HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Run To You.



*Flashback*


Elif berlari menahan perih yang menusuk-nusuk telapak kakinya. Ia tidak tahu sudah berapa jauh ia berlari, sudah berapa banyak orang yang mencoba menghentikannya, tapi Elif tetap berlari. Kakinya sakit, hatinya pun demikian. Pandangan matanya mengabur karena selaput bening air mata yang menggenangi kedua sudut-sudut matanya.


Sesekali ia melihat ke belakang, suara teriakan ayahnya atau pria yang selama ini ia kenal sebagai ayahnya menggema dalam kepalanya, suara langkah kaki pria itu pun seperti mengejarnya secepat apa pun ia berlari. Ia tidak lagi peduli pada tatapan-tatapan aneh orang-orang yang dilaluinya, tidak lagi peduli dengan panasnya aspal yang ia pijak dengan telapak kakinya yang luka dan berdarah.


Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari ayahnya. Tatapan mata ayahnya yang menakutkan, seperti singa kelaparan yang melihat mangsa tidak berdaya membuat Elif ketakutan, bahkan saat berlari pun tubuhnya gemetar ketakutan.


"Dia... ayahku... dia... bukan... ayahku..." Ucapan yang berulang-ulang keluar dari mulutnya selama ia terus berlari.


Sampai akhirnya ia berhenti. Kakinya tidak sanggup untuk bergerak lagi. Kemudian seorang perempuan memakai jaket pengendara ojek online mendekatinya, satu-satunya orang yang mendekatinya disaat semua orang menjauh dan melihat Elif dengan tatapan menghina ada juga dengan tatapan takut. Mungkin mereka pikir Elif hanya seorang gelandangan.


"Kakimu berdarah." Ucap wanita berjaket itu dengan lembut. Tatapannya khawatir. "Ayo saya antar ke puskesmas."


Elif menggeleng, ia meraih tangan wanita itu, menatapnya dengan tatapan memohon. "Tolong... tolong aku..."


"Tentu, tentu." Wanita itu menepuk punggung tangan Elif, menenangkan. "Apa yang bisa saya bantu?"


"Tolong antarkan aku ke apartemen."


"Kenapa tidak ke puskesmas dulu?"


Elif menggeleng cepat, "Jangan, kumohon... jangan ke puskesmas, ke apartemen saja... aku mohon..."


"Baiklah, baiklah," katakan dimana alamatnya, saya akan antar."


"Tap-tapi aku tidak ada uang untuk-"


"Tidak apa, ayo, kakimu harus segera diobati."


Wanita itu membantu Elif berdiri dan berjalan menuju sepeda motor matic, ia memakaikan helm pada kepala Elif dan membantu Elif untuk naik ke atas motornya, kemudian ia naik dan meninggalkan lokasi.


Elif menunjukkan jalan menuju apartemen Ardan melewati jalan-jalan pintas, jalan-jalan kecil perkampungan. Bukan tidak sengaja, tapi ia sengaja melewati jalan-jalan itu seperti saat ia berlari, ia menghindari jalan-jalan yang memiliki perempatan jalan dengan lampu lalu lintas yang terdapat CCTV. Begitu pun kini ia mengarahkan jalan, melewati jalan perkampungan yang tidak terjamah CCTV. Ia hanya berjaga, mungkin saja ayahnya akan melapor ke polisi dan tentu polisi akan mencari keberadaannya dengan memeriksa CCTV.


Meski begitu, ketakutannya tidak juga menghilang, ia masih merasa diikuti oleh ayahnya, kepalanya berkali-kali menengok ke belakang memastikan tidak ada yang mengikutinya. Mereka berhenti di gedung apartemen namun bukan pada bagian depan gedung tersebut, melainkan pintu darurat yang berada di bagian belakang gedung apartemen itu.


Tangannya yang gemetar kesulitan untuk membuka tali pengaman helm tersebut, sampai wanita baik hati yang mengantarnya itu membantunya.


"Apa yakin tidak perlu saya temani masuk?" tanya wanita itu.


"I-iya. T-terima kasih."


"Sama-sama."


"T-tolong jangan... jangan beritahu siapa pun..."


Wanita itu tersenyum kemudian meninggalkan Elif.


Elif tahu ada CCTV di atas pintu, ia tidak ada cara lain, Elif menurunkan rambutnya menutupi wajah, lalu melangkah dengan cepat melewati pintu. Ia segera menaiki tangga darurat menuju lantai dua belas, dimana unit apartemen Ardan berada.


Sambil terus waspada, ia terus menaiki tangga. Begitu sampai pada lantai 12, ia segera menuju pintu apartemen Ardan, memencet kode pengunci otomatis yang memang sudah ia ketahui semenjak bekerja sebagai sekertaris Ardan. Begitu ia masuk ke dalam apartemen, ia langsung menuju dapur, mengambil sebua pisau dan bersembunyi di bawah meja bar dengan ketakutan yang semakin menyelimutinya.


*Flashback off*


Ardan keluar dari dalam mobil begitu Teddy membuka pintunya. Teddy menyadari sesuatu yang sepertinya tidak disadari bosnya itu. Seorang perempuan berambut megar berantakan tertiup angin duduk sendirian di atas kursi besi taman dengan kepala menunduk hampir menyentuh lututnya sendiri.


"Pak," Teddy menganggukkan kepalanya kearah perempuan itu.


Ardan melebarkan matanya, "Elif?" Ucapnya.


Sebuah scene yang Teddy yakini hanya bisa disaksikan dalam drama Korea atau sinetron romantis, kini ia menyaksikannya langsung tanpa skenario. Sungguh pemandangan yang indah. Teddy pun pergi dari sana tanpa suara.


"Aku ingat... aku ingat semuanya." ucap Elif pada sela-sela isak tangisnya.


***


Ardan memberikan segelas air pada Elif setelah mereka berada di dalam apartemen. Elif sudah lebih tenang setelah ia menceritakan semua kejadian, dari Zehra yang telah menjelaskan semua dan ingatannya yang hilang, meski begitu Elif masih jelas terlihat begitu terpukul dengan keadaan dan kenyataan yang ada.


"Aku tidak pernah mengira akan ada seseorang yang menyimpan dendam sebegitu dalamnya, sampai kebaikan pun tidak dilihatnya." Kata Ardan menatap lembut Elif, tangannya terulur, mengusap lembut pipi Elif dari sisa-sisa air mata. "Jangan menangis lagi untuknya, kumohon."


"Aku tidak menangis untuknya," Sahut Elif. "Aku menangis untuk diriku sendiri. Apakah aku pembawa sial? Apakah aku tidak pantas untuk merasakan kasih sayang sosok seorang ayah? Bahkan ayah kandungku pun tidak menginginkanku." Elif menundukkan kepala, ia kembali bersedih.


Ardan mendekat, menarik tubuh mungil perempuan itu dan memeluknya, menenangkannya. Kemudia berkata, "Kau adalah keberuntunganku, kau adalah wanita kedua yang membuat hatiku menyerah pada cinta."


"Ke-kedua?"


"Tentu saja." jawab Ardan dengan yakin.


Elif pun segera melepaskan dirinya dari pelukan Ardan, ia menatap Ardan dengan mata basahnya, "Kedua?" Elif mengulangi.


Ardan mengulum senyum, gemas melihat wajah Elif yang menahan cemburu. Tak tahan ia untuk tidak mencubit pipi Elif.


"Kenapa kau menggemaskan sekali."


"Jangan menggodaku, Ardan." Elif memalingkan wajahnya antara tersipu juga cemburu.


"Aku tidak menggodamu." ujar Ardan. Ia meraih dagu Elif dengan jemarinya, membawa wajah perempuan yang dicintainya kembali menghadapnya. "Kau memang yang kedua dan terakhir. Karena aku tidak akan bisa menggantikan posisi cinta pertamaku, lagi pula jika aku melakukannya, aku akan menjadi anak durhaka."


Tatapan mata Elif perlahan berubah, dari penuh cemburu yang sembunyi-sembunyi menjadi terang begitu menyadari siapa cinta pertama yang dimaksudkan Ardan.


"Mama Hanna." ucapnya.


Ardan terkekeh.


"Kenapa tidak langsung katakan saja." Elif berdecak.


"Kalau tidak begitu, aku tidak bisa melihat wajah cemburu yang menggemaskan itu."


"Aku tidak cemburu." Elif berdalih.


"Matamu berkata lain."


Mereka berdua pun kemudian tertawa untuk beberapa saat.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Ardan serius.


"Lebih baik." jawab Elif.


"Apa kau masih merasa takut dengan kenyataan yang sekarang kau tahu? Atau kau merasa lega karena akhirnya semua pertanyaanmu memiliki jawaban?"


"Aku tidak tahu, Ar, aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini. Saat Ibu menceritakan semua, aku benar-benar seperti kehilangan arah, tapi begitu aku mengingat potongan memoriku yang hilang, aku tidak lagi terlalu takut menerima kenyataan ini." jawab Elif ragu dengan apa yang ia rasakan saat ini.


"Aku benar-benar minta maaf untuk tanganmu, Ar..." ucap Elif penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa, lagi pula bekas jahitan ini membuatku terlihat lebih... apa ya, macho." ucap Ardan seraya tersenyum lebar. Senyuman yang membuat Elif begitu merasa bersyukur.


"Terima kasih, Ar, aku merasa tenang bersamamu."