Pak Ardan sedang berhalusinasi."


"Pak Ardan mempunyai kesehatan yang sangat baik, Elif." jawaban itu bukan yang diinginkan Elif sama sekali.


"Mau Anda ini apa, sih, Pak?"


"Aku ingin kita mulai lagi semuanya dari awal. Aku pertemuan pertama kita sangat tidak baik, karena itu aku ingin mulain lagi semuanya dengan cara yang baik."


Elif terkekeh tidak pasti apa yang lucu, dia hanya ingin tertawa saja. "Anda pernah bilang, kalau Anda tidak suka menjalin sebuah hubungan, lalu mengatakan sejak awal kalau saya bukan tipe Anda, dan sekarang Anda bilang sepertinya Anda menyukai saya dan ingin mengulang semua dari awal? Apa Anda sedang mempermainkan saya?"


"Tidak. Aku bersungguh-sungguh."


Elif menggeleng. "Anda hanya tidak ingin melepaskan saya hanya karena nama Anda akan jelek dan orang tua Anda akan kembali menjodoh-jodohkan Anda. Saya tahu Anda sedang pura-pura saja karena siapa tahu saya juga menyukai Anda juga kan?'


"Kenapa sulit sekali meyakinkanmu? Aku tidak ingin ada sandiwara lagi, karena sepertinya aku menyukaimu dan perasaan ini bukan sandiwara."


"Sepertinya Anda menyukai saya, itu artinya belum tentu Anda menyukai saya."


"Karena itu aku ingin meyakinkan perasaan ini dengan memulai semuanya dari awal. Aku tidak pura-pura hanya untuk menahanmu agar namaku tetap baik. Kau bisa tanya pada Gavin, apakah aku pernah menyatakan perasaan pada orang lain sebelumnya. Tidak pernah. Kau orang pertama yang menyadarkan aku."


Elif menghela napas kesal. Ia mengusap wajahnya kasar. "Sebenarnya apa yang Anda harapkan dengan mengatakan semua omong kosong ini, Pak?"


"Ini bukan omong kosong, Elif."


"Jangan harap aku percaya." Tukas Elif.


"Apa kau sama sekali tidak menyukaiku?"


"Tidak."


"Cepat sekali kau menjawab."


"Karena saya memang tidak menyukai Anda!"


"Kenapa kau tidak menyukaiku? Aku tampan, pintar, kaya, kau bisa mengandalkan aku, kau bisa bersandar padaku, kau bisa bergantung padaku. Aku tidak akan membiarkan orang lain melukaimu. Kenapa kau tidak menyukaiku? Apa kurangnya aku?"


""Rasa suka itu tidak bisa dipaksakan, Pak. Setiap orang mempunyai seleranya masing-masing." jawab Elif. "Sama seperti Anda yang bilang saya bukan tipe Anda, begitu pun sebaliknya, Anda juga bukan tipe saya."


Deg! Deg! Deg! Deg!


Bukannya sakit hati karena ada satu orang yang melihat dirinya tidak spesial, jantung Ardan justru jadi berdegup tidak karuan. Setiap darah yang mengalir pada tubuhnya terasa berdesir. Hatinya pun mantap, ia tidak akan melepaskan gadis dengan aroma paling manis yang telah membuatnya jatuh hati.


Apakah mulai sekarang aku harus memanggilnya, Nona Elif? Teddy berpikir sambil terus fokus menyetir sementara telinganya menangkap semua percakapan dua orang dibelakangnya.