Forza

Forza
Alin dan Rania ke rumah Agatha.



"Kenapa harus bahagia?" tanya Helena yang tidak mengerti apa yang di katakan oleh Agatha.


"Aku akan berusaha dengan baik menjadi teman mereka." Jawab Agatha yang menjawab pertanyaan Helena. Helena yang tak ingin bertanya kembali apa yang di maksud dengan perkataan Agatha hanya diam dengan tenang di gendong oleh Agatha sampai ke dalam ruang perawatan.


Mereka bertiga kumpul di dalam ruang perawatan. Alin yang hanya diam saja berbaring di atas kasur dengan beberapa perban yang di balut di kepala, tangan dan kakinya. Sedangkan Rania yang hanya duduk dengan wajah yang lebam dan tangan yang di perban. Sementara Agatha hanya menunggu pemulihan diri, lukanya sudah tidak sakit lagi hanya ada beberapa luka lebam yang masih belum hilang dari kulit tubuh Agatha.


Agatha melihat ke kanan yang tampak Alin sedang berbaring di atas kasur dan tersenyum. Melihat ke kiri yang tampak Rania sedang bermain ponsel dengan satu tangan dan Agatha tersenyum kembali.


"Kau kenapa?" tanya Rania yang sejak tadi melihat Agatha yang melihat Alin lalu melihat dirinya dengan tatapan senyum-senyum sendiri.


"Aku hanya senang ada kalian di ruangan ini. Dengan begitu aku memiliki teman." Jawab Agatha.


"Kau benar-benar aneh." Jawab Rania dan Alin hanya mendengarkan mereka tanpa ada melakukan apapun selain berbaring di atas kasur.


Beberapa hari di rawat di ruang perawatan Ken, mereka kembali masing-masing ke rumah dan harus segera masuk ke sekolah seperti biasanya.


Agatha yang melihat sosok Alin ada di depan langsung berlari mendekati Alin dan mengucapkan, 'selamat pagi Alin.' .


Senyum indah dengan wajah berseri di tampilkan Agatha kepada Alin yang baru saja di sapa. Alin yang terkejut tidak ada ekspresi senyum untuk membalas senyuman dari Agatha dan tidak pula menjawab ucapan selamat pagi yang diucapkan Agatha.


Agatha tidak mempedulikan itu dan langsung memeluk tangan kanan Alin dan berjalan bersama menuju kelas dengan riang. Alin juga tidak menolak yang dilakukan oleh Agatha.


"Setelah pelajaran selesai, datanglah ke rumah ku. Aku akan memasakkan nasi goreng kesukaan mu yang lebih enak daripada gofood yang biasa kita beli." Jawab Agatha dan Alin hanya menganggukkan kepalanya.


Beberapa jam pelajaran sekolah berlalu, Alin dan Agatha keluar dari ruangan dan Rania sudah menunggu mereka di depan kelas.


"Rania?" tanya Agatha yang terkejut saat keluar dari ruang kelas dengan memeluk tangan kanan Alin.


"Kenapa kalian lama sekali keluarnya padahal bel sudah berlalu 10 menit yang lalu." Jawab Rania.


"Kau menunggu kami?" tanya Agatha.


"Tidak, kata siapa aku menunggu kalian. Aku hanya...." Rania yang belum menyelesaikan kalimat dengan terbata-bata langsung terhenti ketika Agatha memeluk tangan kirinya. Agatha yang berada di tengah-tengah antara Rania dan Alin.


"Baguslah jadi ramai. Sekarang mari kita ke supermarket. Belanja sebentar lalu memasak di rumah ku." Jawab Agatha dengan menggiring mereka berdua di sampingnya dan berjalan cepat meninggalkan sekolah menuju ke supermarket yang dekat dengan rumah Agatha.


Mereka masuk ke supermarket dan berbelanja beberapa bahan yang akan di gunakan untuk membuat nasi goreng. Agatha yang tidak lupa membeli banyak sosis dan juga makanan anjing.


"Kau memelihara anjing?" tanya Rania.


"Bisa di bilang begitu." Jawab Agatha kepada Rania


Saat tiba di rumah, anjing hitam yang berada di samping pintu depan rumah berdiri dari tempat tidurnya melihat kedatangan mereka bertiga. Saat melihat wajah Alin, anjing itu tiba-tiba menggonggong dengan begitu cepat dan keras.


"Hitam, tenanglah. Tidak apa-apa." Jawab Agatha yang melihat wajah Alin yang menundukkan kepalanya agar menyembunyikan wajahnya.


"Duduklah, kalian bisa bermain game atau hanya sekedar menonton film. Aku akan membawakan minuman dulu dan cemilan selama menunggu aku memasak.


"Kau benar-benar bisa masak?" tanya Rania.


"Tenang saja, aku bisa." Jawab Agatha.


"Aku akan menantikannya, tapi jika tidak enak aku tidak akan pernah percaya lagi dengan mu. Mana mungkin kau bisa memasak." Jawab Rania.


"Setiap orang punya kemampuan masing-masing dalam setiap pertempuran hidupnya. Yang terpenting adalah bagaimana menghargai hidup yang masih bisa hidup dari orang yang mempermudah nyawa seperti selembar cek yang cukup untuk menutup kasusnya ." Jawab Agatha.


"Kata-katanya bagus. Tapi aku bukan ingin membunuh mu, kau saja yang menawarkan akan memasak untuk kami. Benarkan Alin?" tanya Rania. Alin tetap diam dan melihat ke arah pintu rumah.


"Tenang saja, dia sudah pulih dan baik-baik saja. Makanya juga banyak, dia anjing yang penurut." Jawab Agatha untuk menenangkan Alin.


"Apa yang sedang kau katakan?" tanya Rania.


"Minum dulu, dan sabar ya menunggu." Ucap Agatha yang menyediakan mereka makanan dan minuman sebagai cemilan.


Agatha memasak nasi goreng dengan rasa pedas dari cabe rawit, pelengkap dengan memasukkan jagung dan potongan ayam goreng beserta sosis dan kacang polong. Agatha menata nasi goreng di atas piring dengan beberapa potong tomat dan telur gulung yang dipotong kecil di atas nasi goreng dan daun selada sedikit di pinggir piring.


"Kenapa mereka datang ke sini?" tanya Helena yang keluar dari kamar setelah mencium aroma nasi goreng Agatha yang baru selesai di masak dan sedang di tata di atas piring.


"Aku kembali saja dari pada ke sana." Jawab Helena yang mengurungkan niatnya. Tapi Agatha tidak melupakan Helena, ia memberikan banyak potongan sosis dan ayam di atas piring untuk di makan oleh Helena.


"Alin, Rania ayo makan." Ucap Agatha yang sudah siap.


"Kalian pergi dulu, aku akan memberi makan rubah dan anjing l." Jawab Agatha.


"Nona Helena ini untuk mu." Jawab Agatha yang mengantarkan makanan untuk Helena.


"Bagus masih mengingatnya." Jawab Helena yang sedang tidur di atas kasur dengan kedua tangannya di atas kepala rubah dan sedikit membuka mata untuk melihat Agatha.


"Maaf nona Helena," jawab Agatha.


"Kenapa kau selalu minta maaf." Jawab Helena yang berdiri dengan ke empat kakinya dan mendekati piring yang dibawa oleh Agatha.


"Karena membangunkan tidur mu. Oh ya Nona Agatha, mereka ada di luar. Jika nona mau bergabung keluarlah dari kamar." Jawab Agatha.


"Kau sedang apa?" tanya Rania dan Alin yang tiba-tiba di depan pintu kamar.


"Jadi ini rubah yang selalu bersama dengan mu? Apakah rubah gendut ini boleh di pelihara? Bagaimana dengan izin ya?" tanya Rania yang mendekati mereka di dekat kasur dan Alin mengikutinya.


Alin yang pendiam tiba-tiba mengulurkan tangannya ke arah Helena dan mengelus bulu lebat pada badan gemuknya. Wajah Alin yang merah merona dan senyuman tipis dari sudut bibir merah mudanya saat menyentuh bulu rubah.