Forza

Forza
Pertarungan Sengit



Alin yang sudah lepas dari kurungan balok es yang membekukan tubuhnya. Ia langsung membuat bola-bola api lagi untuk menyerang Kaivan. Tapi Kaivan yang menjadi sangat kesal membuat dirinya juga tidak menahan kekuatan lagi. Ia mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk menghadapi Alin. Begitu juga dengan Alin yang sudah mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk menghadapi Kaivan.


"Alin hebat, aku ingin bertarung dengannya seperti saat ini. Kesungguhan terpancar dari matanya." Jawab Agatha dalam hati melihat mereka.


"Hanya segitu kemampuan mu Iblis es?" Rania terus berteriak untuk membuat Kaivan kesal.


Kaivan membuat ruang latihan itu menjadi sebuah brangkas es, udara yang dingin seperti di kutub utara, lantai yang di buat seperti lapangan skating.


"Dia bisa mengeluarkan kekuatannya hingga seperti ini, aku kira selama ini hanya rumor yang beredar bahwa Kaivan memiliki kekuatan yang setara dengan nona Rania. Dan lagi selama beberapa tahun ini dia tidak melakukan pertemuan antar Forza jadi aku belum mengetahui bagaimana perkembangan dirinya." Jawab El dalam hati.


"Dia semakin mahir mengendalikan kekuatannya. Tapi membuat suasana seperti ini akan merugikan kekuatannya yang tersebar. Jika taktiknya untuk membuat lawan susah bergerak dia salah perhitungan. Karena Alin adalah tipe kekuatan Api, lawan dari kekuatan es itu sendiri." Jawab Al yang sedang menonton.


Alin yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar hanya berjalan dan menyerang mendekati Kaivan. Menghindar serangan es ke arahnya dan terus menyerang bola-bola api ke arah Kaivan. Begitu juga yang di lakukan oleh Kaivan yang berjalan mendekati Alin dengan menyerang dan bertahan.


Saat jarak mereka yang dekat mereka menyerang dengan kekuatan penuh, es dan api menjadi satu menjadi uap yang meledak membuat mereka berdua lempar arah berlawanan. Alin yang menghantam tembok ruangan hingga retak dan Kaivan yang masih memiliki kekuatan untuk menghentikan tubuhnya menghantam tembok.


"El bantu aku menghentikan semua ini " suara yang tiba-tiba terdengar di samping El. Vero yang datang ke dalam ruang latihan dan melihat saat kedua muridnya melakukan serangan besar.


"Oke." Jawab El yang sedikit terkejut dengan kehadiran Vero namun dengan cepat mengiyakan ucapan Vero. Mereka semua menyaksikan bahwa Kaivan dan Alin juga berdiri kembali dan ingin menyerang satu sama lain. Tapi tiba-tiba Alin tidak sadarkan diri dan di bantu oleh El.


"Pemenangnya Kaivan, jadi hentikan sekarang." Jawab El yang mengumumkan kemenangan Kaivan. Disisi lain, Kaivan di bantu oleh Vero untuk berdiri.


"Sudah berakhir begitu saja? Tidak sia-sia aku datang kemari dan menyaksikan kedua anak itu. Pulang sajalah, sedikit seru." Jawab Helena yang melihat dari balik kaca jendela dan berjalan pulang. Ia pergi ke kantor Al karena mengkhawatirkan Agatha yang tidak pulang ke rumah tepat waktu dan berfikir bahwa Agatha ada di kantor Al.


"Alin bangun?" panggil Agatha yang berdiri di samping El.


"Biarkan aku yang membawanya ke ruang perawatan." Jawab El dan Agatha menganggukkan kepalanya.


"Lihat? Kau hanya beruntung saat itu memang dari ku." Jawab Rania yang mengatakan kepada Agatha.


"Iya, aku hanya beruntung saja. Seperti yang aku lihat beberapa kali pertarungan mu dengan Alin dan pertarungan hari ini. Kalian itu benar-benar hebat dan aku tidak punya kemampuan seperti kalian." Jawab Agatha yang berkata jujur dengan polosnya.


"Perempuan ini, bukannya kesal aku katakan begitu. Malah dia mengiyakan apa yang aku katakan." Jawab Rania yang jadi kesal sendiri padahal tadinya dia yang ingin membuat Agatha kesal.


"Kau mau kemana?" tanya Agatha yang melihat Rania tiba-tiba pergi meninggalkan dirinya.


"Tentu saja melihat mereka berdua di rawat." Jawab Rania.


"Aku ikut." Jawab Agatha yang menyusul Rania.


Kaivan yang sudah selesai lebih dulu di rawat dan masih dalam keadaan sadar, sedangkan Alin yang sudah di rawat namun belum sadar.


"Kalau sampai kau kalah, kau akan mencoreng nama baik F4 termuda di distrik A. Lihat keadaan mu, parah." Jawab Rania yang masih mengejek Kaivan.


"Apa kau gak bisa lihat, kekuatan dia seperti mengimbangi ku. Tapi tetap aku yang menang." Jawab Kaivan membela diri dan menunjuk ke arah Alin.


"Benar juga.Tapi..." Ucap Rania dalam hati.


"Ah kau lebih parah dari pada aku. Tetap aku yang paling hebat." Jawab Rania.


"Tentu tau," jawab Rania dengan tersenyum.


"Jangan bilang kau sudah pernah bertarung dengannya?" tanya Kaivan yang melihat eskpresi Rania yang mencurigakan.


"Iya, setelah bertarung dengan ku. Beberapa hari kemudian mereka bertarung dan yang menang Rania." Jawab Agatha yang mewakili Rania menjawab.


"Hahahah, sudah kau dengarkan itu Kaivan?" tanya Rania.


"Itu sebabnya sejak tadi kau membuat ku kesal?" tanya Kaivan.


"Tentu saja. Aku tidak mau kau kalah dan membuat kita malu. Hahahah." Jawab Rania yang tertawa di ikuti oleh Kaivan. Tawa mereka membuat Alin terbangun dan Agatha langsung mendekati Alin.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Agatha dan Alin hanya mengangguk saja.


"Syukurlah." Jawab Agatha.


"Cepat juga kau sadar. Aku kira akan lama " Jawab Kaivan.


Dokter datang dan membawa hasil scan mereka berdua.


"Cukup cepat anda bisa sadar nona. Padahal banyak tulang yang retak. 3 tulang rusuk mu ini retak, tulang leher, tulang tangan dan kaki mu. Jangan banyak bergerak dulu dan lakukan meditasi dengan kekuatan mu agar cepat pulih." Jawab Dokter yang memberitahukan kondisi Alin.


"Sedangkan tuan Kaivan, kau tidak apa-apa hanya ada beberapa luka di kulit mu dan satu tulang betis kaki kanan yang sedikit retak." Jawab Dokter.


"Terima kasih dok." Jawab Kaivan.


"Baiklah, aku keluar dulu. Dan nona Rania lebih baik biarkan mereka istirahat. Saya permisi," jawab dokter yang keluar."


"Baiklah, aku juga pergi." Jawab Rania yang meninggalkan mereka.


"Alin aku pergi dulu besok aku akan berkunjung lagi, istirahatlah yang cukup. Dan Tuan Kaivan selamat istirahat." Jawab Agatha yang berpamitan kepada mereka berdua dengan sopan.


"Ah, tinggal berdua dengan mu." Jawab Kaivan kepada Alin.


Vero yang masuk ke dalam ruangan membuat suasana menjadi dingin.


"Apa kalian sudah puas dengan pertarungan hari ini?" tanya Vero.


"Jika tuan besar mengetahui hal ini, apa anda tidak ada berfikir bagaimana aku akan repot? Dan untuk mu Alin, apa kau tidak bisa menolaknya?" tanya Vero.


"Bukanya dunia Forza memang seperti itu, kekuatan yang berbicara. Aku hanya ingin di hargai dan menghargai ajakan Duel tuan Kaivan sebagai penghormatan untuknya." Jawab Alin.


"Kalian ini memang masih bocah yang semangatnya masih membara." Jawab Vero yang memegang kepalanya karena pusing harus mengatakan apa lagi.


"Tidak akan aku ulangi, maaf guru." Jawab Kaivan yang tidak pernah meminta maaf membuat Vero terkejut dan mengiyakannya.