
Alin yang sudah membuka pintu tiba-tiba terhenti karena ada dua orang yang sudah ada di samping dirinya berdiri di sisi kanan dan kiri. Dua orang yang tidak di kenal muncul di hadapan Alin.
"Kau murid dokter Agnia?" tanya seorang wanita yang membuka topi jubah hitam miliknya. Wanita itu bernama Dewi Blaze, biasa di panggil Dewi.
"Kalian siapa?" tanya Alin dengan wajah serius namun tetap tenang tanpa terlihat sedang gugup takut.
"Kau tinggal menjawab iya atau tidak. Bukan bertanya kembali kepada kami." Jawab seorang dari sisi kiri yang membuka jubah hitamnya adalah seorang lelaki yang bernama Dewa Blaze. Biasa dipanggil Dewa.
Mereka berdua adalah Abang beradik yang kembar. Mereka biasa di sebut dengan Api kembar atau Blaze Api. Mereka memiliki kekuatan Forza tipe api.
Alin masuk ke dalam rumah dengan cepat dan mengunci pintunya. Alin mencari ponselnya tapi ternyata ketinggalan di rumah Agatha. Saat pergi ke sekolah tadi, ia tidak membawa ponselnya yang di cas di rumah Agatha.
"Sial." Jawab Alin yang melihat sekeliling ruangan rumah untuk mencari ide lainnya.
"Kau kira dengan masuk di dalam kami tidak bisa masuk?" tanya Dewa dengan mengeluarkan kekuatan api ke arah pintu besi yang ada di depan mereka. Pintu itu meleleh dan menjadi bolong sehingga Dewa dan Dewi dapat masuk ke dalam rumah. Mereka melihat sekitar mencari keberadaan Alin. Alin yang sudah berada di atas jendela untuk melompat keluar.
Dengan cepat Alin melompat keluar rumah dan secara cepat melemparkan dua bola api yang di buat olehnya mengarah ke Dewa dan Dewi. Tapi api yang di buat oleh Alin dengan mudahnya di hindari Dewa dan Dewi. Dewa berlari ke arah Alin untuk mengejar setelah ia menghindari serangan Alin yang secara spontan itu. Alin yang di susul oleh Dewa membuatnya terhenti di gang jalan di balik rumah.
"Aku jadi yakin bahwa kau benar-benar murid dari dokter Agnia. Serangan milik mu itu mirip dengannya." Jawab Dewa dengan memegang bahu Alin. Alin yang merasa bahunya terbakar segera menghindar dengan cepat.
"Hahahaha, respon yang baik." Jawab Dewa dengan melihat Alin yang menghindari serangannya.
"Tangannya seperti bara api." Jawab Alin dalam hati dengan memegang bahu kanan yang terbakar akibat serangan Dewa. Kain yang terbakar dan bolong hingga membuat luka di kulit bahu Alin.
"Dimana dokter Agnia?" tanya Dewi yang baru saja datang.
"Mereka mencari guru?" tanya Alin dalam hati dan melihat mereka berdua.
"Lihat wajahnya, dia seperti takut." Jawab Dewi.
"Cepat katakan kepada kami berdua di mana dokter Agnia sekarang? Kami sudah lelah mencari keberadaannya yang selalu pindah ke sana kemarin." Jawab Dewa.
"Apa mereka yang di takuti guru? Apa mereka adalah sebab guru selalu berpindah tempat dan membuat tempat itu seperti kebakaran saat di tinggalkan?" tanya Alin dalam hati.
"Jawab cepat gadis kecil." Jawab Dewi dengan mendekat di depan Alin dan menarik kerah baju Alin dengan tangannya.
"Aku bisa memastikan bahwa mereka bukan orang baik. Jadi lebih baik aku kabur." Jawab Alin yang melihat wajah Dewi yang sedang menarik kerah baju miliknya.
"Aku tidak akan mengatakan apapun." Jawab Alin dengan pelan dan mengumpulkan bola api yang di dalamnya terdapat inti kekuatan Forza yang cukup kental pada Ying dan Yang. Ali mencari kesempatan dengan menyerang kembali Dewi yang sedang di depan wajahnya
"Semoga itu berhasil." Jawab Alin dengan berlari menjauh dari mereka berdua. Dewa yang menolong Dewi dengan melemparkan perisai api di tubuh Dewi.
"Terima kasih Abang." Jawab Dewi yang ada di depan api Alin yang sudah hancur bertabrakan pada dinding yang di buat oleh Dewa.
"Kau dan guru mu sama saja, merepotkan. Kau kira kau bisa kabur? Tidak akan aku biarkan kali ini." Jawab Dewa dengan melayangkan bola api juga ke arah Alin yang sudah berlari. Alin yang mengarahkan diri ke kanan dan kiri untuk menghindari bola api. Dewa membuat kecepatan untuk memperbanyak bola api yang menyerang Alin yang sedang berlari.
Dewa yang melepaskan banyak bola api mengarah pada Alin akhirnya dapat mengenai betis kaki kanan Alin sehingga Alin terjatuh
"Brkkkkkkk." Suara tubuh Alin jatuh setelah serangan itu.
"Kau hanya seorang gadis kecil sudah berani untuk menghindari kami?" tanya Dewa yang menarik rambut kepala Alin yang di kucir satu seperti ekor kuda.
"Aku tidak akan memberitahu dimana guru."Jawab Alin.
"Kau benar-benar membuat ku kesal. Jika kau tidak ingin mengatakan maka aku akan yang akan membuat mu mengatakannya." Jawab Dewa.
"Kita bawa saja dia Abang Dewa." Jawab Dewi yang melihat Alin sudah terjatuh di tanah.
"Mereka berdua sangat kuat, bahkan serangan ku bisa dengan mudah di hindari dan mereka juga tidak terbakar. Apa mungkin karena elemen kekuatan forza mereka juga Api? Tunggu, mereka juga Forza?" tanya Alin dalam hati.
"Apa lagi yang kau fikirkan, kau kira bisa kabur dari kami berdua?" tanya Dewa dengan cepat memukul pundak Alin sehingga membuatnya pingsan.
"Kita bawa dulu saja untuk di introgasi." Jawab Dewa.
"Oke." Jawab Dewi.
Mereka berdua membawa tubuh Alin dengan membopongnya dan memasukkan dalam mobil yang mereka bawa. Mereka duduk di depan dan Alin di baringkan di belakang mobil.
Mereka berkendara menuju ke sebuah gedung terbengkalai. Gedung sunyi yang sangat jarang dilewati orang. Gedung itu tidak terjauh dari tempat mereka tadi sehingga membutuhkan waktu yang cepat untuk sampai.
Disisi lain, Agatha yang sedang balas chat di dalam grup mereka. Dan beberapa kali mereka memanggil Alin untuk muncul di dalam obrolan grup tali tidak ada respon. Agatha yang berinisiatif untuk menelpon Alin tapi tidak di angkat dan mendengar suara di dalam rumah. Agatha yang mencari sumber suara menemukan ponsel Alin yang masih mengisi daya baterai yang sudah penuh. Carger ponsel Alin di cabut oleh Agatha dan membereskannya.
"Alin meninggalkan ponselnya di sini? Pantas saja tidak merespon grup chat. Ehmmmm apakah dia akan balik atau tidak ya? Tapi dia memang jarang memegang ponselnya. Dan dialah orang pertama yang aku lihat tidak terlalu peduli dengan ponsel." Jawab Agatha dalam hati memegang ponsel Alin.
"Kalau menunggu besok takutnya ponsel ini penting. Kalau sekarang aku takut Alin juga menuju ke rumah?" tanya Agatha dalam hati
"Kau kenapa" tangan Helena.
"Ponsel Alin ketinggalan di sini." Jawab Agatha.
"Ya sudah kembalikan saja." Jawab Helena.
"Benar juga, lagi pula tidak terlalu jauh, bagaimana jika nona Helena mau menemaniku ku?" tanya Agatha kepada Helena.