HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Rencana Zehra dan The Three Musketeers.



Zehra dan ketiga Musketeers itu; Ardan, Gavin dan Teddy, duduk pada sofa yang ada di ruang kerja Ardan, dengan coffee table di tengah-tengah mereka, setelah menceritakan tentang masa lalunya yang menyebabkan Elif begitu tidak disayangi oleh Yanuar, mereka pun menyusun rencana untuk menyelamatkan Elif dari perjodohan yang mereka duga adalah sebuah bentuk balas dendam Yanuar pada Zehra dan keluarganya.


"Lalu apa rencana Tante?" tanya Gavin yang duduk tepat di sebelah Zehra.


"Ibu hanya punya satu rencana, yaitu kalian harus menculik Elif!"


"APA?!" Ardan, Gavin -bahkan- Teddy terkejut berjamaah dengan rencana paling muktahir yang pernah mereka dengar sepanjang sejarah.


Melihat bagaimana reaksi ketiga pemuda di depannya membuat Zehra tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya demi menyelamatkan putrinya.


"Maaf Tante, bukannya tidak menghargai rencana Tante, tapi kami rasa itu bukan rencana yang tepat." ujar Gavin.


"Iya, sebenarnya Ibu juga tahu, tapi Ibu sama sekali tidak tahu harus bagaimana lagi. Elif tidak mungkin kabur, karena Yanuar pasti akan mencarinya dan menyeretnya kembali."


"Sebenarnya, aku sudah mempunyai rencana sebelum aku tahu Pak Yanuar akan bertindak seperti ini." kata Ardan yang kemudian membuat Zehra dan Gavin membulatkan mata penuh dengan harapan.


"Apa itu, Nak?" tanya Zehra.


"Ted, tolong ambilkan berkas Elif di dalam tasku."


Teddy tanpa berkata langsung menjalankan perintah Ardan. Dan kembali lagi dengan menyerahkan pada Ardan apa yang dimintanya. Lalu, Ardan membuka berkas yang berisi beberapa dokumen di atas meja, tepat di hadapan mereka.


"Ini adalah dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk keperluan beasiswa study abroad. Hanya tinggal meminta Elif untuk mengisi formulir dari ketiga Universitas terbaik dari ketiga negara yang telah aku rekomendasikan. Setelah itu, dokumen pun lengkap dan Elif bisa langsung siap berangkat menuju negara yang ia pilih."


Mata Zehra kembali berkaca-kaca. Ia benar-benar tidak menyangka sama sekali Ardan telah menyiapkan semua ini demi putrinya.


"Aku minta maaf, Ibu Zehra, karena tidak membicarakan rencana ini pada Ibu bahkan Elif sendiri."


Zehra mengangguk mengerti, air mata sudah kembali menetes.


Teddy kembali menyodorkan kotak tisu.


"Bagaimana kau bisa menyiapkan semua ini?" tanya Gavin.


"Secara teknis, Teddy yang menyiapkan semuanya, aku yang menyusun rencananya. Karena entah kenapa, aku seperti mempunyai firasat kalau Pak Yanuar tidak akan membiarkan Elif untuk kembali mengejar mimpi dan cita-citanya. Dan ternyata firasatku benar."


"Wah, aku benar-benar tidak salah, kau dan Teddy memang patut diancungi jempol!"


"Biliyorum." (Aku tahu) Ujar Ardan santai. "Tapi untuk menjalankan misi ini, aku butuh bantuanmu, Gav."


"Aku pasti akan membantu."


"Baiklah," Ardan menegakkan tubuhnya. "Bukankah kata Ibu, Adit bilang semalam Pak Yanuar berencana akan mempertemukan Elif dengan temannya yang tua itu lusa?"


"Iya, betul."


"Itu berarti besok!" Sahut Gavin.


"Baiklah, kalau begitu sore ini kita harus jalankan misi ini. Gavin, aku minta kau berpura-pura untuk menjadi salah satu staf dari yayasan beasiswa kita, kau akan katakan kalau Elif telah melakukan pendaftaran dan segalanya persyaratannya telah diterima dan Elif siap berangkat. Nah, Ibu akan menjelaskan pada Elif dan Adit juga tentang rencana ini supaya Elif tidak bingung nantinya saat Gavin datang. Teddy, akan bertugas untuk memastikan Elif dan Gavin keluar dari sana tanpa adanya ancaman. Dan aku akan menunggu Elif di bandara untuk langsung membawa Elif ke save place yang telah aku siapkan sebelum Elif berangkat." Ardan selesai menjelaskan susunan misi penyelamatan Elif. "Bagaimana?"


"Tapi apa kau yakin Pak Yanuar akan percaya dan mengijinkan Elif untuk berangkat?"


"Ya, suamiku itu pasti tidak akan memberikan ijin pada Elif."


"Aku tahu." jawab Ardan. "Dari yang aku lihat, Pak Yanuar adalah orang yang sangat hitung-hitungan soal uang dan paling tidak suka jika ia harus mengeluarkan uang apalagi untuk keperluan Elif, bukan begitu?"


Zehra mengangguk cepat.


"Karena itu, Gav, kau harus menekankan dalam penjelasanmu kalau pendaftaran yang dibatalkan secara sepihak oleh calon mahasiswa, maka calon mahasiswa itu akan dikenakan denda, kita bisa bilang saja dendanya diatas 100 juta."


"Apakah Pak Yanuar akan percaya?"


"Tentu saja! Aku sudah membuat peraturan tertulis tentang term and conditions. Kau bisa tunjukkan peraturan itu padanya."


"Aku sebenarnya sudah berniat akan langsung menikahi Elif begitu ia menyelesaikan sekolahnya. Seperti yang kami pernah umumkan di depan keluarga Pak Yanuar, tapi..."


"Tapi apa Nak?"


"Entah Elif mau atau tidak, karena hari itu sebelum Pak Yanuar datang, sebenarnya aku dan Elif ada sedikit pertengkaran yang membuat kami akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami."


"Apa?" Gavin terkejut. "Apa maksudmu? Bukan kah kau melakukan semua ini karena kau sangat mencintainya?"


"Tentu saja. Pertengkaran itu sama sekali tidak merubah perasaan, hati dan cintaku untuk Elif." Tukas Ardan. "Tapi aku tidak tahu dengan Elif sendiri, apakah dia masih mau kembali bersamaku atau tidak."


"Jangan khawatir, Nak. Elif juga masih mencintaimu." ucap Zehra dengan penuh keyakinan.


"B-bagaimana Ibu tahu?" tanya Ardan. Ia sedikit gugup mendengar kalimat 'masih mencintaimu', apakah itu berarti selama ini hatinya tidak bertepuk sebelah tangan?


"Selama empat hari ini Elif hanya meringkuk di kamarnya. Hanya sedikit makan, tidak bercerita apa pun, bahkan Mona dan Yura pun tidak bisa membuat Elif kembali tersenyum. Ia seperti kehilangan semangat dan mataharinya. Dan Ibu pernah menemukan handphone Elif dimana layar itu menunjukkan poto Nak Ardan dengan ekspresi kaget yang lucu sebenarnya."


"B-benarkah begitu?" Ardan seketika merona. Tersenyum-senyum salah tingkah. Itu pasti potonya yang Elif ambil saat di rumah sakit. Ternyata kau menyimpannya. Batin Ardan senang.


"Kenapa pipimu jadi merah begitu?" tanya Gavin menggoda.


"Ti-tidak. Ehm, jadi," Ardan kembali mengontrol ekspresi wajahnya. "Apakah Ibu yakin Elif tidak akan menolakku?"


"Tentu saja."


"Baiklah kalau begitu! Misi ini harus berhasil!"


Tiba-tiba handphone Ardan berbunyi, dan nama Elif tertera disana.


***


Sementara itu di rumah, saat tidak ada Adit karena Adit sekolah, dan Zehra belum sampai rumah, Yanuar membuka pintu kamar Elif. Seketika Elif duduk tanpa membuka kain selimutnya. Matanya yang sembab melihat pria yang selama ini ia ketahui sebagai ayahnya dengan tatapan aneh. Karena Yanuar pun datang dengan ekspresi yang juga aneh. Elif tidak pernah melihat Yanuar menyeringai aneh dan menakutkan seperti itu. Yanuar terlihat seperti seorang yang kelaparan dan melihat Elif seperti santapan lezat.


"A-ayah ada apa?" Secara refleks Elif menekan tombol panggilan darurat pada layar handphonenya yang langsung tersambung pada nomor Ardan. Ia juga menarik selimutnya. Jantungnya berdegup takut. Ayahnya kini lebih menakutkan dibandingkan jika pria itu sedang marah.


"Ayah?" Yanuar menyeringai, sebelah alis matanya naik. Kemudian dia terkekeh. "Kenapa kau selalu saja menganggapku ayah atas semua yang aku lakukan padamu?"


"Ka-karena Ayah adalah Ayahku..." jawab Elif takut. Sungguh dia sangat takut.


//Halo, Elif, Elif, ada apa? Halo Elif?//


"Kau sungguh bodoh sama seperti ibumu. Kalian wanita bodoh dan menyebalkan!" Bentak Yanuar.


"Ayah ada apa? Kenapa ayah marah padaku? Kenapa Yah? Apa salahku? Kenapa Ayah tidak pernah menyayangiku?" tanya Elif dengan suaranya yang bergetar.


Sementara Yanuar melangkah perlahan mendekati tempat tidur. "Kau sungguh ingin tahu?"


Elif mengangguk meski ragu dan takut. Ia dapat mendengar samar suara Ardan yang memanggil-manggilnya dari ponsel, tapi ia tidak bisa menjawabnya.


"Karena kau bukan anakku! Kau bukan darah dagingku! Kau hanya anak haram ibumu bersama pria yang bahkan tidak menginginkanmu! Dan aku, AKU yang harus ketempuhan menjadi ayah untukmu. Cih!"


JEDGER!!!!


Bagaikan disambar petir pada hari yang sangat terik. Tubuh Elif seketika lemas. Air mata lolos begitu saja membasahi pipinya yang bahkan belum kering.


"Ti-tidak mungkin..." Elif menggeleng, suaranya semakin bergetar hebat.


"Ayah pasti bohong..."


"Jangan panggil aku Ayah! Kau bukan anakku!"