
"Calon mantu?" Zehra mengulangi, dengan rasa sedikit canggung melihat Hanna yang terlihat santai dan tenang-tenang saja. Ia bahkan duduk dengan sangat anggun.
"Iya, Bu Zehra. Kenapa memangnya? Kenapa Bu Zehra terlihat kaget begitu?"
"Aku hanya... hanya... maksudku, aku tidak yakin apakah Mama Hanna tetap ingin berbesanan dengan kami setelah apa yang terjadi?"
Pertanyaan itu entah pada bagian mana bagi Hanna sangat mengandung humor sampai membuatnya tertawa. "Maaf, aku tidak bisa menahan tawaku." Ia melihat kepada Ardan dan Elif, masih tertidur, kemudian melanjutkan percakapannya pada Zehra.
"Kenapa Ibu Zehra berpikir akan memisahkan mereka? Lihat itu mereka... ohhh, sungguh indah sekali bukan melihat mereka saling menenangkan seperti itu. Aku bahkan merasa sangat tersentuh, ternyata anakku yang kaku itu bisa begitu hangatnya pada wanita yang dicintainya." kata Hanna, dengan ekspresi penuh haru.
"Tapi Elif, maksudku, latar belakang keluarga kami, masa lalu aku dan-"
"Bu Zehra, maaf aku memotong." Ucap Hanna. "Yang aku lihat adalah Elif, ia wanita yang baik, tulus dan bisa membuat anakku dingin dan kaku bisa jatuh cinta adalah hal yang luar biasa. Jadi aku rasa, jika aku memisahkan mereka hanya karena latar belakang dan masa lalu, apakah itu terdengar egois dan tidak adil untuk dua insan itu?"
"Anda benar sekali... Aku minta maaf karena aku merasa merepotkan Anda sekeluarga."
"Aku tidak merasa direpotkan sama sekali." Hanna menggedikkan bahu. "Masa lalu adalah bagian hidup seseorang, kita tidak bisa menghakimi seseorang dari masa lalunya. Lalu apa yang telah terjadi hari ini bisa kita katakan sudah suratan takdir, dan suratan takdir juga yang akhirnya menyatukan mereka." kata Hanna sambil melihat Ardan dan Elif.
Tak terasa, Zehra malah meneteskan air matanya. Ia begitu terharu dan juga bersyukur, dibalik penampilannya itu, ternyata Nyonya Hanna adalah orang yang sangat bijak.
"Lho, kenapa jadi menangis, Bu Zehra? Apa aku salah bicara?"
Zehra menggeleng. "Terima kasih, Mama Hanna." Tiba-tiba ia memeluk Hanna sambil menangis haru.
Kemudian dua wanita paruh baya itu saling melepaskan pelukannya ketika mendengar suara Ardan mengerang pelan. Zehra segera mengusap air matanya, Hanna mengibaskan helaian rambutnya yang tidak terikat. Ia berdiri mendekati ranjang. Sambil berkacak pinggang ia berdiri tepat di depan mata Ardan begitu anaknya membuka mata.
"Mama?!" Ardan melebarkan matanya. Dengan suara yang tetap rendah. Ia menggerakkan tubuhnya pelan-pelan untuk melepaskan Elif dari dekapannya dan membaringkannya perlahan dan penuh kelembutan.
"Dasar anak nakal!" Omel Hanna, suara mereka benar-benar terkontrol volumenya. "Mama menunggumu di kamar, malah membuat Elif kesempitan tidur di tempat tidurnya."
"Elif tidur nyenyak Ma, sempit-sempitan sama aku."
"Hih!" Hanna memukul pelan bahu Ardan.
"Bu Zehra, maaf, aku ketiduran semalam." kata Ardan pada Zehra
"Tidak apa, Nak. Ibu yang berterima kasih padamu, kalau bukan karena Nak Ardan, mungkin Elif harus diberi penenang lagi."
"Baiklah, kalau begitu, berarti Elif hanya tenang jika bersama Ardan." Hanna menarik kesimpulan sendiri. "Bagaimana kalau kalian cepat menikah saja, jangan mengundur-undur lagi."
"Ma, yakin mau membicarakan pernikahan di rumah sakit? Elif bahkan belum pulih betul."
"Apa kau tidak mau menikah dengan Elif?" tanya Nyonya Hanna, dengan sebelah alis matanya terangkat.
"Mau lah, Ma. Tapi tunggu Elif pulih dulu. Aku hanya tidak ingin Elif merasa tertekan dengan persiapan pernikahan dan keletihan dengan segala prosesinya."
"Kau tahu, kita tidak perlu melakukan prosesi resepsi pernikahan sekarang atau dalam waktu dekat. Kita bisa mengundur pestanya nanti, yang penting kalian sah dulu dalam agama dan juga negara."
"Benar sekali, Bu Zehra. Tidak perlu diadakan pesta dulu, dihadiri oleh keluarga dan ketua RT sebagai perwakilan tetangga-tetangga. Yang penting Elif dan Ardan sudah bersama, tidak lagi terpisahkan. Mereka bisa langsung tinggal bersama tanpa harus menimbulkan fitnah tetangga." kata Hanna cukup bersemangat sekali. "Kita bisa meminta Teddy untuk menjemput penghulu datang kesini sekarang."
"Sekarang?" Zehra semakin gugup. "Apa harus secepat itu?"
"Lebih cepat lebih baik, kan, Bu Zehra. Apa lagi Bu Zehra lihat sendiri bagaimana Elif bisa tenang bersama Ardan, bukan?"
"I-iya sih..." kata Zehra. "Tapi, aku perlu menyiapkan segala dokumen yang diperlukan untuk akad, bukan? Kartu keluarga, KTP, poto, surat keterangan RT dan RW dan-"
"Maaf Bu Zehra," Hanna mengibaskan tangannya dengan santai. "Untuk semua itu Bu Zehra tidak perlu khawatir. Aku yang akan urus. Hari ini pun semua bisa selesai."
"Bagaimana bisa?"
"Percaya saja dengan kemampuan Mama menyelesaikan apa yang Mama rencanakan, Bu." Ujar Ardan.
"Bagaimana? Setuju kalau Elif menikah dengan Ardan disini saja? Supaya keluar dari rumah sakit, Elif bisa langsung bersama-sama dengan Ardan."
"Ng..." Jujur saja, Zehra merasa bingung. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Atau harus berpikir bagaimana. Ia tidak tahu kenapa Hanna dengan sangat ingin menikahkan putranya dengan Elif secepat mungkin. Ada apa? Apakah ini murni karena melihat Elif yang bisa tenang dengan bersama Ardan? Apakah murni untuk menghindari omongan-omongan tetangga? Atau ada maksud lain yang nantinya akan membuat Elif kembali terluka lagi? Karena biar bagaimana pun mereka adalah dua keluarga yang berasal dari status sosial yang jauh berbeda.
"Ma, jangan terlalu terburu-buru. Beri Bu Zehra waktu. Tidak mudah tentunya bagi Bu Zehra langsung melepaskan Elif begitu saja, apa lagi setelah semua yang terjadi. Banyak hal yang pastinya ingin Bu Zehra jelaskan pada Elif sebelum melepaskan Elif menjadi istriku." kata Ardan, ia sangat paham dengan karakter Mama nya yang sangat mengidamkan melihat Ardan segera memiliki seorang istri, namun jelas juga terlihat keraguan pada mata Bu Zehra karena Hanna yang sangat terburu-buru.
"Tapi Ardan, Elif membutuhkanmu..."
"Aku yakin Elif juga membutuhkan Bu Zehra dan Adit setelah apa yang terjadi." jawab Ardan. "Ada beberapa hal yang harus di selesaikan sebelum kami menikah. Tenang saja Ma, kali ini aku tidak akan pernah melepaskan Elif lagi."
"Maaf, Mama Hanna, kalau boleh aku bertanya, kenapa begitu sangat terburu-buru?"
"Karena aku takut, Elif berubah pikiran. Aku takut Ardan akan membiarkan Elif pergi karena anakku ini kadang sangat bodoh kalau soal perasaan wanita." jawab Hanna tanpa berpikir-pikir lagi, karena memang itulah alasannya. Dan jawaban itu spontan membuat Zehra lagi-lagi terkejut. Betapa banyak hal baik yang terlihat pada wanita bergaya elegan itu.
Ah, Zehra menyesal sejenak ia berpikiran buruk pada Nyonya besar itu. Meski penampilannya sangat ibu-ibu sosialita, namun ia memiliki hati yang apa adanya, tulus dan jujur.
"Meskipun apa yang dikatakan Nak Ardan sangat benar, tapi tetap saja Elif yang dapat menentukan jalan hidupnya. Bagaimana kalau kita tunggu saja Elif bangun, dan pelan-pelan mungkin nanti kita bisa tanyakan padanya, kalau memang kondisinya sudah lebih baik."
"Setuju!" jawab Hanna dengan cepat. Dan bertepuk tangan pelan. Benar-benar menggemaskan sekali Nyonya Hanna ini. "Mama akan kabari Papa, dia pasti senang sekali mendengarnya." Hanna langsung memainkan handphonnya, mencari kontak nama suaminya untuk memberitahukan berita yang sangat menyenangkan ini.
Ardan hanya menggelengkan kepala. Ada rasa syukur karena cintanya pada Elif tidak terhalang restu orang tua seperti kebanyakan drama sinetron. Meski ia juga sangat ingin secepatnya menikahi Elif, tapi rasanya Mama jauh lebih menggebu-gebu.
"Nak Ardan,"
"Iya, Bu?"
"Jika nanti Elif setuju untuk menikah sekarang, Ibu hanya minta, tolong jaga anak Ibu. Tolong berikan kebahagiaan yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya."
"Pasti, Bu. Pasti."