
Tiga hari sudah berlalu, tapi tidak sedetik pun Elif melupakan tatapan mata Ardan yang begitu mengena dalam hati dan pikirannya. Tiga hari ini pun Elif sama sekali tidak menemukan semangat apa pun. Sampai Mona dan Yura menginap pun tidak membuat Elif kehilangan kesedihan dan kerinduannya pada Ardan.
Ya, Elif dilanda rasa rindu yang besar pada Ardan. Pada sorot matanya yang tajam, sendu, malu bahkan tatapan tajam pria itu. Aromanya, sentuhannya, suaranya, senyumannya, tawanya dan bahkan wajahnya yang sedang malu-malu. Apakah ini tandanya....
"Elif..." Zehra masuk ke dalam kamar Elif setelah mengetuk pintu kamar anak sulungnya itu namun tidak ada sahutan, ternyata pintu itu tidak dikunci.
Seperti hari-hari sebelumnya, Elif selalu meringkuk di bawah selimut tipis yang adem, wajahnya pucat, rambutnya awut-awutan, lingkaran hitam terpeta jelas di bawah matanya.
"Makan dulu, ya." Ujar Zehra dengan sangat lembut. Ia meletakkan baki makanan di atas meja nakas.
"Iya." jawab Elif singkat tanpa bergerak dari dalam selimutnya. Ia menyembunyikan handphonenya di bawah bantal. Mungkin lebih tepatnya, ia menyembunyikan poto Ardan yang pernah dia ambil saat dirumah sakit waktu itu.
"Elif..." Panggil Zehra lagi. Ia menyentuh lembut punggung Elif. "Apa Ibu perlu menelepon Mona dan Yura untuk menemanimu lagi?"
Elif menggeleng. "Mereka ada UAS besok. Jangan diganggu."
"Baiklah." Zehra mengerti. "Tapi, mau sampai kapan kau seperti ini? Ini sudah tiga hari, Sayang. Kau bahkan keluar kamar hanya untuk ke kamar mandi saja. Kau dan ayah bahkan tidak bicara."
"Aku dan ayah memang tidak pernah bicara." Tukas Elif.
Zehra mendesah pasrah. Ia tidak pernah melihat Elif seperti ini sebelumnya. Bahkan menurut Yura dan Mona saat Elif dikhianati oleh Dimas pun tidak sampai seperti ini. Elif bahkan tetap terlihat biasa saja. Padahal bisa dibilang hubungan Elif lebih lama pada saat bersama Dimas jika dibandingkan dengan hubungannya bersama Ardan.
Memang benar. Tapi, hubungan Elif dan Ardan yang super singkat itu begitu membekas dalam hatinya. Elif tidak lagi mampu mengabaikan ketulusan Ardan dan kejujuran dari pria itu. Ya, penyesalan memang selalu datang terlambat.
*Flashback*
3 hari lalu.
Di dalam ruang meeting, lantai 2 di MD Group Building.
Lidah Elif benar-benar kelu, ia tidak mampu untuk menentukan pilihan. Apakah ia harus memilih ayahnya yang tidak pernah menyayanginya atau pria yang telah menunjukkan cintanya untuk Elif?
Terdengar pilihan yang mudah jika hanya didengar saja, bukan dijalani seperti Elif.
Ia tidak bisa begitu saja memilih Ardan, dan berpaling dari ayahnya, meski ayah yang tidak pernah menunjukkan kasih sayang padanya. Elif pun ragu, sikap Ayah beberapa hari kemarin benar-benar tulus padanya. Bisa jadi, apa yang dilakukan ayah hanya sekedar sandiwara karena Elif berhubungan dengan orang yang sangat kaya raya.
Namun, ia juga begitu berat mengakhiri semuanya dengan Ardan walaupun sebelumnya ia ragu untuk mempercayai pengakuan Ardan tentang hatinya dan sudah memilih untuk mengakhiri semuanya, tapi kini, entah bagaimana Tuhan dengan cepat membalikkan hatinya, ia percaya seutuhnya pada pria yang kini menatapnya tajam, tapi anehnya, tatapan tajam itu tidak menyakitinya apa lagi membuatnya takut. Tatapan tajam itu begitu penuh dengan harapan juga kepasrahan.
"Maafkan aku." Seiring dengan ucapannya, air mata pun ikut mengiringinya. Elif menundukkan kepalanya, ia tidak kuasa menahan hatinya melihat bagaimana sepercik kesedihan terlukis dalam sorot mata itu.
Ardan menyentuh kedua lengan Elif dan menuntunnya pelan untuk berdiri dari duduknya. Ia menyentuh dagu Elif kemudian membuat wajah mereka saling menghadap dan mata mereka saling menatap dalam.
"Jangan minta maaf, kau tidak salah apapun." ucap Ardan lembut sambil mengusap pipi Elif. "Sssh, jangan menangis lagi."
"Aku rasa... aku tidak bisa lagi berada disini. Maaf."
"Aku mengerti." Ardan mengangguk. "Aku terima pengunduran dirimu, hanya dengan satu syarat."
"Apa?"
"Kembali kejar mimpimu."
Elif tidak lagi mampu menahan gemuruh dalam dadanya yang sesak. Ia pun seketika membenamkan wajahnya pada dada bidang Ardan dan menangis disana untuk beberapa saat. Ardan mendekap tubuh mungil gadis itu, menghidu dalam aroma manis yang akan sangat ia rindukan dalam sisa hidupnya.
Tapi yang namanya Yanuar memang tidak perduli dengan perasaan orang lain, ia tiba-tiba berdiri dan menghancurkan momen tersebut.
"Kau mengundurkan diri padahal kau belum satu bulan bekerja disini? Apa kau sanggup membayar pinaltinya?" Omel Yanuar tidak pada waktunya. Ia bahkan tidak segan melepaskan pelukan Ardan pada Elif. "Dan kau," Ia berkata kini pada Ardan, "pasti memperbolehkan Elif mengundurkan diri dan kemudian menuntut Elif untuk membayar pinalti, kan?!"
Ardan benar-benar muak dengan pria yang selama ini berstatus sebagai ayah Elif dan beberapa hari belakangan menunjukkan kasih sayang palsu itu. Dengan apa yang barusan saja mereka perdebatkan, Yanuar bahkan masih tebal muka memelototi Ardan.
"Apa Anda sedang menyamakan diriku dengan diri Anda?" Sindir Ardan.
Yanuar mencebik.
"Aku mencintai Elif tulus dari dalam hatiku. Tidak ada kepura-puraan seperti Anda."
"Ap-apa maksudmu?!'
"Tanya saja pada diri Anda sendiri." Ardan memalingkan wajahnya dan kembali pada Elif.
"Bak, eskisinden daha güçlü ve daha güçlü olmalısın. tekrar buluşana kadar. Seni terk etmeyeceğim." (Dengar, kau harus kuat dan lebih kuat lagi. Sampai kita bertemu lagi. Aku tidak akan meninggalkanmu.) Ujar Ardan menatap Elif dengan sangat intens.
Elif mengangguk, meski ia ragu apakah mungkin mereka dapat bertemu lagi. Tapi kali ini ia memilih untuk percaya.
"Apa yang kau katakan?! Apa kau sedang menghasut Elif?!" tanya Yanuar.
Alih-alih menjawab Yanuar yang semakin melotot sambil berkacak pinggang, Ardan malah mencium kening Elif, berharap bisa memberikan kekuatan padanya untuk menghadapi pria yang selama ini berstatus sebagai ayahnya.
"Ted,"
"Ya, Pak?"
"Minta Sonya untuk membawakan barang-barang Elif turun."
Setelah itu Ardan dan Teddy meninggalkan ruangan meeting tersebut.
*Flashback off*
***
Di balkon apartemennya, Ardan menghirup dalam dan menghembuskan perlahan asap putih dari mulutnya ke udara. Bahkan saat aroma tembakau melewati saluran pernapasannya, aroma manis Elif masih mendominasi dalam setiap rongga tubuhnya.
"Selamat malam, Pak." Teddy datang.
"Ya."
"Anda merokok, Pak?"
"Tidak, aku sedang berenang." Sahut Ardan.
"Tapi Anda sudah tidak merokok sejak 2 tahun lalu, Pak." kata Teddy, melihat khawatir pada bosnya yang begitu galau tiga hari ini. Ia tidak menyangka gadis berambut megar itu benar-benar bisa meninggalkan jejak yang begitu dalam di hati pria penggila kerja itu.
"And this is my reward." jawab Ardan seraya menghembuskan kembali asap putih itu. "Or this is my punishment. I don't know."
"Anda pasti sangat merindukan Nona Elif."
"Tentu saja! Siapa yang tidak akan merindukannya?" Ujar Ardan. Kembali menghisap dan menghembuskan kepulan asap putih. "Hei, Ted, jangan bilang kau juga merindukan Elif!" Tatap tajam Ardan pada Teddy.
"Tidak Tuan."
"Bagus! Hanya aku pria yang boleh merindukan Elif!" Tandas Ardan.
"Iya Tuan."
"Tapi kenapa kau tidak merindukan Elif?"
"Karena hanya Anda yang boleh merindukan Nona Elif."
"Good answer."
Sudah kuduga itu pertanyaan jebakan! Huh!
"Ada apa kau malam-malam kesini?"
"Ini Tuan, semua dokumen sudah siap, hanya tinggal mengisi salah satu formulir, setelah itu siap berangkat dalam dua hari." kata Teddy menjelaskan seraya memberikan dua buah amplop kuning.
Seketika ekspresi sendu nan galau Ardan berubah penuh binar dan harapan.
"Thanks Ted, kau memang paling bisa diandalkan!"
"Terima kasih, Pak."
"Jangan senang dulu," tukas Ardan. "Bagaimana dengan Kinan? Apa sudah ditemukan keberadaannya?"
"Maaf, Pak. Belum."
"Ada apa dengan orang-orangmu? Apa kurang bayarannya? Kenapa mencari satu orang saja lama sekali? Apakah dia sudah berubah menjadi hollow man sampai kalian tidak bisa menemukannya?"
"Kami akan meluaskan pencarian, Pak."
"Bagus! Kalau perlu sampai ke lubang cacing sekalipun!"
"Baik."
"Kau boleh pulang sekarang!"
"Baik Pak, saya permisi. Selamat malam."
Ardan pun kembali sendirian lagi di apartemennya. Kesendirian kembali membelenggunya dengan kerinduan yang teramat sangat menyiksanya. Dekapan terakhir dan kecupan singkat yang dia berikan pada Elif membuat keinginannya untuk menjadikan Elif miliknya semakin menggila.
"Apakah kau juga merindukanku?