HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Cerita Adit tentang Elif.



Elif memang anak pertama dari Zehra dan juga Yanuar. Dalam ingatan Adit, ia tidak pernah melihat kakaknya melakukan kesalahan tapi ayah selalu saja sinis dan galak padanya, selalu membandingkan Elif dengan Adit tanpa sebab, selalu marah-marah pada Elif padahal Elif tidak melakukan apa-apa, selalu mengatakan Elif anak yang tidak bisa diandalkan dan hanya menjadi beban saja. Sampai suatu ketika Elif pernah bercerita pada Adit bahwa dulu saat Adit masih kecil, ibu pernah meminta Elif untuk menjaga Adit. Saat itu mereka sedang jalan-jalan di sebuah waduk. Ibu mengajak Elif dan Adit karena tidak tahan melihat Elif yang bersedih karena diomeli Ayah hanya karena tidak sengaja menumpahkan secangkir teh manis. Saat itu Elif masih sekolah SMP.


Akhirnya ibu membawa Elif dan Adit jalan-jalan setelah ayah pergi ke kantor. Saat ibu harus membeli sesuatu di warung yang ada di sekitaran waduk, Elif diminta ibu untuk menjaga Adit sebentar, tapi Adit yang masih kecil saat itu begitu sulit diatur dan masih begitu semangat berlarian di tepi waduk. Adit masih ingat bagaimana Elif yang khawatir dan takut meminta Adit untuk berhenti berlari di tepi waduk sampai mereka sampai ke sisi yang tidak terlalu banyak orang.


Adit masih tertawa-tawa senang berlari di atas sebuah pembatas yang biasa dijadikan tepian orang-orang untuk duduk dan menikmati hari yang indah. Tapi rupanya hari itu tidak seindah kebanyakan yang orang-orang nikmati, saat Adit hendak berbalik ia terpeleset dan jatuh ke dalam waduk, Elif tidak memikir dua kali lagi untuk menerjunkan diri dan menyelamatkan Adit yang belum bisa berenang. Elif berhasil membuat Adit naik ke tepian tapi Adit menangis karena sendalnya lepas di dalam air, akhirnya Elif kembali ke dalam air. Melihat anaknkecil duduk di tepi waduk dengan keadaan basah kuyup dan batuk-batuk, orang-orang pun mulai ramai berdatangan dan menolong Elif, Adit yang terkejut dengan banyaknya orang-orang itu malah menangis.


Tidak ada yang tahu bahwa ada satu orang yang berada di bawah air, memegang satu sendal dengan gambar Batman berusaha untuk keluar dari air tapi tidak bisa karena kakinya tersangkut sesuatu di dalam sana, entah apa itu. Sampai Elif tidak bisa menarik dirinya sendiri ke luar. Sementara orang-orang diatas permukaan malah sibuk menenangkan Adit yang menangis.


Sampai Zehra datang dan langsung memeluk Adit, melihat satu anaknya lagi tidak ada, Zehra bertanya pada Adit dimana Elif, meskipun orang-orang sudah mengatakan kalau mereka hanya menemukan Adit sendirian. Tapi Adit pun akhirnya menunjuk air sambil sesegukan, ia mengatakan kakaknya sedang mengambil sandalnya yang lepas, tapi belum keluar.


Seketika itu juga Zehra berteriak dan salah satu dari kerumunan orang-orang itu langsung lompat turun ke dalam air. Ia bukan pria dewasa, mungkin hanya seorang remaja dengan postur tubuh yang tinggi. Remaja itu harus sampai dua kali mengambil napas ke permukaan dan akhirnya bisa membawa tubuh Elif ke atas permukaan air dalam pelukannya. Orang-orang pun seketika langsung membantu mengangkat Elif yang tidak sadarkan diri, tangan kirinya masih memegang sandal batman milik Adit.


Remaja itu tanpa banyak omong langsung melakukan tindakan CPR dimana orang-orang hanya berisik untuk melakukan ini dan itu tanpa benar-benar menolong. Zehra sudah berderai air mata sambil memeluk Adit, melihat Elif yang masih tidak sadar meski sudah dibantu dengan napas buatan remaja yang menolongnya tadi.


Sampai akhirnya usaha remaja itu tidak sia-sia, Elif pun terbatuk, mengeluarkan air dari mulutnya, ia sadar dan malah minta maaf pada Adit karena hanya bisa menemukan sebelah sandalnya.


Tapi rupanya apa yang telah dilakukan Elif malah dianggap keteledoran oleh Yanuar, ayah sangat marah saat itu pada Elif sampai hampir memukulnya dengan sapu kalau saja Zehra tidak menahannya. Ia menganggap Elif telah membuat Adit celaka dan hampir tenggelam, meskipun Zehra sudah menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, Zehra juga memberitahukan bahwa Elif yang malah hampir kehilangan nyawanya. Tapi Yanuar tidak peduli, ia tetap menganggap Elif teledor dan salah dan tidak berguna sebagai anak dan juga sebagai kakak.


Elif tidak pernah mendapatkan perhatian apa pun sejak itu. Ayah selalu mengutamakan Adit dan tidak memperdulikan Elif. Tidak pernah memuji Elif saat Elif mendapatkan prestasi di sekolahnya. Kejadian di waduk benar-benar menjadi sebuah titik tertinggi kebencian Yanuar pada Elif sampai Elif dewasa. Yanuar bahkan pernah mengatakan kalau Elif seharusnya tidak pernah ada di dalam keluarga ini karena ia adalah pembawa sial.


Adit tidak pernah tahu apa maksud ayahnya, tapi yang jelas ayah sudah tidak menyayangi Elif bahkan sebelum kejadian di waduk.


***


Adit mengusap wajahnya yang basah, ia menyangka akan sangat sentimental menceritakan kenangan pahit di waduk saat itu. Kalau saja dirinya tidak berlarian dan mendengarkan Kakaknya untuk berhenti, mungkin ayah tidak akan sampai membenci Elif sampai bertahun-tahun seperti ini.


"Adit benar-benar tidak pernah bisa memaafkan diri Adit, Bang. Kakak hampir kehilangan nyawa karena Adit, tapi Ayah malah membencinya."


Ardan pun menenangkan Adit untuk tidak perlu lagi menangis.


"Kau tahu, sepertinya semua hari-hari berat yang dilalui Kakakmu telah berakhir."


"Maksudnya?"


"Hari ini di rumah sakit Ayahmu meminta maaf atas semua sikapnya pada Elif selama ini."


"A-Ayah minta maaf, Bang? Ayah?"


Ardan mengangguk tersenyum. "Ayah juga mencium kening Elif dan memanggilnya 'anakku'." sambung Ardan.


Mendengar hal itu Adit kembali menangis sambil tertawa. Ah, rupanya Adit sudah terlanjur sentimental, air mata cepat sekali keluar dari matanya. Anak itu langsung bergegas pergi menuju kamar Elif.


"Ted, aku ingin semua detail informasi apa masalah ayah mereka pada Elif, Adit bilang, sebelum kejadian di waduk itu, ayah mereka sudah selalu sinis dan galak pada Elif. Aku ingin tahu apa penyebabnya."


"Baik Pak." Seperti biasa Teddy tidak pernah menolak.


Tanpa terasa dan ngobrol bersama Adit membuat Ardan lupa waktu. Rasanya senang sekali ada yang memanggilnya Abang dan bisa ngobrol layaknya adik dan kakak. Selama ini Ardan hanya sendiri, tidak ada adik pun kakak. Bertemu Adit dan langsung dianggapnya Abang di hari pertama mereka bertemu benar-benar sesuatu bagi Ardan.


Dan sampai Ardan beranjak ke luar rumah pun Elif tetap mengunci dirinya di dalam kamar, dia tidak keluar sama sekali dari kamarnya.


"Abang benar tidak sedang bertengkar dengan Kak Elif?"


"Tidak. Kakamu hanya sedang bad mood saja. Pastikan saja nanti Kak Elif tetap makan ya."


"Siap Bang!"


"Ya sudah Abang balik dulu ya."


Sepanjang perjalanan menuju apartemen tak hentinya otak Ardan memikirkan Elif. Apa yang telah dilaluinya selama ini pastilah tidak mudah. Dibenci oleh ayahnya sendiri tanpa dia tahu apa alasannya pasti sangatlah menyakitkan. Sementara dirinya, kedua orang tuanya begitu menyayanginya dan memenuhi semua kebutuhannya, ayahnya hanya memiliki satu permintaan yaitu meneruskan bisnis yang telah dibangun Tuan Demir dari nol. Dan permintaan mamanya hanya ingin Ardan berkeluarg, tapi ia merasa hidup seolah tidak memberinya pilihan untuk menentukan jalannya sendiri.


Nyonya, oh, Nyona, anak Anda benar-benar jatuh cinta.


Sesampainya di apartemen, ia langsung membersihkan diri, dan merebahkan dirinya di atas ranjang. Tidak ada Elif yang ikut dan menyiapkan makan malam untuknya. Ah, dia merindukan moment-moment itu, melihat Elif yang memasak di dapurnya, rambutnya yang diikat dan sedikit berantakan, bahkan wajahnya yang tidak tersenyum membuat Elif benar-benar terlihat begitu bersinar di mata Ardan.


Deg!


Tiba-tiba Ardan kembali teringat tentang cerita waduk itu. Dan sandal bergambar batman yang diambil Elif saat itu.


Ya Tuhan! Jangan-jangan...