Forza

Forza
Rumah Agatha



Alin pergi berjalan meninggalkan tempat itu. Di luar, Vero sudah menunggu.


"Ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Vero yang melihat Alin berwajah masam keluar dari pintu ruang bawah tanah.


"Tidak. Aku hanya ingin pulang." Jawab Alin.


"Aku akan mengantarmu." Jawab Vero.


Mereka berjalan ke dalam mobil dan tetap hening tanpa ada obrolan hingga sampai di rumah. Alin keluar dari mobil.


"Terima kasih paman." Jawab Alin yang mengucapkan ras terima kasih kepada Vero dan pergi masuk ke dalam rumah.


"....." Vero hanya bersimpati dalam hati melihat Alin masuk ke dalam rumah.


Mereka berpisah begitu saja.


.....


"Aku pulang, kalian semua sedang apa?" tanya Agatha yang membuka pintu dan mengucapkan salam kepada penghuni rumah. Penghuni rumah yang hanya dihuni oleh Helena dan Anjing hitam yang masih terluka.


"Nona Helena?" panggil Agatha yang tidak melihat Helena ada di ruang tamu. Hanya ada seekor anjing hitam dengan lidah yang menjulur ke luar.


"Kau sudah sadar Black?" tanya Agatha yang mendekat dan melihat anjing hitam itu.


Agatha dengan mengelus kepala anjing hitam


dan mengambil makanan untuk di berikan kepada anjing hitam. Meletakkan makanan anjing di atas tempat makan. Dan memerintah anjing hitam untuk memakannya. Anjing hitam itu mengerti apa yang di maksud oleh Agatha, turun dari sofa dan mendekati tempat makan berisi makanan anjing.


"Nona Helena tidak makan?" tanya Agatha yang berjalan ke arah kamar tamu dan melihat Helena masih bermeditasi.


"Pergilah membersihkan diri, setelah itu aku akan mengajari mu lagi." Jawab Helena kepada Agatha.


"Baik nona." Jawab Agatha yang pergi dari kamar tamu menuju kamarnya.Setelah berganti pakaian, Agatha mendatangi Helena.


"Ayo ke rooftop, aku melihat di atas sana ada beberapa alat olahraga seperti samsak dan lainnya." Jawab Helena.


"Nona sampai rooftop tadi?" tanya Agatha.


"Aku sudah mengelilingi rumah mu." Jawab Helena santai dengan turun dari atas kasur dan berjalan ke lantai atas bangunan rumah Agatha. Rumah yang di tempati Agatha tidak besar dan tidak bertingkat tinggi. Hanya berlantai dua dengan ukuran rumah 26 meter dan 25meter lapangannya. Ukuran tanah hanya 50 persegi. Rumah Agatha ada di pertengahan tanah persegi itu dengan di kelilingi rumput hijau.


Dekorasi depan rumah adalah tempat parkir kendaraan, kolam ikan, kebun bunga dan kolam renang yang tidak terlalu besar. Hanya ada 7 meter persegi. Sedangkan di samping rumah hanya ada jalanan rumput. Dan di belakang rumah ada tempat bersantai dengan keluarga dan kebun.



"Nona sudah lihat di belakang rumah?" tanya Agatha.


"Seperti hutan." Jawab Helena yang sudah melihat halaman belakang rumah yang tidak terawat dan terlihat seperti hutan.


Agatha tersenyum mengingat bahwa dirinya hanya seminggu sekali membersihkan belakang rumah. Ia hanya menyiram tanaman kebun di sore hari. Setelah itu mengambil beberapa tanaman yang sudah bisa di panen, seperti tomat, cabai, sawi, bawang dan lainnya. Yang rajin menanam sebenarnya adalah sang Ayah dan Ibu. Tapi karena Agatha baru 3 bulan di tempat ini, jadi belum terlalu banyak hal yang harus dilakukan di kebun.


"Kami baru saja pindah 3 bulan yang lalu. Jadi masih sedikit berantakan. Apalagi hanya aku yang mengurus sendiri semuanya. Mereka hanya menanam, sementara aku yang merawatnya." Jawab Agatha.


"Oh." Jawab Helena yang masih melompat dari satu tangga ke tangga lain menuju rooftop.


"Kau sudah terbiasa di tinggal mereka?" tanya Helena yang sedikit tertarik dengan pembicaraan Agatha.


"Mungkin sekitar umur 8 tahun mereka berpindah-pindah tempat karena pekerjaannya." Jawab Agatha.


"Oh." Jawab Helena


"Kau pergilah melakukan skipping sebanyak 100 kali." Jawab Helena saat mereka sampai di rooftop.


"100 kali ?" tanya Agatha.


"Iya. Saat melakukan skipping, rasakan juga aliran Forza di sekitar. Sumber elemen-elemen dasar pada alam akan memberikan mu kekuatan pada inti Forza yang kau miliki." Jawab Helena.


"Bagaimana?" tanya Agatha yang belum paham karena memikirkan bagaimana ia bisa melakukan skipping sebanyak 100 kali.


"Bukanya kau sudah aku ajarkan kemarin." Jawab Helena.


"Oooo, aku mengerti." Jawab Agatha yang melihat Helena berdiri dengan meluruskan kaki depan berdiri dan mengangkat kepalanya.


"Baik nona, aku akan melakukannya." Jawab Helena.


"Oke. Aku akan mengawasi mu dari sini." Jawab Helena.


Agatha berjalan ke arah tempat olahraga dengan atap di halaman rooftop. mengambil tali skipping dan mulai melakukan apa yang sudah di perintahkan oleh Helena.


Agatha bersiap melompat tali skipping yang sudah di ayunan kedua tangannya. Lompatan demi lompatan telah terhitung. Di hitungan ke sepuluh Agatha sudah merasa lelah, hingga hitungan ke 25 Agatha mulai merasakan aliran kekuatan yang masuk kedalam tubuhnya yang lelah. Sedikit demi sedikit aliran kekuatan alam yang masuk kedalam tubuhnya membuat tubuh Agatha mulai ringan. Padahal ia hampir saja menyerah karena sudah terasa lelah tapi dengan konsentrasi yang di miliki olehnya membuat ia bisa merasakan kekuatan yang di maksud Helena.


"Nona, aku merasakannya." Jawab Agatha yang mulai bersemangat kembali.


"Konsentrasi lagi dan percepat lompatan mu." Jawab Helena.


"Baik." Jawab Agatha yang sedang berlatih melompat menggunakan tali skipping.


"Kekuatan alam harus bisa mengimbangi kekuatan fisik yang kau miliki dan sebaliknya. Jika kekuatan fisik mu lemah makan kekuatan alam yang kau serap juga juga lemah. Tapi, jika kekuatan fisik mu kuat maka kekuatan alam yang akan kau serap juga akan kuat. Latih kekuatan fisik mu dengan baik untuk mendapatkan hasil yang baik juga." Jawab Helena.


"Siap." Jawab Agatha.


Agatha yang melompat hingga hitungan ke 100 membuatnya berhenti dan mengatur napas yang masih belum teratur.


"Tetap rasakan kekuatan alam untuk mu walaupun sedang beristirahat. Jangan berhenti." Ucap Helena yang menampar Agatha dengan kakinya tanpa melukai.


"Baik." Jawab Agatha yang tidak marah karena di tampar oleh seekor rubah kecil yang di panggil Helena.


Agatha merapatkan kedua kakinya dan memejamkan matanya untuk kembali bermeditasi setelah berlatih keras dan menyerap kekuatan alam dengan bermeditasi lagi.


"Semakin sering kau berlatih dan mengumpulkan kekuatan di dalam inti Forza pada dirimu, itu akan membuat mu memiliki kekuatan yang banyak." Jawab Helena.


"Aku mengerti." Jawab Agatha yang semangat. Dengan tubuh yang berkeringat, kembali bersemangat dan mencoba berkonsentrasi.


Mereka berlatih hingga sore hari, setelah mata hari hampir tenggelam, mereka mengehentikan latihan.