HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Ardan jatuh cinta.



Sebuah kenangan pada masa lalunya membuat Ardan segera bangkit, bergegas sampai hampir terlepeset untuk masuk ke dalam walk in closet. Ia membuka lemari paling ujung kemudian berjongkok untuk mengambil sebuah kotak yang ia simpan sejak bertahun-tahun lamanya.


Jantungnya bertalu-talu tak karuan, napasnya memburu seperti sedang berlari. Tangannya perlahan membuka tutup kotak persegi itu. Sebuah sandal kecil yang hanya sebelah bergambar batman yang sudah terkelupas ada di dalam kotak kecil itu.


Mungkin kah, gadis yang dia tolong bertahun-tahun lalu itu adalah Elif? Dan sandal ini adalah sandal Adit? Apakah mungkin bisa begitu?


***


Beberapa tahun yang lalu.


Saat itu Ardan sangat kesal dengan papa dan mamanya, ia merasa hidupnya sangat terkekang oleh segala aturan yang mengharuskannya untuk les ini, les itu, kursus ini, kursus itu, dan semua itu diberikan ayahnya untuk membekali Ardan dengan ilmu bisnis. Rasanya Ardan sudah sangat muak. Ia bahkan sampai tidak disekolahkan di sekolah-sekolah pada umumnya, sekolah yang ia jalani begitu masuk SMP adalah sekolah yang diperuntukkan untuk mempelajari semua hal tentang bisnis, dimana sekolah itu tidak mempunyai banyak siswa. Karena kuotanya terbatas dan biayanya sangat mahal. Sudah pasti lah anak-anak penerus bangsa yang bersekolah itu tempat itu akan manjadi bibit-bibit unggul untuk memajukan perekonomian bangsa. Begitu lah kira-kira visi dan misi sekolah tersebut.


Dan Ardan benar-benar sudah tidak tahan. Dia tidak mempunyai banyak teman, atau bisa dibilang dia tidak bisa berteman dengan siapa-siapa di sekolah itu. Hampir semua murid di sana adalah anak-anak kutu buku. Hidupnya cukup kesepian, sebagai anak tunggal Ardan mengharapkan mempunyai teman disekolah, tapi nyatanya orang tuanya malah memasukkannya ke sekolah yang sama sekali bukan impian Ardan, tidak ada teman-teman semasa SD nya yang masuk ke SMP itu.


Ia begitu jenuh, dan rasanya ingin bunuh diri saja. Ia merasa tidak bisa menggapai mimpinya untuk menjadi seorang atlet renang. Mamanya bahkan sudah mulai mencarikan jodoh masa depan untuk Ardan pada anak dari teman-teman sosialitanya.


Jadilah, sore itu, Ardan kabur dari rumah, hanya membawa satu ransel yang tidak berisi baju melainkan makanan-makanan ringan. Karena memang kaburnya Ardan ini hanya untuk sekedar melepas penat dan kejenuhan, Ardan memilih sebuah tempat rekreasi sederhana dengan sebuah waduk yang menjadi pemandangan terbaiknya, yang Ardan pikir orang tuanya tidak akan mungkin terpikirkan kalau Ardan berada di tempat itu.


Dengan posturanya yang sudah sangat tinggi, tidak akan ada orang yang mengira kalau ternyata dirinya masih anak di bawah umur yang lagi luntang-lantung mencari penghiburan diri dengan duduk di tepi danau, merenungkan nasib, berusaha untuk positif thinking, dan mensyukuri hidupnya saja sambil menikmati sebungkus demi sebungkus cemilan yang dibawanya.


Dari tempatnya ia duduk, jauh di sisi yang lain waduk itu, ia melihat ada seorang anak kecil berlarian di pembatas batu yang didirikan untuk tempat duduk-duduk seperti yang dilakukan Ardan saat ini. Anak kecil itu berlari diikuti seorang gadis yang terlihat seperti menyuruhnya untuk berhenti, dan hal yang ditakutkan pun terjadi, anak kecil itu terpeset dan jatuh ke dalam air.


Melihat kejadian itu Ardan sampai tersedak cemilan yang sedang dikunyahnya. Buru-buru Ardan menenggak minumannya kemudian tanpa pikir panjang lagi, Ardan meninggalkan ranselnya dan segera berlari menuju lokasi tempat ia melihat anak kecil itu tercebur yang jaraknya lumayan jauh. Sesampainya disana, anak itu sudah kembali ke atas dengan tubuhnya yang basah kuyup dikerumuni orang-orang, terdengar suaran panik ibunya yang menanyakan kakaknya, anak kecil itu pun menunjuk air, tanpa pikir panjang lagi, Ardan segera menceburkan diri ke dalam waduk itu.


Sangat tidak mudah baginya untuk melihat dengan jelas di bawah air yang cukup butek itu. Ia sampai harus naik ke permukaan untuk mengambil napas dua kali, baru lah ia seseorang dengan kaki yang tersangkut kumpulan sampah plastik yang cukup banyak sampai seperti jaring-jaring dan membuat kaki gadis itu terjebak disana. Ardan dengan cepat melepaskan kaki gadis yang sudah tidak bergerak itu dan membawanya ke permukaan.


Orang-orang terdengar heboh saat Ardan membaaa keluar seorang gadis dari dalam air. Karena sepertinya dari mereka tidak tahu kalau anak kecil itu tidak sendirian, jadi tidak ada yang langsung mencarinya sampai ibunya datang dan bertanya. Setelah Elif sudah berada di atas, tidak ada satu orang pun yang melakukan CPR atau penanganan pertama pada korban yang tenggelam di dalam air. Jadi, begitu Ardan keluar dari dalam air ia langsung melalukan tindangan CPR tanpa bertanya dulu, ia hanya melakukan apa yang seharusnya ia lakukan saja.


Ayolah, ayolah, bangun! Jangan pergi tinggalkan adikmu seperti ini! Ayo bangun!


Ardan terus saja membatin sampin melakukan CPR dan bantuan napas buatan. Sampai akhirnya gadis itu terbatuk-batuk.


Melihat anak gadisnya selamat, ibunya langsung memeluknya, menciuminya. Begitu pun dengan adiknya yang menangis sambil memeluki kakaknya.


"Sandalnya hanya ketemu satu, Dit." ucap Gadis itu sebelum diboyong warna untuk dibawa ke rumah sakit.


"Terima kasih, ya, Nak. Ibu tidak tahu apa yang akan terjadi pada anak Ibu kalau tidak ada dirimu yang langsung memberikan pertolongan pertama tadi." kata ibu dari gadis dan anak kecil laki-laki yang digendongnya.


"Sama-sama, Bu." jawab Ardan, namun Ardan paham ibu itu tidak bisa berlama-lama mengucapkan terima kasih, karena harus segera menyusul anak gadisnya.


Tinggallah Ardan disana, dengan basah kuyup, sedikit batuk karena menelan air waduk yang kotor dan mengumpat pada orang-orang jenis tidak ramah lingkungan, membuang sampah ke dalam waduk sampai sampah itu bertransformasi menjadi sebuah jebakan yang bisa mencelakai siapa pun.


Kemudian ia melihat sesuatu di bawahnya, sesuatu yang menjadi alasan kenapa gadis itu terjebak di dalam air. Sebuah sandal dengan gambar batman yang sudah terkelupas sedikit.


"Semoga kau baik-baik saja." ucap Ardan melihat gadis itu dibawa salah satu warga yang membawa mobil, bersama ibu dan adiknya.


***


Ardan tersentak kaget sendiri melihat pantulan dirinya pada cermin, kemudian ia mendekat dan melihat lebih dekat pantulan dirinya. Ia ingat sekarang, wajah ibu dari gadis dan anak kecil itu adalah wajah wanita yang ia temui tadi di rumah sakit. Wanita yang mengucapakan terima kasih dengan sorot mata penuh haru dan syukur. Meski penampilannya sudah berubah, namun sorot mata itu masih sama.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Elif. Tidak akan." ujar Ardan. "Bersiaplah karena kau akan menjadi Tuan Putriku."


Ardan kembali melihat sandal itu, "Sayang, itu sandal sebelah milik Adit, kalau saja itu milikmu aku akan melakukan sayembara." Lalu terkekeh sendiri.


"Kau tahu Elif, sepertinya kita memang ditakdirkan bersama. Ini mungkin yang disebut berjodoh. Ya ampun, pertemuan kita bahkan selalu diawali dengan dirimu yang pinsan. Dan, ha! Aku memberimu napas buatan! Bukan kah itu artinya aku sudah mencuri ciuman darimu?"


Ardan kembali tertawa, ia keluar dari dalam walk in closet sambil mengusap-usap dada bidangnya sendiri merasakan sensasi aneh pada hatinya yang memberikan efek bibirnya tersenyum lebar, kemudian melemparkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Aku jatuh cinta! Aku jatuh cinta pada gadis yang sudah dua kali aku selamatkan, pada gadis yang meneriaki ku penculik, pada gadis yang selalu memandangku sinis. Ya Tuhan... apakah ini jawaban atas semua doa Mama?"