HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Kau Dimana?



Ardan dan Teddy baru saja keluar dari pusat kendali lalu lintas dan cctv kota, setelah 3 jam berada disana namun tidak membuahkan hasil. Mereka tidak menemukan jejak keberadaan Elif. Dari ribuan CCTV, tidak ada satu pun yang menangkap keberadaan Elif dimana pun. Mereka sudah pergi ke setiap masjid dan mushola terdekat yang memungkin kan Elif untuk beresembunyi dari ayahnya dan meminta pertolongan. Tapi tidak ada, orang-orang disekitar ada yang melihat wanita yang digambarkan ciri-cirinya oleh Ardan dan Teddy mengatakan bahwa wanita itu berlari ke arah sana, sana, sana dan sana. Tidak ada keterangan tempat yang meyakinkan. Membuat Ardan semakin frustasi saja.


"Kau dimana Elif? Kau dimana?" ujar Ardan merasa putus asa. Mungkin ini adalah kali pertama dalam hidupnya Ardan merasa tidak berdaya dan putus asa.


"Kita pasti bisa menemukan Nona Elif, Pak." kata Teddy.


"Berapa banyak orang yang sudah kita kerahkan untuk mencari Elif? Berapa banyak cctv yang kita periksa tadi? Sudah berapa jam ini berlalu? Apa ada tanda-tanda kita menemukan Elif?" Ardan meremas rambutnya sendiri. "Kakinya bahkan terluka, seberapa jauh dia bisa berlari, Ted? Oh Tuhan..."


"Apakah kita harus ke rumah Mona dan Yura, Pak? Siapa tahu Nona Elif memutuskan untuk berada di salah satu rumah sahabatnya?"


"Benar, benar, kita kesana. Apa kau tahu alamat mereka?"


"Saya akan segera mencari tahunya, Pak." Teddy langsung mengeluarkan handphonenya, menghubungi seseorang. Dan dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Teddy sudah mendapatkan alamat Mona dan Yura. Mereka pun segera bergerak menuju rumah Yura terlebih dahulu.


Lima belas menit kemudian Teddy dan Ardan tiba dikediaman Yura yang cukup besar, tepat mereka berhenti di depan gerbang, saat itu juga mobil Yura datang. Gadis chubby itu segera turun menghampiri Ardan dan Teddy yang keluar dari dalam mobil.


"Kak Ardan? Pak Teddy? Ada apa?" tanya Yura setelah meminta supir masuk saja lebih dulu dengan mobilnya. "Elif mana?" Yura mencari.


Mendengar Yura yang mencari Elif, maka dapat diambil kesimpulan Yura tidak tahu apa yang telah terjadi pada sahabatnya itu. Tentu saja itu membuat Ardan putus asa dan semakin khawatir.


"Ada apa Kak?" tanya Yura lagi, ia jadi ikut panik melihat ekspresi Ardan.


"Elif hilang." jawab Ardan singkat.


"Apa? Hilang? Hilang bagaimana?"


"Aku juga tidak tahu. Elif dan Pak Yanuar... terjadi sesuatu yang membuat Elif kabur dari rumah." jawab Ardan. "Baiklah, bisa kau bantu aku kemana biasanya Elif kabur atau pergi jika sendirian?"


Yura menggeleng. "Elif bukan tipe orang yang akan kabur dari rumah walaupun ayahnya mengomelinya tanpa sebab." jawab Yura yang jadi ikutan khawatir. "Aku akan minta bantuan Papa untuk mencari Elif juga."


"Baiklah, terima kasih Yura. Kami akan ke tempat Mona sekarang."


"Aku rasa Elif tidak akan ke tempat Mona, karena kalau Elif kesana pasti aku tahu, karena aku dan Mona juga baru selesai dari kampus."


"Ughh!" Ardan mengusap wajahnya kasar. "Kemana aku harus mencarimu lagi, Elif?!"


Ardan memukul udara dengan rasa frustasi. Pikirannya sudah melantur kemana-mana memikirkan Elif yang terluka dan hal-hal lainnya yang negatif, apalagi sampai saat ini pun keberadaan Kinan juga belum ditemukan. Atau jangan-jangan...


"Ted!"


"Ya, Pak?"


"Kinan! Bagaimana kalau Kinan menemukan Elif? Bagaimana kalau... argh! Aku akan membunuh mereka! Aku akan membunuh mereka!" Ardan langsung masuk ke dalam mobil.


"Maaf Nona Yura, kami harus pergi. Mohon bantuannya juga."


"I-iya Pak, pasti aku akan mencari Elif juga. Tapi siapa Kinan?"


"Mohon maaf Nona, kami harus segera pergi." Teddy pun turut masuk ke dalam mobil dan detik berikutnya Mobil Ardan meninggalkan lokasi.


"Ya Tuhan Elif, dimana kau?" Yura mengeluarkan ponselnya, ia segera menghubungi Mona. Setelah menceritakan singkat, Yura langsung menghubungi Papanya. Setidaknya Papa Yura mempunyai orang-orang yang bisa dimintai tolong untuk membantu mencari sahabatnya itu.


***


"Kita ke tempat Kinan, Ted!" Perintah Ardan.


"Tapi rumahnya sudah kosong, Pak. Tetangga-tetangganya juga tidak ada yang melihat Kinan lagi."


"Argh, sial! Lalu kemana kita harus mencarinya?!"


"Tenang Pak, tenang."


"Tentu saja tidak, Pak. Tapi kita juga harus tetap berkepala dingin dan tetap berpikiran positif, Pak."


"Jangan mengajariku!" Bentak Ardan.


"Maaf Pak."


Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi ala film The Transporter. Pikiran-pikiran negatif tentang Elif yang diculik oleh Kinan terus saja berseliweran dalam kepala Ardan, membuat pria itu semakin panik, khawatir, takut, cemas, frustasi dan putus asa. Ditambah orang-orang yang selama ini dia bayar untuk menemukan Kinan sama sekali belum bisa memberikan kabar baik. Dan sekarang Elif pun menghilang. Tidak ada satu CCTV pun yang menangkap keberadaan Elif. Apakah ini wajar? Apakah disaat seperti ini Ardan bisa tetap tenang? Sementara wanita tercintanya di luar sana dengan kondisi fisik yang terluka, apalagi Elif pun belum lama keluar dari rumah sakit yang mengharuskannya untuk istirahat, dan psikopat yang masih belum ditemukan.


Tuhan... aku mohon lindungi Elif. Lindungi ia dimana pun ia berada, Tuhan. Aku percaya Engkau Maha Pelindung yang paling hebat. Kumohon Tuhan, lindungi Elif, jauhkan dari semua orang yang akan berbuat jahat padanya. Aku mohon... aku mohon... Tuhan...


Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Sebuah nomer yang baru saja di simpannya beberapa jam lalu saat di pusat kendali lalu lintas dan cctv, sebuah nama yang dia kenal sebagai nama dari salah satu staf itu tertera pada layar handphonenya.


"Ya?" Ardan menerima panggilan telepon itu.


"Selamat siang, Pak. Kami baru saja mendapatkan gambaran dari ciri-ciri fisik wanita yang sebelumnya Anda cari." kata staf itu.


"Benarkah?" Ardan menegakkan duduknya, meski terhalang seatbelt. "Kalian menemukannya?"


"Mungkin ya, mungkin juga tidak. Kami akan kirimkan beberapa gambar rekaman cctv ini pada Anda, Anda bisa langsung lihat dan konfirmasi kembali pada kami."


"Baik, baik! Cepat kirimkan!"


"Baik Pak, mohon di tunggu." Tanpa harus memutus panggilan telepon itu, staf tersebut meminta pada rekannya yang lain untuk mengirimkan hasi rekaman CCTV yang mereka duga adalah seorang wanita yang sedang dalam pencarian Ardan. "Baik, Pak, sudah kami kirimkan."


"Baik akan saya lihat dulu." jawab Ardan. "Akan saya konfirmasikan lagi benar atau bukannya."


"Baik Pak."


Sambungan telepon pun terputus.


Teddy yang sebenarnya juga penasaran, hanya bisa diam saja namun tetap menyimak apa yang dilakukan Ardan sambil tetap fokus menyetir ala Frank Martin.


Ardan membuka kiriman vidio yang dia terima dari staf pusat kendali lalu lintas dan CCTV itu, dimana vidio yang Ardan terima bukan hanya satu, tapi tiga vidio.


Vidio pertama, menampilkan latar tempat sebuah area parkir, dimana sebuah sepeda motor skuter baru saja diparkirkan oleh pemiliknya. Si pengendara sepeda motor itu bertubuh tinggi memakai jins dan keds, serta sweater hoodie. Ia melepaskan helmnya yang kemudian menampakkan rambut keriting panjang. Setelah itu ia terlihat membuka tas ranselnya untuk mengambil sebuah jepit rambut. Sambil menjepit rambutnya, wanita itu berjalan meinggalkan sepeda motornya. Namun tak lama ia kembali lagi, karena ternyata lupa mencabut kunci motornya.


"Ini bukan Elif!" Ardan menggeser layarnya untuk melihat vidio selanjutnya.


Vidio kedua, menampilkan latar sebuah taman. Dimana awalnya taman tersebut kosong, lalu ada seorang wanita memakai daster rumahan, dengan rambutnya yang keriting megar, menggendong seorang balita dengan kain gendongan, ia membawa sebuah mangkuk kecil yang kemudian sambil menggerak-gerakkan bayinya dalam gendongannya, wanita itu menyuapi balita itu makan dengan telaten.


"Ini juga bukan Elif!"


Vidio terakhir, adalah CCTV yang berada di sebuah persimpangan jalan. Lalu lalang kendaraan menjadi pembuka vidio ketiga itu sampai kemudian muncul seorang wanita dengan pakaian yang compang camping, rambut keriting kusut dan berantakan, ia tidak memakai alas kaki, wajahnya kotor, kemudian terlihat tertawa tiba-tiba, detik berikutnya menangis, dan detik berikutnya ia menari. Menari balet sendirian di atas trotoar.


"Apa-apaan ini! Apa mereka pikir Elif adalah ODGJ??!" Omel Ardan. "Tidak ada harapan, Ted! Ini semua bukan Elif!"


Ting! Tung! Suara notif pesan masuk. Ternyata dari nomer yang sama.


[Kami kirimkan lagi, satu vidio yang baru saja tertangkap CCTV Pak, silahkan diperiksa.]


Satu vidio lagi diterima Ardan.


Vidio ke empat, sebuah pintu masuk dari sebuah gedung yang terlihat familiar oleh Ardan. Awalnya hanya orang-orang yang berlalu lalang, sampai akhirnya ia melihat seorang wanita, bertubuh mungil dengan kaos kebesaran, celana pendek selutut, tidak memakai alas kaki, dan rambutnya keriting sempurna, wajahnya tidak terlihat, ia berlari masuk ke dalam pintu gedung tersebut. Namun ada yang aneh, Ardan mengulang kembali vidio dimana wanita itu berlari. Wanita itu terlihat pincang saat berlari, dan ia meninggalkan seperti bercak darah pada permukaan jalanan yang dia lalui.


Tiba-tiba detak jantungnya berpacu, Ardan langsung menghubungi pihak kendali lalu lintas tadi untuk menanyakan lokasi dari vidio terakhir. Staf tersebut memberitahukan alamat lokasi itu, adalah pintu belakang dari sebuah gedung apartemen yang tak lain adalah gedung apartemen Ardan. Pantas saja terlihat familiar oleh Ardan.


"TED KITA PULANG KE APARTEMEN SEKARANG!"


Teddy yang paham betul dengan sikap dan sifat bosnya, langsung menyalakan lampu sen, mencari putaran balik untuk bisa segera meluncur dengan cepat menuju apartemen tempat tinggal Ardan.