
Seseorang menyentuh bahunya, Elif terkesiap, mengangkat kepalanya yang sejak menutup sambungan telepon Dimas ia sembunyikan di balik lutut yang ia tekuk ke atas. Matanya yang basah, sembab dan riasan mata sisa make up bekerja berantakan kemana-mana, penampilannya mengerikan ditambah dengan rambut megar yang mendukung penampilan horornya.
Namun pria yang menyentuh bahunya itu tersenyum, memberikan sapu tangan berwarna navy pada Elif.
Elif mengerjap, menyeka matanya. Pria di hadapannya itu tinggi dan berpakaian sangat rapih, ia masih mengulurkan sapu tangannya. "Maaf, siapa?" Elif menggeser duduknya ketika pria itu bergerak untuk ikut duduk di kursi yang sama.
"Kau Elif kan?" tanya pria itu.
Elif semakin bingung terlihat dari dahinya yang semakin berkerut. "I-iya? Anda siapa?"
Alih-alih menjawab, pria itu justru terkekeh manis.
"Tunggu," Elif membenarkan posisi duduknya. "Kak Gavin?" Kedua matanya melebar saat ia menyadari siapa sosok dihadapannya itu.
Pria itu mengangguk tetap dengan senyumannya yang manis. "Kau tidak mengenaliku pasti karena potongan rambut dan setelan jas ini, bukan?"
Elif ikut terkekeh. Detik berikutnya ia merasa begitu malu, sangat malu! Gavin adalah cinta pertamanya yang selama ini tidak pernah ia ungkapkan pada siapa pun, termasuk Yura dan Mona. Pria itu adalah seniornya, pertemuan pertama mereka adalah saat ospek. Saat itu penampilan Gavin sungguh berbeda. Rambut gondrong, berkumis tipis, dan celana jins sobek-sobek seperti menjadi outfit andalannya.
Ia menjadi satu-satunya senior yang membantu Elif dan tidak mengolok-olok rambut megarnya, Gavin malah membantu Elif untuk mengikat dan mengepang rambut megar Elif. Saat itu lah Elif jatuh hati pada seniornya itu. Tapi ia terlalu malu dan tahu diri untuk tidak mengumbar perasaannya.
"Ap-apa kabar Kak?" rasa gugup menghampirinya. Tuhan, kenapa harus bertemu dengannya saat penampilan dan keadaanku kacau begini...
"Aku baik. Tapi kulihat kau sepertinya tidak?"
Elif hanya tersenyum masam. "Bagaimana Kaka bisa mengenaliku?"
"Bagaimana bisa aku melupakan gadis yg kukepang rambutnya di hari ospek?"
Mereka tertawa bersama.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis sendirian disini? Mungkin aku bisa membantu."
Elif menggeleng, "Hanya masalah keluarga saja Kak."
Gavin mengangguk mengerti. Masalah keluarga adalah sesuatu yang tidak bisa ia masuki begitu saja, apalagi Gavin dan Elif bukanlah teman dekat. Hanya saling mengenal sebagai senior dan junior.
"Baiklah," Gavin bangkit berdiri, ia meletakan sapu tangannya di atas kursi. "Aku ingin sebenarnya ngobrol banyak. Tidak banyak teman masa kuliahku dulu yang bisa kutemui. Bertemu denganmu seperti ini seperti nostalgia."
Elif tersenyum malu. Benarkah Gavin merasa bernostalgia bertemu dengannya? Ah kenapa Elif merasa jadi terharu.
"Mungkin lain kali kita bisa ngobrol-ngobrol banyak diwaktu yang tepat."
Elif mengangguk.
"Oh ya, ini," Gavin memberikan Elif kartu namanya. "Mungkin kau membutuhkanku untuk mengepang rambutmu lagi, jangan sungkan menghubungiku. Oke?" Gavin menatap Elif serius. Ia sungguh-sungguh ingin membantu Elif.
***
Gavin sampai di apartemennya, melonggarkan ikatan dasi dan menanggalkan jas. Ia melangkah dalam cahaya yang temaram, menuju dapur membuka lemari pendingin. Ia mengambil sekaleng minuman bersoda dan menenggaknya.
Sore tadi ia baru saja menyelesaikan pertemuannya dengan pimpinan rumah sakit yang beroperasi di bawah naungan perusahaan tempatnya bekerja. Ia sama sekali tidak menyangka akan kembali bertemu dengan gadis itu. Ia berpapasan dengan Elif, awalnya ia tidak menyadari gadis yang bersisian jalan dengannya adalah Elif sampai ia menyadari rambut gadis itu mengingatkannya pada junior perempuan yang ia kepang rambutnya.
Entah apa yang menggerakkan hati, kemudian otak dan akhirnya kakinya bergerak mengikuti gadis itu dari belakang. Gadis itu ternyata benar-benar Elif. Elifnya.
Ia mendengar semua percakapan Elif bersama adik dan ibunya. Dan sungguh, itu membuat hatinya miris. Ia mengenal Elif sebagai mahasiswa yang aktif dan juga berprestasi. Ia cerdas dan cepat belajar. Ia tidak mengerti kenapa Elif masih belum lulus padahal jarak mereka hanya dua tahun. Tapi apa pun itu, pasti ada alasannya.
Mungkin ekonomi seperti yang didengarnya tadi. Ah, ia merasa gusar dengan hal seperti ini, mengapa pendidikan menjadi sesuatu yang sulit dicapai bagi orang-orang yang kondisi ekonominya kurang beruntung. Mereka yang mempunyai potensi terpaksa tenggelam dan tidak terlihat karena pendidikan menjadi sesuatu yang mahal dan sulit.
Gavin ingat, sekertaris Ardan sedang mempersiapkan segala kepentingan dan dokumen untuk melepaskan jabatannya, Sonya akan segera mengundurkan diri, informasi lowongan pekerjaan pun sudah dibuka walaupun belum dibuka untuk umum Lowongan pekerjaan itu masih dibuka untuk bagian internal, jika ada 'orang dalam' yang mungkin mempunyai rekomendasi calon pekerja. Mereka akan tetap melakukan wawancara kerja dan menjalani beberapa tes sampai nantinya CEO lah yang menentukan siapa yang diterima dan tidak.
Gavin benar-benar berharap Elif akan menghubunginya segera, berharap gadis itu tidak sungkan untuk meminta bantuan padanya. Mungkin Elif tidak memenuhi salah satu persyaratan yaitu harus lulusan strata satu dengan minimal IPK yang telah ditentukan bosnya itu, namun jika Elif menghubunginya dan lolos tahap wawancara dan tes, ia akan membantu Elif untuk mendapatkan kesempatan dengan bicara dengan bos yang juga sahabatnya itu.
***
"Kau tahu, aku benar bersungguh-sungguh ingin membantumu untuk tetap berkuliah.... hiks." ujar Yura sambil menangis.
"Jangan nangis Ra, yang berhenti kan aku, kenapa kau yang menangis sesegukan." Elif mengusap-usap punggung Yura.
"Itu karena kita sayang denganmu, Elif." kata Yura.
"Oh ya, ngomong-ngomong soal kita, Mona kemana? Bukankah tadi kalian menungguku?"
Yura melepaskan rangkulannya, menyeka air mata dan cairan yang keluar dari hidungnya dengan tisu.
"Oh itu, hmmm... Mona ke kamar mandi, kebelet katanya." Yura menjadi gugup tiba-tiba.
Elif tahu Yura menyembunyikan sesuatu, gadis itu akan menjadi gugup apa pun situasi dan kondisinya saat ia menyembunyikan sesuatu.
"Yura..." Elif merendahkan suaranya.
"Hmmm... Mona... huh, dia tadi melihat Dimas, lalu menyusulnya."
"Astaga!" Elif melotot. "Semoga Mona tidak benar-benar menghajarnya."
Yura terlihat ragu dengan harapan Elif.
"Apa Mona benar-benar akan menghajarnya?"
Yura mengangguk, "Melihat bagaimana tadi ekspresinya saat melihat Dimas, mungkin saat ini...."
"Ya ampun! Ya ampun! Ayo cepat kita harus cari Mona. Jangan sampai Mona mendapat masalah gara-gara ini." Elif menarik tangan Yura untuk cepat bergerak. "Oh Tuhan, inilah mengapa aku ragu bercerita tentang Dimas pada kalian, terutama pada Mona."
Di sisi lain gedung kampus, sisi yang hampir tidak pernah disinggahi mahasiswa. Sisi yang menjadi tempat kosong dari lingkungan kampus yang megah itu, Dimas sudah tersungkur dengan lebam pada wajahnya.
"Aku akan menuntutmu, Mona!" ancam Dimas sambil mengusap darah yang keluar dari hidungnya.
Mona mencebik, "Oh ya? Katakan itu pada ayahmu, kau pikir aku tidak tahu tindakanmu sebagai anak yang selalu dibanggakan ayahnya."
Mona merogoh saku tas nya yang sudah tergeletak, mengambil sebuah amplop cokelat polos kemudian mengeluarkan isinya dan melemparkannya di depan wajah Dimas. Itu adalah lembaran-lembaran poto Dimas dari semua kegiatan 'nakal' yang dilakukan Dimas.
"Melecehkan junior, mabuk, mengkonsumsi obat terlarang, dan terakhir tidur dengan gadis bodoh di hotel. Kau tahu apa yang paling bodoh? Hotel itu adalah milik keluargaku."
Tenggorokan Dimas benar-benar tercekat dengan segala poto-poto dirinya yang diambil dengan sangat jelas. Ayahnya tidak akan pernah memaafkannya jika tahu kelakuannya di luar rumah. Ayahnya tidak akan segan menjebloskannya ke penjara apa lagi di poto itu terdapat Dimas yang sedang menghidu salah satu obat terlarang berbentuk bubuk putih.
"Jangan sampai tuntutanmu menjadi bumerang untuk dirimu sendiri." ancam Mona.
"Aarrgghh! Sialan! Apa sih maumu!? Kenapa kau begitu membenciku?" Teriak Dimas.
"Jangan pernah mendekati Elif lagi atau berusaha menghubunginya apa lagi mengharapkan kesempatan lagi."
"Kau ini apanya Elif sih? Bodyguard nya?"
"Cih, orang seperti mu tidak akan mengerti arti kata persahabatan, ketulusan dan kasih sayang. Elif adalah sahabatku, siapa pun yang menyakitinya akan berurusan denganku."
"Dengan memata-mataiku?"
"Sejak dulu aku tidak pernah percaya pada lidah bercabangmu yang kotor itu, jadi kuputuskan untuk menyelidikimu, ternyata benar dugaanku, kau tidak lebih dari sampah. Aku tidak memberitahukan pada Elif karena aku menghargai keputusannya untuk memberikanmu kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahanmu, tapi sekali bajing*n tetap saja bajing*n!"
Mona membungkuk untuk mengambil tasnya lalu kembali melihat Dimas dengan tatapan me njijikan. "Simpan saja poto-potomu itu, aku masih punya banyak copy nya." Kemudian dengan langkah mantap Mona meninggalkan Dimas yang mengepalkan tangannya menahan rasa amarah.