HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Pernikahan.



Mona dan Yura memekik terharu dan takjub saat mereka berdua sebagai braidsmaid masuk ke dalam ruang make up pengantin perempuan, sampai-sampai MUA yang sudah bekerja dengan sangat keras menaklukkan rambut Elif memperingati dua sahabat pengantin itu untuk tidak terlalu dekat, takut merusak mahakarya tatanan rambut Elif yang sudah dikerjakannya dengan penuh kesabaran.


"Aaaaakkkkk! Cantik banget siiih!" Yura langsung mengeluarkan handphone dan memotret Elif dari berbagai sudut.


Mona menggelengkan kepala, ia bahkan menitikan air mata dan buru-buru mengusapnya.


"Akhirnya, kau bisa berada dititik sebahagia ini, aku benar-benar sangat bahagia."


"Aahhh.... kalian jangan bikin aku nangis dong, nanti make up nya luntur." Ujar Elif sambil terkekeh.


"Eh tapi omong-omong, Mona juga cantik banget ya, Yur, pakai dress sama dandan gitu." kata Elif.


"Iya, aku juga bilang gitu tadi, eh tapi ini orang tidak percaya." sahut Yura.


"Habisnya orang-orang pada ngeliatin, kan jadi risih."


"Mereka ngeliatin karena kau terlihat cantik."


Obrolan-obrolan random antara mereka bertiga pun terus berlanjut sampai beberapa menit menjelang akad, dan salah satu panitia dari wedding organizer pun datang memberitahukan agar pengantin dan bridesmide bersiap.


***


Hingga sampai Ardan menyelesaikan ijab dan kabul dengan seorang wali hakim, karena ayah kandung Elif yang ternyata sudah meninggal setelah Teddy berhasil menemukan keberadaan ayah kandung Elif beberapa minggu lalu. Tentu saja atas perintah Ardan.


"Bagaimana saksi, sah?" ujar penghulu setelah Ardan menyelesaikan kalimat kabulnya yang diucapkan dengan lantang, mantap, dan lancar tanpa adanya kegugupan sama sekali.


"SAH!" jawab kedua belah pihak saksi.


"Alhamdulillah."


Semua yang hadir dalam akad tersebut pun segera mengucap syukur dan memanjatkan doa yang dipimpin oleh penghulu. Zehra sudah menitikan air mata, begitu pun dengan Hanna dan Demir. Pria yang selalu terlihat santai, berkharisma dan jenaka itu kini terlihat begitu terenyuh dengan anak laki-lakinya yang sekarang sudah mantap membuka lembaran hidup barunya.


Setelah doa selesai, panitia pun memanggil pengantin perempuan untuk masuk dan bertemu pertama kali dengan pria yang kini sudah sah menjadi suaminya.


Semua orang berdiri, menunggu kedatangan sang putri, terutama Ardan yang jantungnya sudah loncat-loncat kesana kemari, rindu yang sudah sangat memuncak dengan istrinya kini. Senyuman sudah mengihasi wajah tampan pria yang berbalut setelan jas mewah yang begitu gagah melekat pada tubuhnya.


Elif datang diantar oleh Yura dan Mona, mereka seketika membuat napas seluruh tamu undangan tertahan. Lampu sorot langsung mengunci kehadiran Elif, ia seperti menyihir seluruh tamu undangan. Meski sebenarnya ia merasa gugup. Bagaimana tidak, tamu undangan yang hadir dalam acara akad saja sudah sebanyak itu, lalu dekorasi taman itu seperti hutan yang penuh dengan sejuta pesonanya yang indah, dan Ardan yang menunggunya. Pria yang kini telah sah menjadi suaminya, imamnya, dan pemimpinnya.


Ardan bagaikan tersihir, matanya tidak bisa lepas dari pesona istrinya yang begitu cantik, seperti bidadari. Senyum semakin mengembang pada wajahnya, ia bahkan tanpa sadar menitikan air mata, jika saja Teddy tidak segera memberikannya sebuah tisu, Ardan tidak akan sadar ia telah menangis saking terharu terpesona terpesona.


Kini Elif telah berdiri tepat di hadapan Ardan. Tatapan penuh cinta dia berikan untuk Elif seorang, cicin pernikahan pun disematkan pada jari manis tangan kanan sang istri, begitu pun sebaliknya. Untuk pertama kalinya Elif meraih tangan Ardan dan mencium punggung tangan pria itu dengan penuh syukur. Ardan pun mencium kening Elif, kemudian berbisik, "Apakah aku menikahi seorang bidadari?"


Elif tentu saja tidak menjawab, hanya tersenyum tersipu sebagai jawaban atas pertanyaan romantis sang suami.


Setelah acara akad yang penuh khidmat dan haru, acara foto-foto dengan keluarga dan sahabat-sahabat, acara pun berlanjut dengan acara resepsi.


Di ruang ganti, Elif sudah mengganti gaun putihnya dengan gaun merah mewah yang didesign khusus oleh Nyonya Hanna sendiri beberapa bulan lalu semenjak ia tahu anaknya telah mempunyai calon istri. Tatanan make up pun dibuat agak sedikit bold dari make up akad.


Ardan menghampiri istrinya, memandangi wajah Elif dengan senyuman yang tidak ada selesainya dari wajah tampan Elif.


"Make up nya terlalu menor, ya? Tidak cocok ya sama aku?" tanya Elif khawatir, karena itu adalah kali pertama Elif memakai make up yang cukup tebal baginya, padahal ia terlihat sangat menakjubkan. Sapuan make up oleh MUA profesional pilihan Hanna bukan main-main.


"You look perfect, my wife." Ardan membawa Elif ke hadapannya. Menatap wajah itu dengan tatapan yang sangat intens, ia ingin sekali mencium bibir merah merona Elif yang sangat menggoda.


"Ya Tuhan, sudah sah saja aku masih belum bisa mencium istriku."


***


Acara resepsi berlangsung cukup sederhana ala Hanna, tentu saja. Elif tidak pernah mengira dirinya akan berada di atas sebuah pelaminan yang megah, gaun yang mewah, tamu-tamu undangan yang selalu memujinya, dekorasi yang sangat indah dan menjadi seorang istri dari Ardan Mahesa Demir. Beberapa kali saat tamu belum naik ke atas pelaminan, diam-diam Elif mencubit lengannya sendiri, ia takut apa yang sedang dia alami saat ini adalah sebuah mimpi.


"Ini bukan mimpi, sayang." Bisik Ardan, yang melihat berkali-kali bagaimana istrinya itu sembunyi-sembunyi mencubit lengannya. Tangan Ardan meraih tangan Elif, mengecup punggungnya kemudian mengusap-usapnya penuh kelembutan.


Semua orang mengucapkan doa-doa yang terbaik untuk pasangan pengantin itu, semua orang terlihat suka cita, memuji betapa tampan dan cantiknya pengantin mereka, makanan yang lezat, dekorasi yang indah benar-benar membuat semua tamu undangan terpukau, meski bukan diadakan di gedung yang megah, tapi acara garden party sederhana ini justru membuat imej kelurga Demir semakin dikagumi.


Meski semua orang terlihat bersuka cita dengan acara itu, ada satu orang yang menatap dari kejauhan, jari-jari lentiknya memegang sebuah gelas berisi minuman yang menyegarkan. Semua orang turut berbahagia, tersenyum, begitu pun dengan dirinya, ia juga tersenyum memandangi dua orang yang tersenyum bahagia menyambut tamu-tamu yang datang memberikan selamat pada mereka, tapi senyumnya mempunyai arti yang berbeda dengan yang lain.


Senyumnnya penuh dengan dendam menghiasi wajahnya yang cantik dan eksotik.


"Apakah semua sudah siap?" tanya seorang pria bertubuh tinggi, bersetelan jas yang rapih dan melekat sempurna.


"Tentu saja, semua sudah siap menyambut kedatangan dua orang yang sedang berbahagia itu." jawab wanita itu.


"Apa kau yakin tidak akan melakukannya sekarang?" tanya pria itu lagi.


"Tentu saja, biarkan mereka menikmati hari bahagia mereka sebagai ratu dan raja. Biarkan mereka saling memandang penuh damba dan cinta, sebelum nantinya mereka akan melihat salah satu diantara mereka tak bernyawa lagi."


Wanita dan pria itu pun melakukan cheers kecil dengan gelas-gelas minuman pada tangan mereka.


Acara resepsi pun berakhir, yang diakhiri dengan ditandakannya dengan pelemparan buket bunga pengantin. Elif dan Ardan melakukannya dengan memunggungi para jomblowan dan jomblowati, ada juga beberapa yang ingin juga buru-buru menikah, termasuk Yura berada diantara orang-orang itu. Tapi tidak dengan Mona.


"Satu! Dua! Tiga! Lempar!" MC acara memberikan instruksi dengan semangat. Buket bunga pun dilempar tinggi, bunga itu melayang di udara dalam beberapa detik, berputar-putar sebelum akhirnya jatuh pada tangkapan seseorang.


Tap!


"Teddy?!" Ardan membelalakan mata melihat ternyata asistennya itu menjadi bagian dari orang-orang yang menunggu lemparan bunga. Elif dan Ardan pun tertawa. Begitu pula dengan Hanna, Demir, Zehra dan Adit dan beberapa rekan kerja lainnya yang datang.


"Nah, kalau Mas nya sudah mempunyai pasangan, boleh diberikan pasangannya buket bunga yang diterima, ada hadiah istimewa di dalam buket itu lho!" kata si MC. "Tapi kalau masih high quality single, mungkin bisa disimpan untuk gebetannya." Canda MC membuat semua orang tertawa.


Betapa terkejutnya semua orang yang mengenal karakter Teddy sebagai manusia tanpa ekspresi ternyata menggerakkan kakinya pada seorang perempuan berpipi chubby dengan gaun braidsmaid dan memberikan buket bunga itu dengan malu-malu.


"Whoaaaaa!"


"Cieeeee Pak Teddy!"


"Lanjut Pak, Lanjooot!"


Teriakan-teriakan memeriahkan jelang akhir acara pernikahan itu.


Yura tentu saja dengan sangat senang menerima buket bunga tersebut, lalu MC datang membawakan sebuah kotak kecil yang adalah hadiah dari buket bunga yang diterima. Kotak itu diberikan pada Teddy.


Teddy pun segera membukanya, dan ternyarta isinya adalah sebuah kalung bermatakan berlian yang sangat indah. Semua orang pun bersorak, Teddy memakaikannya pada leher Yura.


"Astaga, ternyata diam-diam dia mengincar Yura." Celetuk Ardan sambil tertawa.