HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
From hate to be friend.



"Hooeeekkk! Hoooeeekkk!"


Untungnya Elif sudah menyelesaikan makan siangnya saat Ardan tidak lagi bisa menahan rasa mualnya setelah menghabiskan sebungkus bubur ayam yang dia makan dengan ekspresi sok menikmati sebelumnya.


Tak lama kemudian Ardan keluar dengan wajah memerah karena menahan malu untuk melihat Elif yang sudah nyengir kuda.


"Kenapa harus memaksakan diri makan bubur segala kalau perut Anda tidak bisa menerimanya?" tanya Elif sambil terkekeh. "Kan jadinya sekarang malah jadi kocak, seorang Ardan Mahesa Demir yang gagah dan tampan tidak bisa makan bubur ayam."


Tapi ternyata ucapan Elif malah menjadi bumerang sendiri.


"Apa tadi kau bilang? Coba ulangi lagi."


"Apa? Anda tidak bisa makan bubur ayam?"


"Sebelum itu."


"Eh-" Aduh, aku keceplosan! "Anda jadi kocak."


"Sesudah itu." Ardan menyeringai jelas menggoda Elif.


"Ehm, baiklah, karena Anda bisa dibilang belum makan, jadi aku sudah pesankan pizza via online." Elif menunjukkan layar monitornya.


"Kenapa kau jadi mengalihkan pembicaraan?"


"T-tidak."


Ardan terkekeh gemas.


"Baiklah, baiklah. Setidaknya kau sudah mengakui kalau aku gagah dan tampan. Hahahah!"


"Hih, puas sekali tertawanya. Memangnya tidak ada yang pernah memuji Anda?"


"Yang benar adalah, tidak ada yang tidak memujiku." kata Ardan dengan sangat percaya dirinya.


"Mungkin hanya karena mereka tidak tahu Anda muntah-muntah setelah makan bubur ayam." Elif kembali tertawa sampai memegangi perutnya.


"Nah, nah, lihat kan, kau tidak boleh meledekku."


"Lagian lucu sekali, kenapa sampai tidak suka bubur ayam?"


"Setiap orang itu punya kelemahan, Nona."


"Kelemahan Anda cukup aneh untuk ukuran seseorang yang terlihat seperti tidak mempunyai kelemahan."


"Ah, kau tahu Iko Uwais? Aktor laga yang sebegitu hebatnya bertarung saja bisa kabur hanya karena ada kerupuk. Masih mending aku, aku masih bisa menelannya."


"Meski dikeluarkan lagi. Hahahaha!"


Senang sekali rasanya bagi Ardan untuk bisa melihat Elif tertawa dan tersenyum karenanya, meskipun dia harus terlihat payah di depan gadis yang disukainya. Benar-benar tidak keren sama sekali. Tapi siapa yang menyangka, menjadi tidak keren malah bisa membuat dirinya mendapatkan Elif tertawa.


"Oke, cukup tertawanya."


"Baik Pak, maaf." Elif menahan sisa tawanya.


"Karena kau sudah puas mentertawaiku, maka kau harus membayarnya."


"Hah? Apa? Membayar? Ya ampun, benar-benar membuat saya speechless." Elif melongo.


"Hahahaha! Kau harus lihat ekspresi mu. Tunggu-tunggu, jangan merubah ekspresi itu!" Ardan langsung mengeluarkan handphonenya dengan cepat dan memotret Elif.


"Ihh, apaan sih Pak! Hapus Pak, hapus!" Protes Elif, tapi tidak bisa banyak bergerak membuat Ardan jadi bertingkah aneh joget-joget tidak jelas dan membuat Elif jadi tertawa terpingkal-pingkal. Masalahnya postur tubuh Ardan sangat tidak cocok untuk berjoget ala-ala dangdut. "Perut saya sakit! Hahaha!"


"Baiklah jangan tertawa lagi." Ardan juga ikut terkekeh dan menyudahi pertunjukan jogetnya yang gerakannya lebih kaku dari gerakan robocop.


"Aku serius Elif, kau harus membayar karena sudah mentertawaiku dengan sangat puas sekali. Kau tahu, kau orang pertama yang mentertawai dan mengejekku dengan tanpa rasa takut." Ardan duduk di tepi ranjang, tepat disebelah kaki Elif.


"Huh, padahal tadi bilang mau membelikan seblak dan perusahaannya, sama mau belikan saya sawah juga, tapi malah suruh saya bayar hanya karena mentertawai Anda." Omel Elif sambil manyun-manyun. Pemandangan yang membuat Ardan tersiksa karena harus menahan diri untuk tidak mencium Elif saat itu juga. Astaga, padahal selama berpacaran dengan Marsha saja Ardan tidak pernah mempunyai keinginan untuk mencium Marsha Ciuman yang diberikan hanya di pipi, itu pun lebih karena kepentingan media. Tapi melihat Elif memanyunkan bibir membuat sebuah hasrat timbul dalam diri Ardan yang harus dia paksa untuk tidak meledak. Dan itu benar-benar menyiksa jiwa dan raga.


"Ehm," Ardan berdeham sebentar untuk mengalihkan rasa gugupnya. "Aku tidak memintamu untuk membayar dengan uang. Kau tahu kan, aku bahkan tidak tahu bagaimana menghabiskan uangku."


"Sombong amat! Lalu Anda minta saya bayar pakai apa?"


"Kau."


"Hah?!" Elif langsung menyilangkan kedua lengannya di depan dada.


"Hei, kenapa kau selalu saja berpikiran negatif padaku?" Protes Ardan.


"Lagian Anda sangat ambigu, Pak."


Ardan malah terkekeh.


"Jadi maksud Anda apa?"


"Aku ingin kau dan aku... berteman."


"Hah? Saya dan Anda?" Elif menunjuk dirinya dan Ardan dengan tatapan yang tidak percaya tentu saja dan kemudian tertawa.


"Kenapa tertawa? Aku serius."


"Tapi kenapa? Kenapa Anda ingin berteman dengan saya?"


"Aku... aku rasa, aku tidak bisa jauh darimu. Karena jelas kau sudah menolak hatiku yang rapuh ini, jadi aku hanya bisa berteman saja denganmu. Aku rasa... jika kita berteman, kita bisa dekat. Maksudku, hmmm kita bisa saling mengenal. Aku tidak akan menutupi apa pun tentang aku padamu. Aku hanya akan menjadi diriku sendiri, hmmm aku..."


"Baiklah." potong Elif tiba-tiba.


"Eh?"


"Baiklah kita berteman."


"Tunggu, tunggu, jangan ubah ekspresi Anda!" Elif langsung mengarahkan kamera belakang handphonenya ke wajah Ardan. Kemudian ia menunjukkan ekspresi Ardan yang terkejut lucu.


"Satu sama! Hahaha!" Pekik Elif.


Ardan pun tertawa sambil mengusap-usap tengkuk lehernya.


"Kalau Anda tidak menghapus potoku, saya juga tidak akan menghapus poto Anda." Ancam Elif yang mana malah membuat Ardan kegirangan.


"Baiklah, aku tidak akan pernah menghapus potomu. Aku juga akan menyimpannya di laptop, oh aku juga akan mencetaknya dan memasangnya di kamar tidurku. Bagaimana?"


"Kenapa Anda jadi kesenangan begitu? Padahal saya tadi mengancam Anda."


"Kau ini lucu sekali, tentu saja aku senang. Aku tidak perlu memintamu untuk menyimpan potoku, tapi kau suka rela akan menyimpannya kalau aku tidak menghapus potomu, kau pikir ada terbesit keinginan aku untuk menghapus potomu?" Ardan terkekeh.


Elif berdecak. Merasa salah mengambil tindakan.


"Baiklah, aku akan menghapus saja poto Anda."


Cepat Ardan langsung menahan tangan Elif dari aksinya untuk menghapus satu-satunya poto wajah tampannya yang terlihat lucu pada handphone wanita yang disukainya


"Jangan dihapus, jangan dihapus!" Pintanya. "Lütfen (please)." Ardan memohon dalam bahasa Turki. Bukannya sengaja, tapi terkadang hanya terucap begitu saja.


Elif menimbang permohonan Ardan. Sepasang mata itu terlihat begit memelas sampai membuat Elif tidak tega.


"Tamam. (baik)" Sahut Elif.


"Eh, kau bisa bahasa Turki juga?" Ardan terkejut.


"Anda lupa saya bisa beberapa bahasa?"


"Huh, kenapa kau harus menolakku?" keluh Ardan kemudian.


"Geez, barusan saja Anda memintaku untuk berteman dengan Anda, dan sekarang Anda mengeluh. Ck, teman macam apa?"


"Baik, baik, aku tidak akan mengeluh. Aku akan menjadi manusia paling bersyukur di muka bumi ini."


"Lebay."


"Jadi, kita berteman?"


"Ya."


"Baiklah, satu permintaan lagi kalau begitu."


"Ih, banyak sekali permintaannya?"


"Hanya satu."


"Apa?"


"Jangan lagi memanggilku 'Pak', 'Anda', 'Saya-Anda.' Kau bisa lebih santai saja padaku mulai hari ini. Bagaimana?"


"Hmmm, baiklah, tapi kalau dalam keadaan formal pekerjaan, aku tetap memanggilmu seperti biasa."


"Deal!" Ardan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan disambut oleh Elif disertai tawa keduanya.


"Oke, karena sekarang kita sudah berteman," kata Elif. "Aku ada satu permintaan juga."


"Apa itu, katakan saja."


Elif menggerakkan jari telunjuknya untuk membuat Ardan lebih mendekat padanya. Tentu saja itu membuat Ardan bingung dan gugup. Tapi Ardan tidak menunjukkan kegugupannya. Ia pun mencondongkan tubuhnya dan seketika Elif menarik kuping Ardan.


"Aaaakkkh!"


Elif tertawa kemudian, melepaskan jewerannya, melihat puas Ardan yang kesakitan mengusap daun telinganya yang merah.


"Maaf, tapi sejak dulu aku ingin sekali menjewer telingamu." Gadis itu tertawa lagi.


You're such an addorable girl. Ardan membatin. Tak apa. Ardan rela. Ah, apakah Ardan jadi terlihat seperti budak cinta? Duh!


"Eh, ini abang antar pizza nya sudah sampai di depan pintu masuk."


"Kenapa tidak minta untuk naik ke atas sini saja. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian hanya untuk ambil pizza."


"Aku tidak akan kenapa-kenapa."


"Aku akan membayarnya dua kali lipat."


Elif berdecak. Tapi Ardan tetap pada pendiriannya.


"Aku sudah membayarnya dengan poin onlineku."


"Aku akan membayar abang kurir itu cash. Dua kali lipat dari harga yang seharusnya. Bukankah itu jadi rejeki nomplok untuknya?"


"Tapi-"


"Dia bisa membeli tiga loyang untuk keluarganya."


"Baiklah! Akan aku minta abangnya naik kesini!"


Ardan tersenyum puas melihat Elif akhirnya menghubungi kurir pengantar pizza itu untuk mengantar ke kamar VVIP, tak lupa meminta maaf kalau permintaannya merepotkan kurir itu, padahal nantinya Ardan akan membayar kurir itu dua kali lipat.


Ada perasaan kagum pada gadis di depannya itu. Seperti tak ada habisnya Elif membuat dirinya terkejut karena kagum. Elif yang terlihat biasa saja bisa mempunyai sejuta hal yang membuat hatinya kagum dan terus-terusan jatuh hati.


Tak apa walau kita hanya berteman, jika memang dengan begitu bisa membuatku dan selalu dekat dan menjadi dekat. Aku tidak akan lagi memaksamu untuk menerima hatiku, tapi aku akan berusaha untuk membuatmu jatuh cinta padaku. Batin Ardan.


Ya ampun, aku benar-benar tidak terdengar seperti diriku, apakah aku sudah menjadi bucin? Entahlah, yang jelas perasaan ini tidak lagi bisa aku pungkiri. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku sudah tersihir olehnya.