
"ELIF!"
Teddy yang melihat bagaimana keadaan Elif disana, segera keluar dan menyuruh semua orang untuk bubar.
"Apa kalian semua tidak ada kerjaan?" kata Teddy. "Apa aku harus mencatat semua nama kalian yang ada disini bukannya bekerja?"
Teddy terkadang lebih menyeramkan dari pada CEO perusahaan itu sendiri. Ia lebih dingin dan lebih kaku dibandingkan Ardan sebenarnya.
Orang-orang yang berkumpul di sana pun mulai bergerak pelan meninggalkan lokasi, hanya tinggallah Teddy di luar kamar menunggu Ardan.
Di dalam kamar mandi, Ardan segera melepaskan jasnya dan menutupi tubuh Elif yang hanya mengenakan bra dan rok nya saja. Bibirnya bengkak dan berdarah, perutnya terlihat memar. Rambutnya berantakan.
"Elif... Elif... bangunlah, Elif kumohon bangunlah." Ardan mengangkat pelan tubuh Elif, menepuk pipinya pelan.
"Hmmm," Elif merintih pelan, matanya sayu terbuka sedikit.
"Bertahanlah, bertahanlah." Ardan segera menggendong Elif di depan dadanya. "Ted! Siapkan mobil!" Teriak Ardan.
Tanpa menunggu jarum detik bergerak, Teddy langsung melesat untuk menyiapkan mobil.
Ardan pun keluar dari kamar mandi dengan menggendong Elif yang terkulai lemah. Hatinya benar-benar panas dengan apa yang terjadi pada Elif.
Begitu keluar dari dalam lift di lantai dasar, semua mata tertuju pada Ardan dan membawa Elif dalam gendongannya. Kabar CEO mereka marah besar karena apa yang terjadi pada Elif sudah tersebar luas dengan sangat cepat. Namun siapa yang tega dan sangat berani melakukan hal itu pada calon istri Ardan masih dirahasiakan.
Wajah Ardan sangat dingin dan jelas terlihat sangat marah. Tidak ada yang berani menyapa apa lagi sampai nekat menanyakan bagaimana dengan traktiran makan siang di kantin, apakah masih berlaku atau tidak. Itu namanya sama saja seperti menginjak buntut singa yang sedang memantau mangsa.
Teddy sudah siap di depan lobby, Ardan segera masuk bersama Elif, kemudian mobil melesat meninggalkan lokasi kantor menuju rumah sakit yang paling terdekat dengan kantor.
Teddy dapat melihat kemarahan yang ada dalam sorot mata Ardan. Sama halnya saat Teddy melihat Ardan jatuh cinta, ini juga pertama kalinya Ardan melihat begitu penuh kobaran api kemarahan. Bahkan saat dulu Ardan tahu ada fotografer yang menggoda Marsha, ia tidak semarah ini. Tatapan mata Ardan kini terlihat seperti orang yang mampu membunuh.
Lima belas menit kemudian mereka tiba disebuah rumah sakit swasta. Elif tentu saja segera ditangani tanpa bertele-tele dan prosedur yang panjang. Elif segera dilarikan ke unit gawat darurat dalam keadaan yang tidak sadarkan diri.
Ardan begitu menyesal karena merasa telah gagal melindungi orang yang ia cintai. Ia memukul-mukul dinding dengan sangat kuat sampai buku-buku jarinya berdarah. Ia terus seperti itu dengan air mata yang entah sejak kapan sudah mengalir keluar dari matanya.
"Tenang Pak, tenang." Teddy segera menghentikan Ardan begitu melihat atasannya itu begitu frustasi.
Ardan kemudian bersandar lemas pada dinding lalu merosot. Ia meremas rambutnya sendiri.
"Pak," Teddy menghampiri. "Nona Elif pasti akan baik-baik saja."
"Tapi kenapa, Ted? Kenapa Elif selalu menderita seperti ini? Apa salahnya? Kenapa hidup sungguh tidak adil padanya?"
Teddy terdiam. Lagi-lagi ini adalah kali pertamanya ia mendengar seorang Ardan begitu frustasi. Begitu seperti kehilangan arah. Penampilannya bahkan tidak terlihat seperti Ardan yang selama ini Teddy kenal.
"Dulu dia hampir kehilangan nyawanya di waduk. Lalu sekarang ini!" Ardan menepuk-nepuk dadanya. Sakit sekali rasanya hati Ardan. Apa lagi mengingat rekaman vidio saat Kinan menendangi perut Elif tanpa belas kasih. Nyeri sekali melihatnya. Bagaimana bisa ada manusia yang seperti itu?
"Ted, aku tidak mau mereka hanya dipecat. Aku akan menuntut mereka bertiga. Aku pastikan mereka harus membusuk di dalam penjara."
"Baik Pak, saya akan hubungi pengacara kita."
"Pastikan mereka bertiga tidak melarikan diri."
Teddy mengangguk, kemudian mulai mengeluarkan handphonenya dan menghubungi orang-orangnya untuk meneruskan perintah Ardan.
***
Apa yang terjadi? Seingatnya terakhir kali ia sedang bertengkar dengan Kinan di kamar mandi, masih terasa sakitnya saat Kinan dengan sangat kasar menjambak rambut Elif, kemudian menamparnya, lalu melemparnya ke lantai, dan kemudian Kinan dengan brutalnya menendangi perutnya. Elif tidak berteriak saat itu, ia tidak mau terdengar lemah sampai kemudian ia tidak ingat apa-apa lagi.
Tanpa ia sadari, air mata menetes dari sudut mata kirinya, Elif pun menengok ke kanan untuk mengusap air matanya dengan tangan kanannya yang tidak terdapat infus disana, betapa terkejutnya ia melihat seseorang ada disana, duduk di samping tempat tidur dengan melipat kedua tangannya di depan dada, dasinya sudah tidak terikat sempurna, kancing teratas kemeja hitamnya terbuka, jas yang biasa selalu melengkapi penampilannya sudah ditanggalkannya, kepalanya terkulai menunduk, jelas pria itu ketiduran.
Perasaan campur aduk dalam hati Elif melihat bagaimana Ardan berada dalam posisinya seperti itu. Ada perasaan haru, ada perasaan benci, ada perasaan kesal. Bagaimana Ardan bisa berada disana? Apakah Ardan yang menemukannya di kamar mandi? Apakah Ardan juga yang membawanya ke rumah sakit?
Tiba-tiba pintu kamar dibuka. Entah kenapa Elif langsung pura-pura memejamkan matanya.
"Pak," suara Teddy terdengar.
"Ya," suara Ardan. "Bagaimana?"
"Belum ada kabar, Pak. Tapi orang-orang kita masih terus mencari, kepolisian juga." jawab Teddy.
Terdengar Ardan menghela napas kasar.
"Kita harus secepatnya menemukan Kinan, Ted. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri kalau orang itu tidak segera dihukum." Suara Ardan bergetar. Ada penyesalan terdengar dalam suara bariton Ardan.
Apakah itu benar-benar suara Ardan? Elif membatin. Ia masih memejamkan matanya.
"Aku juga tidak akan pernah memaafkan diriku kalau sampai Elif..."
"Jangan khawatir, Pak. Nona Elif adalah gadis yang kuat, Nona pasti akan baik-baik saja."
Nona? Pak Teddy memanggilku Nona?
Terdengar Ardan menghela napas panjang penuh kepasrahan.
"Bagaimana dengan orang tua Elif?"
"Saya sudah mengabari Tuan Yanuar dan Ibu Zahra kalau Nona Elif, Anda, dan beberapa staf kantor harus ke luar kota untuk urusan pekerjaan."
"Baiklah, Elif akan dirawat beberapa hari, dan aku tidak bisa membawa Elif pulang ke rumahnya dalam keadaan seperti ini."
Bisa-bisanya mereka membohongi orang tuaku!
Tangan Elif digenggam Ardan, sekuat tenaga Elif berusaha untuk tidak bereaksi sekecil apa pun. Walaupun sebenarnya ia sangat ingin menarik tangannya dan menampar Ardan.
"Ibu Zahra akan sangat khawatir jika melihat apa yang terjadi pada Elif. Ibu Zahra pasti sudah lelah dengan merawat Pak Yanuar yang masih dalam penyembuhan, biar aku merawat Elif dulu sampai sembuh, setelah itu aku akan menjelaskan semuanya pada keluarga Elif apa yang terjadi sebenarnya."
"Baik Pak."
Apa barusan Ardan bilang? Dia yang akan merawatku? Dia juga akan menjelaskan semuanya pada ayah dan ibu? Omong kosong! Manusia gila pencitraan seperti Ardan mana mungkin mau membuat namanya jelek dengan menceritakan apa yang terjadi padaku pada ayah dan ibu, itu hanya akan membuat namanya jelek. Karena apa yang tejadi padaku tentu saja semua karena keegoisan Ardan!
"Aku rasa aku tidak bisa membiarkan Elif hilang dari pandanganku lagi, Ted." kata Ardan. Tangannya dengan lembut mengelus punggung tangan Elif. Meski Elif sedang merasa dongkol dengan Ardan, tapi sesuatu membuat darahnya berdesir.
"Aku akan segera menikahi Elif."
"Apa?!" Refleks Elif menarik tangannya.
"Elif?" Ardan melongo. "Kau sudah bangun?"