
El yang sudah berada di dalam kamar sedang mengambil ponselnya dan menelpon Al.
" Tuan, tadi aku sudah bertemu dengan kepala Akademik." Jawab El.
"Apa benar itu tuan Bram Dev yang menjadi kepala sekolah akademik Forza?" tanya Al.
"Iya. Aku dengar tuan Bram sudah lama di tempat ini. Tapi aku memang belum mengetahui apa alasan dia bisa ada di sini dan mengapa dia bisa menerima hal ini. Padahal sejak lama sudah tidak lagi muncul pada dunia Forza. Bahkan banyak orang yang sudah melakukan interaksi tawaran kepadanya namun di tolak olehnya selama ini. Aku benar-benar belum mengetahui alasan apa yang membuatnya ada di sini." Jawab El.
"Bagaimana dengan anak-anak?" tanya Al kepada El.
"Sama seperti yang kita prediksikan bahwa mereka akan di pisahkan. Untuk Agatha diberikan keterbatasan akses." Jawab El.
"Mereka di pisahkan sesuai dengan prediksi kita?" tanya Al.
"Iya tuan. Tadi aku membicarakan hal ini kepada Vero. Vero sudah datang 3 hari yang lalu sementara yang lain ternyata sudah datang lebih cepat dari jadwal yang sudah di tentukan. Mereka datang 10 hari lebih cepat dari yang sudah di jadwalkan." Jawab El.
"Jadi mereka semua sudah melangkahkan lebih maju untuk mencari bintang?" tanya Al tertawa.
"Seperti itulah. Seperti yang sudah kita prediksi juga soal ini. Mereka semua haus akan kekuasaan dan juga takut untuk di singkirkan." Jawab El.
"Tapi tuan Al, tadi aku mendapat tawaran dari tuan Bram." Jawab El membuka pembicaraan lagi.
"Tawaran apa?" tanya Al kepada El untuk mendapatkan penjelasan lebih jelas.
"Tadi aku masuk dengan Vero ke ruangan tuan Bram. Kami berdua di tawarkan untuk mengajar. Tapi kami berdua menolak." Jawab El.
Beberapa menit yang lalu saat Vero dan El masuk kedalam ruangan Bram. Bram yang menyambut dengan bertanya kabar satu sama lain. Setelah itu, Bram mengajukan sebuah tawaran kepada mereka berdua.
"Singkat saja, sebenarnya aku memanggil kalian berdua karena ada hal yang ingin aku tawarkan kepada kalian berdua. Kalian sebagai 100 Remaja Forza terkuat di dunia 10 tahun yang lalu dan merupakan Forza distrik A, aku mengharapkan kalian untuk memberikan ilmu yang kalian miliki untuk membimbing forza-forza baru saat ini. Generasi baru yang akan menggantikan kami yang sudah tua ini." Ucap Bram tanpa banyak bicara langsung kepada intinya.
"Tuan Bram menawari kami untuk mengajar mereka?" tanya El kepada Bram.
"Iya, aku berharap akan hal itu. Adanya regenerasi akan membuat kita semakin kuat. Apalagi dunia Forza tidaklah mudah." Jawab Bram.
"Aku mengerti apa yang dikatakan oleh tuan. Tapi untuk saat ini, aku melihat bahwa guru-guru yang akan mengajar anak murid juga sudah cukup kompeten. Jadi aku tidak perlu untuk ikut campur andil di dalamnya lagi. " Jawab Vero.
"Bagaimana dengan mu El?" tanya Bram.
"Aku masih belum memikirkan untuk mengajar karena saat ini tanggung jawab ku tiba di pulau ini untuk menjaga anak-anak yang aku bawa dari Ken." Jawab El.
"Aku tidak akan memaksa kalian untuk mengajar, tapi jika kalian berubah fikiran. Silahkan mengajar kapan pun yang kalian inginkan. Aku sudah memberikan izin kepada kalian seperti aku mengizinkan para guru untuk mengajar anak-anak." Jawab Bram.
"Terima kasih tuan Bram. Tapi bolehkan aku bertanya sesuatu?" tanya El.
"Apa itu?" tanya Baram.
"Apakah memang benar bahwa mereka harus di pisah satu sama lain?" tanya El.
"El?" panggil Vero untuk menghentikan El dalam berbicara.
"Maksudnya antara Forza non organisasi dengan forza yang memiliki organisasi atau keluarga ternama?" tanya Bram.
"Aku hanya mengikuti apa yang sudah dilakukan saat sekolah ini di buka. Setelah beberapa tahun atas kejadian itu. Sekolah ini di buka kembali. Aku tidak mengetahui jelas tentang kejadian itu. Aku hanya tau saat ini, sekolah ini di butuhkan untuk membuat para Forza yang di miliki distrik A menjadi lebih kuat dari distrik lainnya." Jawab Bram.
"Kau juga pasti tau El, pulau siapa yang di pakai saat itu hingga sekarang. Dan siapa saja yang sudah membuat sekolah ini berdiri. Untuk itu, aku tidak bisa menghentikan atau mengubah sistem yang sudah di jalankan sejak dulu." Jawab Bram.
"Sudah, jangan banyak tanyak lagi." Bisik Vero kepada El.
"Baiklah aku mengerti. Terima kasih tuan Bram." Jawab El kepada Bram lalu berdiri memberikan hormat dan berjalan keluar untuk pergi dari ruangan Bram.
"Seperti itulah yang terjadi Tuan Al." Jawab El kepada Al setelah menceritakan hal itu."
"Hal yang sudah kita prediksikan saat itu memang sudah di terapkan di akademik saat ini?" tanya Al.
"Iya, tapi ternyata lebih buruk dari itu." Jawab El.
"Lebih buruk?" tanya Al.
"Iya. Bukan hanya sekedar tentang fasilitas asrama saja yang beda tapi juga tentang guru yang berbeda. Mereka hanya mengirimkan satu orang guru yang akan mengajar di kelas Forza non organisasi." Jawab El.
"Hmmm." Jawab Al yang sedang berfikir.
"Saat ini, hanya itu yang aku ketahui dari Vero. Aku akan melaporkan kembali jika mendapatkan informasi yang terbaru." Jawab El.
"Jaga anak-anak dengan baik." Jawab Al
"Tuan jangan khawatir, aku akan menjaga mereka. Besok akademi sudah di mulai, karena hal-hal yang terkait dengan dunia luar akan di putus. Mungkin akan sulit menghubungi tuan. Tapi jangan khawatir. Serahkan semuanya pada ku." Jawab El kepada Al.
"Oke. Kau mohon bantuannya." Jawab Al.
"Iya tuan Al, tanpa di suruh aku akan melakukan yang terbaik untuk melindungi anak-anak." Jawab El.
Telpon itu terputus setelah memberikan info terkait dengan kondisi yang terjadi.
Di kamar Agatha, mereka yang sedang berbicara satu sama lain.
"Aku dengar, kitalah siswa yang terlambat datang di acara akademik Forza ini. Mereka semua sudah datang 10 hari yang lalu." Jawab Rania.
"Iya. Aku juga mendengarkannya." Jawab Kaivan.
"Jadi kita terlambat dan kehilangan banyak pembelajaran?" tanya Agatha.
"Tentu saja tidak. Akademik Forza akan di mulai besok. Tapi mereka yang sudah datang ke sekolah ini pasti memiliki tujuan tersendiri. Mereka semua ingin mendapatkan posisi paling atas." Jawab Kaivan.
"Kenapa harus memiliki niat seperti itu? Bukannya semua Forza yang ada di sini semuanya sangat baik ?" tanya Agatha.
"Hmmm. Kau hanya berfikir bahwa semua orang bisa di jadikan teman? Tentu tidak. Lihat sendiri orang yang baru saja datang kepada mu. Dia sedang melakukan perebutan hak suara untuk di pilih menjadi Forza terkuat di generasi kita sebagai Forza non organisasi." Jawab Kaivan lagi.
"Hmmmm. Kenapa harus di rebutkan padahal semuanya sama saja hanya yang beda adalah memakainya." Jawab Agatha.