Forza

Forza
Pertarungan Helena dengan Agnia



Agatha yang terkejut dengan serangan yang di luncurkan Agnia yang di halangi oleh Alin. Melihat Alin yang terluka membuatnya merasa bersalah.


"Alin, apa kau baik-baik saja?" tanya Agatha yang langsung berdiri.


"Tidak apa-apa. Sudah aku bilang, pergi dari sini. Kenapa masih di sini?" tanya Alin sambil membersihkan darah yang tersisa di ujung bibirnya.


"Bagaimana mungkin aku pergi meninggalkan mu sendiri." Jawab Agatha.


"Hahhaha, jadi kalian saling kenal?" tanya Agni kepada Alin dan Agatha.


"Baguslah, dengan begitu ini adalah hal yang mudah." Ucap Agnia yang membuat bola api untuk melayangkan serangannya kepada Agatha kembali. Tapi dengan cepat Alin memblokir serangan itu sehingga membuat Agnia sangat marah kepada Alin.


"Kau masih mau melawan ku Alin, kau biasanya menurut dan sekarang kau membela teman mu?" tanya Agnia.


"Bukan begitu guru, aku...." Alin yang belum menyelesaikan ucapannya sudah hampir terkena serangan lagi oleh Agnia. Namun dirinya di tolong oleh Agatha yang membawa Alin sedikit bergeser dari tempatnya sehingga serangan yang di luncurkan Agnia meleset.


"Kalian benar-benar membuat ku marah." Jawab Agnia membuat bola api yang begitu besar untuk melayangkan serangannya.


Tiba-tiba sebuah dinding pemisah ruang terbentuk di sekitar mereka, cahaya putih bersinar di tengah-tengah antara Agatha dan Agnia. Sosok perempuan cantik dengan rambut panjang yang terurai. Perempuan itu memblokir serangan bola api yang besar dari Agnia ke arah Agatha sehingga membuat cahaya putih itu muncul.


Silau cahaya membuat Alin, Agatha dan Agnia menutup matanya. Saat mereka membuka mata karena cahaya itu sudah hilang, mereka terkejut dengan sosok wanita yang ada di depan mereka.


"Siapa kau?" tanya Agnia yang bertanya kepada sosok perempuan yang ada di hadapannya. Perempuan itu adalah Helena yang berubah menjadi wujud aslinya dan memblokir serangan Agnia untuk menolong Agatha.


"Nona Helena?" panggil Agatha dari belakang badan Helena.


"Kau tidak berhak untuk mengetahui siapa aku." Jawab Helena kepada Agnia.


"Berani-beraninya kau juga ikut campur urusan ku. Dan kau membuat dinding pembatas ini?" tanya Alin lagi sambil mempersiapkan bola api untuk menyerang Helena.


Helena kembali memblokir serangan Agnia dan langsung menyerang. Helena tidak memberikan kesempatan kepada Agnia untuk memblokir serangan Helena sehingga membuatnya terluka mengeluarkan darah dan terjatuh di atas tanah.


"Kekuatan ini?" tanya Agnia yang langsung berfikir seseorang yang terkenal di dunia Forza.


Helena yang masih berdiri setelah menyerang Agnia, di serang secara diam-diam dari belakang oleh Alin namun terblokir oleh Helena lagi.


"Kau menyerang ku diam-diam dari belakang bocah?" tanya Helena.


"Jangan sakiti guru." Ucap Alin yang membela sang guru.


"Kalian benar-benar memuakkan." Ucap Helena yang mengangkat kedua tangannya dan mengarahkan ke arah Alin dan Agnia. Tangan kanan ke arah Agnia dan tangan kiri ke arah Alin. Posisi untuk menyerang keduanya.


"Kau Helena, perempuan cantik yang kejam itu?" tanya Agnia.


"Kau baru sadar siapa aku?" tanya Helena.


"Hahaha pantas saja, kekuatan ini." Ucap Agnia yang di beri serangan lagi oleh Helena saat ia ingin berdiri. Agnia terjatuh lagi dan sudah kehilangan daya tarung karena serangan kedua. Tangan Agnia yang memegang dada karena menahan sakit lalu mengeluarkan darah segar dari mulutnya


"Akan ku bunuh kau!" ucap Helena.


"Aku harus selesaikan dengan cepat karena kekuatan Forza ku sudah tinggal sedikit." Jawab Helena dalam hati.


"Jangan sakiti guru?" ucap Alin yang tiba-tiba sudah berada di depan Agnia. Tubuh yang bergerak untuk menghalangi Helena menyerang gurunya lagi.


"Nona Helena, jangan bunuh karena aku " Jawab Agatha yang memeluk Helena agar mengehentikan serangan. Agatha melihat wajah yang berbinar sedih dari wajah Alin membuatnya mengerti bahwa Alin sangat menyayangi gurunya.


Helena yang ingin kembali menyerang Agnia menghentikan serangannya karena Agatha yang tiba-tiba memeluk.


"Aish, anak ini? baiklah." Jawab Helena yang menurunkan tangannya dan menghentikan serangan.


"Kalian, jangan pernah muncul lagi di wilayah ini dan ingat, jangan ganggu gadis kecil ini lagi jika masih sayang dengan nyawa kalian." Jawab Helena.


Helena yang sudah siap mengatakan hal itu langsung membawa Agatha pergi melayang ke atas dan berjalan dengan kekuatan penuh ke arah rumah. Agatha yang menggendong anjing kecil itu melihat ke bawah. Dirinya yang melayang di atas udara bersama dengan Helena.


"Nona kita melayang?" tanya Agatha dengan polosnya.


"Gadis ini benar-benar membuat ku khawatir saja." Jawab Helena dalam hati. Helena tetap dia dan tidak menjawab pertanyaan Agatha hingga mereka sampai di rumah.


"Jangan lakukan hal itu lagi." Jawab Helena yang berhenti membawa Agatha di depan rumah dan tiba-tiba berubah menjadi rubah kembali.


Di sisi lain, Alin yang membantu sang guru, Agnia untuk berdiri. Alin membopong Agnia dengan tubuhnya dan berjalan bersama secara pelan-pelan ke rumah mereka.


"Guru tidak apa-apa?" tanya Alin.


"iya." Jawab Agnia.


"Aku benar-benar bertemu dan bertarung dengan Helena?" tanya Agnia dalam hati yang masih mencerna fikiran ya atas situasi yang baru saja di alami olehnya.


"Helena, wanita Forza pertama yang menguasai elemen petir yang berarti menguasai 3 elemen sekaligus. Air, api dan angin yang membentuk elemen lainnya yaitu petir. Dan dia satu-satunya manusia Forza yang lahir dengan kekuatan yang dahsyat selama seribu tahun sekali. Dia juga melatih kekuatan sendiri tanpa bantuan orang lain? Dia benar-benar seperti yang di rumorkan. Dia akan membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya tanpa belas kasih. Dia tidak suka di perintah oleh siapapun sehingga ia tidak memiliki organisasi apapun yang bekerjasama padanya. Tapi tadi, dia mendengar gadis kecil itu. Apakah aku harus berterima kasih kepada gadis kecil itu?" tanya Agnia dalam hati sambil berjalan ke arah rumah mereka.


Alin membantu sang guru duduk di sofa rumah, dan mengambil beberapa obat untuk Agnia. Alin memberikan pil penyembuh luka dalam kepada Agnia. Agnia meminumnya dan membaringkan tubuhnya di atas sofa.


"Alin," ucap Agnia.


"Saya guru, apa guru butuh sesuatu lagi?" tanya Alin.


"Jangan ganggu bocah itu lagi apalagi perempuan tadi. Perempuan itu sangat berbahaya. Kau harus ingat baik-baik itu sebagai hukuman kau telah membantah ku hari ini." Ucap Agnia yang menarik selimut dari badannya dan memalingkan tubuhnya dari Alin.


"Guru takut dengan perempuan tadi?" tanya Alin dalam hati.


"Iya guru. Aku ke kamar, jika guru butuh apa-apa silahkan panggil aku." Jawab Alin kepada Agnia. Alin berjalan ke kamar meninggalkan Agnia yang berada di ruang tamu. Agnia yang tidak mau di kamar sehingga Alin meletakkannya di ruang tamu.