
Elif benar-benar merasa keki pada Ardan, ditambah lagi pria itu kelihatan biasa saja, seperti tidak ada yang perlu dijelaskan atau minimal meminta maaf pada Elif atas kebohongan besar yang disampaikan pada media dan mantannya yang super model nan cantik itu? Apa Ardan tidak berpikir panjang apa yang akan terjadi pada dirinya jika kabar itu sampai ke telinga keluarga Elif atau keluarganya sendiri?
Mungkin tidak malam ini Yanuar akan menyemprotnya lagi dan berfikir macam-macam lagi tentang pekerjaan Elif. Mungkin besok pagi, entah apa yang akan dikatakan ayahnya itu.
"Setop! Setop! Setop!" teriak Elif pada dua pria yang berada di dalam mobil bersamanya itu. Yang satu sedang fokus menyetir menuju langsung ke apartemen, dan yang satu lagi sangat nyaman memejamkan mata dengan menyandarkan kepalanya.
"Ada apa?" Ardan terkesiap dan Teddy segera menyalakan lampu sein ke kiri untuk mencari tempat mobil mereka bisa berhenti.
"Berhenti atau aku akan lompat ke luar!" Masih dengan intonasi yang tinggi.
"Hei, kau kenapa?" Ardan masih tidak mengerti dengan apa yang membuat gadis itu tiba-tiba berteriak seperti orang kesurupan.
"Ini lagi cari tempat untuk berhenti." ujar Teddy yang mengerti kenapa gadis itu sangat marah saat ini.
Tak sampai lima menit, mobil sedan mewah itu pun menepi pada sebuah jalan yang tidak terlalu padat, namun juga tidak sepi.
"Kau kenapa?" tanya Ardan lagi. "Kau tenangkan diri dulu. Ted, coba cari minum untuk-"
"Aku tidak butuh minum atau apapun!" Elif memandang Ardan galak. Kesan gadis manis dalam balutan dress itu pun malah terlihat semakin nyata di mata Ardan. Kenapa bisa begitu?
"Lalu?"
"Lalu? Anda bilang lalu?" Elif mendesis. "Apa Anda tidak merasa punya hutang penjelasan dan permintaan maaf.
Teddy tanpa berkata apa-apa langsung keluar dari dalam mobil dan meninggalkan bosnya menyelesaikan masalah yang dibuatnya pada gadis itu.
"Akan ku jelaskan di apartemen." Ardan kembali tenang. Dan diam-diam menikmati kekesalan dan marahnya gadis itu yang malah terlihat menggemaskan. Astaga, apa yang terjadi pada pria yang mengakui kalau gadis di depannya itu bukan lah tipenya?
"Jelaskan sekarang atau aku akan mencari mantan Anda tadi dan mengatakan kalau Anda sudah berbohong!" Matanya benar-benar menunjukkan ketidaksukaan.
Ardan malah terkekeh lucu membuat Elif semakin keki. "Kau mengancamku? Kau?"
Cuping hidung Elif sudah kembang kempis, menahan marah yang memuncak. "Iya!"
"Oke saya minta maaf." Ucapnya dengan tenang dan santai. "Now relax. Akan saya jelaskan di apartemen nanti."
Sementara itu di luar mobil Teddy benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang terjadi dengan bosnya itu. Selama dia bekerja untuk Ardan, pria itu sangatlah dingin, menjaga jarak dan tidak pernah tertawa sesantai itu di depan perempuan. Ardan selalu terlihat berwibawa, serius dimana pun dan kapan pun. Tapi semenjak dia mencium aroma manis apa pun itu, dan tahu bahwa sumber aroma itu berasal dari Elif, sikapnya pun perlahan berubah.
Ardan jauh lebih santai dalam menanggapi sesuatu bahkan masalah besar sekalipun. Aura dingin pada dirinya pun hanya ada pada saat-saat tertentu saja. Dan hanya di depan Elif, wibawa Ardan seolah tidak berarti.
Apakah Pak Ardan menyukai Elif? Ah tidak mungkin. Pak Ardan sendiri yang bilang kalau Elif bukan tipenya. Teddy menyusahkan dirinya sendiri dengan menerka-nerka apa yang terjadi pada bosnya itu.
Atau mungkin saja keberanian dan kemandirian juga keras kepalanya Elif membuat Pak Ardan tanpa sadar menyukainya? Atau mungkin karena aroma manis yang hanya Pak Ardan saja yang bisa menciumnya yang membuat Pak Ardan tanpa sadar jadi lebih kalem? Ah! Kenapa jadi aku yang pusing!
Tak lama kemudian Elif membuka kaca jendela dan meminta Teddy untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju apartemen Ardan.
***
Malam itu Elif menolak tugasnya menyiapkan makan malam untuk Ardan, dan Ardan menyetujuinya. Nah kan, lagi-lagi Teddy dibuat terkejut. Bukanlah seorang Ardan yang dia kenal bisa menyetujui penolakan karyawannya untuk melakukan tugas.
Elif duduk, masih dengan ekspresi tidak suka. Sementara Ardan sudah melepas jas dan dasinya kemudian duduk santai di depan Elif.
"Saya tidak akan bertele-tele, saya akan langsung menjelaskan pada intinya."
"Tapi pertama kau harus ubah dulu tatapanmu itu, jangan menatapku dengan tatapan membunuh seperti itu, kau membuatku ngeri."
"Cepat jelaskan saja apa maksudnya!"
"Oke, oke, baiklah." Ardan mengelus dada seolah kaget dengan teriakan Elif. "Kau lihat Ted, baru kali ini ada karyawan yang berani meneriaki, mengancam dan membentakku."
Dan Anda tidak memberikan sanksi apapun, itu baru pertama kalinya.
Elif tidak perduli dengan sindiran Ardan.
"Oke, sebenarnya saya sama sekali tidak berniat berbohong seperti itu, karena itu saya minta kita untuk cepat pergi dari sana. Saya hanya ingin supaya Marsha tidak melihat saya datang sendirian. Atau hanya datang bersama Teddy."
Ya ampun, apa Anda benar-benar harus mengatakan itu pada Elif, dia pasti akan menjatuhkan harga diri Anda, Bos!
"Jadi sebenarnya tujuan Anda mengajak saya adalah hanya supaya Anda terlihat laku dimata Mba Marsha?"
"Wah! Kau dengan itu Ted, dia pikir aku pria yang tidak laku!" Ardan terkekeh. "Kau tidak akan sanggup membayangkan betapa semua perempuan bermimpi, bercita-cita untuk bisa menjadi pasangan hidupku, atau minimal bisa duduk bersisian dengan ku."
"Trus kenapa Anda tidak ajak saja salah satu dari perempuan-perempuan itu untuk menemani Anda kondangan. Saya yakin seribu persen mereka juga akan sangat bahagia jika Anda juga berbohong seperti tadi."
"Itu karena saya tidak mau mereka." Ardan memajukan tubuhnya. Menatap Elif lekat.
Deg!
Deg!
Debaran jantung dari dua orang yang saling bertatapan itu kembali bertalu-talu tanpa alasan yang mereka tidak mengerti.
"M-maksud Anda?" Elif segera memundurkan tubuhnya, begitu pun dengan Ardan.
Astaga kenapa aku ingin sekali memeluk gadis ini? Ini pasti karena aroma manis dari dirinya! Aku pasti gila kalau sampai benar-benar memeluknya. Ardan mengalihkan pandangannya dari Elif.
"Jangan geer dulu. Saya hanya tidak mau menjalin sebuah hubungan yang mengikat. Apa lagi sampai menikah. Kalau saya mengajak salah satu perempuan itu, mereka akan berharap lebih. Dan saya tidak suka itu. Mereka pasti akan langsung mengumumkan pada dunia manusia juga dunia lain."
"Lalu bagaimana dengan saya? Apa karena saya tidak menyukai Anda, jadi Anda seenaknya saja berbohong seperti itu? Apa Anda tidak sampai berpikir apa kata orang tua saya? Juga keluarga Anda? Saya yakin, besok atau malam ini berita tentang Anda dan saya sudah tersebar!"
"Saya tahu itu."
"Apa?! Kenapa Anda bisa setenang itu? Cepat hubungi media dan katakan kalau tadi hanya kesalahpahaman saja!"
"Tidak bisa, itu hanya akan membuatku terlihat seperti lelucon."
"Lalu bagaimana dengan saya? Apa yang akan saya katakan pada keluarga saya?" Panik Elif meninggikan suaranya.
"Bilang saja kalau kau dan saya memang menjalin hubungan."
"Apa?!"
Orang ini pasti sudah tidak waras! Elif.
Bos pasti sedang sakit kepala! Teddy.