Forza

Forza
Charles Melawan Joya di Akademik Forza



"Benarkah?" tanya Agatha.


"Iya. Pulau ini memiliki kekuatan energi bumi yang besar. Bukan hanya itu, seluruh pulau ini di lapisi pelindung dari dunia luar agar orang yang melewati tidak merasakan energi bumi yang ada di dalam pulau ini." Jawab Helena.


"Keluarga Ken memang kaya." Jawab Agatha.


"Hmmmm, menurut ku ini aneh." Jawab Helena.


"Aneh?" tanya Agatha.


"Kau harus melihat bagaimana organisasi keluarga Ken itu mau berbagi dengan keluarga dan organisasi lainnya untuk menikmati kekuatan pulau ini?" tanya Helena memicu pikirannya sendiri.


"Iya juga. Bukannya seharusnya ini menjadi kesempatan besar untuk keluarga Ken meningkatkan kekuatan mereka sendiri?" tanya Agatha juga.


"......." Helena tidak ada menjawab dan masih berfikir.


"Aku akan bertanya kepada Abang Al nanti jika bertemu." Jawab Agatha yang berdiri dan sudah selesai melakukan latihan sebelum tidur. Helena hanya diam saja dan berfikir sendiri.


"Apa jangan-jangan ramalan yang sudah di ramalkan itu sudah dekat?" tanya Helena dalam hati namun tidak ingin memikirkan lebih banyak lagi. Helena memilih tidur.


Esok pagi di hari ke 3 di akademik Forza.


Agatha dan Alin sampai di kelas lebih dulu dari murid-murid lainnya. Mereka langsung duduk di kursi masih-masing dan satu persatu semua siswa lainnya masuk ke dalam kelas.


Carlos yang penuh dengan luka lebam dan kaki yang masih di balut kain untuk pemulihan. Carlos menggunakan tongkat untuk berjalan. Semua siswa hanya terdiam saat Carlos masuk ke kelas dengan menggeser pintu kelas dan berjalan masuk menuju kursi.


"Carlos kau tidak apa-apa?" tanya Ludwig yang cukup perhatian kepada Carlos.


"Tidak apa-apa, hanya saja kaki ku harus istirahat hari ini." Jawab Carlos


"Wah, pengobatan yang di lakukan oleh akademik memang hebat. Kau bisa baik-baik saja padahal kemarin terlihat kacau dengan banyak luka dan darah....." Ludwig yang melihat keadaan Carlos yang pulih dengan cepat dengan begitu saja dan tersadar apa yang dikatakan olehnya ketika sudah terlalu banyak yang di ucapkan. Wajah Carlos sudah berubah dan terlihat marah.


"Ahhh maaf aku salah bicara, maksud ku pemilihan mu cukup cepat." Jawab Ludwig.


"Kau..." Carlos yang hampir saja ingin melayangkan tongkatnya ke arah Ludwig. Tapi, tiba-tiba Dirga datang. Semua kegiatan menjadi terhentikan dan semua siswa duduk di kursinya masing-masing dengan baik.


"Baiklah hari ini aku akan menerangkan tentang kelemahan dan kelebihan setiap elemen dasar yang kalian miliki." Jawab Dirga yang membuka infokus dan memulai presentasi tentang materi yang akan di sampaikan olehnya.


Beberapa menir menjelaskan dengan panjang lebar. Dirga memberikan sebuah kesimpulan dari apa yang sudah ia terangkan.


"Inti dari apa yang sudah aku katakan adalah kekuatan dari kekuatan dasar yang kalian miliki tergantung dengan seberapa besar energi bumi yang dapat kalian serap, kelola dan kalian kumpulkan di dalam tubuh. Kalian mengerti?" tanya Dirga dan mereka hanya mengganggukan kepalanya bahwa mereka paham apa yang sudah di presentasi tentang materi yang di sampaikan oleh Dirga hari ini.


"Baik. Jika kalian sudah mengerti maka tutup buku kalian dan ikut aku kok lapangan untuk berlatih kembali." Jawab Dirga.


"Kita ada praktek lagi guru?" tanya hampir seluruh siswa.


"Iya." Jawab Dirga.


Semua mereka berkumpul kembali di lapangan.


"Hari ini kita melakukan pertandingan persahabatan seperti kemarin hingga semua orang dapat tampil hari ini karena kita harus menyelesaikannya dengan cepat berhubung kemarin ada hal mendesak yang harus aku kerjakan sehingga kita memberhentikan pertandingan persahabatan yang sudah berjalan." Jawab Dirga.


"Siapa yang lebih dulu untuk maju hari ini?" tanya Dirga.


"Saya." Jawab seorang laki-laki yang memiliki postur tubuh yang sedang namun rambut kepala yang berdiri seperti buah nanas.


"Baguslah. Mereka bertiga sudah tampil kemarin sehingga sudah tidak ada lagi orang yang dapat menghalangiku untuk tampil menjadi seorang pemenang." Jawab Charles yang berinisiatif berjalan ke arah tengah lapangan untuk memulai pertandingan persahabatan.


"Siapa yang ingin menjadi lawannya?" tanya Dirga kepada semua orang namun mereka hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan Dirga. Dirga yang membaca situasi membuat dirinya mengambil inisiatif sendiri.


"Joya maju. Kau saja yang melawan Charles." Jawab Dirga yang memerintah seorang perempuan yang memiliki rambut panjang di bawah bahu.


"Siap guru." Jawab Joya yang menjadi lawan pertandingan persahabatan dengan Charles.


"Kalian sudah siap? Mulai!" Jawab Dirga yang memberi aba-aba kepada Charles dan Joya.


"Charles? Apa kau akan melawanku dengan kekuatanmu itu sehingga dapat merusak wajah cantikku ini?" jawab Joya dengan wajah memelas seperti tidak memiliki kekuatan apa-apa. Lemah dan tak berdaya.


"Aku tidak punya pilihan." Jawab Charles dengan bangga menjawab hal itu tanpa ada persiapan untuk melawan Joya. Joya yang mendekat dan mulai membuat aksinya untuk mengalahkan Charles.


"Kau fikir kau siapa memohon kepadaku? Aku tidak ingin kalah. Dan kau yang harus kalah." Jawab Charles dalam hati.


"Tolong jangan kuat-kuat mengeluarkan semua kemampuan mu kepada ku gadis yang lemah ini." Jawab Joya


"Tentu saj...." Charles yang tidak berhati-hati masuk ke perangkap yang di buat Joya.


Joya dengan mudah membuat sebuah gelembung yang mengurung Charles di dalamnya. Dan melayangkan Charles di udara.


"Dasar bodoh, baru saja melihat akting ku yang sempurna ini sebentar dengan beberapa dialog kau sudah terperangkap dengan sangat mudah." Jawab Joya.


"Apa ini?" tanya Charles dengan melihat dirinya sudah melayang di udara di dalam sebuah gelembung.


"Hey..... turunkan aku Joya. Kau gila membuatku di atas seperti ini?" Tanya Charles dengan meronta-ronta di dalam gelembung seperti sedang berjalan di atas bola besar di darat.


"Jangan banyak bergerak. Jika kau terus meronta-ronta ingin lepas dari gelembung ku, kau akan terjatuh dari ketinggian itu." Jawab Joya.


"Kau? Kau tidak bercanda ingin menjatuhkan aku ke bawah?" tanya Charles yang melihat kebawah.


"Maaf Charles, aku harus melakukannya ini. Jika tidak maka aku akan kalah." Jawab Joya.


"Aaaaaa, kau gila." Jawab Charles yang tiba-tiba gelembung yang telah membawa dirinya melayang pecah dan tubuh Charles terjatuh di lantai.


"Brukkkkkkk....." tubuh Charles sudah terjatuh ke lantai.


"Joyaaaaaaa, lihat aku nanti akan membalas mu......." Ucap Charles yang mencoba berdiri setelah jatuh. Charles tidak terluka sama sekali hanya tubuhnya yang jatuh ke tanah.


"Seperti dugaan ku. Ketinggian tadi tidak dapat membuat mu untuk menyerah." Jawab Joya yang membuat Charles masuk lagi ke dalam gelembung dan melayangkan tubuh Charles dengan tinggi.


"Kau gila, turunkan aku. Jika kau tidak turunkan sekarang jangan salahkan aku akan membalaskan dendam ini." Jawab Charles yang sudah melayang tetap saja mengancam Joya yang memegang kendali atas dirinya yang sudah terperangkap.