Forza

Forza
Ajakan Vero Kepada Alin Untuk Bergabung



Vero menyetujui permintaan dokter Agnia. Pembicaraan mereka sampai di situ. Vero membiarkan Agnia untuk istirahat malam ini. Disisi lain, Alin yang sedang menenangkan dirinya untuk bersikap jernih masuk ke dalam rumah dan melihat kamar Agnia. Tiba-tiba laci meja yang berada di samping tempat tidur terjatuh. Sebuah kunci beserta tas kecil jatuh dari laci itu. Alin berjalan dan melihatnya.


Saat Alin penasaran isi dari tas kecil itu, ternyata ada sebuah surat rumah berserta kartu ATM. Dan note kecil terjatuh dari surat rumah.


"Jika guru ditangkap seseorang dan tidak kembali di rumah ini semalam 3 hari, pergilah kerumah ini sampai aku kembali. Dan jika aku tidak kembali, jangan pernah mencari ku. Hidup dengan damai. Aku meninggalkan biaya hidup untuk mu." Isi note kecil seperti surat kecil.


"Guru!" panggil Alin dengan menangis lebih tersedu-sedu beberapa menit. Setelah itu Alin langsung membereskan pakaian ya dan barang-barang lain untuk pergi meninggalkan rumah. Alin pergi ke alamat rumah yang ada di tas kecil itu.


Satu jam kepergian Alin, beberapa orang dengan wajah seram. Tubuh yang di penuhi dengan bekas luka datang ke rumah Agnia. Mereka melihat rumah yang sudah hancur dan tidak ada siapa-siapa.


"Rumahnya hancur dan terbakar." Ucap mereka yang melihat rumah yang roboh dan seperti sudah habis terbakar. Karena sebelum Alin pergi meninggalkan rumah itu, Alin menghancurkan rumah ini seperti biasa. Seperti saat mereka yang akan berpindah tempat dengan tidak meninggalkan jejak di rumah sebelumnya.


"Tidak ada jejak selain energi Forza milik dokter Agnia."


"Kau yakin?"


"Iya. Periksa sendiri."


Mereka yang sudah memastikan bahwa tidak ada hal yang didapati oleh orang ini tentang dokter Agnia, mereka pergi begitu saja.


.........


Malam berlalu, pagi hadir menyambut hari yang baru. Agatha yang menggunakan gips untuk tangan kanan yang terkilir. Agatha baru tersadar ketika ia sudah mengobati anjing hitam.


Dengan menggunakan seragam sekolah, Agatha pergi ke sekolah dengan memakai gips. Ia sudah menjelaskan kepada guru, bahwa dirinya terjatuh di kamar mandi. Dan teman-teman sekelasnya hanya melihat dirinya begitu saja tanpa ada yang bertanya kenapa. Agatha yang pendiam tidak ingin memulai pembicaraan hanya berjalan ke arah mejanya dan duduk.


Setelah kedatangan Agatha, Alin juga datang dengan kedua tangan yang di perban dan wajah yang sedikit memar terbakar.


"Mereka berdua dari masa sih, datang bersamaan dengan luka seperti itu." ucap salah satu teman sekelas mereka yang di sambut teman lainnya membicarakan kondisi Agatha dan Alin.


"Syukurlah dia selamat." Ucap Agatha dalam hati.


"Syukurlah dia baik-baik saja." Jawab Alin.


Mereka berdua tidak bertegur sapa, hanya saling pandang dan bergumam di dalam hati hingga kelas berakhir dan mereka kembali ke rumah masing-masing. Agatha yang melihat Alin berada di depan membuatnya tanpa sengaja memanggil.


"Alin kau tidak apa-apa? Bagaimana keadaan mu?" tanya Agatha yang berjalan menyusul ke tempat Alin berada.


"Berhenti bersikap seperti orang yang dekat." Jawab Alin yang berjalan kembali setelah berhenti melihat Agatha yang sedang mengejar ia.


"Maaf jika kau terganggu. Tapi terima kasih sudah membantu ku kemarin. Aku harap kita bisa berteman." Ucap Agatha yang berhenti melangkah dan Alin hanya mendengarkan saja. Alin berjalan ke depan dan meninggalkan Agatha di belakang.


Alin yang tiba di rumah dan baru saja meletakkan tas miliknya di kamar mendengar bel pintu berbunyi. "Apa itu guru?" tanya Alin yang langsung melompat dari kasur dan berlari ke depan pintu.


"Guru!" panggil Alin yang membuka pintu.


"Maaf jika mengecewakan." Jawab Vero yang berdiri dengan tegak.


"Ikut aku jika ingin bertemu dengan guru mu." Jawab Vero yang dingin.


"Kenapa aku harus ikut?" tanya Alin.


"Jika kau tidak mau tidak apa-apa. Aku juga tidak rugi." Jawab Vero yang membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah mobil. Alin yang berfikir sebentar dan berjalan mengikuti Vero.


"Aku ikut." Jawab Alin yang masuk ke dalam mobil Vero begitu saja. Vero tidak mengucapkan apapun saat Alin masuk. Mereka tidak ada berbicara satu sama lain hingga tiba di kediaman mansion keluarga Dev.


Alin mengikuti terus Vero dari keluar mobil hingga masuk ke dalam ruang bawah tanah. Vero membuka pintu sel penjara dan meninggalkan Alin di tempat itu.


"Kalian bicaralah." Jawab Vero yang meninggalkan tempat itu. Agnia yang masih membelakangi Alin dan sedang bermeditasi.


"Guru." Jawab Alin yang melihat sosok punggung gurunya.


"Kau sudah datang?" tanya Agnia yang membuka mata dan membalikkan badannya ke arah Alin.


Wajah Alin yang berbinar-binar melihat Agnia yang berada di hadapannya.


"Guru baik-baik saja?" tanya Alin.


"Seperti yang kau lihat. Kau sudah datang ke rumah itu?" tanya Agnia dan Alin menganggukkan kepalanya.


"Baguslah, hiduplah sendiri sementara waktu. Karena aku akan mengerjakan pekerjaan ku di sini mulai sekarang." Jawab Agnia.


"Kenapa?" tanya Alin


"Kau mungkin banyak pertanyaan ingin ditanyakan oleh ku. Tapi semakin sedikit yang kau ketahui itu semakin bagus." Ucap Agnia.


"Kau harus mengikuti kata Vero mulai sekarang. Dia akan menjadi guru mu mulai sekarang. Jadilah kuat untuk melindungi diri mu sendiri. Oh ya, soal kejadian malam itu. Jangan pernah mengatakan kepada siapapun tentang hal itu. Apalagi soal Helena dan anak itu. Siapapun anak itu bagi Helena, jangan berurusan dengannya. Seperti yang aku katakan bahwa Helena bukan orang yang mudah untuk di ganggu." Jawab Agnia.


Alin hanya diam dan mendengarkan. Alin mencerna perlahan-lahan apa yang dikatakan oleh Agnia. Walau tidak menerima hal telah di sampaikan oleh Agnia, Alin berusaha untuk menerimanya.


"Masa depan mu kau sendiri yang memilih. Pergi dan bebas dari sisi ku. Bukanya selama ini kau diam-diam melepaskan anjing liar yang sudah gagal menjadi subjek penelitian ku? Jadi sudah saatnya kau pergi mengikuti hati mu sendiri." Jawab Agnia.


"Tapi guru, aku tidak bermaksud untuk meninggalkan mu." Jawab Alin.


"Kalau kau merindukan ku, datanglah kembali. Sudah saatnya kau dewasa. Pergilah tanpa ku pada dunia sebenarnya." Jawab Agnia yang berdiri dari bangku dan berjalan ke arah jeruji besi pada sel.


"Pergilah. Aku ingin mendapat ketengan untuk memulihkan tubuh ku. Aku akan mengeluarkan energi Helena yang tertinggal dari tubuh ini." Jawab Agnia.


"Guru...." Jawab Alin. Agnia tidak menghiraukan dan berjalan lagi ke tempat semula dan memulai menutup mata untuk bermeditasi kembali.


"Baiklah, aku pamit pergi. Aku akan berkunjung lagi nanti. Selamat sore guru." Jawab Alin yang berjalan keluar sel.